Kesehatan Dibaca 1,486 kali

Serba-Serbi Fifth Disease Pada Anak dan Ibu Hamil

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 03 Oktober, 2017 03:10

Serba-Serbi Fifth Disease Pada Anak dan Ibu Hamil
Dinamakan fifth disease karena ini adalah penyakit ruam kemerahan kelima pada anak yang sudah teridentifikasi. Umumnya penyakit ini bersifat ringan dan paling umum mempengaruhi anak usia prasekolah dan sekolah. Fifth disease juga kadang merujuk pada penyakit pipi yang seperti ditampar karena tanda berupa ruam berwarna kemerahan yang biasa dialami anak ketika terinfeksi.
Orang dewasa bisa terjangkit fifth disease juga lho Bun. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang disebut parvovirus B19, yang menghalangi produksi sel darah merah. Bagi orang dewasa dan anak yang sehat, penghentian sementara produksi sel darah baru tidak menjadi masalah karena penyakit biasanya tidak akan bertahan lebih lama dari sirkulasi kebanyakan sel darah merah yang mereka miliki.
Tapi bagi orang yang menderita anemia kronis (dari kondisi seperti penyakit anemia sel sabit) atau kekurangan sistem kekebalan tubuh, dan pada sejumlah bayi belum lahir yang jumlahnya relatif kecil, virus ini bisa menyebabkan masalah yang serius. Infeksi umumnya menyebar melalui air liur dan kotoran hidung. Jadi Anda bisa tertular dengan mendekat ke orang yang terinfeksi yang batuk atau bersin, mencium, berbagi alat makan atau minum, atau melakukan kontak tangan ke mulut.

Fifth Disease Saat Hamil

Parvovirus juga bisa menyebar di dalam darah, jadi jika Anda terjangkit fifth disease di saat hamil, janin Anda bisa terinfeksi melalui plasenta. Hanya kemungkinan kecil yang menyatakan bahwa infeksi ini bisa membuat Bunda kehilangan janin. Ada 30-50% kemungkinan menyatakan kalau Anda sudah pernah terkena fifth disease, Anda akan kebal terhadap parvovirus. Dengan begitu Bunda memiliki resiko kecil untuk terinfeksi kembali dan menularkannya pada si janin. Parvovirus B19 bukanlah parvovirus yang sama dengan yang menjangkit kucing dan anjing. Anda tidak akan terinfeksi oleh parvovirus yang menyerang hewan, dan hewan juga tidak bisa tertular dari Anda.
Bila kondisi Bunda tidak kebal dan Anda terkontak dengan virus ini selama hamil, bayi Anda kemungkinan besar akan tetap baik-baik saja. Ada 1 hingga 3 kemungkinan parvovirus akan diturunkan melalui plasenta ke bayi, tapi bayi-bayi ini kebanyakan dalam kondisi baik dan tidak menunjukkan masalah atau tanda infeksi.
Namun, tetap ada kemungkinan kecil bahwa infeksi parvovirus selama hamil bisa memicu keguguran, kelahiran mati, anemia pada bayi, dan kadang peradangan pada jantung bayi. Jika anemia atau peradangan pada jantung sangat parah, bayi bisa mengalami kondisi fatal yang disebut hydrops (kelebihan cairan pada jaringan bayi).
Sekitar 10 persen calon ibu yang terinfeksi virus ini sebelum kehamilan usia 20 minggu akan kehilangan bayi mereka. Namun, keguguran ini tidak terjadi pada beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah infeksi awal.

Gejala Fifth Disease

Gejala yang muncul bisa bervariasi dari satu orang ke orang yang lain, dan sekitar setengah dari jumlah anak dan orang dewasa yang terinfeksi parvovirus tidak menunjukkan gejala apapun (meski mereka bisa menularkannya). Selama beberapa minggu pertama setelah terpapar, akan muncul beberapa gejala ringan, seperti demam tingkat rendah, rasa nyeri, sakit kepala, kelelahan, hidung berair, atau sakit tenggorokan.

