Beauty Science Tech 2026, Saat Sains dan Beauty Bertemu di Kehidupan Sehari-hari
Buat banyak ibu, urusan kecantikan sering terjadi di sela-sela. Lima menit sebelum anak bangun. Malam hari saat rumah akhirnya sunyi. Atau di perjalanan sambil scrolling rekomendasi skincare yang katanya cocok untuk semua orang, tapi entah kenapa di kulit sendiri hasilnya berbeda.
Kenyataannya, tidak dua ibu yang benar-benar sama. Kondisi kulit berbeda. Gaya hidup berbeda. Tantangan pun berbeda. Maka wajar kalau solusi yang dibutuhkan juga tidak bisa disamaratakan. Di titik ini, ibu biasanya tidak lagi mencari produk yang sekadar viral, tapi ingin jawaban yang masuk akal, aman, dan terasa punya arah.
Pertanyaan yang sering muncul bukan lagi soal produk mana yang paling mahal atau paling hype, tapi mengapa satu produk skincare bisa memberi efek sangat baik di satu orang dan tidak begitu di orang lain. Dari sinilah percakapan tentang beauty, sains, dan teknologi menjadi relevan. Bukan sebagai tren, tapi sebagai kebutuhan. Benang merah ini terasa kuat di Beauty Science Tech 2026 yang digelar Paragon Corp.
40 Tahun Paragon dan Perjalanan Menuju Beauty Tech Company

Memasuki usia 40 tahun, Paragon Corp tidak sekadar merayakan usia, tapi memilih berhenti sejenak untuk merefleksikan arah. Beauty Science Tech 2026 yang berlangsung pada 21 sampai 25 Januari 2026 di City Hall Pondok Indah Mall 3 Jakarta menjadi penanda transformasi penting.
Melalui tema Beauty Rewired Where Science Technology and Soul Transform Life, Paragon menegaskan langkahnya sebagai Purposeful Beauty Tech Company. Sebuah pendekatan yang memandang kecantikan secara utuh. Sains menjadi fondasi presisi dalam riset. Teknologi digunakan untuk menjawab kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Nilai dan purpose menjadi kompas agar inovasi tetap relevan, etis, dan bertanggung jawab.
Bagi ibu, pendekatan ini terasa dekat. Karena dalam keseharian, keputusan kecil yang diambil hari ini sering berdampak panjang ke kesehatan, lingkungan, dan masa depan anak.
Teknologi yang Tidak Kehilangan Arah

Dalam sambutannya, Harman Subakat, Group CEO Paragon Corp, mengajak semua pihak untuk merefleksikan kembali peran teknologi dalam hidup manusia.
“Teknologi bisa saja melaju lebih cepat dari cara kita berpikir. Karena itu, kita perlu terus bertanya, teknologi ini mau dibawa ke mana dan untuk siapa,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa sejak awal Paragon dibangun oleh Ibu Nur dengan satu tujuan utama, yaitu kebermanfaatan. Bagi Harman, pertumbuhan bukan sesuatu yang dikejar secara agresif, melainkan akan mengikuti ketika sebuah perusahaan benar-benar memberi manfaat bagi orang lain.
“Teknologi harus dimulai dari niat yang baik, supaya manusia tetap punya kendali. Dengan teknologi, bumi ini seharusnya jadi tempat yang lebih baik,” tambahnya. Refleksi ini terasa dekat dengan cara banyak ibu mengambil keputusan. Pelan, penuh pertimbangan, dan selalu memikirkan dampak jangka panjangnya.
Kenapa Hasil Skincare Bisa Berbeda di Setiap Orang?

Salah satu keresahan paling umum yang sering dirasakan ibu adalah ketika sebuah produk terasa cocok di banyak orang, tapi tidak memberi hasil yang sama di dirinya. Penjelasan ilmiahnya disampaikan oleh Davide Pennino, PhD, Co-Founder dan CEO Biotix.
Ia mengungkap bahwa sekitar 60 hingga 70 persen produk memang tidak memberi hasil yang sama ke semua orang. Alasannya sederhana, tapi sering luput disadari. Kulit bukan sekadar permukaan, melainkan sebuah ekosistem biologis dengan interaksi yang dinamis.
Melalui data yang diambil dari image dan dianalisis menggunakan AI, para peneliti kini dapat memahami keberadaan mikroba yang bermanfaat serta jalur biologis yang memengaruhi kondisi kulit. Dari sinilah masa depan kesehatan kulit bergerak ke arah yang lebih data driven, presisi, dan personal. Bagi ibu, penjelasan ini menjawab satu pertanyaan lama dan menegaskan kembali kalau setiap kulit memang unik.
Kulit sebagai Sistem Biologis yang Utuh

