Balita Dibaca 545 kali

8 Jenis Kecerdasan Anak, Si Kecil Termasuk yang Mana?

Share info ini yuk ke teman-teman
Dwi

Terakhir diperbaharui 02 Oktober, 2019 00:10

8 Jenis Kecerdasan Anak, Si Kecil Termasuk yang Mana?

Bicara tentang kecerdasan, pasti yang terbersit dalam pikiran Ibu adalah sesuatu yang berhubungan dengan IQ. Tapi, tahukah Ibu, bahwa ternyata kecerdasan manusia pada umumnya tidak hanya sebatas intelegensia saja lho! Seorang psikolog Harvard asal Amerika bernama Howard Gardners, mengembangkan sebuah penelitian yang berkaitan tentang kecerdasan otak manusia, yang tidak hanya terbatasi seputar IQ. Gardners berhasil mencetuskan adanya 8 kecerdasan majemuk yang dimiliki anak-anak dan orang dewasa.

Kecerdasan majemuk ini dimiliki semua manusia dan setiap manusia berbeda level kecerdasannya. Anak Ibu tentu memiliki salah satu atau lebih jenis kecerdasan seperti yang dikemukakan Dr. Gardners. Lantas, apa saja kecerdasan majemuk menurut teori Dr. Gardners tersebut? Kira-kira, kecerdasan anak Ibu tergolong dalam kategori yang mana? Yuk kita simak pembahasannya berikut ini:

Pada tahun 1983, Dr. Howard Gardners mengulas tentang adanya 7 kecerdasan majemuk yang dimiliki manusia dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind. Seiring berkembangnya waktu dan adanya penelitian lanjutan yang dia lakukan, Dr. Gardeners kembali menambahkan satu lagi tipe kecerdasan, hingga menjadi 8. Kecerdasan tersebut adalah:

  1. Kecerdasan Verbal-Linguistik

  2. Kecerdasan Logika-Matematika

  3. Kecerdasan Spasial-Visual

  4. Kecerdasan Musikal

  5. Kecerdasan Intrapersonal

  6. Kecerdasan Kinestetik

  7. Kecerdasan Interpersonal

  8. Kecerdasan Natural

Dalam perjalanannya, teori-teori ini sering digunakan oleh sekolah untuk mengetahui lebih lanjut tentang kecerdasan yang dimiliki siswa-siswi. Kecerdasan anak yang didapat dari hasil tes berdasarkan teori ini kemudian dapat memudahkan guru agar membimbing anak-anak untuk lebih mudah menyerap pelajaran di sekolah dan mengarahkan mereka sesuai kemampuan kecerdasan anak masing-masing.

Tetapi, bila Ibu ingin mengetahui kecerdasan anak Ibu tergolong kategori apa, tanpa melalui tes, Ibu dapat melihat ciri-ciri kecerdasan anak yang menonjol lewat penjabaran tiap kecerdasan berikut ini:

1. Kecerdasan Verbal-Linguistik

Ibu dapat melihat apakah kecerdasan anak Ibu termasuk yang satu ini jika kemampuan berbahasa anak terlihat lebih mumpuni daripada teman seusianya. Tutur kata dan pemilihan diksi juga tertata. Anak juga sangat memperhatikan detail pelafalan huruf, kata, dan kalimat, bahkan ritme serta arti dibalik penekanan kata. Bila Ibu perhatikan, setiap bahasa mempunyai perbedaan makna saat sebuah kalimat diucapkan dengan intonasi yang berbeda. Bila anak Ibu fokus memperhatikan ini, dan bahkan suka membahasnya dengan Ibu untuk memastikan maksud dibalik ucapan seseorang, bisa dibilang, kecerdasan anak Ibu dominan di bagian verbal-linguistik.

Selain itu, anak juga akan memiliki ketertarikan dengan berbagai macam bacaan dan pidato. Anak juga gemar menjelaskan idenya tentang sesuatu lewat ulasan panjang, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Biasanya anak Ibu juga  sangat mudah mengingat ucapan seseorang, kisah dongeng yang Ibu bacakan, atau sebuah kalimat menarik dari buku cerita kesukaannya.

Eits, mungkin Ibu akan sedikit kewalahan dengan ‘kecerewetan’ anak Ibu. Belum lagi jika ia memiliki pendapat yang berbeda, sudah pasti ia akan jago mendebat pendapat orang lain. Tapi jangan khawatir ya, Bu. Ibu bisa menuntunnya dengan menjelaskan bahwa berbeda pendapat itu tidak masalah, asalkan tidak dipaksakan dan menuruti emosi.

