Saluran Cerna Anak dan Imunitas Ternyata Saling Berkaitan

Saluran Cerna Anak dan Imunitas Ternyata Saling Berkaitan
Saluran Cerna Anak dan Imunitas Ternyata Saling Berkaitan

Saat anak mulai sering sakit, Parents mungkin langsung mengecek apakah makannya cukup bergizi, tidurnya cukup, atau ada nutrisi tertentu yang belum terpenuhi. Namun, ada satu bagian tubuh yang juga punya kaitan erat dengan daya tahan tubuh anak, yaitu saluran cerna.

Di dalam saluran cerna hidup triliunan mikroorganisme yang membentuk mikrobiota usus. Ekosistem kecil inilah yang belakangan semakin banyak dipelajari karena berkaitan dengan berbagai fungsi tubuh anak, termasuk perkembangan sistem imun.

Hubungan antara kesehatan saluran cerna anak, mikrobiota, dan perkembangan sistem imun menjadi pembahasan utama dalam diskusi Global Advances and Insight on Biotics for Child Health yang digelar Danone pada 6 Agustus 2026.

Salah satu pembicara yang hadir adalah Prof. Yvan Vandenplas, MD, Ph.D., pakar gastroenterologi dan nutrisi anak asal Belgia. Ia merupakan Professor Emeritus di Free University Brussels, pernah memimpin bidang gastroenterologi di European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition atau ESPGHAN, serta menjadi bagian dari kelompok khusus ESPGHAN yang mempelajari mikrobiota usus dan modifikasinya.

Meski telah berstatus emeritus, Prof. Yvan masih menjalani praktik klinis, melakukan penelitian, menulis publikasi ilmiah, serta mendampingi peneliti muda. Dalam diskusi tersebut, disebutkan bahwa ia telah menghasilkan lebih dari 600 publikasi ilmiah dan masih menemui sekitar 10 sampai 20 pasien dalam satu hari praktik.

Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan mikrobiota dan kenapa keberadaannya begitu penting sejak anak masih kecil?

Mikrobiota dan Mikrobioma Tidak Sama

Prof. Yvan menjelaskan bahwa mikrobiota adalah kumpulan mikroorganisme yang hidup di suatu lingkungan tertentu. Isinya bukan hanya bakteri, tetapi juga virus, fungi, dan berbagai mikroorganisme lainnya. Ada yang hidup berdampingan dengan tubuh dan memberi manfaat, tetapi ada pula yang dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan penyakit.

Sementara itu, mikrobioma memiliki cakupan yang lebih luas. Bukan hanya mikroorganisme yang hidup di sana, tetapi juga aktivitasnya, zat atau metabolit yang mereka hasilkan, kondisi lingkungan tempat mereka berada, hingga materi genetiknya.

Mikrobiota tidak hanya ditemukan di usus. Kulit dan saluran pernapasan juga punya komunitas mikroorganisme masing-masing. Namun, sebagian besar mikroorganisme tubuh berada di saluran cerna. Jumlahnya pun sangat besar. Di saluran cerna hidup sekitar 100 triliun mikroorganisme, dan Prof. Yvan menyebut lebih dari 10.000 spesies mikroba telah diidentifikasi hidup pada dan di dalam tubuh manusia.

Meski setiap orang sama-sama memiliki begitu banyak mikroorganisme di tubuhnya, komposisi mikrobiotanya tidak persis sama. Prof. Yvan bahkan mengibaratkannya seperti sidik jari. “Secara teknis, seseorang juga bisa dikenali melalui analisis mikrobiota saluran cernanya. Memang tidak semenarik sidik jari, tetapi secara teknis hal itu memungkinkan karena mikrobiota setiap orang berbeda,” jelas Prof. Yvan.

Meski setiap orang punya komposisi mikrobiota yang khas, susunannya bukan sesuatu yang menetap seumur hidup. Prof. Yvan menjelaskan bahwa mikrobiota terus berubah mengikuti berbagai fase kehidupan, dan usia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jenis mikroorganisme yang lebih dominan pada suatu periode.

Karena itu, jenis bakteri yang dominan dan perannya juga bisa berbeda antara bayi, anak, dan orang dewasa. Salah satu contohnya adalah Bifidobacteria, kelompok bakteri yang punya peran penting pada masa awal kehidupan dan banyak ditemukan pada mikrobiota bayi, terutama bayi yang mendapat ASI.

