Konsepsi Dibaca 10,762 kali

Metode KB: Mengenal Lebih Jauh Diafragma sebagai Alat Kontrasepsi

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 06 Oktober, 2017 15:10

Metode KB: Mengenal Lebih Jauh Diafragma sebagai Alat Kontrasepsi
Diaphragm atau diafragma adalah suatu alat kontrasepsi berbentuk kubah dangkal yang terbuat dari karet atau silikon. Setengah bagian kubah tersebut dapat Anda isi dengan krim atau jeli pembunuh sel sperma (spermicidal) untuk kemudian dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim. Diafragma merupakan salah satu metode kontrasepsi yang berperan menghalangi sel sperma masuk ke dalam rahim serta menjaga agar spermisida tetap berada di dekat leher rahim untuk membunuh setiap sel sperma yang mencoba masuk ke area rahim.

Seberapa efektifkah tingkat keberhasilan dari diafragma ini? 

Apabila digunakan dengan benar dan konsisten, maka tingkat kesuksesan alat kontrasepsi ini dapat mencapai 94%. Itu berarti, ada 6 dari 100 orang wanita yang tetap hamil meski sudah menuruti prosedur kontrasepsi secara benar. Kalau keliru menggunakan diafragma atau lupa mengisikan spermisida, maka kemungkinan kontrasepsi ini gagal dapat mencapai 12 persen. Jadi, Anda mungkin akan memerlukan metode kontrasepsi tambahan seperti pemakaian kondom (baik kondom pria atau khusus wanita) serta mengonsumsi pil kontrasepsi darurat sesegera mungkin setelah melakukan hubungan intim tanpa proteksi.

Apakah boleh menggunakan kontrasepsi diafragma ketika masih dalam masa menyusui?

Jawabannya, boleh. Malahan, kontrasepsi ini merupakan pilihan yang tepat bagi para Ibu yang sedang memberikan ASI eksklusif. Berbeda dengan pil pencegah kehamilan, alat kontrasepsi diafragma ini tidak bergantung pada level hormon serta tidak mengganggu produksi air susu Ibu.

Apakah diafragma mampu membentengi diri dari penyakit seksual menular?

Sayangnya, alat kontrasepsi satu ini tidak memiliki peran dalam menghalau infeksi seksual apapun. Apabila Anda mengkhawatirkan kesehatan organ seksual pasangan, maka lebih baik pilih kondom yang terbuat dari lateks untuk mencegah penularan penyakit. Namun, kalau Bunda atau pasangan tidak nyaman menggunakan kondom latex, maka kondom yang terbuat dari polyutrethane dapat menjadi pilihan utama. Perhatikan pula kondisi kesehatan tubuh Bunda, apakah sekarang Anda merasa tidak enak badan atau sedang dalam kondisi berisiko terinfeksi penyakit? Kalau iya, maka jangan coba-coba menggunakan spermisida. Pasalnya, penggunaan spermisida secara terus menerus dapat menyebabkan iritasi pada kelamin dimana akan membuka lebih banyak celah untuk penularan HIV dan infeksi penyakit seksual lainnya.

Bagaimana cara mendapatkan diafragma?

Pertama-tama,petugas kesehatan akan memeriksa dengan teliti ukuran panggul Bunda agar bisa secara tepat memperkirakan ukuran diafragma yang sesuai. Lalu, petugas kesehatan akan mulai memasukkan berbagai ukuran diafragma (mulai dari 50 sampai 105 milimeter) untuk memastikan bahwa ukuran tersebut memang paling pas di tubuh Anda. Nah, kalau sudah ditentukan ukuran dan jenis diafragma yang benar, maka petugas akan menunjukkan bagaimana cara menggunakan diafragma lalu menyuruh Bunda mempraktikkannya hingga betul. Kemudian, petugas kesehatan akan memberikan surat keterangan yang dapat digunakan untuk membeli diafragma di klinik. Selain itu, Bunda juga sebaiknya membeli krim atau jeli spermisidal (biasanya disebut juga sebagai krim kontrasepsi) yang nantinya dipakai bersamaan dengan diafragma. Bunda dapat membeli krim ini di apotek terdekat tanpa harus menyertakan surat keterangan dari dokter.

Setelah melahirkan, berapa lama waktu yang diperlukan untuk memakai diafragma?

Petugas kesehatan dapat mengukur secara jelas panggul Bunda setidaknya 6 minggu pasca persalinan. Namun,sebaiknya Bunda menunggu sedikit lebih lama sampai petugas kesehatan memastikan bahwa otot-otot vagina Anda sudah kembali kuat. Itulah mengapa latihan kegel sangat diperlukan agar otot-otot vagina kembali kencang. Meskipun Bunda dulu pernah memakai diafragma sebelum melahirkan, ada baiknya Anda melakukan pengukuran ulang karena ukuran vagina akan berubah setelah persalinan. Sembari menunggu proses mendapatkan diafragma, Bunda dapat memakai alat kontrasepsi lain seperti kondom apabila hendak berhubungan intim.