Sebagai anak yang ceriwis dengan kecerdasan verbal-linguistik, anak Ibu dapat mengolah kata-katanya dengan baik bahkan sampai dapat menggunakan kalimat-kalimat persuasif juga. Anak dengan kecerdasan ini juga suka menyelipkan humor dalam kata-katanya. Menarik, bukan?

Tips: Nah, jika Ibu merasa inilah kecerdasan anak Ibu yang paling menonjol, cobalah untuk lebih menstimulasinya lagi agar kecerdasannya berkembang. Ibu bisa membacakan buku cerita lebih sering lalu mengajaknya berdiskusi tentang cerita yang sudah didengarnya. Diskusi bisa tentang apa saja. Tentang pesan moral dari ceritanya, karakter tokohnya, serta pembahasan sepele tentang lukisan dalam buku atau warna sampul bukunya. Ibu juga bisa mengenalkan buku-buku tentang puisi anak. Jika anak Ibu menyukai kegiatan ini, Ibu bisa menuntunnya untuk membuat karangan sederhana tentang dirinya, pengalaman berlibur, atau hal-hal menarik di sekitarnya.

2. Kecerdasan Logika-Matematika

Jika sudah membahas tentang logika dan matematika pasti berhubungan dengan angka. Apakah anak Ibu lebih tertarik pada sesuatu yang bersifat numerikal? Jika ya, bisa jadi kecerdasan anak Ibu termasuk dalam kategori kecerdasan anak yang satu ini nih. Anak dengan kecerdasan logika-matematika biasanya memang tertarik dengan angka-angka. Bila anak sudah masuk usia sekolah, tentu Ibu akan dengan mudah menemukan ketertarikan ini. Selain itu, kecerdasan anak satu ini terlihat dari pandainya anak memecahkan masalah sederhana dengan alasan logis. Anak juga suka mengerjakan eksperimen sains yang ia temukan dari buku-buku atau dari penjelasan guru di sekolah.

Tips: Jika Ibu mendapati kecerdasan anak Ibu adalah kecerdasan logika-matematika, Ibu dapat menstimulasinya dengan banyak mengajaknya melakukan eksperimen sederhana di rumah. Misalnya, seperti membuat gunung berapi sendiri dari soda kue, atau mengamati penyerapan air pada tisu yang dicelupkan pada tiga tempat berbeda dengan warna yang berbeda pula. Memang akan sedikit memakan waktu untuk mencari ide sains sederhana apa yang bisa dilakukan. Namun, jangan pernah menyerah untuk terus mencari tahu ya, Bu. Di era milenial ini, ada banyak sekali literatur dan buku panduan seputar science for kids yang tentunya menyenangkan untuk dipelajari anak dan mudah dipahami Ibu yang akan mendampinginya.

3. Kecerdasan Spasial-Visual

Kecerdasan anak yang satu ini banyak melibatkan gambar. Anak dengan kecerdasan ini lebih suka berekspresi dengan gambar. Anak dengan kecerdasan ini memang suka membaca, tetapi daripada membuat tulisan yang panjang, anak akan lebih memilih untuk menggambarnya. Anak juga lebih mengerti jika melihat gambar, grafik, skema, peta, atau segala sesuatu yang sifatnya ‘bergambar’.

Ia lebih fokus menemukan arti dari sebuah gambar daripada harus menelaah sebuah paragraf. Anak juga suka menonton video atau penjelasan melalui infografis. Puzzle akan terasa mudah untuk dikerjakan oleh anak dengan kecerdasan ini.

Tips: Ibu dapat menstimulasi si kecil dengan memberinya tantangan menyelesaikan puzzle, kemudian tingkatkan level kesulitannya perlahan-lahan. Ibu juga dapat mengajaknya melukis, menggambar, atau membawanya les lukis jika Ibu merasa tidak terlalu jago melukis. Oya, anak-anak yang gemar fotografi juga termasuk dalam kategori anak dengan kecerdasan ini. Ibu bisa mengajaknya ke tempat-tempat bagus untuk hunting foto bersama. Wah, selain itu, Ibu jadi punya fotografer pribadi nih!

