Belajar dari Film Na Willa, Saat Anak Banyak Bertanya dan Eksplorasi

Belajar dari Film Na Willa, Saat Anak Banyak Bertanya dan Eksplorasi
Belajar dari Film Na Willa, Saat Anak Banyak Bertanya dan Eksplorasi

Anak yang tidak berhenti bertanya sering kali membuat orang tua merasa kewalahan. Dari bangun tidur sampai menjelang malam, selalu ada saja hal yang ingin mereka ketahui. Pertanyaannya pun bisa sangat beragam, mulai dari hal kecil yang tampak sederhana hingga pertanyaan yang membuat orang tua harus berpikir cukup lama sebelum menjawabnya.

Tidak jarang situasi seperti ini membuat orang tua merasa lelah. Apalagi ketika rutinitas sehari-hari sudah cukup padat. Namun sebenarnya, di balik celotehan yang seolah tidak ada habisnya itu, anak sedang menjalani proses penting dalam tumbuh kembangnya. Mereka sedang belajar memahami dunia.

Hal inilah yang juga menjadi salah satu pesan kuat dalam film Na Willa, film keluarga karya Visinema Studios yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026. Melalui cerita yang hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, film ini mengajak orang tua melihat kembali bagaimana rasa ingin tahu anak sebenarnya menjadi bagian penting dari proses belajar mereka.

Na Willa, Gambaran Anak Yang Penuh Rasa Ingin Tahu

Dalam film Na Willa, karakter utama digambarkan sebagai anak yang aktif, ceria, dan penuh imajinasi. Ia banyak bertanya, sering berbicara tentang berbagai hal yang ia lihat, dan tidak ragu mencoba sesuatu yang baru di sekitarnya. Rasa ingin tahunya membuat Na Willa terus mengeksplorasi lingkungan dan mencoba memahami dunia dengan caranya sendiri.

Karakter seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan anak-anak. Banyak anak yang terlihat sangat aktif, banyak bertanya, dan selalu ingin tahu tentang berbagai hal di sekeliling mereka. Dalam film ini, sifat tersebut justru digambarkan sebagai kekuatan yang membuat anak terus belajar dan berkembang.

Head of SGM, Anissa Ardiellaputri, mengungkapkan bahwa sejak pertama kali melihat trailer film Na Willa, karakter tersebut langsung terasa inspiratif. Salah satu adegan yang menarik perhatiannya adalah ketika Na Willa berusaha menggapai kerupuk yang berada di atas meja yang tinggi. “Na Willa itu karakternya memang rasa ingin tahunya tinggi, terus anaknya penuh imajinasi,” ujarnya.

Adegan sederhana itu menggambarkan bagaimana seorang anak memiliki dorongan alami untuk mencoba sesuatu yang lebih, bahkan ketika harus berusaha lebih keras untuk mencapainya. Bagi Anissa, karakter Na Willa menjadi representasi anak yang ingin tumbuh lebih, ingin tahu lebih banyak, dan berani mencoba hal-hal baru.

Dari sudut pandang perkembangan anak, rasa ingin tahu seperti ini justru menjadi bagian penting dari proses belajar mereka. Anak yang banyak bertanya dan ingin mencoba berbagai hal sebenarnya sedang membangun cara berpikirnya. Hal ini pula yang dijelaskan oleh para ahli psikologi anak, bahwa rasa ingin tahu yang tinggi sering kali berkaitan dengan kemampuan anak untuk memahami lingkungan di sekitarnya.

Anak yang Banyak Bertanya Sering Kali Justru Sedang Berpikir

Bagi sebagian orang tua, anak yang terlalu banyak bertanya kadang dianggap cerewet atau sulit diam. Padahal dari sudut pandang psikologi perkembangan, hal tersebut justru bisa menjadi tanda bahwa anak sedang aktif belajar memahami dunia di sekitarnya.

Praktisi Psikologi Anak Usia Dini Aninda, S.Psi, M.Psi.T menjelaskan bahwa rasa ingin tahu yang tinggi berkaitan erat dengan cara anak berpikir dan memproses informasi. “Kalau rasa ingin tahu tinggi, maka akan berhubungan dengan bagaimana cara dia berpikir,” jelasnya.

Anak yang sering bertanya sebenarnya sedang mencoba menghubungkan berbagai hal yang ia lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mencoba memahami situasi yang terjadi di sekelilingnya, sekaligus mencari makna dari pengalaman yang mereka alami.

