Ini Alasan Buku Break A Leg Bikin Banyak Ibu Merasa Relate

Ini Alasan Buku Break A Leg Bikin Banyak Ibu Merasa Relate
Ini Alasan Buku Break A Leg Bikin Banyak Ibu Merasa Relate

Ada fase dalam hidup seorang ibu yang tidak pernah benar-benar kita ceritakan dengan lantang. Fase ketika kita terlihat baik-baik saja di luar, tapi di dalam hati penuh pertanyaan yang tidak bisa dijawab. “Sudah cukup benar belum ya aku jadi ibu?” “Kok rasanya capek terus ya ngurus anak?” “Kenapa anak orang lain kelihatan lebih mudah diatur daripada anakku?”

Di tengah riuhnya kehidupan rumah tangga, pekerjaan, dan tuntutan sosial media, membaca kadang jadi satu-satunya ruang untuk bernapas. Dan jujur saja, tidak semua buku tentang motherhood terasa dekat. Ada yang terlalu teoritis atau ada yang terlalu sempurna, padahal kehidupan ibu jarang sekali sempurna.

Itulah kenapa buku Break A Leg - A Memoir karya drg. Stella Lesmana Sp.KGA, yang dikenal sebagai mama.toothfairy di Instagram, terasa berbeda. Buku ini bukan buku parenting berisi tips dan trik. Ini adalah memoar, cerita hidup beliau yang raw, apa adanya, menceritakan pahitnya dan hangatnya menjadi seorang ibu.

Setelah Ibumin membaca Break A Leg - A Memoir, rasanya sulit untuk tidak merasa relate dengan dr. Stella. Ceritanya begitu dekat dengan kehidupan banyak Ibu, baik yang sedang menanti anak, yang baru belajar jadi orang tua, maupun yang sudah jungkir balik mengurus dua balita sekaligus.

Berikut beberapa alasan kenapa Ibu wajib membaca buku ini.

1. Menguatkan Ibu dalam Fase Penantian Anak

Sebelum menjadi ibu, drg. Stella dan suaminya memang belum langsung dikaruniai anak. Bukan karena sengaja menunda, tapi memang belum diberikan pada waktunya.

Sebagai dokter gigi anak, situasinya terasa semakin sensitif. Ia merawat pasien-pasien kecil setiap hari, memahami dunia anak dengan sangat mendalam secara profesional. Namun di sisi lain, ada saja pertanyaan yang muncul, kadang tanpa empati. Bagaimana bisa menangani anak kalau belum punya anak sendiri.

Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana bagi yang bertanya, tapi bagi perempuan yang sedang dalam fase menanti, kalimat tersebut bisa terasa menusuk. Seolah kemampuan dan dedikasinya diringkas hanya dari status sebagai ibu atau belum.

Banyak Ibu mungkin pernah berada di fase serupa. Fase ketika rencana tidak selalu berjalan sesuai harapan dan fase ketika jawaban “belum” harus diulang berkali-kali pada orang yang berbeda. Di buku ini, penantian itu diceritakan dengan sangat terbuka. Tidak dramatis dan tidak menyalahkan keadaan, tapi menggambarkan bagaimana rasanya berada di posisi tersebut, dengan hati yang tetap berharap.

Sering kali penantian memiliki seorang anak terasa seperti perjalanan sunyi yang tidak semua orang pahami, dan membaca bagian ini membuat Ibumin sadar bahwa banyak perempuan mungkin menyimpan cerita yang sama, hanya saja tidak selalu punya ruang untuk menceritakannya.

2. Bertahan dan Beradaptasi Saat Hamil di Masa Sulit

Setelah melalui masa promil dan akhirnya mendapatkan kabar kehamilan yang dinanti, drg. Stella justru menjalani kehamilan pertamanya di masa awal pandemi Covid. Masih teringat jelas masa-masa ini, di mana dunia sedang dipenuhi rasa cemas, informasi yang berubah cepat, serta pembatasan di berbagai lini kehidupan.

