Balita Dibaca 1,681 kali

Ketika Si Kecil Mimpi Buruk

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 23 Mei, 2018 16:05

Ketika Si Kecil Mimpi Buruk

Bunda, pernahkah si kecil terbangun di tengah malam sambil menangis atau ketakutan sehingga sulit untuk tidur lagi? Jika ya, bisa jadi dia baru saja mengalami mimpi buruk. Hmm... kira-kira apa penyebab mimpi buruk pada anak ya?

 

Kebanyakan balita jarang mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk mulai sering hadir dalam tidur anak usia 5-8 tahun. Mimpi buruk bisa diakibatkan oleh kebiasaan anak mendengar kisah-kisah seram, meski sebenarnya tidak terlalu seram bagi orang dewasa. Bisa juga disebabkan karena efek anak nonton televisi yang sedih, terlalu gembira, atau terlalu aktif sebelum tidur. Kemungkinan penyebab lainnya adalah anak merasa cemas dan tertekan pada siang hari.

 

Stres pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan mimpi buruk, bisa dipengaruhi banyak hal, mulai pengalaman pertama bersekolah, perceraian orang tua, hingga mungkin karena anak harus menerima kenyataan bahwa ada keluarga yang meninggal, maupun masalah lain. Nah, anak terkadang tidak bisa mengatasi perasaannya terhadap masalah-masalah yang membuat stres tersebut sehingga mimpi buruk menjadi respon normalnya. Apakah jika anak sering bermimpi buruk itu berarti Anda orang tua yang buruk? Jangan bersedih, tentu tidak kok, Bunda.

 

Bagaimana kita tahu kalau anak mengalami mimpi buruk?

Bila anak terbangun dan menangis atau merasa takut dan kesulitan untuk kembali tidur, kemungkinan ia mengalami mimpi buruk. Episode ini biasanya terjadi selama pertengahan malam, ketika mimpi paling mungkin terjadi. Anak mungkin mengingat mimpi buruknya di keesokan hari dan bisa terus merasa terganggu.

 

Jangan salah membedakan mimpi buruk dengan teror malam,  yang merupakan gangguan tidur yang kurang umum yang biasanya terjadi pada sepertiga malam awal. Anak yang mengalami teror malam tetap di kondisi tertidur tapi benar-benar gelisah dan sulit tenang. Setelah teror malam, anak kembali tidur tenang dan tidak ingat insiden ini di pagi harinya.

 

Cara menghentikan mimpi buruk pada anak

Lalu bagaimana membantu usai anak mimpi buruk? Segera peluk, puk-puk, atau elus-elus punggungnya begitu anak menangis. Lakukan hal tersebut hingga si kecil tenang. Namun sebaiknya Bunda tidak memindahkan anak ke tempat tidur Bunda meskipun anak baru saja mimpi buruk, sebab dikhawatirkan anak akan terbiasa tidur bersama Anda dan Anda kesulitan membiasakan anak kembali tidur sendiri.

 

Anda juga sebaiknya tidak memaksa anak menceritakan mimpi buruknya. Biarkan dia mengatakan pada Anda dengan sendirinya tanpa merasa ditekan. Setelah anak bercerita, Bunda bisa menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu hanyalah mimpi.  Anak usia 5-8 tahun sudah bisa membedakan antara kenyataan dan fantasi kok Bunda, jadi jangan khawatir mengatakannya, ya.

 

Bagaimana jika anak masih sedih meski Anda sudah memberi gambaran tentang mimpi buruk? Bersabarlah karena mimpi buruk memang kerap tampak nyata sehingga anak masih merasa itu bukan sekadar mimpi.

 

Agar anak tidak takut pasca-mimpi buruk, tak sedikit bunda yang mencoba memastikan anak bahwa tidak ada monster bersembunyi di bawah tempat tidur atau di dalam lemari. Hmm... boleh-boleh saja sih, namun sebaiknya Bunda mencoba mencari cara lain karena dikhawatirkan anak akan terbiasa “berburu monster.” Akan lebih efektif jika Anda selalu meletakkan boneka kesayangan anak di tempat tidur (sehingga anak merasa ada temannya), juga memastikan lampu kamar tetap menyala. Katakan kepada si kecil bahwa kamar Anda dekat dengan kamarnya dan semua orang di dalam rumah aman.