Seiring bertambahnya usia, proporsi Bifidobacteria akan berkurang dan komposisi mikrobiota menjadi semakin beragam dengan jenis mikroorganisme lain yang memiliki peran lebih besar.

Lalu, kenapa komposisi mikrobiota setiap anak bisa berbeda? Ternyata ada banyak hal yang ikut membentuknya, bahkan sejak anak pertama kali lahir.

Mikrobiota Anak Dibentuk oleh Banyak Faktor

Menurut Prof. Yvan, komposisi mikrobiota merupakan hasil dari banyak hal yang terjadi dalam kehidupan anak. Beberapa bahkan sudah mulai berpengaruh sejak ia dilahirkan.

Secara sederhana, beberapa faktor yang ikut membentuk mikrobiota antara lain:

1. Cara persalinan, karena bayi yang lahir pervaginam dan melalui operasi caesar mendapat paparan mikroorganisme awal yang berbeda.

2. ASI dan pola makan, sebab apa yang dikonsumsi ikut memengaruhi mikroorganisme yang dapat tumbuh dan berkembang di saluran cerna.

3. Penggunaan obat, yang juga dapat memengaruhi komposisi bakteri di dalam usus.

4. Aktivitas fisik dan stres, yang juga disebut Prof. Yvan sebagai faktor yang berkaitan dengan komposisi mikrobiota.

5. Lingkungan dan faktor geografis, sehingga pola mikrobiota seseorang dapat berbeda dengan orang yang tumbuh di lingkungan lain.

Pada masa bayi, pola pemberian makan menjadi salah satu faktor penting yang ikut membentuk mikrobiota di saluran cerna. Prof. Yvan menunjukkan bahwa bayi yang mendapat ASI memiliki komposisi mikrobiota yang didominasi Bifidobacteria. Sementara pada bayi yang mendapat formula standar, Bifidobacteria tetap ditemukan, tetapi proporsinya lebih rendah dan terdapat lebih banyak jenis mikroorganisme lainnya.

“Bayi yang mendapat ASI memiliki Bifidobacteria yang jelas lebih dominan di saluran cernanya. Pada bayi yang mendapat formula standar, Bifidobacteria masih menjadi salah satu bakteri penting, tetapi jumlahnya lebih sedikit,” paparnya.

Meski komposisi mikrobiota setiap anak bisa berbeda karena banyak faktor, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana ekosistem tersebut tetap berada dalam kondisi yang seimbang. Sebab, mikroorganisme di dalam usus bukan sekadar hidup bersama tubuh, tetapi juga berinteraksi dengan sistem imun dan organ lainnya.

Keseimbangan Mikrobiota Berkaitan dengan Imunitas dan Otak

Hubungan mikrobiota dengan daya tahan tubuh menjadi sangat penting pada masa awal kehidupan karena saat itulah sistem imun anak sedang berkembang.

Kenapa keseimbangan mikrobiota bisa berkaitan dengan imunitas? Salah satu alasannya karena sebagian besar sel imun tubuh berada di saluran cerna. “Sebagian besar sel imun berada di saluran gastrointestinal. Sel-sel inilah yang kita butuhkan untuk melindungi tubuh dari penyakit infeksi, alergi, serta penyakit yang berkaitan dengan sistem imun,” jelas Prof. Yvan.

Prof. Yvan menjelaskan bahwa kolonisasi awal, yaitu proses ketika berbagai mikroorganisme mulai menetap dan membentuk komunitas di saluran cerna, ikut berhubungan dengan perkembangan sistem imun.

“Kolonisasi pertama pada awal kehidupan akan berdampak pada perkembangan sistem imun. Jika sistem imun berkembang dengan baik, risiko mengalami penyakit yang berkaitan dengan sistem imun di kemudian hari akan lebih rendah. Namun, jika perkembangannya tidak seimbang, risikonya akan meningkat,” jelas Prof. Yvan.