Pengalaman kehamilan yang seharusnya identik dengan antusiasme dan rasa ingin berbagi itu harus dijalani dengan penyesuaian besar. Mulai dari kontrol ke dokter yang tak lagi terasa sederhana karena ada kekhawatiran soal keamanan, interaksi sosial yang dibatasi, hingga rencana-rencana kecil yang mungkin sudah dibayangkan sebelumnya tetapi harus diatur ulang karena situasi tidak memungkinkan.

Di saat tubuhnya sedang beradaptasi dengan perubahan hormon, rasa lelah, dan dinamika kehamilan pertama, ia juga harus menata ulang ekspektasi sebagai calon ibu di tengah kondisi global yang tidak stabil.

Bagi banyak Ibu yang pernah hamil di masa pandemi, fase ini pasti terasa sangat dekat karena kebahagiaan dan kecemasan hadir bersamaan. Kondisi ini membuat seolah menjadi ibu sejak awal sudah mengajarkan satu hal penting, bahwa tidak semua perjalanan dimulai dalam situasi yang ideal, tetapi justru di sanalah kemampuan untuk beradaptasi, bertahan, dan tetap berharap perlahan terbentuk. Membaca bagian ini membuat Ibumin teringat bahwa menjadi ibu sering kali berarti belajar tenang di tengah hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.

3. Menyentil Idealisme Ibu yang Ingin Serba Sendiri

Ada masa ketika menjadi ibu terasa seperti pembuktian. Kita ingin tetap profesional, tetap hadir di rumah, tetap jadi pasangan yang baik, dan tetap jadi ibu yang sigap dalam segala hal.

Di buku ini, Ibu akan menemukan gambaran tentang fase itu, fase ketika merasa lebih tenang kalau semua dipegang sendiri, ketika meminta bantuan terasa seperti kegagalan kecil yang tidak ingin diakui. Bukan karena sombong, tapi karena merasa itu memang tanggung jawab kita.

Yang menarik, memoar ini tidak menyalahkan idealisme tersebut. Justru dengan blak-blakan memperlihatkan bagaimana pola itu bisa perlahan menggerus energi tanpa kita sadari. Bagian ini akan terasa sangat dekat bagi Ibu yang sering berkata, “Udah, biar aku aja,” meski tubuh dan hati sebenarnya lelah. Ibumin rasa hampir setiap ibu pernah berada di titik itu, merasa kuat karena bisa melakukan semuanya sendiri, padahal diam-diam berharap ada yang berkata, “Kamu tidak harus sendirian.”

4. Mengakui realita punya dua anak yang tidak selalu manis

Ketika anggota keluarga bertambah, dinamika pun ikut berubah. Teori parenting mungkin sudah dibaca, persiapan sudah dilakukan, tetapi perasaan tetap tidak selalu bisa dikendalikan.

Di sinilah buku Break A Leg - A Memoir terasa sangat membumi. Ia tidak menghadirkan gambaran ibu yang selalu sabar dan tenang. Ia memperlihatkan bahwa emosi itu nyata. Ada perasaan cemas, ledakan sesaat saat burnout mengurus anak, dan juga ada rasa bersalah yang datang setelahnya.

Banyak Ibu pasti pernah berada di titik itu, ketika ingin menjadi versi terbaik diri sendiri, tetapi justru merasa gagal sesaat. Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa yang terpenting bukanlah menjadi ibu yang tidak pernah marah ke anak, melainkan keberanian untuk memperbaiki kembali koneksi dengan anak yang sempat retak dan itu sangat manusiawi. Karena pada akhirnya, yang membuat anak merasa aman bukan ibu yang sempurna, melainkan ibu yang mau kembali mendekat setelah sempat menjauh.

5. Dipaksa Melambat dan Belajar Melepas Kontrol

Ada satu fase besar dalam buku ini yang menjadi titik balik, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional. Sebuah peristiwa yang memaksa semuanya melambat.

Bagi seseorang yang terbiasa bergerak cepat dan mengerjakan banyak hal sekaligus, berhenti bukan hal yang mudah. Rasa marah, bingung, bahkan penolakan hadir silih berganti. Namun justru dari situ muncul pelajaran yang mungkin tidak akan didapat jika hidup terus berjalan tanpa jeda.

