Balita Dibaca 7,395 kali

Mengguncang Bayi Sebabkan Shaken baby Syndrome

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati
Mengguncang Bayi Sebabkan Shaken baby Syndrome

Abusive head trauma (AHT) atau yang juga dikenal dengan shaken baby syndrome adalah cedera otak serius yang diakibatkan oleh guncangan yang keras. Shaken baby syndrome menghancurkan sel otak anak dan otak tidak mendapat oksigen yang cukup. AHT merupakan bentuk kekerasan terhadap anak dan mengakibatkan kerusakan otak permanen bahkan kematian. Tiupan ke kepala, sengaja melempar atau menjatuhkan kepala anak bisa menyebabkan cedera serupa.

Shaken baby syndrome paling sering terjadi pada bayi usia kurang dari 1 tahun, biasanya ini terjadi ketika orang tua ada orang dewasa di sekitarnya terlalu bersemangat menggendong bayi, mengajaknya bercanda dengan melemparnya ke udara, atau bisa juga terjadi ketika orang tua frustrasi dengan batita atau anak usia prasekolah sehingga jadi tidak sabar lalu mengguncang-guncang tubuhnya. Tapi shaken baby syndrome bisa dicegah, Bun. Cari dukungan atau teman bicara saat Anda sedang tertekan. Orangtua juga bisa mendidik pengasuh tentang bahaya shaken baby syndrome.

Ketika kepala anak diguncang-guncangkan, otaknya berisiko membentur tengkorak, menyebabkan memar, bengkak, tekanan, dan pendarahan pada dan sekitar otak. Dampaknya sering menyebabkan pendarahan di retina, yakni bagian sensitif pada mata yang menyampaikan gambar ke otak.

Anak yang mengalami shaken baby syndrome juga mengalami kerusakan pada sumsum tulang belakang, leher, juga kerusakan tulang. Tingkat kerusakannya bergantung berapa lama dan keras anak diguncang atau seberapa parah tiupan ke kepala. Tapi dalam hitungan detik saja, anak bisa mengalami kerusakan parah permanen atau bahkan kematian.

Mungkinkah shaken baby syndrome terjadi ketika orang tua bermain bersama anak?

Interaksi yang wajar antara orangtua dan anak tidak akan menyebabkan AHT. Menggoyang tubuh bayi di kaki Anda,  mengayunnya saat digendong,  atau mengangkatnya perlahan ke udara tidak menyebabkan shaken baby syndrome. Jika bayi tidak sengaja terjatuh juga belum tentu mengakibatkan kondisi ini. Shaken baby syndrome bisa terjadi karena gerakan yang keras dan orang dewasa yang marah bisa dengan cepat melakukan kekerasan ini pada bayi atau anak kecil.

Abusive Head Trauma atau Shaken Baby Syndrome Pada Bayi

Kebanyakan shaken baby syndrome terjadi pada bayi usia kurang dari 1 tahun dan paling sering pada bayi usia kurang dari 4 bulan. Tapi kadang anak usia 5 tahun juga mengalami hal ini. Bayi dan anak kecil rentan mengalami cedera ini karena ukuran kepala mereka lebih besar dari anggota tubuh lain, dan otot leher yang masih lemah, membuat lebih sulit menopang kepala yang besar. Selain itu, tulang tengkorak bayi belum matang dan lebih tipis, dan pembuluh darah lebih rentan sobek dibanding anak yang lebih besar dan orang dewasa.

Di negara seperti Amerika Serikat, diperkirakan 2 hingga 3 bayi dari 10.000 bayi menjadi korban shaken baby syndrome setiap tahunnya. Sekitar 1 dari 5 bayi meninggal, dan hanya sekitar sepertiga yang bertahan tanpa disabilitas yang berat. Anak laki-laki diguncang lebih sering dibanding anak perempuan dan biasanya orang tua atau pasangan yang melakukannya, seperti ayah atau ayah tiri yang menganiaya anak.

Gejala Shaken Baby Syndrome pada Anak

Shaken baby syndrome biasanya menunjukkan gejala berupa:

  • Masalah pernafasan

  • Rewel yang ekstrem

  • Tremor

  • Sulit terjaga

  • Kulit pucat atau memar

  • Susah makan

  • Lumpuh

  • Muntah

  • Kejang

  • Koma.

Cedera lain yang awalnya tidak terlihat bisa berupa pendarahan pada otak dan mata, kerusakan sumsum tulang belakang dan leher serta rusuk, tulang, dan tengkorak. Pada kasus yang ringan, anak terlihat normal setelah diguncang, tapi kemudian mengalami masalah kesehatan atau perilaku.