Dalam proses tersebut, anak biasanya akan menunjukkan beberapa perilaku yang sering ditemui, seperti:

A. Lebih aktif mengeksplorasi lingkungan

Anak terdorong untuk mencoba berbagai hal baru yang menarik perhatiannya.

B. Sering mengajukan pertanyaan

Pertanyaan menjadi cara anak mengumpulkan informasi dan memahami sesuatu yang belum ia mengerti.

C. Mulai mencoba memahami orang lain

Anak belajar membaca ekspresi, perasaan, dan reaksi orang-orang di sekitarnya.

Menurut Aninda, perilaku seperti ini justru merupakan salah satu indikator perkembangan kognitif yang baik. “Itu sebenarnya salah satu ciri dari anak yang cerdas,” ujarnya.

Rasa ingin tahu juga membantu anak memahami berbagai situasi yang mereka temui. Dari pengalaman bertanya, mencoba, dan mengamati, anak belajar membaca lingkungan serta memahami apa yang terjadi di sekitarnya. “Dari rasa ingin tahu tadi akan berujung ke cepat tanggapnya,” tambah Aninda. Kemampuan untuk memahami situasi, membaca lingkungan, dan merespons dengan tepat inilah yang membuat anak semakin berkembang dalam proses belajarnya.

Namun perkembangan tersebut tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Salah satu faktor penting yang turut membentuk proses belajar anak adalah kehadiran orang tua, terutama ibu, dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Peran Ibu Dalam Tumbuh Kembang Anak Sangat Besar

Film Na Willa tidak hanya menyoroti dunia anak yang penuh rasa ingin tahu. Di balik cerita tentang Na Willa yang aktif dan banyak bertanya, film ini juga memperlihatkan bagaimana peran ibu memiliki pengaruh besar dalam proses tumbuh kembang anak.

Dalam film tersebut, sosok Mak digambarkan sebagai ibu yang benar-benar hadir dalam kehidupan anaknya. Ia bukan hanya mengurus kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menemani Na Willa memahami banyak hal yang terjadi di sekitarnya.

Anissa mengatakan bahwa hal inilah yang membuat film Na Willa terasa berbeda. Bukan hanya tentang anak, tetapi juga tentang bagaimana seorang ibu berperan dalam perjalanan belajar anak. “Ibu itu bukan sekadar ibu buat Na Willa. Dia itu guru pertamanya, teman pertamanya,” ujarnya.

Menurut Anissa, melalui hubungan yang dekat dengan ibunya, anak belajar mengenal dunia secara bertahap. Ibu menjadi sosok yang mendampingi anak ke berbagai tempat, menjawab pertanyaan mereka, dan memberi ruang bagi anak untuk mencoba hal-hal baru.

Hal ini juga sejalan dengan penjelasan Aninda yang menyebut bahwa ibu sering kali menjadi sumber pembelajaran pertama bagi anak. “Ibu sering disebut sebagai guru pertama bagi anak karena melalui interaksi sehari-hari di rumah, anak mulai belajar mengenal berbagai hal di sekitarnya,” jelasnya.

Melalui percakapan sederhana, aktivitas sehari-hari, hingga momen bermain bersama, anak mulai memahami bagaimana dunia bekerja. Dari situlah rasa ingin tahu anak berkembang, dan proses belajar pun dimulai.

Dalam film Na Willa, peran tersebut terlihat jelas melalui karakter Mak yang tidak hanya hangat, tetapi juga hadir sebagai sosok yang membimbing anaknya. Cara Mak berinteraksi dengan Na Willa pun menjadi contoh bagaimana pola asuh yang sehat dapat membantu anak berkembang dengan lebih baik.

Pola Asuh Hangat Tapi Tegas Membantu Anak Berkembang

Salah satu hal yang menarik dari karakter Mak dalam film Na Willa adalah cara ia berinteraksi dengan anaknya. Mak digambarkan sebagai sosok ibu yang hangat dan penuh perhatian, tetapi tetap memiliki batasan yang jelas dalam mendidik anak.

Pendekatan seperti ini dalam psikologi dikenal sebagai authoritative parenting, yaitu pola asuh yang menyeimbangkan kehangatan emosional dengan aturan yang konsisten. “Di satu sisi emak itu sangat hangat, tapi di sisi lain juga ada aturan,” jelas Aninda saat membahas karakter Mak dalam film ini.

Menurut Aninda, pola asuh seperti ini membantu anak berkembang dengan lebih seimbang. Anak tidak hanya merasa dicintai dan didengarkan, tetapi juga memahami bahwa ada aturan yang perlu dipatuhi.

