Balita

Mendidik Si Kecil Jadi Anak Mandiri

Terakhir diperbaharui

Mendidik Si Kecil Jadi Anak Mandiri

Semakin besar usia anak, semakin ia menyadari kalau ia adalah individu yang terpisah dari Anda. Ia mulai ingin melakukan berbagai hal sendiri. Bunda, berikut ini beberapa cara yang bisa Anda coba untuk membantu anak mandiri:

 

  1. Mendekap erat dan biarkan si kecil bergerak

    Bayi di bawah usia 6 bulan membutuhkan respon hangat agar ia tahu kalau ia aman. Ini membantu membentuk rasa percaya yang membuatnya jadi anak mandiri nantinya. Meski di usia 2 bulan, bayi suka membuat sesuatu terjadi dengan kemampuannya. Apakah ia bisa menggenggam dan menendang? Tempatkan si kecil di selimut yang menimbulkan suara ketika kakinya menendang-nendang. Berikan mainan lembut yang bisa berbunyi ketika digerakkan. Bayi suka memegang kendali dan ini memberinya kesadaran awal untuk jadi anak mandiri.

     

  2. Libatkan dalam percakapan

    Dari sejak bayi, ajak ia bicara ketika Anda melakukan sesuatu bersamanya seperti saat mengganti popok atau mengganti pakaian. Ini membuatnya tahu ia tidak pasif. Anda bisa lebih jauh mengajarkan bayi bicara menggunakan bahasa isyarat. Memotivasi bayi dan batita menggunakan isyarat memberi mereka rasa percaya diri dan kompetensi, yang jadi dasar untuk membuatnya jadi anak mandiri. Dengan menyediakan cara agar anak bisa memberitahu Anda apa yang mereka butuhkan, mereka merasa bisa melakukan hal lain. Bayi siap belajar isyarat ketika mulai melambai  dadah, biasanya di usia 9 sampai 10 bulan.

     

  3. Ciptakan rutinitas

    Ketika anak kecil tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, mereka bisa mengantisipasi perubahan dan merasa punya kontrol. Jelaskan rutinitas yang terjadi setiap hari, seperti “Setelah sarapan kita ganti baju untuk jalan-jalan, lalu kita kembali untuk makan siang.” Bantu anak merasa percaya dengan lingkungannya. Bayi mengasosiasikan membaca buku dan bersenandung dengan waktu tidur, yang membantunya menenangkan diri ketika waktu tidur. Batita bisa berinisiatif untuk aktivitas yang ia harapkan seperti mencuci tangan sebelum makan dan membawa buku untuk dibacakan sebelum tidur.

     

  4. Ciptakan lingkungan yang mudah diakses

    Lingkungan yang dipersiapkan bertujuan mendorong kebebasan dan motivasi diri. Gunakan rak rendah agar buku dan mainan mudah dijangkau anak. Sediakan area dengan bantalan tempat anak bisa beristirahat. Anda perlu ciptakan lingkungan yang simpel dan tidak berantakan. Gunakan beberapa keranjang untuk menyimpan mainan anak. Untuk anak batita gunakan meja dan kursi kecil sebagai tempat ia bisa makan cemilan, bermain dengan boneka atau menggambar. Membiarkan anak memilih aktivitasnya sendiri membantu mengembangkan rasa kemandirian anak.

     

  5. Jangan batasi anak

    Sebisa mungkin, biarkan anak bebas bergerak untuk bereksplorasi daripada menempatkannya di bouncer atau di depan TV. Sebelum anak bisa berjalan, tempatkan beberapa mainan menarik di luar jangkauan agar ia tertarik bergerak meraihnya. Pastikan lingkungan aman bagi anak ketika ia mulai merangkak dan berjalan. Anak yang banyak bergerak di lingkungannya mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, yang mendorongnya jadi anak mandiri.

     

  6. Mulai makan sendiri

    Ketika anak bisa mengunyah, sekitar usia 8 atau 9 bulan, letakkan makanan lunak seperti kentang, pisang, atau wortel yang dikukus di atas meja. Jangan khawatir berantakan, ya Bunda. Orangtua harus sabar dan memahami rasa kemenangan yang anak rasakan ketika memasukkan makanan ke mulutnya. Berikan anak sendok  bayi untuk dipegang ketika Anda menyuapinya dengan sendok lain.

