Tinggi Anak Kok Segitu-Gitu Aja? Jangan Panik, Cek Dulu Kebiasaan Hariannya!

Tinggi Anak Kok Segitu-Gitu Aja? Jangan Panik, Cek Dulu Kebiasaan Hariannya!
Tinggi Anak Kok Segitu-Gitu Aja? Jangan Panik, Cek Dulu Kebiasaan Hariannya!

Parents, ada yang sama nggak nih? Rasanya khawatir banget kalo liat tinggi badan anak kok kayaknya nggak nambah-nambah, apalagi jika dibandingkan dengan teman seusianya. Karena belakangan ini, Ibumin merasa sepertinya tinggi badan si Kecil jalan di tempat. Memang sih, anak Ibumin termasuk picky eater dan cenderung memilih makanan yang disuka.

Tapi, apakah anak picky eater dapat memengaruhi tumbuh kembangnya? Banyak yang bilang, kalau pertumbuhan tinggi badan tuh dipengaruhi genetik, kalo Ayah dan Ibunya tinggi, anak ya otomatis tinggi.

Ternyata setelah Ibumin cari tahu lagi, ada banyak faktor yang memengaruhi tinggi badan anak secara keseluruhan. Tidak hanya genetik, tapi juga kualitas tidur, kondisi kesehatan, termasuk asupan nutrisi harian.

Tanpa disadari, kebiasaan sehari-hari si Kecil juga dapat membantu atau justru menghambat height growth. Misalnya seperti, sering skip jam makan, terlalu banyak ngemil, kurang aktif bergerak, dan kurang tidur.

Parents, yuk mulai belajar dan pahami pertumbuhan tinggi badan anak kembali, kapan dikatakan masih normal dan kapan perlu mulai menjadi warning sign bagi para orang tua!

Tinggi Badan Anak Kok Nggak Bertambah Tiap Bulannya, Normal Nggak Ya?

Parents, jangan panik dulu saat tinggi badan anak terlihat segitu-gitu aja. Kita perlu memahami terlebih dahulu mengenai pertumbuhan tinggi badan anak, kapan masih normal dan kapan perlu mulai diperhatikan.

Dikutip dalam webinar bersama Ibupedia, dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A, menjelaskan bahwa pertumbuhan dan tinggi badan anak yang masih wajar terlihat ketika anak tetap mengikuti kurvanya sendiri, meskipun bukan yang tertinggi di kelas, dan tinggi badan anak sesuai umur.

Terdapat pula kecepatan tumbuh yang naik-turun antar fase; ada periode yang lebih datar. Diiringi dengan berat dan tinggi badan yang selaras, ditandai dengan nafsu makan yang fluktuatif tetapi energi tetap ada.

Dan yang terakhir, nggak terlihat ada tanda penyakit kronis, pubertas dini atau tanda gagal tumbuh. Sebaliknya, apabila Parents melihat kurva turun menyilang 2 garis persentil mayor pada kurva pertumbuhan, hal tersebut mulai perlu diwaspadai. Selain itu, indikator tinggi badan anak yang tidak normal yang juga perlu jadi perhatian adalah:

a. Tinggi menurut usia jauh di bawah teman sebaya, padahal genetik orang tua cenderung tinggi.

b. Kecepatan tumbuh tinggi kurang dari 4 cm per tahun setelah usia 3 tahun.

c. Ada gejala pendukung lain seperti; lemas, si Kecil sering sakit, dan mengalami pubertas dini.

Selain Genetik, Ada Faktor Lain yang Memengaruhi Tinggi Badan Anak, Termasuk Picky Eating

Yes! Masih menurut dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A bahwa genetik memang memengaruhi kisaran potensi tinggi badan anak. Namun, Parents juga wajib tahu bahwa faktor lingkungan dan faktor lainnya juga sangat berpengaruh.

Termasuk faktor nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan tulang hingga aktivitas fisik yang dapat merangsang pembentukan tulang. Begitu juga kualitas tidur yang baik, agar hormon pertumbuhan dapat dilepas saat anak tidur lelap, kondisi kesehatan dimana anak yang jarang sakit bisa bantu anak tumbuh tinggi maksimal, serta fase tumbuh yang menentukan lonjakan pubertas.

Kebiasaan sehari-hari yang dilakukan si Kecil juga dapat memengaruhi tinggi badan anak ideal. Misalnya saja, ketika anak sering skip jam makan, terlalu banyak ngemil, kurang aktif bergerak, dan kurang tidur, berpotensi menghambat tinggi badan anak di kemudian hari, sehingga tinggi badan mereka stuck dan tidak tumbuh sesuai kurva.

Dalam jurnal yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine di tahun 2020, disebutkan bahwa, anak-anak yang gemar memilah-milih makanan atau picky eater juga berpotensi terganggu pertumbuhannya, baik tinggi badan dan berat badan. Anak yang picky eater juga berpotensi mengalami ketidakseimbangan asupan zat gizi, akibat kurangnya variasi dalam piring makannya.

