Konsepsi Dibaca 22,943 kali

Kapan Sebaiknya Berhubungan Seks agar Cepat Hamil?

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 30 Desember, 2018 23:12

Kapan Sebaiknya Berhubungan Seks agar Cepat Hamil?
Selama ini, masyarakat terutama remaja diyakinkan oleh pemahaman bahwa kehamilan dapat terjadi kapanpun seseorang melakukan hubungan intim. Tujuannya memang bagus, yakni mewanti-wanti remaja agar tidak terburu-buru melakukan seks di luar nikah karena dapat menyebabkan kehamilan. Bagi remaja, mengandung seorang bayi di usia teramat belia memang menjadi momok yang menakutkan. Selain tanggung jawab yang begitu besar, pemerintah kita pun mensyaratkan agar sebaiknya kehamilan terjadi setelah wanita menikah di usia 21 tahun.

Ketika wanita semakin beranjak dewasa dan sudah matang secara kepribadian, maka keinginan mendapatkan sang buah hati tentunya akan semakin besar. Terlebih jika masing-masing pihak orang tua bersikeras ingin segera menggendong cucu. Aduh, kuping rasanya panas saat ditanya “Kapan kamu punya anak?”. Tak hanya kesal pada sang penanya, Bunda pun dibuat geram karena merasa sudah sering sekali berhubungan seks namun tanda-tanda hamil tak jua nampak.

Hmm, benarkah seorang wanita dapat hamil begitu saja kapan pun setelah penetrasi terjadi? Faktanya, tidak semudah itu wanita dapat mengandung janin dalam perutnya. Agar dapat hamil, Anda harus melakukan seks sebelum ovulasi terjadi, yakni kira-kira dua hingga tiga hari sebelum masa puncak kesuburan Bunda datang. Namun bagaimana caranya wanita tahu kapan ovulasi akan terjadi? Lalu seberapa sering wania harus melakukan hubungan seks agar segera mendapatkan momongan?

Memprediksi Ovulasi (Masa Subur) dan Mitos ‘14 Hari’

Seringkali masyarakat maupun dokter mengatakan bahwa ovulasi terjadi pada hari ke 14 siklus menstruasi (dihitung dari rentang jarak antara hari pertama Anda haid sampai saat haid lagi di bulan berikutnya), sehingga banyak wanita kemudian memutuskan untuk melakukan hubungan intim tepat di hari ke 14. Masalahnya, banyak wanita yang sudah tidak subur lagi pada hari ke 14 siklus menstruasi mereka. Rata-rata ovulasi yang normal terjadi antara 10-20 hari. Jika Bunda memiliki siklus menstruasi normal yakni 28 hari, maka sah saja jika memutuskan berhubungan intim di hari ke-14. Namun, jika siklus Anda mencapai 35 hari, maka ovulasi akan terjadi sekitar hari ke 21, bukan hari ke 17.

Lantas, bagaimana donk caranya memprediksi kapan ovulasi terjadi? Well ada banyak metode yang dapat dilakukan, mulai dari ovulation predictor kits hingga alat pengukur temperatur basal. Meski begitu, para peneliti mengaakan bahwa hari terbaik untuk melakukan hubungan seksual agar cepat hamil adalah saat dimana Bunda mendapati adanya lendir rahim atau fertile cervical mucus. Lendir ini adalah hasil pembuangan rahim yang bentuknya menyerupai putih telur dan biasanya muncul beberapa hari menjelang ovulasi terjadi.

Mengingat sperma mampu hidup selama dua hingga tiga hari (bandingkan dengan sel telur yang hanya mampu bertahan selama 12-24 jam!), maka mencari waktu penetrasi yang tepat adalah suatu hal yang sangat penting. Timing is everything! Nah, untuk memperbesar kemungkinan terjadinya pembuahan, memang sebaiknya Bunda berhubungan intim lebih dari sekali selama masa subur terjadi.

Pendekatan yang paling dianjurkan adalah melakukan hubungan seks sehari atau dua hari menjelang ovulasi serta sekali lagi tepat di hari ovulasi terjadi. Dengan cara itu, ada kesempatan yang lebih besar bagi pria untuk menghasilkan suplai sperma dalam kondisi sehat. Lelaki memang cenderung menghasilkan sperma berkualitas prima setelah absen melakukan kegiatan seks selama satu atau dua hari. Jika pria tidak melakukan seks selama beberapa minggu, justru kualitas sperma akan menurun. Padahal, semakin sehat kualitas sperma seorang pria, maka semakin jago pula ia berenang menuju sel telur untuk melakukan pembuahan.