Pada Anak

Biasanya, sekitar satu minggu setelah gejala dimulai, anak dengan fifth disease akan mengalami ruam berwarna kemerahan pada bagian wajah seperti pipi mereka telah ditampar, diikuti oleh rasa gatal yang juga muncul pada bagian batang tubuh dan tungkai. Di saat ruam kemerahan muncul, kebanyakan orang tidak lagi menularkan penyakit ini.
Ruam kemerahan biasanya hilang dalam satu atau dua minggu, tapi bisa bertahan lebih lama atau muncul kembali sebentar-sebentar dalam beberapa bulan kemudian. Kondisi ini mungkin dipicu oleh sinar matahari, cuaca yang panas atau dingin, atau aktivitas olahraga. Selama penyakit ini muncul kembali, si penderita tidak akan menularkannya ke orang lain. Anak dengan fifth disease juga akan merasakan sakit pada persendian, meski hal ini tidak umum terjadi.

Pada Orang Dewasa

Orang dewasa yang terinfeksi biasanya tidak memiliki tanda kemerahan seperti bekas tamparan di pipi. Yang paling umum terjadi adalah munculnya ruam ringan dengan tampilan seperti renda. Wanita yang terinfeksi mungkin mengalami rasa sakit seperti encok pada persendian. Sering kali sakitnya terasa pada persendian di tangan, pergelangan tangan, dan mata kaki, juga kadang pada lutut. Pada umumnya keluhan ini akan hilang dalam beberapa minggu, meski bisa tetap terasa atau datang kembali selama berbulan-bulan atau bahkan tahunan.

Penanganan Fifth Disease

Segera hubungi dokter jika Anda mengira telah terpapar virus ini. Jangan tunggu hingga Anda menunjukkan gejala. Dokter mungkin akan melakukan tes darah dan memeriksa keberadaan antibodi parvovirus. Ini akan membantu dokter menentukan apakah Anda dalam kondisi kebal, baru saja terinfeksi, atau beresiko tinggi terinfeksi. Anda perlu mengulangi tes darah jika dokter mencurigai Anda masih memiliki virus.
Jika hasil tes darah menunjukkan Anda baru saja terinfeksi, dokter akan melakukan USG untuk memeriksa kelebihan cairan pada jaringan janin Anda (fetal hydrops), juga indikasi masalah lainnya, seperti terlalu banyak cairan ketuban atau plasenta yang terlihat terlalu besar atau bengkak. Sonografi Doppler, tes noninvasif yang menggunakan USG, bisa dilakukan pada waktu yang sama untuk memeriksa aliran darah pada bayi dan menemukan tanda-tanda anemia pada janin.
Jika bayi Anda terus dalam kondisi baik dan tidak mengalami masalah setelah beberapa bulan, Bunda tidak perlu khawatir karena masalah yang berkaitan dengan parvovirus tidak akan muncul lagi nantinya. Jika misalnya, tes menunjukkan bukti adanya anemia atau fetal hydrops, dokter akan melakukan langkah selanjutnya yang bisa berupa tes invasive, disebut percutaneous umbilical blood sampling.
Ketika melakukan tes ini, dokter ahli akan memasukan jarum ke uterus Anda dibawah panduan USG dan mengambil darah dari tali pusat bayi untuk menguji ada tidaknya anemia. Jika ditemukan kondisi anemia yang parah, ia bisa merekomendasikan transfusi janin, dimana darah dialirkan ke tali pusar janin.
Transfusi janin ini bisa menambah tingkat daya tahan bayi yang terinfeksi. Jika anemia yang ditemukan kondisinya ringan dan hydrops membaik dengan sendirinya, Anda hanya perlu melanjutkan monitoring melalui USG dan sonografi Doppler. Pada kebanyakan penelitian, bayi yang terinfeksi penyakit ini selama kehamilan tidak  mengalami cacat lahir atau masalah perkembangan ketika lahir.

Cara Mencegah Fifth Disease

Memang sulit untuk menghindari paparan fifth disease, karena orang bisa menularkannya sebelum mereka menunjukkan gejala awal penyakit ini, bahkan beberapa orang tidak menunjukkan gejala apapun. Tapi Bunda masih bisa mengurangi resiko terkena parvovirus, juga beberapa penyakit karena infeksi lainnya dengan mengikuti rekomendasi berikut: ​
  • Hindari orang dengan gejala sedang terinfeksi virus sebisa mungkin.
  • Sering cuci tangan Anda, dan selalu lakukan hal ini setelah menyeka hidung atau menyentuh anak yang sedang sakit atau berada di sekitar orang yang sakit.
  • Jangan berbagi makanan, serta alat makan dan minum, dengan orang lain.
(Ismawati)