     

    Kita tidak sepenuhnya membiarkan anak makan sendiri, tapi kita memberi pengalaman untuk mencoba. Nantinya Anda bisa libatkan anak dengan membiarkannya memilih menu. Apakah ia ingin makan sayur atau buah? Sediakan area terjangkau untuk anak di dapur yang bisa  ia akses untuk mengambil piring, sendok, dan gelas.

     

  7. Coba dan coba lagi

    Kadang anak kesulitan mengenakan sepatu atau memasukkan balok ke kotak sortir bentuk. Tapi anak sangat bersemangat dan perlu belajar melakukan berbagai hal sendiri. Jadi Anda bisa pastikan sepatu di kondisi terbuka dan siap dikenakan atau meletakkan benda dekat ke bukaan kotak sortir yang tepat.

     

    Yang paling penting, dorong anak untuk terus mencoba. Ketika anak belajar berjalan dan kemudian terjatuh, jangan menghentikannya. Biarkan ia tahu kalau Anda yakin ia bisa melakukannya. Sampaikan pesan bila ia tidak bisa melakukan sesuatu bukan berarti ia gagal, tapi ia hanya perlu mencoba lagi.

     

  8. Dukung keinginan anak untuk melakukan apa saja sendiri

    Usia 18 sampai 24 bulan adalah usia ketika anak ingin melakukan semua sendiri. Dukung usaha anak dengan menyesuaikan lingkungannya, sediakan gantungan rendah agar ia bisa menggantung topi dan jaketnya. Atau sediakan kursi kecil agar ia mudah menggunakan toilet, serta belikan sapu kecil agar ia bisa membantu membersihkan rumah.

     

    Berikan tanggung jawab yang sesuai usianya, tapi Anda harus fleksibel dengan hasilnya. Yang lebih penting adalah anak mencoba, bukan melakukan sesuatu dengan benar. Anda jadi pemandu sorak, bukan pengarah. Penelitian menunjukkan orangtua yang terlalu terlibat serta mengambil alih aktivitas yang anak lakukan membuat anak tidak mengembangkan rasa bangga dan keinginan untuk mencoba hal baru. Mereka selalu mencari ibu untuk memastikan melakukan sesuatu dengan benar.

     

  9. Kenali watak anak

    Sejak awal, beberapa anak terlihat lebih mandiri, bahkan impulsif. Mereka aktif bereksplorasi dan sepertinya tak ada satupun yang menghalangi mereka bergerak ke sana-kemari. Anak lain lebih cemas dan sensitif, menjadi gampang frutrasi, dan canggung untuk mencoba hal baru. Untuk anak seperti ini Anda perlu gunakan strategi untuk memastikan ia merasa baik-baik saja ketika belajar mandiri.

     

  10. Tawarkan pilihan

    Anak yang dulunya mengandalkan Anda untuk mencuci tangan, memilih baju, dan diangkat dari carseat, di usia 3 tahun, ia bisa melakukan banyak kebutuhan dasar sendiri seperti mengancingkan baju. Ia juga siap untuk membuat keputusan, itu sebabnya ia bisa merespon sangat keras ketika merasa tidak berdaya.

     

    Tantrum adalah hal yang wajar pada anak. Cara terbaik menghindarinya adalah membuat anak merasa terlibat dalam proses membuat keputusan. Baik memilih antara baju biru dan merah atau main di rumah atau di playground, menawarkan pilihan membantu anak di usia ini merasa mandiri.

     

    Meski akan lebih cepat dan lebih mudah bila Anda membuat keputusan untuk anak, bila kita tidak mulai memberinya pilihan sekarang, kita akan menyesal nantinya. Perlahan anak bisa membuat keputusan tanpa bantuan Anda. Dan setelah Anda terbiasa menawarkan pilihan ke anak, Anda bisa lihat kalau Anda juga menurunkan konflik dan tantrum. Pastikan Anda hanya menawarkan pilihan bila Anda suka kedua jawabannya.

     

  11. Biarkan ia berhasil

    Ketika anak mengalami kegagalan berulang, ia akan merasa down dan tidak bersemangat. Biarkan ia menuang jusnya sendiri tapi dari wadah anti pecah berukuran kecil, bukan dari teko besar, atau pilih sepatu dengan perekat, bukan dengan tali.