4. Kecerdasan Musikal

Dari namanya saja sudah terlihat ya, Bu, bahwa kecerdasan anak yang satu ini tentu berhubungan dengan musik. Jika anak Ibu memiliki ketertarikan dengan musik, Ibu bisa menilai bahwa kecerdasan musikal adalah kecerdasan anak Ibu yang dominan. Biasanya, anak dengan kecerdasan musikal sangat menikmati bernyanyi, mendengarkan lagu, dan memainkan salah satu alat musik. Anak jenis ini juga sangat mudah mengingat lagu yang disukai. Bahkan anak juga bisa lho mengingat notasi musiknya. Anak-anak dengan kecerdasan musikal juga suka tampil dengan musik. Mereka juga bisa sangat menghayati musik kesukaannya karena dengan kecerdasan ini, anak mengerti hubungan antara musik dan rasa. Rasa yang dimaksud adalah yang berhubungan dengan emosi. Jiwa dari musik tersebut. Sehingga anak juga cenderung menjadi seorang yang perasa.

Tips: Bila Ibu menyadari bahwa kecerdasan anak Ibu termasuk dalam kategori yang satu ini, maka Ibu bisa mulai menstimulasinya dengan lebih banyak mengajak anak berinteraksi dengan musik. Ajak anak menonton konser musik di gedung budaya, perkenalkan pada bermacam-macam genre musik, atau biarkan ia mengikuti les musik. Lewat les music, Ibu juga bisa mengetahui alat musik apa yang anak Ibu kuasai. Baru deh, Ibu bisa perdalam lagi keseriusan anak jika ingin bermusik. Tentunya jangan sampai bersifat memaksa ya, Bu. Biarkan anak Ibu bereksplorasi dengan kemampuanya.

5. Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan yang melibatkan kemampuan seseorang dalam menelaah dirinya sendiri. Anak dengan kecerdasan intrapersonal biasanya tercermin dari perilaku yang cenderung sabar, suka bergaul dengan teman, dan tidak gampang tersinggung. Anak Ibu biasanya akan tahu apa saja kelebihan dan apa kelemahannya. Sehingga saat bersosialisasi dengan lingkungannya, ia akan pandai memilah mana yang sesuai dengan kelebihannya, dan mana yang mungkin tidak sesuai dengan dirinya. Mungkin memang akan lebih sulit menemukan karakteristik kecerdasan ini pada anak jika tidak jeli. Tapi, kecerdasan anak Ibu ini dapat dilihat juga dari tekadnya yang kuat dan sifatnya yang cenderung easy going.

Tips: Tak usah khawatir ia akan ketinggalan dari teman-temannya. Ibu bisa mendukungnya dengan kalimat-kalimat positif dan terus memotivasi pilihannya. Anak dengan kecerdasan ini punya kemauan yang kuat karena ia jauh lebih mengenal dirinya ketimbang orang lain. Meski di beberapa hal ia akan menutup diri, Ibu bisa memotivasinya untuk lebih terbuka dan percaya pada orang lain.

6. Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan anak yang satu ini berhubungan dengan gerak tubuh. Bila anak Ibu tidak bisa diam, suka berlarian ke sana kemari, tidak suka berlama-lama membaca buku atau duduk di satu tempat, bisa dibilang bahwa kecerdasan anak Ibu adalah kecerdasan kinestetik.

Tak usah khawatir ini akan jadi hal negatif bagi anak ya, Bu. Anak dengan kecerdasan kinestetik juga istimewa, sama seperti jenis kecerdasan anak lainnya. Mereka yang tergolong dalam kategori ini memiliki keseimbangan tubuh yang baik dibandingkan yang tidak. Selain itu, mereka juga memiliki koordinasi mata dan tangan yang baik.

Aktivitas fisik adalah kesukaan anak dengan kecerdasan kinestetik. Sehingga mereka lebih mudah mengingat dengan cara ‘melakukan’ sesuatu, daripada ‘mendengar’ atau ‘membaca’. Orientasinya lebih kepada praktik langsung. Jadi, tentu anak akan lebih banyak bergerak dan membutuhkan ruang agar lebih leluasa mengeksplorasi kemampuan tubuhnya. Anak dengan kecerdasan ini juga gemar menghasilkan sesuatu dengan tangannya lho, Bu. Anak bisa menghasilkan karya-karya menarik dari bahan sederhana. Selain itu, menari dan berolahraga juga merupakan hal yang mereka sukai.