Berawal dari pembuahan ini lah, maka si kecil akan mulai tumbuh menjadi embrio yang merupakan cikal bakal terbentuknya janin mungil dalam perut Ibu. Kondisi sperma yang baik juga mempengaruhi kesehatan embrio lho, Bun. Jangan sampai Anda terlanjur merasakan gejala-gejala kehamilan dan telah didiagnosa mengandung namun harus kecewa karena mengalami kehamilan kosong.

Masih bingung cara mengetahui masa ovulasi?

Yup, memang tidak semua wanita dapat dengan mudah mengetahui kapan tepatnya masa ovulasi terjadi. Terkadang karena tidak ada tanda-tanda yang kentara atau memang siklus yang tidak teratur hingga susah untuk dihitung. Meski begitu, jika Bunda memang benar-benar berniat untuk hamil, cobalah mulai menghitung siklus Anda selama beberapa bulan dan periksa apakah tanda-tanda ovulasi berikut ini terjadi pada Bunda:

  • Timbul rasa tidak nyaman pada perut bagian tengah.

  • Payudara terasa nyeri saat ditekan.

  • Naiknya temperatur basal tubuh (BBT) sekitar 0.4 hingga 1 derajat Fahrenheit. Ukurlah sesaat setelah bangun tidur, dua hari setelah ovulasi terjadi. Anda akan mulai yakin dengan perhitungan siklus setelah melihat skema BBT Bunda tiap bulannya.

  • Vagina mengeluarkan lebih banyak cairan yang menyerupai putih telur

Jika menstruasi tidak lancar, apakah makin sulit untuk bisa hamil?

Umumnya wanita mengalami 12 kali menstruasi tiap tahunnya, namun banyak pula yang melewatkan satu bulan atau bahkan tidak mengalami menstruasi sama sekali. Penyebabnya pun bermacam-macam, mulai dari stres, kenaikan atau penurunan berat badan yang berlebihan, olahraga yang terlalu keras, serta alasan-alasan lain yang dapat mengganggu kelancaran menstruasi seseorang. Semakin tidak teratur jalannya menstruasi Bunda, maka otomatis semakin susah untuk memprediksi kapan ovulasi akan terjadi. Pasalnya, Anda baru dapat memperhitungkan kapan pastinya masa subur datang dengan melihat pada skema ovulasi setiap bulan.

Misalnya saja siklus awal Anda adalah 28 hari, kemudian bulan berikutnya menjadi 21 hari, dan bulan depannya bertambah menjadi 32 hari.Ingat untuk selalu mencatat jumlah hari tersebut ya, Bun! Kemudian, kurangi 17 hari dari siklus terpendek Anda serta kurangi 11 hari untuk siklus terpanjang. Nah, hari-hari di antara kedua hari tersebut adalah hari dimana kemungkinan besar Bunda berada dalam kondisi paling subur dan si sel telur siap untuk dibuahi. Namun, jika siklus Bunda sifatnya tidak teratur dan jarak antar siklusnya lebih dari 35 hari atau bahkan lebih, maka sebaiknya Bunda mengunjungi spesialis masalah kesuburan untuk memeriksa lebih rinci lagi alasan lain mengapa menstruasi Anda tidak teratur. Siapa tahu Anda mengalami disfungsi rahim, masalah tiroid polycystc ovarian syndrome (PCOS), naiknya level prolactin, atau karena penurunan berat badan besar-besaran dalam waktu singkat.

Duh, susah amat! Boleh tidak saya asal saja berhubungan seks dan lihat hasilnya nanti?

Hihi, tentu sah-sah saja kok, Bun. Cara-cara di atas memang diperuntukkan bagi pasangan sibuk yang jarang bertemu untuk berhubungan intim namun ingin segera mendapatkan momongan. Dengan kata lain, memakai metode perhitungan siklus masa subur agar memperbesar kesempatan hamil tanpa harus berhubungan seks berkali-kali. Namun jika Bunda dan suami memiliki banyak waktu bersama, maka Anda tidak harus menghitung temperatur basal tubuh atau berkutat dengan rumus-rumus ovulasi yang sepintas memang terkesan rumit seperti yang tertera di atas. Bahkan, Bunda juga tidak perlu memaksakan diri mencapai orgasme saat berhubungan seks saking kepinginnya segera mendapatkan momongan. Karena yang paling penting adalah tetap rileks, hindarkan diri dari stres, lalu rutin berhubungan seks paling tidak dua kali seminggu dan tunggu takdir menjawab doa Bunda. Selamat mencoba!

(Yusrina)