Bagaimana cara menggunakan diafragma?

Berikut adalah petunjuk umum bagaimana menggunakan diafragma. Namun sebaiknya Bunda mengikuti aturan serta ilustrasi yang diberikan oleh petugas kesehatan yang bersangkutan langsung dengan Anda.

Mempersiapkan diafragma

Ketika baru pertama kali memiliki diafragma, maka jangan buru-buru melakukan hubungan seksual. Sebelumnya, cobalah memasukkan diafragma ke dalam vagina setidaknya selama 6 jam sebelum Anda hendak berhubungan intim. Hal ini untuk memastikan bahwa posisi diafragma tetap pas meskipun dipakai selama berjam-jam. Jika diafragma terasa longgar dan posisinya suka bergeser, maka segera hubungi petugas kesehatan untuk melakukan pengukuran ulang.
Sebelum memakai diafragma, pastikan apakah kondisi alat tersebut dalam keadaan baik. Jangan pakai apabila usia produk sudah lebih dari 2 tahun atau karetnya terlihat usang, robek, atau berlubang. Anda dapat memegang diafragma di bawah sinar lampu atau mengisinya dengan air untuk memastikan tak ada lubang.
Agar lebih berhati-hati lagi, siapkan pula kondom untuk berjaga-jaga apabila terjadi kerusakan pada diafragma. Jangan lupa juga untuk menggunakan krim spermisida (cek tanggal kadaluwarsanya!) sebanyak yang Anda perlukan.

Cara memasukkan diafragma

Bunda dapat memasukkan diafragma setidaknya 2 jam sebelum berhubungan intim. Kalau sudah siap, kosongkan kandung kemih Anda (buang air kecil) serta cuci tangan Anda dengan air dan sabun. Lalu, oleskan krim atau jeli spermisida ke dalam kubah diafragma dan ratakan sampai ke tepi-tepinya. Tahap ini penting, jadi jangan sampai Bunda melupakan krim spermisida!
Untuk memudahkan masuknya diafragma, Anda dapat berjongkok, berbaring dengan lutut terangkat, atau berdiri dengan satu kaki berada di kursi. Pisahkan bibir vulva Anda dengan satu tangan lalu pencet diafragma agar terlipat jadi dua dan masukkan pada vagina menggunakan tangan Anda yang satunya lagi. Letakkan jari telunjuk pada bagian tengah lipatan agar memudahkan masuknya diafragma. Krim spermisida sudah harus berada  di dalam lipatan tersebut ya, Bun. Nah, kalau diafragma sudah masuk, maka dorong terus sejauh mungkin sampai ia terletak di bagian belakang vagina. Selipkan ujung tepian diafragma di belakang tulang kemaluan serta pastikan agar leher rahim Anda sudah tertutup sempurna.

Berapa lama diafragma berada di dalam vagina? Bagaimana kalau Anda ingin berhubungan seks lagi?

Diafragma harus tetap berada di dalam vagina setidaknya 6 jam setelah Bunda terakhir kali berhubungan intim. Apabila Anda melakukan seks lagi atau intercourse berlangsung lebih dari 6 jam, maka jangan lepas diafragma Anda dan oleskan lebih banyak krim spermisida ke dalam vagina. Tapi ingat Bun, jangan sampai diafragma tetap berada di vagina lebih dari 24 jam!

Cara melepas diafragma

Setelah mencuci tangan dengan sabun, masukkan jari telunjuk Anda ke dalam vagina hingga mencapai bagian belakang tulang kemaluan. Lalu, kaitkan jari Anda dengan bagian belakang diafragma lalu tarik ke bawah untuk mengeluarkannya. Berhati-hatilah agar kuku Anda tidak sampai menusuk karet diafragma.

Siapa saja yang seharusnya tidak menggunakan diafragma?

Anda tidak dianjurkan menggunakan diafragma jika:
  • Anda tidak nyaman menyentuh diri sendiri atau mengalami kesulitan memasukkan diafragma dengan benar.
  • Anda atau pasangan ada yang memiliki alergi atau sensitif terhadap spermisida.
  • Anda pernah mengalami toxic shock syndrome.
  • Serviks, vagina, atau rahim Bunda memiliki bentuk yang tidak biasa sehingga tidak memungkinkan bagi diafragma untuk tetap berada di posisinya tanpa bergeser.
  • Anda telah mengalami infeksi saluran urine berulang kali setelah menggunakan diafragma dan masalah tetap saja muncul meskipun sudah mengganti diafragma dengan jenis dan ukuran baru.
  • Anda berisiko tinggi terhadap HIV atau penyakit seksual menular lainnya.
(Yusrina)