Judul Break A Leg terasa begitu kuat di sini, bukan hanya secara harfiah, tetapi sebagai simbol tentang bagaimana hidup kadang memaksa kita mengerem agar kita belajar melihat ulang prioritas. Bagian ini akan membuat banyak Ibu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, sebenarnya selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri atau tidak. Kadang kita baru menyadari betapa lelahnya diri sendiri ketika tubuh benar-benar memaksa untuk berhenti.

6. Berani Mengambil Jeda dari Media Sosial

Sebagai figur publik yang aktif berbagi di akun Instagram mama.toothfairy, keputusan untuk berhenti sejenak dari media sosial tentu bukan perkara kecil. Namun buku ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental sering kali berarti berani mengambil jarak.

Ia jujur tentang bagaimana melihat pencapaian anak orang lain di media sosial bisa tanpa sadar membuat hati ikut membandingkan, tentang rasa iri yang muncul pelan-pelan, atau energi yang terkuras setelah membaca berita yang terus-menerus terasa negatif. Bukankah ini juga yang sering kita alami? Niatnya cuma scroll sebentar, tapi setelah itu hati malah terasa lebih berat.

Dengan memilih pause, ia memberi contoh bahwa tidak apa-apa untuk menata ulang ritme. Tidak apa-apa untuk tidak selalu hadir di media sosial. Tidak apa-apa untuk lebih memilih kewarasan daripada validasi. Pesan ini terasa sangat relevan di era ketika media sosial hampir tidak pernah benar-benar diam dan itu mungkin keputusan yang paling berani di zaman sekarang.

7. Berdamai dengan Diri Sendiri dan Masa Lalu

Proses pemulihan dalam buku ini bukan sekadar tentang tubuh yang kembali kuat, tetapi tentang perjalanan menerima diri, memaafkan masa lalu, dan berdamai dengan orang tua.

Ada fase melambat yang justru membuka ruang refleksi lebih dalam. Dari situ terlihat bahwa luka, baik fisik maupun batin, tidak selalu harus disembunyikan. Kadang justru di situlah kita belajar melihat diri dengan lebih jujur dan lebih lembut.

Buku ini juga akan membuat Ibu merenung tentang perjalanan pribadi masing-masing, tentang bagaimana kita tumbuh bukan hanya sebagai ibu, tetapi juga sebagai anak dan sebagai individu.

8. Perspektif Hangat dari Orang-orang Terdekat

Hal yang membuat buku ini terasa berbeda adalah adanya suara sahabat drg. Stella di setiap bab. Mereka berbagi pandangan tentang drg. Stella dari sudut yang mungkin tidak pernah kita lihat.

Tambahan perspektif ini membuat cerita terasa lebih hangat dan utuh, seolah pembaca diajak melihat seseorang bukan hanya dari perjuangannya sendiri, tetapi juga dari mata orang-orang yang menyaksikan perjalanannya.

Dan di sana kita diingatkan bahwa perjuangan seorang ibu sering kali tidak sepenuhnya terlihat, tetapi tetap berarti bagi orang-orang di sekitarnya.

Kenapa buku ini terasa sangat dekat dengan kehidupan ibu

Review buku Break A Leg - A Memoir ini memang tidak bertujuan membocorkan cerita, karena kekuatannya justru ada pada pengalaman membacanya secara utuh. Buku ini bukan buku parenting yang isinya langkah-langkah jadi orang tua yang sempurna, tidak ada rumus cepat atau checklist yang harus dicentang. Yang ada justru cerita yang terasa tidak ditutup-tutupi, tentang capeknya jadi ibu, tentang ekspektasi yang kadang terlalu tinggi pada diri sendiri, tentang momen ketika kita merasa gagal, lalu pelan-pelan belajar menerima.

Mungkin kita tidak pernah benar-benar siap menjadi ibu. Lewat cerita seperti ini, kita diingatkan bahwa tumbuh sebagai ibu adalah proses, bukan kompetisi. Jadi jika belakangan ini Ibu sering mempertanyakan diri sendiri atau merasa berjalan terlalu cepat tanpa sempat bernapas, membaca Break A Leg - A Memoir karya drg. Stella Lesmana Sp.KGA mungkin bisa menjadi jeda yang menenangkan, bukan karena ia menawarkan jawaban paling benar, tetapi karena ia membuat Ibu merasa dimengerti.

Follow Ibupedia Instagram