Beberapa kondisi yang ia contohkan meliputi alergi, asma, diabetes, dan penyakit radang usus. Namun, kaitan tersebut bukan berarti kondisi mikrobiota tertentu pasti membuat seorang anak mengalami penyakit tersebut. Perkembangan penyakit tetap dipengaruhi banyak faktor, sementara mikrobiota menjadi salah satu faktor yang sedang banyak dipelajari kaitannya dengan kondisi tersebut.

Perannya juga tidak berhenti pada sistem imun. Saluran cerna ternyata terus melakukan komunikasi dua arah dengan otak melalui mekanisme yang dikenal sebagai gut-brain cross talk. “Apa pun yang terjadi di dalam usus terus berkomunikasi dengan otak kita. Interaksi antara usus dan otak ini sangat penting bagi berbagai fungsi tubuh,” ungkap Prof. Yvan.

Contoh yang paling dekat sebenarnya kita alami setiap hari. Ketika perut kosong, sinyal dari saluran cerna ikut berkomunikasi dengan otak dan membuat kita menyadari bahwa tubuh membutuhkan makanan.

Pada anak, penelitian mengenai komunikasi usus dan otak berkembang lebih jauh. Prof. Yvan memaparkan bahwa Bifidobacteria sedang banyak dipelajari kaitannya dengan fungsi neurobiologis, perkembangan kognitif, hingga kondisi emosional. Salah satu penelitian yang ia bahas menemukan adanya hubungan antara jumlah Bifidobacteria yang lebih tinggi dengan emosi positif pada bayi.

Anak yang Lahir Caesar Punya Pola Mikrobiota yang Berbeda

Perbedaannya dimulai saat bayi pertama kali bertemu dengan mikroorganisme dari lingkungan di sekitarnya. Pada persalinan pervaginam, paparan pertama bayi banyak berasal dari mikrobiota vagina dan area perineum ibu. Sementara pada bayi yang lahir melalui operasi caesar, paparan awalnya lebih banyak berasal dari mikrobiota kulit.

“Perbedaan besar pada perkembangan mikrobiota bayi yang lahir melalui operasi caesar adalah kolonisasi pertamanya bukan berasal dari mikrobiota perineum atau vagina, tetapi lebih banyak dari mikrobiota kulit. Keduanya merupakan mikrobiota yang sangat berbeda,” jelas Prof. Yvan.

Perbedaan paparan awal tersebut kemudian berhubungan dengan pola perkembangan mikrobiota di saluran cerna. Salah satunya terlihat pada Bifidobacteria. Prof. Yvan menjelaskan bahwa pada bayi yang lahir melalui operasi caesar, kolonisasi bakteri ini dapat terjadi lebih lambat dibandingkan bayi yang lahir pervaginam.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masa awal kehidupan juga merupakan periode penting bagi perkembangan sistem imun. Dalam sejumlah penelitian yang dipaparkan Prof. Yvan, anak yang lahir melalui operasi caesar memiliki komposisi mikrobiota awal yang berbeda dan dikaitkan dengan risiko lebih tinggi mengalami beberapa kondisi yang melibatkan sistem imun.

Jadi kalau anak kita lahir melalui operasi caesar, apa yang bisa dilakukan untuk membantu mendukung perkembangan mikrobiotanya?

ASI Tetap Menjadi Pilihan Utama pada Awal Kehidupan

Ketika mendapat pertanyaan mengenai nutrisi untuk bayi yang lahir melalui operasi caesar, Prof. Yvan langsung menempatkan ASI sebagai pilihan pertama. “Untuk bayi yang lahir melalui operasi caesar, ASI tentu tetap menjadi cara terbaik untuk memberikan nutrisi,” jelasnya.

ASI juga punya karakteristik yang mendukung mikrobiota bayi. Salah satunya karena mengandung human milk oligosaccharides atau HMO. Prof. Yvan menjelaskan terdapat lebih dari 200 jenis HMO di dalam ASI, dengan susunan yang sangat kompleks.

HMO berperan sebagai komponen yang dapat difermentasi oleh mikroorganisme tertentu sehingga ikut mendukung lingkungan yang membantu bakteri seperti Bifidobacteria berkembang.

Karena itu, tahap pemberian nutrisi anak tetap perlu mengikuti usianya. Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, menjelaskan bahwa pada enam bulan pertama, bayi dianjurkan mendapat ASI eksklusif. Memasuki usia enam bulan, anak mulai diperkenalkan dengan MPASI yang beragam, termasuk memperhatikan kecukupan protein hewani.

