Konsepsi

Sebelum Nambah Momongan, Ketahui Dulu Jarak Usia Anak Yang Ideal

Sebelum Nambah Momongan, Ketahui Dulu Jarak Usia Anak Yang Ideal

Saat berbicara soal jarak usia anak, ada beberapa orang yang punya perbedaan pendapat. Ada yang menerapkan “two under two” alias 2 anak sebelum si sulung berusia 2 tahun.

Tujuannya tak lain agar nggak terlalu banyak penyesuaian. Namun, ada juga yang lebih memilih jarak usia lebih jauh, dengan pertimbangan utama karena masalah biaya.

Belum lama ini, Presiden Joko Widodo merekomendasikan untuk mengatur jarak usia anak ideal yakni lebih dari tiga tahun. Bapak Presiden juga memperbolehkan, tiap keluarga punya lebih dari 2 anak, asalkan jarak usia anak diatur yaitu lebih dari 3 tahun.

Tapi, sebenarnya kenapa yang jarak usia ideal memiliki anak harus lebih dari 3 tahun dan diatur dengan baik? Simak jawabannya dalam ulasan berikut. 

Benarkah sebaiknya 3 tahun?


Ada beberapa alasan mengapa jarak usia anak sebaiknya lebih dari 3 tahun. Salah satu alasan utamanya adalah soal kesehatan kehamilan.

Sebuah studi tahun 2018 yang berjudul Association of Short Interpregnancy Interval With Pregnancy Outcomes According to Maternal Age menemukan bahwa, jarak usia kehamilan yang kurang dari 12 bulan antara persalinan dan kehamilan berikutnya dapat meningkatkan risiko penyakit, persalinan prematur, dan kematian. Temuan studi tersebut menyarankan, jarak yang ideal antara persalinan dan kehamilan selanjutnya adalah 18 bulan (dengan rentang 12-24 bulan).

Jika persalinan sebelumnya melalui operasi caesar, jarak kehamilan yang pendek juga berisiko, mulai dari komplikasi bekas luka hingga gangguan plasenta pada persalinan berikutnya. Sehingga dapat disimpulkan, jarak usia anak yang ideal yang lebih pas adalah 3 tahun lebih.

Alasan lain mengapa jarak usia anak sebaiknya lebih dari 3 tahun

1. Memberikan waktu tubuh untuk pulih

Persalinan adalah sebuah proses menakjubkan. Proses persalinan tidak hanya melibatkan kekuatan fisik, tapi juga mental.

Ibu mungkin melalui proses persalinan pervaginam atau mungkin secara caesar. Apa pun itu, tubuh Ibu telah mengalami sesuatu yang membutuhkan waktu untuk pulih.

Dikutip dari Healthline, proses pemulihan pascapersalinan tidak selesai dalam beberapa hari saja. Pemulihan tubuh dari kehamilan dan persalinan bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Rahim pun perlu waktu untuk kembali normal dan menerima pembuahan secara sempurna. Selama proses pemulihan, hormon juga cenderung naik-turun. Ibu mungkin akan merasa lebih emosional. 

Beri waktu bagi tubuh untuk memulihkan diri. Jarak waktu yang cukup antara kehamilan pertama dan berikutnya nggak hanya baik untuk bayi, tapi juga untuk Ibu.

2. Beri jeda untuk persiapan finansial

Selain kesehatan, finansial juga bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan jarak usia anak. Dengan jarak usia anak yang nggak terlalu mepet, Parents bisa punya lebih banyak waktu dalam mempersiapkan finansial dan juga pendidikan anak.

Kalau dilihat secara jangka panjang, ini akan memberi “ruang untuk bernafas” bagi orang tua. Katakanlah si sulung tahun ini mulai masuk TK. Jika jarak usianya dengan sang adik 3 tahun, maka orang tua bisa punya tabungan yang cukup untuk mempersiapkan biaya pendidikannya dengan lebih mudah.

Contoh lain yang lebih simpel adalah perkara perlengkapan bayi. Dengan rentang usia yang lebih besar, Parents bisa menggunakan lebih banyak perlengkapan bayi yang sudah dipakai sebelumnya.

3. Lebih fokus pada masing-masing anak

Jarak usia anak yang tidak terlalu dekat baik untuk perkembangan mental anak. Ibu dan Ayah akan memiliki waktu untuk memberikan perhatian penuh untuk si kecil pada tahun-tahun pertamanya (golden age). 

Sebab, inilah waktu paling krusial dalam pertumbuhan anak. Golden age anak terjadi pada usia 0-5 tahun. Pada masa tersebut, otak anak berkembang dengan pesat hingga 80%. 

Memberi anak perhatian penuh pada masa golden age, tidak sekadar membuat fisiknya lebih kuat, tapi juga meningkatkan kecerdasannya, lho! Problem klasik seperti sibling rivalry atau persaingan antar saudara pun bisa diminimalkan, jika jarak usia tidak terlalu mepet. 

Dengan jarak usia yang cukup, orang tua juga bakal memiliki lebih banyak waktu untuk memberi pemahaman kepada si sulung.

4. Bantu tekan angka stunting

Salah satu risiko jarak kehamilan yang terlalu dekat adalah, bayi lahir dengan berat badan rendah yang kemudian berujung pada stunting. Ini karena pertumbuhan anak sudah terjadi sejak 270 hari masa kehamilan Ibu. 

Nah, pada 2 tahun pertama setelah kelahiran bayi adalah masa pelengkap. 1000 hari pertama (HPK) adalah momen krusial, karena di sinilah terjadi pertumbuhan tercepat dan terbaik si kecil.

Ketika jarak kehamilan terlalu dekat, tubuh belum pulih sepenuhnya. Rahim yang menjadi tempat tumbuhnya janin tidak berada pada kondisi terbaik. Alhasil, pertumbuhan janin pun terganggu dan bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah.

Jadi, dengan menjaga jarak usia anak, Parents sudah ikut serta dalam menekan angka stunting di Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia sedang giat menurunkan angka stunting. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa, angka stunting pada tahun 2021 adalah sebesar 31,8%. 

Meski jumlah tersebut turun pada tahun 2022 menjadi 21,6%, namun tetap membuat kita tetap harus waspada dan mengatur jarak usia anak yang tepat. Jarak usia anak yang ideal, memang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan kondisi di setiap keluarga bisa berbeda-beda. 

Namun, ada beberapa pertimbangan penting yang perlu diperhatikan, seperti faktor kesehatan Ibu dan juga finansial. Apalagi jarak usia anak yang terlalu mepet bisa sangat berisiko, lho!

Anak bisa terlahir dengan berat badan rendah dan bahkan mengalami stunting. Belum lagi problem lain seperti gangguan pada mental orang tua, yang kemudian berimbas pada perkembangan anak.

Untuk itu, tidak perlu terburu-buru menambah momongan. Bagaimanapun juga, yang paling mengerti kondisi keluarga adalah Parents sendiri. Nah, menurut Parents sendiri berapa sih jarak usia anak yang paling aman?

Editor: Aprilia