Tips: Jika kecerdasan anak Ibu termasuk kecerdasan yang satu ini, maka Ibu bisa menstimulasinya dengan mengajak si kecil bermain sebagai petualang. Ajak ia untuk memecahkan teka-teki dengan cara menyebarkan potongan teka-teki tersebut di beberapa tempat. Mintalah anak untuk mengumpulkan petunjuk dari teka-teki itu. Permainan ini akan lebih seru dilakukan di alam terbuka bersama Ayah atau dengan teman-temannya.
Ibu juga bisa mengajaknya melakukan aktivitas fisik seperti bersepeda, outbond, atau mengunjungi taman bermain. Di lain waktu, Ibu dapat mengajaknya membuat prakarya dari bahan bekas. Bahan paling mudah ditemukan adalah kardus. Dengan kardus, Ibu bisa membantu anak untuk membuat mainannya sendiri. Misalnya pesawat terbang.

Buatlah agak besar agar anak bisa masuk ke dalamnya. Pasangkan tali agar bisa dipakaikan di bagian bahu, lalu anak bisa berperan menjadi pilotnya. Anak akan menyukai ini karena untuk menggerakkan pesawat, maka anak Ibu lah yang harus berlari.

7. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan Interpersonal melibatkan interaksi dengan orang lain. Bila kecerdasan anak Ibu tergolong dalam kategori ini, Ibu bisa lihat bahwa anak Ibu akan lebih perasa. Anak Ibu biasanya memiliki komunikasi yang baik dengan orang lain. Ia juga bisa menciptakan suasana positif bagi orang di sekitarnya. Anak juga lebih cepat tersentuh jika melihat orang lain berada dalam kesusahan. Hebatnya, anak Ibu dapat memahami maksud orang lain hanya lewat bahasa tubuh orang tersebut. Anak dengan kecerdasan interpersonal juga merupakan problem solver yang baik lho! Ia bisa dengan mudah menemukan ide untuk memecahkan kesulitannya. Apalagi jika ia sedang dalam sebuah tim. Kemampuannya memahami orang lain ini sama seperti yang biasanya Ibu temui pada para psikolog. Wah, mungkin saja, anak Ibu adalah psikolog di masa depan.

Tips: Kecerdasan anak yang satu ini memang tergolong sangat sosial ya, Bu. Ibu bisa terus menstimulasinya dengan memahami kecerdasannya tersebut. Jelaskan bahwa ia istimewa dalam interaksinya dengan orang lain. Ajaklah ia mengunjungi orang-orang yang membutuhkan dan ajak ia berdiskusi tentang hal tersebut. Jadikan kecerdasannya tersebut sebagai media untuk mengajarinya berbagi kepada orang yang membutuhkan.

8. Kecerdasan Natural

Kecerdasan yang satu ini ditambahkan Gardner untuk melengkapi tujuh kecerdasan lainnya. Anak dengan kecerdasan natural lebih dekat dengan alam dan menyukai segala aktivitas yang berhubungan dengan alam. Mengeksplorasi alam adalah salah satu hal favoritnya. Apalagi jika orangtuanya sudah lebih dulu menyukai alam dan sering mengajak anak travelling. Bisa saja kecerdasan anak ini terbentuk dari kebiasaan yang ditularkan orangtuanya.

Anak juga menikmati kegiatan seperti bermain di pantai, berkebun, camping di alam bahkan hiking di gunung yang tidak terlalu tinggi. Biasanya, saking cintanya dengan alam, anak dengan kecerdasan natural juga akan mencintai lingkungannya. Ia akan lebih peduli terhadap lingkungannya dengan memperhatikan sampah, pencemaran lingkungan, bahkan rasa ingin tahunya tentang perubahan iklim dan isu pemanasan global juga besar.

Tips: Bila Ibu memiliki anak dengan kecerdasan natural, Ibu bisa menstimulasinya dengan banyak membacakan buku tentang alam dan berdiskusi dengannya. Selain itu, Ibu juga bisa mengajak anak berkebun sederhana di halaman rumah. Di momen liburan, pilihlah tempat-tempat yang dekat dengan alam untuk menambah pengalamannya semakin akrab dengan alam, seperti pantai, bukit, hutan konservasi.

Untuk mengetahui kecerdasan anak Ibu termasuk dalam kategori yang mana, Ibu perlu lebih banyak mengulik informasi tentang semua jenis kecerdasan. Ketika Ibu berpikir ada salah satu kecerdasan majemuk di atas yang menurut Ibu paling istimewa, pastikan Ibu tidak memaksa anak untuk mengarah ke sana. Lihatlah terlebih dahulu, kecerdasan yang mana yang merupakan kecerdasan anak Ibu. Lalu dalami dan stimulasi tanpa banyak memaksanya. Jika ia jenuh, berikan anak waktu untuk lepas dari rutinitas hariannya dan biarkan ia mengeksplorasi hal baru yang ia inginkan.


(Dwi Ratih/Dok. Freepik)