Shaken baby syndrome bisa sulit dideteksi karena sering kali tidak ada tanda jelas kekerasan. Tapi bayi yang mengalami shaken baby syndrome bisa menunjukkan gejala seperti muntah atau susah makan. Awalnya gejala ini dikaitkan dengan infeksi virus seperti flu atau infeksi ginjal. Sayangnya, shaken baby syndrome tidak dapat diketahui hingga terjadi kekerasan berulang.

Untuk mengonfirmasi diagnosa shaken baby syndrome, dokter akan menanyakan riwayat medis anak, termasuk ketika terjadi perubahan perilaku serta melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat tanda cedera dan peningkatan tekanan darah.

Penyebab Shaken Baby Syndrome

Bayi memiliki otot leher yang lemah dan sulit menopang kepalanya yang berat. Bila bayi diguncang dengan keras, otak yang masih rapuh akan bergerak-gerak di dalam tengkorak. Ini menyebabkan memar, bengkak, dan pendarahan. Shaken baby syndrome biasanya terjadi ketika orang tua atau pengasuh mengguncang keras tubuh bayi karena marah atau frustasi karena anak tidak mau berhenti menangis.

Bagi orangtua dan pengasuh, faktor yang bisa meningkatkan resiko shaken baby syndrome berupa:

  • Stres

  • Ekspektasi tidak realistis terhadap bayi

  • Alkohol

  • Single parent atau usia orang tua masih sangat muda

  • Kekerasan domestik

  • Kondisi keluarga yang tidak stabil

  • Depresi

Pria lebih memiliki kemungkinan besar untuk menyebabkan shkaen baby syndrome dibanding wanita lho. Segera cari bantuan medis bila Anda mencurigai si kecil mengalami cedera akibat guncangan keras. Hubungi dokter anak Anda atau bawa ia ke rumah sakit terdekat. Cepat mendapat bantuan medis bisa menyelamatkan nyawa anak atau mencegah masalah kesehatan serius.

Komplikasi Shaken Baby Syndrome

Hanya dengan beberapa detik mengguncang bayi, hal ini bisa menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki. Banyak anak meninggal karena shaken baby syndrome. Anak yang bertahan dari shaken baby syndrome membutuhkan perawatan medis seumur hidup untuk kondisi berupa:

  • Keterlambatan perkembangan, kesulitan belajar, atau masalah perilaku

  • Buta total atau sebagian

  • Gangguan seizure

  • Hilang pendengaran

  • Keterbelakangan mental

  • Cerebral palsy

Anak yang diguncang dengan keras perlu diperiksa oleh spesialis medis, juga ahli dalam kekerasan terhadap anak. Berbagai tes bisa dilakukan untuk mendeteksi cedera, seperti:

  • Computerized tomography (CT) scan. CT scan menggunakan citra sinar X untuk menunjukkan gambar otak anak. Tes ini bisa membantu mendeteksi cedera yang membutuhkan pertolongan cepat.

  • Magnetic resonance imaging (MRI). MRI menggunakan medan magnet dan gelombang radio yang kuat untuk menciptakan gambar detail dari otak anak. Karena MRI sulit diterapkan pada anak yang tidak stabil, biasanya dilakukan 2 hingga 3 hari setelah cedera.

  • Penyinaran pada tulang di bagian lengan, tangan, kaki, tulang sumsum, rusuk, dan tengkorak, untuk mengetahui kerusakan tulang.

  • Pemeriksaan optalmologi. Pemeriksaan mata untuk mengetahui pendarahan dan cedera mata lainnya.

  • Tes darah. Beberapa gangguan metabolik dan genetik, juga pendarahan dan pembekuan darah bisa memicu gejala yang mirip dengan shaken baby syndrome. Tes darah bisa membantu mengetahui beberapa kondisi ini.

Bergantung keparahan cedera, bayi bisa membutuhkan pengawasan di unit intensif khusus pediatrik. Penanganan darurat untuk anak yang mengalami shaken baby syndrome bisa berupa pertolongan pernafasan dan pembedahan untuk menghentikan pendarahan di otak.

Pencegahan Shaken Baby Syndrome

Ketika bayi yang menangis tidak mau diam, orang tua cenderung melakukan apa saja untuk menghentikan tangisannya, tapi ingat, Anda harus selalu memperlakukan bayi dengan lembut. Mengguncang anak jelas menjadi perilaku yang tidak dibenarkan. Hanya butuh guncangan selama beberapa detik untuk sebabkan kerusakan otak pada bayi. Bila Anda mengalami masalah mengatur emosi atau stres, carilah bantuan. Dokter anak bisa memberi referensi ke konselor kesehatan mental. Bila ada orang lain yang membantu merawat anak Anda, baik pengasuh, saudara, atau kakek-nenek, pastikan mereka tahu bahaya dari mengguncang bayi.

(Ismawati)