 

Mengajarkan anak cara mengatasi rasa takut atau sedih akibat mimpi buruk juga dapat membantu. Salah satu caranya adalah mengajak anak menggambar mimpi buruknya dan kemudian membuang kertas bergambar mimpi buruknya tersebut. Bisa pula dengan meminta anak membuat happy ending dari kisah mimpi buruknya tersebut.

 

Mencegah anak mimpi buruk

Dapatkah kita mencegah mimpi buruk pada anak? Tidak mudah dan tidak ada cara khusus memang. Namun para pakar meyakini rutinitas sebelum tidur yang damai dan nyaman bisa membuat tidur nyenyak tanpa gangguan mimpi buruk. Rutinitas tidur yang bisa dilakukan untuk menciptakan suasana nyaman di antaranya mandi air hangat, mendengarkan lagu atau cerita menyenangkan, dan lampu kamar dibiarkan menyala. Anda bisa juga membantu tidur indahnya dengan menggosokkan sedikit skin lotion pada perut atau dahinya sebelum tidur, atau menyemprotkan aromaterapi dengan ekstrak vanilla agar ruangan tidur anak segar.

 

Kurangi stres dengan membuat anak mendapat tidur yang cukup. Beberapa anak usia 5 sampai 8 tahun bisa merasa tenang bila mereka bisa mengontrol situasi yang menakutkan. Meski tidak semua anak bisa ditenangkan dengan cara ini, berikut beberapa trik yang bisa Anda coba:

 

  1. Menulis ulang cerita dalam mimpi

    Anak dengan rasa takut akan mimpi buruk yang lebih intens bisa berimajinasi lebih kuat dan kesulitan membedakan antara fantasi dan kenyataan. Karena mereka membayangkan kondisi menakutkan secara jelas, situasi ini bisa terasa sangat nyata. Dengan hanya mengatakan ke anak, “Mimpi itu tidak nyata,” tidak akan membantu ketika gambaran di kepala mereka terlihat sangat jelas.

     

    Sebaiknya katakan ke anak, “Kamu bisa mengatur imajinasimu. Kedipkan mata dan ubah ceritamu.” Anda mungkin perlu membantu anak membayangkan akhir mimpi buruk yang membahagiakan atau lucu. Misalnya, anak bisa membayangkan memvakum monster dengan vakum raksasa atau menggunakan pedang untuk mengusir monster. Bila memori tentang mimpi buruk muncul di siang hari. Anda bisa minta anak menggambarnya untuk mengubah ceritanya.

     

  2. Mengajarkan tentang mimpi

    Anak usia sekolah bisa punya keyakinan tentang mimpi yang perlu Anda perbaiki. Misalnya, mereka bisa mengira mimpi adalah ramalan peristiwa di masa depan, sehingga bermimpi tentang sesuatu bisa menyebabkannya terjadi, atau mimpi buruk adalah hukuman untuk sesuatu yang telah mereka lakukan. Kuncinya adalah menyampaikan kalau mimpi hanya pikiran dan pikiran tidak berbahaya. Satu cara untuk menunjukkan hal ini, minta anak menutup mata dan membayangkan kalau ibu jarinya berubah warna menjadi hijau. Lalu minta anak membuka mata dan memeriksa apakah terjadi perubahan warna. Ulangi hingga anak yakin kalau pikiran tidak menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi.

     

    Bila Anda mencurigai kecemasan atau stres di balik mimpi buruk anak, coba bicara ke anak tentang apa yang mengganggunya selama siang hari. Bila mimpi buruk tetap terjadi dan anak menjadi sangat takut tidur atau takut juga selama siang hari, bawa anak ke dokter. Anak mimpi buruk bisa jadi tanda masalah emosi yang perlu diatasi.

     

Membedakan mimpi buruk dan teror malam

Mimpi buruk terjadi ketika anak atau orang dewasa terbangun dari mimpi yang jelas dengan perasaan takut. Sering kali anak mimpi buruk dan bisa mengingat kandungan mimpi dengan cukup rinci. Mimpi buruk bisa sering disertai anak melihat atau mendengar sesuatu yang menakutkan atau menyebabkan kecemasan.