     

    Satu cara bagus untuk membuat anak merasa sukses adalah membiarkannya melakukan tugas rumah. Anak yang bisa membawa piring ke tempat cuci atau membantu menyortir baju bersih di keranjang cucian berarti siap membantu di rumah.

     

    Hanya saja Anda perlu bersikap realistis. Tak apa memberi anak kesempatan untuk mencoba hal baru, tapi tunggu hingga ia siap menerimanya. Meski anak usia 4 tahun tidak bisa memvakum atau mencuci baju, ia bisa membawa ember, menyiram tanaman, atau memilih kaos kakinya sendiri.

     

  12. Berikan pujian

    Dukung kemampuan baru anak dengan banyak feedback positif. Kebanyakan orangtua menyadari untuk tidak meremehkan anak dengan kata yang kurang tepat. Komentar seperti “Coba lihat meja ini!” bisa membuat anak yang baru saja menumpahkan susu jadi terpuruk. Bila anak sering dibuat malu karena usahanya bereksplorasi, mereka perlahan enggan untuk mencoba hal baru.

     

    Kita ingin anak mandiri tapi menawarkan pilihan saat makan siang atau membiarkannya memilih baju sendiri butuh waktu, energi, dan kesabaran.

     

  13. Biarkan anak Anda yang memimpin

    Tiap orangtua perlu membuat batasan, tapi kadang tak apa membiarkan anak mengambil kendali meski bila keputusannya terlihat aneh. Bila misalnya, anak usia 2 tahun memaksa untuk mengenakan jaket tebal di cuaca panas, biarkan saja. Ia akan kepanasan dan tahu kalau baju yang lebih tipis akan lebih baik. Dengan membiarkan ia membuat kesimpulan sendiri, Anda memberinya kesempatan untuk belajar.

     

  14. Tunjukkan caranya

    Bisa melakukan tugas dengan baik adalah kunci untuk kemandirian dan pencapaian pada anak. Tapi untuk mendorong kemampuannya, Anda perlu menunjukkan cara melakukan sebuah tugas dengan perlahan dan jelas, serta membaginya menjadi beberapa tindakan terpisah. Bimbing ia di tiap langkah membersihkan meja, misalnya, pertama membawa piring ke tempat cuci piring, lalu gelas, lalu yang lainnya. Lalu lihat bagaimana ia melakukannya sendiri dan beri pujian karena telah berusaha.

     

  15. Biarkan anak membantu

    Ketika si kecil melihat Anda melakukan sesuatu yang terlihat menarik, seperti memasak, membersihkan rumah, atau menata furniture, ia tentu ingin ikut membantu. Ketika ini terjadi, coba cari cara agar anak bisa membantu Anda. Ia mungkin tidak bisa mengaduk mie di dalam mangkuk dengan baik tapi Anda bisa memintanya memegang sendok dan mengajaknya memasang alas di meja.

     

  16. Jangan membantunya

    Bila Anda telah menugaskan sesuatu ke anak, biarkan ia melakukannya, meski bila butuh waktu dua kali lebih lama dibanding bila Anda mengerjakannya sendiri. Kecuali Anda sangat terburu-buru, beri waktu selama 5 menit untuk anak melipat baju di pagi hari, ia akan lebih merasa berprestasi setelahnya dibanding bila Anda menyelesaikan tugas ini untuknya.

     

  17. Melatih kemandirian pada anak yang mengalami kecemasan perpisahan

    Bila anak mengalami kecemasan perpisahan, ia mungkin kesulitan untuk jauh dari Anda. berikut ini bagaimana Anda bisa membantu membuatnya merasa lebih nyaman sendiri:

    • Tenang dan percaya diri saat berpisah. Kepergian Anda sulit bagi si batita, tapi bila Anda bersikap seolah ini bukan hal besar dan Anda tahu Anda akan segera kembali, berarti Anda membantu menenangkan rasa takutnya. Ucapkan perpisahan dengan cara yang simpatik. Bila anak kemudian menangis, pastikan si anak tidak tahu kalau sikapnya membuat Anda kesal.
    •  
    • Berlatih jauh dari anak. Anda bisa membantu anak terbiasa dengan kepergian Anda dengan menggunakan timer. Atur waktu selama 5 menit dan beritahu anak, “Bunda akan pergi ke ruangan lain selama 5 menit, dan akan kembali.” Setelah ia mengerti kalau Anda akan kembali, atur waktu lebih lama hingga ia siap untuk berpisah lebih lama, seperti ketika ia sekolah.
    •  
    • Hindari pergi tanpa pamit. Meski Anda mengira akan lebih baik bila anak tidak melihat kepergian Anda, pergi diam-diam hanya akan membuat anak lebih jengkel. Setelah ia menyadari Anda pergi tanpa pamit, ia akan menangis dan cemas apakah Anda akan kembali.
    •  
    • Tunjukkan rasa cinta Anda. Secara konsisten menunjukkan cinta dan dukungan membuat anak membangun rasa percaya diri yang ia butuhkan. Motivasi anak ketika ia mencoba sesuatu sendiri.