Meski anak tetap makan, tapi variasi makanannya terbatas akibat perilaku memilah-milih makanan, maka kebutuhan nutrisi penting bisa tidak terpenuhi optimal. Mengakibatkan anak kekurangan zat gizi yang ujungnya dapat memengaruhi penambahan berat badan atau pertumbuhan tinggi badan anak.

Namun, anak-anak yang terlihat cukup makan pun masih berpotensi mengalami masalah pada tinggi badan, apabila ada faktor-faktor lain yang memengaruhi. Itulah kenapa, untuk menunjang tinggi badan anak yang ideal faktor nutrisi harus dipenuhi dengan baik.

Karena, asupan nutrisi yang seimbang, menjadi bahan baku utama yang penting untuk mendukung pertumbuhan tinggi badan, serta pembentukan tulang yang optimal di masa pertumbuhan. Nah, asupan nutrisi seimbang yang dimaksud meliputi;

a. Kalsium, yang jadi bahan bakar utama pembentukan tulang

b. Vitamin D, yang membantu usus menyerap kalsium

c. Energi dan protein, penting untuk pembentukan masa otot

d. Zinc dan zat besi, asupan ini sering kurang pada anak picky eater

e. Vitamin K2, membantu mengarahkan kalsium ke tulang

f. Hidrasi dan serat, mendukung kesehatan saluran cerna anak agar lebih nafsu makan

Picky Eater Bukan Berarti Harus Dipaksa Makan, Ini yang Bisa Dilakukan untuk Dukung Pertumbuhannya!

Menghadapi anak picky eater, memang tidak mudah dan seringkali membuat orang tua khawatir. Apalagi, asupan nutrisi anak juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu si Kecil tumbuh tinggi.

Kekhawatiran ini seringkali membuat waktu makan berubah menjadi momen yang penuh tekanan. Padahal untuk mendukung pertumbuhan si Kecil, tidak harus dilakukan dengan memaksa si Kecil makan.

Menurut dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A di webinar bersama Ibupedia, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar makan tidak menjadi medan perang:

1. Jadwal makan lebih penting daripada paksaan

Daripada memaksa anak makan, sebaiknya Parents bisa menetapkan jadwal makan, yaitu dengan 3 kali makan utama dan 1-2 kali camilan bergizi.

Saat si Kecil tidak mau makan, maka dapat ditetapkan waktu tertentu untuk jam makan selanjutnya, sehingga si Kecil memahami rules makan.

2. Anak pasti akan merasa lapar

Setiap orang tua akan selalu memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang tepat dan cukup makan. Namun, bukan berarti setiap anak menolak makan, kita harus langsung memaksa anak. Anak pasti akan merasa lapar, dengan begitu anak bisa belajar mengenali sinyal lapar dan kenyangnya sendiri.

3. Ulangi makan tanpa drama

Saat si Kecil menolak makanan yang kita berikan, seringkali ia membutuhkan beberapa kali percobaan sebelum akhirnya ia mau mencoba dan menerima makanan tertentu.

Seperti yang dijelaskan dr. Denta dalam webinar bersama Ibupedia, misalnya saat anak tidak suka telur, dapat dicoba secara perlahan dengan memberikan telur sedikit demi sedikit atau bisa juga dicampur dengan makanan yang si Kecil suka. Biasanya si Kecil perlu minimal 8-15 kali percobaan, untuk ia mau makan makanan baru.

4. Utamakan Gizi Lengkap

Pastikan si Kecil makan makanan utama terlebih dahulu, sebelum camilan masuk. Sebab, jika si Kecil sudah makan camilan terlebih dahulu, maka anak bisa kenyang lebih dulu sebelum nasi, lauk, dan sayur yang ada di piring dikonsumsi, akibatnya kebutuhan nutrisinya tidak tercukupi dengan baik.

Tips Praktis yang Bisa Dilakukan agar Height Growth Anak Tetap Terdukung

Mendukung pertumbuhan tinggi badan anak, tidak hanya soal genetik. Ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang ternyata penting untuk diperhatikan. Lalu, apa saja langkah praktis yang bisa dilakukan sehari-hari dan bagaimana cara agar anak cepat tinggi?

1. Pastikan si Kecil tetap melakukan aktivitas fisik

Yup! Anak yang aktif melakukan aktivitas paling tidak 60 menit setiap hari, seperti berolahraga ringan, sedikit banyak berpeluang memiliki tinggi badan yang lebih proporsional di kemudian hari. Olahraga ringan, seperti lari atau loncat juga dapat membantu merangsang pertumbuhan tulang, ini juga menjadi salah satu cara menambah tinggi badan anak yang dapat diterapkan setiap hari.