Pendekatan ini juga ditegaskan oleh dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO dan Chief R&D Officer Paragon Corp. Ia menjelaskan bahwa melalui biometric science, genomic research, microbiome research, dan analisis kulit berbasis data, Paragon mulai melihat kulit sebagai sebuah sistem biologis, bukan sekadar lapisan luar.
“Teknologi memungkinkan kita memahami perbedaan dan keunikan setiap individu. Bukan untuk mengubah manusia, tapi untuk menjawab kebutuhannya,” jelas dr. Sari. Pendekatan ini membuat solusi kecantikan menjadi lebih presisi, personal, dan bertanggung jawab.
Paragon sendiri dikenal sebagai salah satu pusat riset dan pengembangan kecantikan terbesar di Asia Tenggara, sekaligus rumah bagi produk kecantikan halal terkemuka dunia.
AI yang Membantu, Bukan Menghilangkan Peran Manusia

Dari sisi organisasi, Bhavna Rawlley, Managing Director Accenture SEA, menyoroti peran AI dalam mendorong nilai perusahaan. Ia menyebut bahwa perusahaan memiliki peluang 2,5 kali lebih besar untuk mencapai enterprise value ketika AI diterapkan dengan tepat.
Namun AI bukan dimaksudkan untuk menggantikan proses sepenuhnya. Teknologi justru membantu membuat proses menjadi lebih cerdas. Salah satu contohnya adalah Noli, yang berperan seperti beauty matchmaker dengan mengidentifikasi kebutuhan konsumen menggunakan AI.
“AI tidak boleh mendehumanisasi. Justru sebaliknya, teknologi bisa mendukung inclusive beauty, sustainable by design, dan storytelling yang autentik. Dengan prinsip privacy first, data tetap menjadi milik konsumen,” jelas Bhavna. Dalam konteks ini, kecantikan pun berevolusi menjadi bentuk intelligence.
Nilai dan Purpose sebagai Daya Tahan di Dunia yang Tidak Stabil

Perspektif global dibagikan oleh Retno Marsudi, Board of Council Paragon Wardah Stewardship for Global Impact. Ia membuka dengan refleksi bahwa dunia saat ini dipenuhi ketidakpastian.
Dari pengalaman lebih dari 40 tahun di dunia diplomasi, Retno menekankan satu pelajaran penting. Jangan sampai kehilangan purpose. Dalam bisnis maupun diplomasi, nilai sering dianggap sebagai penghambat keuntungan. Padahal, justru sebaliknya.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan yang digerakkan oleh purpose tumbuh tiga kali lebih cepat dibanding pesaingnya, memiliki retensi karyawan hingga 70 persen, dan mendapatkan dukungan konsumen yang lebih kuat.
“Values dont slow us down, they guide us in the right direction,” tegas Retno. Paragon Corp disebut sebagai contoh perusahaan yang terus berinovasi dengan teknologi, tanpa kehilangan nilai sebagai fondasi.
Dampak Paragon tidak berhenti pada inovasi produk. Sebelum Paragon hadir, rantai pasok halal untuk kosmetik hampir tidak ada. Setelahnya, ekosistem halal mulai terbentuk dan berkembang. Mitra tidak berjalan sendiri, tapi diajak tumbuh bersama.
Di tengah pasar kosmetik Indonesia yang diperkirakan mencapai 10 miliar USD, inovasi berbasis sains dan teknologi menjadi kunci pertumbuhan. Paragon mendorong perekonomian nasional melalui pendekatan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Pengalaman Langsung di Beauty Science Tech 2026

Beauty Science Tech 2026 menghadirkan lebih dari 30 AI powered consumer experiences yang dikembangkan bersama lebih dari 20 mitra teknologi global. Pengunjung dapat merasakan langsung bagaimana teknologi membantu memahami kondisi kulit, wajah, dan kebutuhan tubuh secara presisi.
Berbagai zona tematik dihadirkan. Hall of Purpose menampilkan visi masa depan Paragon. Sphere of Possibility mengajak melihat peluang inovasi. Sphere of Beauty Tech menjadi pusat eksplorasi teknologi personalisasi. The Collective Space membuka ruang kolaborasi dan koneksi. Beyond Stage menghadirkan diskusi dan kemitraan global. The Beauty Vault menampilkan produk-produk unggulan Paragon.
Selama 22 hingga 25 Januari 2026, rangkaian forum digelar sebagai ruang dialog strategis. Topik yang dibahas mencakup sustainability plastik, air, dan biodiversitas, neuroscience fragrance, men’s skincare, AI dan komunitas, video commerce, hingga inovasi berbasis purpose.
Para pembuat kebijakan, pemimpin industri, akademisi, media, influencer, dan mitra global hadir untuk berbagi pandangan. Forum ini menjadi ruang bertemunya ide, pengalaman, dan kolaborasi lintas sektor.
Pada akhirnya, percakapan tentang beauty selalu kembali ke satu hal yang dekat dengan ibu, yaitu pilihan. Bukan hanya tentang apa yang dipakai hari ini, tapi nilai apa yang ingin dibawa untuk jangka panjang.
Beauty tidak lagi sekadar soal penampilan. Ia menyentuh kesehatan, kepercayaan, dan keberlanjutan. Beauty Science Tech 2026 menunjukkan bahwa teknologi bisa berjalan seiring dengan nurani. Bahwa inovasi tidak harus kehilangan arah.
Di tengah dunia yang terus berubah, ibu tidak sedang mencari yang paling canggih. Ibu mencari yang bisa dipercaya.