Setelah berusia satu tahun, pilihan makanan anak semakin luas dan ia mulai bisa mengikuti makanan keluarga sesuai kemampuan serta kebutuhan nutrisinya.

Di fase inilah pola makan yang membantu menyediakan makanan bagi bakteri baik juga semakin beragam. Salah satu komponen yang banyak dibicarakan dalam kaitannya dengan mikrobiota adalah prebiotik. Namun, apa beda prebiotik dengan probiotik?

Prebiotik, Probiotik, dan Sinbiotik Punya Fungsi Berbeda

Kalau istilah prebiotik, probiotik, dan sinbiotik terdengar mirip, sebenarnya fungsi ketiganya berbeda. Dr. Ray menggambarkannya dengan cara yang cukup sederhana. “Prebiotik itu adalah makanan buat bakteri-bakteri baik yang ada di usus. Probiotik itu seperti memberikan teman kepada bakteri baik. Kalau keduanya diberikan sekaligus, kombinasinya disebut sinbiotik,” jelas dr. Ray.

Kalau dijabarkan lebih lanjut:

A. Prebiotik merupakan komponen yang dimanfaatkan oleh mikroorganisme tertentu sebagai sumber makanan dan membantu mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus.

B. Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang bila diberikan dalam jumlah yang memadai dapat memberikan manfaat bagi tubuh.

C. Sinbiotik merupakan kombinasi antara mikroorganisme hidup dan substrat yang dapat dimanfaatkannya. Sederhananya, ada bakteri baik sekaligus “makanan” untuk mendukung pertumbuhannya.

Ada pula istilah postbiotik, yaitu preparasi mikroorganisme yang sudah tidak hidup beserta komponennya yang masih dapat memberikan manfaat tertentu. Namun, dalam kaitannya dengan nutrisi anak, pembahasan Prof. Yvan kali ini lebih banyak berfokus pada prebiotik, probiotik, dan sinbiotik.

Satu hal yang perlu diperhatikan, probiotik bukan sekadar soal ada atau tidaknya bakteri baik. Jenis dan strain bakterinya juga penting, karena manfaat yang ditemukan pada satu strain belum tentu otomatis berlaku pada strain lainnya.

Hal serupa berlaku pada sinbiotik. Menggabungkan sembarang makanan yang mengandung prebiotik dan probiotik di rumah belum tentu menghasilkan kombinasi yang sama dengan sinbiotik yang diteliti secara klinis.

Prof. Yvan menjelaskan bahwa salah satu tantangannya adalah probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang membutuhkan kondisi tertentu agar tetap dapat bertahan. “Membuatnya sendiri di rumah cukup sulit, terutama untuk memastikan probiotiknya dapat bertahan hidup. Mikroorganisme hidup membutuhkan kondisi persiapan yang sangat terkontrol,” jelasnya.

Meski begitu, untuk mendapatkan prebiotik, Parents sebenarnya tidak perlu mencari jauh-jauh. Banyak sumbernya yang dekat dengan menu sehari-hari anak.

Prebiotik Bisa Didapat dari Makanan Sehari-hari

Beberapa makanan kaya serat juga bisa menjadi sumber prebiotik, seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Dr. Ray juga mencontohkan pisang sebagai salah satu makanan yang mengandung serat dan dapat menyediakan komponen prebiotik. “Prebiotik paling mudah didapat dari makanan sehari-hari melalui asupan serat. Ada penelitian yang menunjukkan pisang juga memiliki serat yang bisa memberikan prebiotik,” jelas dr. Ray.

Selain dari makanan sehari-hari, prebiotik juga dapat ditemukan dalam nutrisi yang sudah difortifikasi dengan komposisi tertentu, termasuk susu pertumbuhan untuk anak di atas satu tahun. Salah satu kombinasi prebiotik yang banyak dibahas Prof. Yvan adalah FOS dan GOS. FOS merupakan fructo-oligosaccharides, sedangkan GOS adalah galacto-oligosaccharides.