Pendekatan ini dapat membantu anak dalam beberapa hal penting, seperti:

A. Memahami aturan

Anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki batasan dan konsekuensi yang perlu dipahami.

B. Belajar regulasi emosi

Anak mulai mengenali perasaannya sendiri dan memahami bagaimana cara mengelola emosi ketika menghadapi situasi tertentu.

C. Merasa aman saat bereksplorasi

Ketika anak tahu bahwa ada orang tua yang mendampingi dan memberi arahan, mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba hal-hal baru. “Anak akhirnya belajar bagaimana cara menyelesaikan masalah dan memahami perasaannya,” tambah Aninda.

Melalui pendekatan yang hangat namun tetap tegas ini, anak dapat tumbuh dengan rasa aman sekaligus memiliki kemampuan untuk memahami diri dan lingkungannya. Karakter Mak dalam film Na Willa pun menjadi gambaran bagaimana peran orang tua dapat membentuk proses belajar anak dalam kehidupan sehari-hari.

Menariknya, sosok Mak dalam film ini juga terasa hidup berkat peran Irma Novita Rihi, yang memerankannya dengan penuh kedekatan bersama para pemain anak selama proses syuting.

Pengalaman Irma Novita Rihi Memerankan Mak

Karakter Mak dalam film Na Willa diperankan oleh Irma Novita Rihi. Bagi Irma, bekerja bersama para pemain anak dalam film ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Ia mengaku cukup terkesan dengan kemampuan para pemain anak yang menurutnya sangat cepat menangkap arahan selama proses syuting. Bahkan dialog yang panjang pun dapat mereka hafal dengan baik. “Mereka itu sangat profesional menurut aku, dan daya tangkap mereka sangat cepat,” ujarnya.

Selain kemampuan akting, Irma juga merasakan kedekatan yang cukup cepat terbangun antara dirinya dan para pemain anak. Ia yang mengaku memiliki kepribadian cukup introvert justru merasa cocok bekerja bersama anak-anak yang cenderung lebih ekstrovert. “Aku ini sedikit introvert dan mendapat anak yang ekstrovert sangat bersyukur,” katanya sambil tersenyum.

Kedekatan tersebut bahkan terasa tidak hanya saat kamera menyala. Di sela-sela waktu istirahat, mereka sering menghabiskan waktu bersama seperti keluarga kecil. Irma bercerita bahwa dalam beberapa momen, ia benar-benar berperan seperti seorang ibu bagi para pemain anak, bahkan di luar adegan. “Kadang Na Willa mau makan itu harus aku yang suapin, bobok aku yang boboin,” ceritanya.

Pengalaman tersebut membuat Irma semakin menyadari bahwa hubungan emosional antara anak dan sosok ibu memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Kedekatan seperti inilah yang sering kali menjadi fondasi bagi anak untuk merasa aman, didengar, dan didukung dalam proses tumbuh kembangnya.

Anak Tidak Hanya Butuh Aturan, Tapi Juga Kehadiran Orang Tua

Selain pola asuh yang tepat, anak juga membutuhkan kehadiran emosional dari orang tua, terutama ibu. Kehadiran ini bukan hanya soal berada di dekat anak secara fisik, tetapi juga tentang bagaimana orang tua benar-benar hadir untuk mendengarkan dan memahami apa yang dirasakan anak.

Dalam proses tumbuh kembangnya, anak membutuhkan ruang untuk bertanya, mencoba berbagai hal, dan mengekspresikan perasaannya. Kehadiran orang tua yang mau mendengarkan sering kali menjadi dukungan penting bagi anak untuk merasa aman saat mengeksplorasi dunia di sekitarnya.

Menurut Irma, hal inilah yang menjadi salah satu pesan penting dari karakter Mak dalam film Na Willa. “Peran ibu yang dibutuhkan anak adalah kehadirannya, yang mau mendengarkan anak,” ujarnya.

Irma menambahkan bahwa banyak hal yang bagi orang dewasa terlihat sederhana, sebenarnya memiliki arti besar bagi anak. “Bagi kita mungkin sederhana, tapi bagi anak itu dukungan yang hebat,” katanya. Ketika anak merasa didengar dan dipahami, mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba hal-hal baru. Dari situ anak belajar mengenali dirinya sendiri sekaligus memahami lingkungan di sekitarnya.

Kehadiran orang tua seperti inilah yang membantu anak berkembang secara emosional maupun sosial. Dalam psikologi perkembangan, proses ini juga berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan yang perlu distimulasi sejak dini.