 

Mimpi buruk sangat umum terjadi pada anak usia 3 sampai 6 tahun dengan sekitar 30 sampai 90 persen mengalami sesekali mimpi buruk dan 5 sampai 30 persen anak sering mengalaminya di kelompok usia ini.

 

Sedangkan teror malam adalah kondisi setengah tidur di mana anak bisa menendang-nendang atau berteriak bila panik sangat intens. Selama teror malam anak bisa duduk tegak di tempat tidur dengan mata terbuka lebar, tapi tidak menyadari kehadiran orangtuanya. Anak yang mengalami teror malam tidak bisa ditenangkan atau dibangunkan dan sering kali tidak mengingat peristiwa ini nantinya. Kadang anak bisa mengingat informasi tentang peristiwa, seperti ancaman, yang membuat mereka harus membela diri.

 

Episode teror malam sering berlangsung antara 10 sampai 30 menit. Setelah teror malam anak sering kali berbaring dan kembali tidur tanpa perlu ditenangkan. Teror malam terjadi pada sekitar 3 persen anak usia 4 sampai 12 tahun dengan puncaknya antara usia 5 sampai 7 tahun. Teror malam lebih umum terjadi pada anak yang anggota keluarganya mengalami gangguan serupa.

 

Satu perbedaan terbesar antara mimpi buruk dan teror malam adalah kesadaran anak. Saat teror malam anak tidak menyadari kehadiran orangtua tapi saat mimpi buruk anak sering mencari orangtua untuk membantu mengatasi rasa takut.

 

Teror malam terjadi selama tidur dengan gerakan mata yang tidak cepat, selama periode tidur gelombang pendek, biasanya terjadi pada beberapa jam sebelum tidur REM terjadi. Sedangkan mimpi buruk sering terjadi lebih lambat, selama tidur REM di mana mimpi paling umum terjadi.

 

Selama teror malam hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah sabar menunggu. Pastikan lingkungan anak aman dan ia tidak menyakiti diri sendiri bila bergerak-gerak selama teror malam. Posisikan diri Anda di antara anak dan benda yang bisa membahayakan anak.

 

Jaga kamar tetap aman dengan membereskan barang-barang sebelum anak tidur dan memastikan pintu dan jendela terkunci. Bila ada tangga, buat gerbang di bagian atas tangga.

 

Setelah episode teror malam, aman bila Anda membangunkan anak. Coba buat anak terjaga sebentar untuk memastikan ia tidak kembali tidur terlalu cepat. Bila ia langsung tidur, ada kemungkinan lebih besar terjadi episode teror malam kedua di malam yang sama. Menjalani rutinitas tidur yang rileks dan teratur bisa membantu mencegah teror malam.

 

Bila anak sering mengalami teror malam dan terjadi di waktu yang sama tiap malam, membangunkan anak beberapa menit sebelum ini terjadi bisa menghilangkan siklus ini. Melakukan ini selama seminggu bisa mengganggu pola teror malam tanpa menyebabkan hilangnya kualitas tidur.

 

Baik mimpi buruk dan teror malam jarang punya efek psikologis jangka panjang pada anak. Bila anak mimpi buruk atau teror malam terjadi cukup sering sehingga menyebabkan kecemasan, waktunya bicara pada dokter atau spesialis tidur untuk memperoleh diagnosa.

 

Bunda, meski teror malam tidak berbahaya, kondisi ini juga bisa memicu masalah untuk anak. Konsultasikan ke dokter bila Anda melihat hal berikut:

 

  • Anak berliur atau badannya kaku
  • Teror malam secara teratur mengganggu tidur
  • Teror malam berlangsung lebih dari 30 menit
  • Anak melakukan sesuatu yang berbahaya selama teror malam
  • Gejala lain terjadi bersamaan dengan teror malam
  • Anak mengalami ketakutan di siang hari
  • Anda merasa stres menjadi penyebab teror malam
  • Anda punya pertanyaan tentang teror malam anak.