Prof. Yvan menjelaskan bahwa GOS dapat berasal dari laktosa dan galaktosa, sementara salah satu sumber FOS adalah akar chicory. Ketika keduanya dikombinasikan, susunan oligosakarida yang dihasilkan menjadi lebih beragam dibandingkan jika hanya menggunakan salah satunya.

Kombinasi FOS dan GOS dikembangkan dengan mempelajari karakteristik oligosakarida dalam ASI yang ikut mendukung pertumbuhan bakteri baik. Meski begitu, Prof. Yvan menegaskan bahwa keduanya tetap tidak sama dengan HMO yang secara alami terdapat di dalam ASI.

“Ini tentu tidak sama dengan ASI. ASI akan tetap menjadi yang terbaik. Namun, kombinasi FOS dan GOS dikembangkan untuk membuat pilihan nutrisi menjadi lebih mendekati karakteristik yang terdapat pada ASI,” jelasnya.

Satu hal lain yang diingatkan Prof. Yvan, keberadaan tulisan prebiotik atau probiotik pada kemasan nutrisi tambahan untuk si Kecil belum cukup untuk menunjukkan manfaat suatu produk. Parents juga perlu melihat apakah komposisi maupun strain yang digunakan memang memiliki bukti klinis yang mendukung klaim tersebut.

Kalau sulit menilainya sendiri, Parents bisa mendiskusikannya dengan dokter anak atau tenaga kesehatan agar pilihan nutrisi tetap sesuai dengan kebutuhan si Kecil.

Apa yang Ditemukan dari Penelitian FOS dan GOS?

Prof. Yvan memaparkan berbagai penelitian yang melihat pengaruh kombinasi FOS dan GOS terhadap komposisi mikrobiota dan kondisi saluran cerna. Penelitian tersebut tidak hanya melihat jumlah bakterinya.

Beberapa hal lain yang ikut diamati antara lain:

- Pertumbuhan bakteri baik. Kombinasi FOS dan GOS dikaitkan dengan peningkatan Bifidobacteria dan Lactobacilli pada kelompok yang diteliti.

- Frekuensi dan konsistensi BAB. Sejumlah uji klinis menunjukkan pola BAB bergerak lebih mendekati yang ditemukan pada bayi yang mendapat ASI.

- Toleransi pencernaan. Penelitian juga melihat waktu pengosongan lambung, transit di saluran cerna, dan toleransi terhadap pemberian makan.

- Kejadian menangis yang berkaitan dengan toleransi makan. Parameter ini ikut diamati dalam sejumlah uji klinis yang dipaparkan Prof. Yvan.

Prof. Yvan juga membahas tinjauan penelitian yang mencakup hampir 7.000 anak. Dari penelitian tersebut, prebiotik dan sinbiotik dipelajari kaitannya dengan beberapa kondisi kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan dan episode diare.

Nah, untuk sinbiotik, pendekatannya sedikit berbeda karena bukan hanya mengandung prebiotik, tetapi juga probiotik. Salah satu kombinasi yang banyak dibahas adalah FOS:GOS 1:9 bersama Bifidobacterium breve M-16V.

Pemilihan probiotiknya pun tidak bisa asal. Prof. Yvan menjelaskan bahwa strain Bifidobacterium breve yang digunakan sudah dipelajari selama puluhan tahun dalam berbagai penelitian klinis. Kombinasi ini kemudian banyak diteliti pada bayi yang lahir melalui operasi caesar karena, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, kolonisasi Bifidobacteria pada kelompok ini bisa berlangsung lebih lambat. “Sinbiotik membantu memulihkan jumlah Bifidobacteria pada bayi yang lahir melalui operasi caesar hingga mendekati tingkat yang diamati pada bayi yang lahir secara pervaginam,” jelas Prof. Yvan.

Hasil penelitian yang dipaparkannya menunjukkan bahwa pada minggu-minggu awal kehidupan, profil mikrobiota bayi yang lahir caesar dan mendapat sinbiotik dapat bergerak lebih mendekati profil bayi yang lahir pervaginam dan mendapat ASI.

Bukan hanya komposisi mikrobiota yang diamati. Sejumlah penelitian juga melihat kaitannya dengan perkembangan sel imun, dermatitis atopik atau eksim, wheezing, hingga penggunaan obat asma. Pada kelompok tertentu yang diteliti, pemberian sinbiotik dikaitkan dengan kejadian dermatitis atopik yang lebih rendah.