     

  18. Berjalan kaki ke rumah teman terdekat.

    Anda bisa coba cara ini ketika anak berusia 5 tahun ke atas. Anak siap melakukan ini bila ia bisa mengikuti arah sederhana. Caranya, hubungi orangtua teman dan atur waktu bermain anak, lalu beritahu apa yang harus dilakukan, “Kakak pergi ke rumah Eva, main sebentar, lalu nanti Bunda jemput.” Sesi bermain tidak perlu lama dan pastikan anak tahu ia tidak boleh pergi ke rumah lain.

     

    Anak usia sekolah biasanya sudah cukup besar untuk pergi bolak-balik ke rumah temannya. Minta anak untuk waspada sebelum meninggalkan rumah.

     

  19. Menyeberang jalan sendiri

    Coba cara ini ketika anak berusia sekitar 7 atau 8 tahun, bergantung kematangan anak dan seberapa ramai kondisi jalan. Anak di usia ini biasanya punya kotrol impulse yang baik dan cukup sabar untuk melihat jalan.

     

    Mulai ajarkan dasar keamanan lalu lintas ketika anak sekitar 3 tahun. Jelaskan kalau ia bisa dengan aman menyeberang di rambu berhenti, dan jangan pernah muncul tiba-tiba di antara mobil yang diparkir.

     

    Betapapun baiknya Anda melatih anak, ia masih akan butuh banyak latihan. Mulai dengan jalan yang sepi, dan ikuti beberapa langkah di belakang untuk melihat bagaimana ia melakukannya. Setelah beberapa minggu, Anda bisa berdiri di seberang jalan, dan biarkan ia datang ke Anda. Tidak perlu terburu-buru, Bunda. Bila Anda tinggal di area dengan mobil berjalan cepat atau anak tidak bisa konsentrasi melihat jalan, tunggu hingga usianya 10 tahun atau lebih.

     

  20. Bersepeda ke sekolah

    Ketika anak berusia lebih dari 8 tahun, ia bisa mengikuti arah dan punya pengalaman berjalan atau bersepeda di sekitar rumah. Bila Anda tinggal lebih dari beberapa blok dari sekolah, atau rumah terletak di persimpangan yang ramai, tunggu beberapa tahun lagi sebelum mencoba cara ini.

     

    Pelajari rute bersama agar Anda bisa memilih area menyeberang paling aman dan mengetahui potensi bahaya, seperti tikungan tajam. Dan lakukan tindakan pencegahan dasar, anak perlu tahu kalau ia harus lebih berhati-hati di persimpangan dan tidak boleh berbicara pada orang yang tidak dikenal, misalnya. Perjelas kalau ia tidak boleh berganti rute kecuali Anda mengizinkan lebih dulu, dan ia tidak boleh menerima tawaran tumpangan, meski dari orang yang sering ia lihat di sekitar rumah.

     

    Untuk beberapa kali pertama, ada baiknya Anda mengikuti baik dengan berjalan kaki atau dengan berkendara untuk memastikan semua berjalan lancar.

     

  21. Tinggal sendiri di rumah

    Di usia lebih dari 10 tahun, anak umumnya berperilaku baik di rumah, bisa mengingat arah, dan konsisten mengikuti aturan umum keamanan, seperti tidak membukakan pintu ke orang asing ketika Anda tidak ada di rumah.

     

    Mulai dengan meninggalkan rumah hanya untuk waktu singkat. Sebelumnya, biarkan anak berlatih memencet nomor handphone Anda. Siapkan nomor kontak darurat di dekat telepon dan tunjukkan cara kerja kunci. Pastikan ia tahu apa saja yang tidak boleh dilakukan ketika Anda tidak di rumah. Beritahukan kapan Anda akan kembali dan jangan terlambat.

(Ismawati)