2. Pastikan si Kecil tidur cukup

Tidur merupakan kegiatan yang penting untuk menunjang tinggi badan anak. Melansir dari Kids Health saat si Kecil tidur, tubuhnya memproduksi kelenjar hipofisis di otak dan melepaskan hormon pertumbuhan (growth hormone) dalam jumlah yang paling banyak pada malam hari.

Tidur cukup jadi salah satu cara yang dapat mendukung pertumbuhan tinggi. Menurut dr. Denta waktu tidur yang dibutuhkan untuk anak usia pra sekolah umumnya membutuhkan 10–13 jam tidur per hari, termasuk tidur siang.

3. Menyajikan makanan yang padat gizi

Dikutip dari Healthline meski tinggi badan, salah satunya dipengaruhi oleh faktor genetik, namun asupan nutrisi yang padat gizi dalam pola makan anak, sangat penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Mengonsumsi beragam makanan bergizi tidak hanya dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, tetapi juga membantu menambah tinggi badan atau mempertahankan tinggi badan yang sudah dicapai.

Oleh karena itu, penting untuk memperbanyak asupan makanan sehat yang kaya nutrisi, guna memastikan tubuh si Kecil mendapatkan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuhnya, serta pastikan jadwal makan anak teratur dengan 3x makan utama dan ditambah 1–2x snack.

Tidak hanya kualitas makanan, tetapi kualitas penyerapan nutrisi pada anak juga penting untuk diperhatikan. Sebab dengan penyerapan nutrisi yang optimal, maka dapat dimanfaatkan tubuh lebih baik untuk mendukung pertumbuhan dan mencapai tinggi badan ideal anak.

Nah, salah satu nutrisi pendukung yang bisa membantu penyerapan lebih optimal adalah CPP atau Casein Phosphopeptide, yang bekerja seperti “magnet kebaikan” untuk membantu mengikat dan meningkatkan penyerapan mineral penting seperti kalsium agar dapat dimanfaatkan tubuh dengan lebih optimal.

CPP bisa ditemukan pada makanan berbahan dasar susu, seperti keju, susu, dan yogurt, serta pada pelengkap nutrisi yang mengandung CPP yang rasanya enak.

Ada juga arginine, salah satu asam amino yang berperan dalam proses pertumbuhan anak, termasuk membantu menstimulasi pelepasan hormon pertumbuhan.

Pelengkap nutrisi dengan kandungan seperti CPP dan arginine untuk anak dapat dipertimbangkan untuk membantu melengkapi kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan anak, sesuai dengan kebutuhannya. Namun, pelengkap nutrisi bukan untuk menggantikan makanan keluarga, tetapi untuk menutup celah dari gizi yang diberikan pada anak.

Kapan Parents Perlu Mempertimbangkan Pelengkap Nutrisi Anak untuk Membantu Melengkapi Kebutuhan Nutrisinya?

Pemberian pelengkap nutrisi dapat dipertimbangkan oleh Parents, saat picky eating pada anak menetap, anak keliatan makan, tapi makanannya tidak beragam berminggu-minggu sampai berbulan-bulan atau saat berat atau tinggi tidak mengikuti jalur semula, tanpa penyakit yang jelas.

Parents juga bisa mempertimbangkannya saat kesulitan menutup celah nutrisi hanya dari makanan di piring. Tentunya, rasa juga penting agar anak mau mengonsumsinya.

Lalu, apakah dampak pelengkap nutrisi terhadap pertumbuhan anak? Berdasarkan penelitian dari SPROUT Study 2025, yang melakukan pengujian selama 240 hari terhadap anak usia 24–60 bulan dengan risiko kekurangan gizi. Ada dua kelompok anak, yaitu dengan konseling pola makan saja dan kelompok lainnya dengan konseling pola makan serta pelengkap nutrisi lengkap yang mengandung CPP, arginine, dan vitamin K2.

Ternyata setelah 8 bulan, kelompok yang mendapatkan konseling dan pelengkap nutrisi menunjukkan pertambahan tinggi, massa otot & kepadatan tulang lebih tinggi, nafsu makan membaik, serta tidur lebih berkualitas dibandingkan dengan kelompok yang hanya mendapatkan konseling saja.

Nah, mulai sekarang Parents nggak perlu khawatir lagi dengan tinggi badan anak yang sepertinya nggak bertambah signifikan. Parents bisa tetap dampingi si Kecil dengan sabar, berikan variasi makanan bergizi, dan pastikan kebutuhan nutrisi pentingnya tetap terpenuhi, termasuk melalui asupan yang mengandung CPP untuk anak dan arginine yang dapat mendukung pertumbuhan si Kecil.

Parents juga bisa memantau laju pertumbuhan anak secara berkala dan memahami apakah pertumbuhannya sesuai jalur, salah satunya dengan Growthpedia Calculator. Dari situ Parents bisa melihat apakah tinggi dan berat badan si Kecil masih sesuai dengan usianya. Pastikan Parents selalu berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil.

Follow Ibupedia Instagram