 

Anak mimpi buruk dan pengaruhnya pada otak

Memastikan anak mendapat tidur yang cukup dan berkualitas jadi hal penting bagi orangtua. Diperkirakan 10 sampai 50 persen anak usia antara 3 sampai 6 tahun mengalami mimpi buruk dan anak perempuan mengalami lebih banyak mimpi buruk dibanding anak laki-laki. Di tahap usia ini, anak biasanya melewati tahap perkembangan berbeda. Sebagai akibat perubahan ini, otak bisa menerjemahkan stres dalam bentuk mimpi buruk. Seorang psikolog Dawn Huebner, Ph.D., yang juga penulis buku berjudul What to Do When You Dread Your Bed, menyatakan mimpi anak semakin masuk akal dengan kesehariannya. Anak kecil bisa mimpi tersesat dan kehilangan orangtua, sedang anak yang lebih besar bermimpi tentang gambar buruk di acara televisi yang ditonton. Sering kali mimpi buruk bukan hal yang perlu dicemaskan.

 

Lantas, bagaimana mimpi buruk mempengaruhi otak anak? Bila mimpi buruk sering terjadi, bisa menjadi gangguan tidur yang nyata. Psikolog melaporkan mimpi buruk bisa menjadi masalah bila secara teratur terjadi dan merusak fungsi sosial dan area penting lainnya atau bila mimpi buruk mengganggu tidur atau perkembangan psikososial. Mimpi buruk juga menjadi tanda kalau signal dari cerebral korteks neuron terganggu atau tertutup, ini bisa jadi kondisi yang berbahaya bagi anak.

 

Sebuah penelitian di tahun 2014 melaporkan kalau anak mimpi buruk terus-menerus bisa menjadi indikator masalah yang lebih serius. Penelitian yang dilakukan pada  lebih dari 6000 anak ini, menunjukkan gangguan parasomnia dan pengalaman psikotik spesifik di masa kanak-kanak. Setelah mengikuti anak, usia 2 sampai 9 tahun hingga 12 tahun, peneliti menyatakan mimpi buruk yang terus-menerus terkait dengan pengalaman psikotik nantinya. Ini berarti dengan seringnya anak mimpi buruk, dokter bisa mengidentifikasi gangguan kesehatan mental pada anak lebih awal dibanding sebelumnya.

 

Penelitian di tahun 2015 di British Journal of Psychiatry mendukung penelitian ini. Kali ini, sebanyak 4.270 anak antara usia 2 sampai 9 tahun mengikuti penilaian di usia 12 sampai 18 tahun. Ada hubungan antara mimpi buruk yang konsisten di usia 12 tahun dan pengalaman psikotik di sekitar usia 18 tahun. Hasil penelitian menyimpulkan mimpi buruk bisa jadi indikator risiko dini untuk psikosis.

 

Harvard Medical School melaporkan, bila mimpi buruk adalah kejadian yang teratur, penting untuk mengatasi stres berlebih, kecemasan, atau trauma serta gangguan seperti PTSD (post traumatic stress disorder). Ini karena area otak yang terlibat dalam perilaku takut, termasuk amygdala, struktur dalam di otak yang bekerja untuk mengidentifikasi ancaman potensial, bisa sangat sensitif. Pada dasarnya, banyak mimpi buruk bisa menandakan sesuatu, jadi penting untuk memperhatikan apakah ada perubahan perilaku.

 

Tapi tenang Bunda, kebanyakan mimpi buruk jadi bagian normal dari perkembangan anak. Bila Anda tidak yakin apakah anak mimpi buruk menjadi hal yang perlu dicemaskan, kenali tanda gangguan mimpi buruk yang umum yaitu antara lain mimpi yang jelas tentang keamanan diri atau keamanan orang lain yang terjadi di tengah kondisi tidur dan merasa sangat terjaga setelah terbangun. Ketika anak dalam masa pengobatan bisa menyebabkan mimpi buruk sebagai efek sampingnya. Bila Anda curiga anak terlalu banyak mengalami mimpi buruk atau menunjukkan tanda perubahan perilaku, bicara pada dokter tentang penanganannya yang bisa berupa menurunkan stres, menciptakan lingkungan tidur yang baik dan mengatasi kondisi lainnya.

(Dini &Ismawati)