6 Aspek Perkembangan Anak Yang Perlu Distimulasi Sejak Dini

Dalam psikologi perkembangan anak, terdapat beberapa aspek penting yang perlu distimulasi sejak dini agar anak dapat tumbuh secara optimal. Menurut Aninda, terdapat enam aspek perkembangan utama yang perlu diperhatikan orang tua.

Keenam aspek ini saling berkaitan dan berperan dalam membentuk proses belajar anak secara menyeluruh.

1. Fisik

Aspek ini berkaitan dengan kondisi kesehatan tubuh anak secara keseluruhan. Ketika anak sehat secara fisik, ia memiliki energi untuk bermain, bergerak, dan mengeksplorasi lingkungannya.

2. Motorik

Perkembangan motorik berhubungan dengan kemampuan gerak anak, baik motorik kasar seperti berlari dan melompat, maupun motorik halus seperti menggambar atau memegang benda.

3. Kognitif

Aspek ini berkaitan dengan kemampuan berpikir anak, termasuk bagaimana ia memahami informasi, memecahkan masalah sederhana, dan memproses pengalaman yang ia alami.

4. Bahasa

Kemampuan bahasa membantu anak mengekspresikan pikiran, mengajukan pertanyaan, serta memahami apa yang disampaikan orang lain.

5. Sosial

Dalam aspek ini anak belajar berinteraksi dengan orang lain, memahami hubungan pertemanan, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya.

6. Emosional

Perkembangan emosional membantu anak mengenali perasaannya sendiri serta belajar mengelola emosi ketika menghadapi berbagai situasi.

Menurut Aninda, seluruh aspek perkembangan ini saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Namun, kondisi fisik yang sehat sering kali menjadi fondasi penting bagi perkembangan aspek lainnya. “Ketika fisiknya sehat, maka stimulasi aspek lainnya akan lebih mudah,” jelasnya.

Karena itu, selain stimulasi dari lingkungan dan kehadiran orang tua, anak juga membutuhkan dukungan nutrisi yang cukup agar proses tumbuh kembangnya dapat berjalan dengan optimal.

Nutrisi Menjadi Bagian Penting dari Tumbuh Kembang Anak

Selain stimulasi dari lingkungan dan kehadiran orang tua, nutrisi juga memegang peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Asupan gizi yang cukup membantu anak memiliki energi untuk bergerak, belajar, serta mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.

Anissa menjelaskan bahwa dukungan nutrisi menjadi salah satu cara yang dapat membantu orang tua mendampingi proses perkembangan anak dengan lebih optimal. “Sebagai brand, tentunya kita berkomitmen untuk memberikan nutrisi lebih,” ujarnya.

SGM Eksplor sendiri telah menjadi bagian dari perjalanan tumbuh kembang anak Indonesia selama puluhan tahun. Hingga saat ini, SGM telah berkontribusi menutrisi lebih dari 75 juta anak Indonesia.

Melalui berbagai inovasi produk, SGM Eksplor menghadirkan kandungan nutrisi penting yang dirancang untuk mendukung perkembangan anak, di antaranya:

A. Zat Besi 3x lebih banyak untuk membantu mendukung perkembangan kognitif anak

B. DHA 100% lebih banyak yang berperan penting dalam perkembangan otak

C. Minyak ikan tuna sebagai salah satu sumber nutrisi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak

Kombinasi nutrisi tersebut diharapkan dapat membantu anak tumbuh dengan lebih optimal, menjadi lebih cepat tanggap, serta memiliki energi untuk terus belajar dan mencoba berbagai hal baru. Ketika kebutuhan nutrisi anak terpenuhi dengan baik, mereka juga memiliki kesempatan lebih besar untuk mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.

Hal inilah yang tergambar dalam karakter Na Willa, sosok anak yang penuh rasa ingin tahu dan tidak ragu mencoba berbagai pengalaman baru dalam kesehariannya.

Na Willa Sebagai Gambaran Anak Generasi Maju

Karakter Na Willa dalam film ini tidak hanya menggambarkan sosok anak yang aktif dan penuh rasa ingin tahu, tetapi juga mencerminkan gambaran anak yang diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi masa depan yang siap menghadapi berbagai tantangan.

Dalam cerita film, Na Willa digambarkan sebagai anak yang:

A. Penuh rasa ingin tahu

Ia selalu bertanya dan mencoba memahami berbagai hal yang terjadi di sekitarnya.