Danone melalui Nutricia Research mengembangkan prebiotik FOS:GOS 1:9 yang telah dipelajari melalui lebih dari 40 studi ilmiah dan menghasilkan sekitar 90 publikasi internasional di lebih dari 10 negara. Nutricia Research juga mengembangkan sinbiotik FOS:GOS 1:9 dengan Bifidobacterium breve M-16V. Pada penelitian klinis anak yang lahir melalui operasi caesar, kombinasi sinbiotik tersebut disebut membantu memulihkan bakteri baik 27 kali lebih cepat.

Berbagai penelitian tadi memang banyak menyoroti masa awal kehidupan. Tapi bagaimana kalau Parents baru memahami pentingnya mikrobiota setelah si Kecil sudah lewat 1.000 HPK? Apakah sudah terlambat untuk mulai menjaganya?

Sudah Lewat 1.000 HPK Apakah Terlambat Menjaga Mikrobiota?

Jawabannya, tidak. Prof. Yvan menjelaskan bahwa 1.000 hari pertama kehidupan memang menjadi periode yang sangat penting karena sistem imun sedang mengalami perkembangan pesat. Karena itu, pengaruh mikrobiota terhadap pembentukan sistem imun dalam jangka panjang paling besar terjadi pada awal kehidupan.

Namun, mikrobiota tetap perlu dijaga setelah periode tersebut berlalu. “Mikrobioma yang sehat tetap penting sepanjang hidup. Perbedaan besarnya adalah pada 1.000 hari pertama kehidupan, perkembangan sistem imun menjadi sangat krusial untuk kesehatan jangka panjang,” jelas Prof. Yvan.

Seiring bertambahnya usia dan semakin matangnya sistem imun, pengaruh perubahan mikrobiota terhadap perkembangan imunitas jangka panjang memang tidak sebesar saat anak masih berada pada 1.000 HPK. Tetapi bukan berarti mikrobiota tidak lagi punya fungsi. Pada anak yang lebih besar, penelitian tetap melihat berbagai manfaat terhadap kesehatan saluran cerna dan kondisi tertentu.

Prof. Yvan memberi contoh probiotik tertentu yang telah diteliti untuk membantu memperpendek durasi diare atau infeksi saluran cerna. Pada usia yang lebih besar, manfaat seperti ini lebih bersifat jangka pendek dibandingkan pengaruh terhadap pembentukan sistem imun yang terjadi sejak awal kehidupan.

Selain pola makan, ada satu faktor lain yang juga perlu diperhatikan karena dapat mengubah komposisi mikrobiota anak, yaitu penggunaan antibiotik.

Hati-hati, Antibiotik Juga Bisa Memengaruhi Mikrobiota Anak!

Antibiotik punya peran penting untuk mengatasi infeksi bakteri. Namun, cara kerja obat ini juga bisa memengaruhi bakteri baik yang hidup di dalam saluran cerna. “Antibiotik, baik oral maupun intravena, juga dapat membunuh bakteri baik di dalam mikrobiota saluran cerna. Kalau anak mengalami infeksi bakteri yang berat, antibiotik tentu sangat dibutuhkan. Namun, antibiotik sebaiknya diberikan ketika anak memang membutuhkannya,” jelas Prof. Yvan.

Meski begitu, Parents tidak perlu menjadi takut terhadap antibiotik. Kalau anak mengalami infeksi bakteri dan dokter menilai antibiotik memang diperlukan, obat tersebut tentu tetap perlu diberikan sesuai anjuran. Yang perlu dihindari adalah memberikan antibiotik tanpa indikasi yang tepat atau menggunakannya tanpa arahan dokter.

Jadi, menjaga kesehatan saluran cerna anak nggak perlu menunggu sampai muncul keluhan. Prof. Yvan juga menekankan bahwa pencegahan tetap lebih baik daripada pengobatan.

Buat Parents, perhatian pada saluran cerna bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana, mulai dari pola makan yang beragam, asupan sesuai usia, sampai lebih bijak dalam penggunaan obat. Karena dari keseharian itulah, kesehatan mikrobiota si Kecil ikut terbentuk dan terjaga.

Follow Ibupedia Instagram