B. Aktif belajar

Na Willa tidak hanya mengamati, tetapi juga mencoba banyak hal untuk memahami dunia di sekitarnya.

C. Berani bermimpi

Ia memiliki keinginan untuk mencoba sesuatu yang lebih dan tidak takut mengejar apa yang ingin ia capai.

D. Cepat tanggap

Melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan, Na Willa belajar memahami situasi di sekitarnya dengan lebih baik.

Anissa menilai karakter ini menjadi salah satu hal yang membuat cerita Na Willa terasa inspiratif bagi anak-anak maupun orang tua. “Na Willa merupakan anak inspiratif yang penuh rasa ingin tahu dan aktif belajar,” ujarnya.

Nilai-nilai yang ditampilkan melalui karakter Na Willa juga sejalan dengan gambaran anak yang diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi masa depan yang tangguh, mampu berpikir kritis, serta berani menghadapi berbagai perubahan di dunia yang terus berkembang.

Hal ini juga sejalan dengan temuan dari Talker Research yang melakukan riset terhadap 2.000 orang tua dengan anak usia 0–6 tahun. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa sekitar 54 persen orang tua Gen Z memandang pengasuhan sebagai proses untuk mempersiapkan anak menghadapi dunia nyata.

Temuan ini menunjukkan bahwa bagi banyak orang tua saat ini, pengasuhan tidak lagi hanya berfokus pada merawat anak dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, orang tua juga ingin membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir, memahami lingkungan, serta membangun karakter yang akan membantu mereka menghadapi masa depan.

Dalam konteks inilah, karakter Na Willa menjadi gambaran bagaimana rasa ingin tahu, keberanian mencoba hal baru, dan dukungan dari lingkungan sekitar dapat membantu anak tumbuh dan berkembang dengan lebih optimal. Nilai-nilai tersebut juga menjadi salah satu pesan penting yang ingin disampaikan melalui film ini kepada para orang tua.

Film Na Willa Mengingatkan Orang Tua Untuk Melihat Dunia Dari Sudut Pandang Anak

Melalui cerita yang sederhana namun hangat, film Na Willa mengajak orang tua untuk kembali melihat dunia dari sudut pandang anak-anak. Dalam keseharian, sering kali orang dewasa menganggap masalah anak sebagai sesuatu yang kecil atau sepele. Padahal bagi anak, pengalaman-pengalaman tersebut bisa terasa sangat besar dan bermakna.

Produser film Na Willa sekaligus Chief of Content Officer Visinema Studios, Anggia Kharisma, mengatakan bahwa film ini juga ingin mengingatkan orang tua agar lebih memahami dunia anak dengan lebih empati. “Kadang kita lupa kalau problem anak-anak itu sama pentingnya dengan problem kita,” ujarnya.

Bagi anak, hal-hal seperti kehilangan waktu bermain, bertengkar dengan teman, atau tidak memahami sesuatu yang mereka lihat bisa menjadi pengalaman emosional yang cukup besar. Melalui cerita Na Willa, penonton diajak memahami bahwa dunia anak memiliki dinamika yang juga perlu dihargai.

Selain itu, film ini juga membawa beberapa pesan penting yang relevan bagi anak maupun orang dewasa, seperti pentingnya berani jujur pada diri sendiri, menerima identitas diri, dan menghargai keberagaman.

Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membantu anak memahami dirinya sendiri sekaligus belajar hidup berdampingan dengan orang lain.

Film Na Willa Menemani Anak Belajar Memahami Dunia

Pada akhirnya, anak yang aktif, banyak bertanya, dan penuh rasa ingin tahu sebenarnya sedang menjalani proses penting dalam memahami dunia di sekitarnya. Di balik berbagai pertanyaan yang mereka ajukan, ada proses belajar yang sedang berlangsung.

Dengan kehadiran orang tua yang mau mendengarkan, stimulasi yang tepat, serta dukungan nutrisi yang cukup, potensi anak dapat berkembang dengan lebih optimal.

Film Na Willa menjadi salah satu pengingat bahwa dunia anak layak dipahami dengan lebih sabar dan penuh perhatian. Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan keluarga, film ini mengajak orang tua untuk kembali menghargai rasa ingin tahu anak sebagai bagian penting dari proses tumbuh kembang mereka.

Film Na Willa akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Maret 2026, dan diharapkan dapat menjadi salah satu tontonan keluarga yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan hangat tentang dunia anak dan peran orang tua dalam mendampingi perjalanan mereka.

Follow Ibupedia Instagram