Balita Dibaca 1,670 kali

Cara Menghentikan Kebiasaan Anak Mengompol

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya
Cara Menghentikan Kebiasaan Anak Mengompol

Mengompol, Anda tentu tak asing dengan istilah tersebut. Ya, mengompol tentu menjadi kebiasaan yang tak bisa terpisahkan dengan masa pertumbuhan buah hati Anda. Normal kah hal itu terjadi pada buah hati Anda? Tentu jawabannya “iya”.

Setiap anak-anak pastilah akan mengalami masa di mana ia bangun dengan keadaan pakaian yang basah dikarenakan mengompol. Lalu sebenarnya apa penyebab utama buah hati Anda memiliki kebiasaan mengompol pada waktu malam hari?

Penyebab anak mengompol

Anda perlu memahami bagaimana anak bisa mengontrol kandung kemih. Anak buang air kecil sebagai respon terhadap refleks mengosongkan kandung kemih. Ketika kandung kemih merenggang hingga titik tertentu, secara otomatis urin terlepas. Antara usia 2 hingga 3 tahun, kebanyakan anak menyadari kandung kemih yang penuh dan belajar untuk secara sadar menahan urin. Di tahap ini anak bisa mengontrol kandung kemihnya.

Para ahli banyak meyakini bahwa penyebab utama buah hati Anda memiliki kebiasaan mengompol yaitu disebabkan karena ia belum memiliki keseimbangan sistem koordinasi antara otot-otot kandung kemih dengan organ otaknya. Sehingga si kecil tidak memiliki kemampuan untuk bisa mengendalikan keluarnya urin pada waktu malam hari.

Keseimbangan sistem koordinasi pada bagian organ ini diketahui akan sempurna seiring bertumbuhnya buah hati Anda. Namun kesempurnaan sistem koordinasi di area organ ini berbeda pada tiap anak. Maka dari itu frekuensi kebiasaan mengompol pada tiap anak pun berbeda dan menghilang pada usia yang berbeda pula.   

Sedangkan penyebab anak mengompol lainnya antara lain:

  1. Ukuran kandung kemih kecil

    Penyebab adanya kebiasaan mengompol lainnya, menurut para ahli yakni bisa dikarenakan oleh faktor bawaan di mana ukuran kandung kemih buah hati Anda yang kecil. Jika buah hati Anda termasuk salah satu anak yang mengalami hal tersebut, maka ia akan cenderung pergi ke toilet lebih sering dibanding teman-teman lainnya yang memiliki kandung kemih normal. Apalagi ketika si kecil mengalami konstipasi pada waktu malam hari, tekanan dari anus sebagai tanda dari konstipasi akan menyebabkan tekanan pada kandung kemihnya sehingga kandung kemih si kecil tak bisa menahan keluarnya urin sebagaimana seharusnya.

  2. Rasa khawatir dan stres berlebihan

    Kebiasaan mengompol yang biasa terjadi pada si kecil pun bisa disebabkan oleh stres dan rasa khawatir yang berlebihan akan sesuatu hal, seperti kekhawatiran yang si kecil alami ketika ia baru memasuki sekolah baru, atau bisa juga karena perasaan tertekan yang diakibatkan oleh perceraian kedua orangtuanya atau kehadiran adik bayi yang baru lahir di rumah bisa juga jadi sebuah tekanan dan kekhawatiran tersendiri bagi si kecil.

    Jika memang hal tersebut tadi yang menjadi penyebab buah hati Anda cemas dan khawatir sehingga ia memiliki kebiasaan mengompol, maka Anda bisa mengatasi hal tersebut dengan berbicara langsung pada si kecil.

    Bicarakanlah mengenai kekhawatiran dan perasaan tertekan yang si kecil alami, berikanlah dukungan serta tunjukkanlah kasih sayang padanya agar ia merasa bahwa dia tidak tersisih karena adanya adiknya yang baru lahir. Berikanlah juga pengertian dan dukungan agar si kecil berani menghadapi ketakutan dan masalah yang dihadapinya.

    Dengan begitu si kecil akan lebih tenang, lalu kecemasan juga perasaan tertekan, khawatir yang selama ini ada dalam dirinya akan lenyap. Sehingga si kecil akan tidur dengan nyaman dan kebiasaan mengompol yang selama ini dialami buah hati Anda pun akan hilang dengan sendirinya.

Agar anak berhenti mengompol

Mengompol jarang berkembang menjadi masalah emosional atau psikologis. Mengompol tidak berarti anak malas atau keras kepala. Mengompol hanya merupakan bagian dari perkembangan anak, yang juga pernah Anda alami.

Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda coba untuk membantu anak berhenti mengompol:

  1. Berikan hadiah karena tidak mengompol di malam hari

    Ini bisa dengan memberi anak mainan kecil atau mengajaknya jalan-jalan ke taman atau tempat lain yang ia inginkan setelah ia tidak mengompol di malam harinya. Anda bisa sediakan beberapa hadiah kecil, seperti buku mewarnai, dan menempelnya di dinding agar anak bisa melihatnya.

    Ketika anak berhasil tidak mengompol, biarkan ia memilih hadiahnya. Apapun yang terasa spesial untuk anak bisa dijadikan hadiah. Berikan juga pujian, Bunda, kapanpun anak tetap kering di pagi harinya. Beritahu kalau ia anak yang hebat, berikan ucapan selamat dan katakan kalau ia sudah jadi anak besar.

  2. Gunakan teknik "lifting"

    Teknik lifting digunakan untuk memastikan anak ke kamar mandi tepat sebelum waktu tidurnya, dan lalu membangunkannya  setelah ia tertidur dua atau tiga jam dengan membawanya ke kamar mandi.

    Anak bisa ke kamar mandi dua kali dalam semalam, satu di jam 11 malam dan satu lagi di jam 2:30 pagi. Anda perlu bersabar dalam menerapkan teknik ini karena kemungkinan tidak akan langsung berhasil. Coba lakukan teknik “lifting” selama 6 minggu.

  3. Latihan kandung kemih

    Membantu anak menunda buang air kecil selama siang hari jadi strategi yang juga bisa dicoba. Minta anak memberitahu Anda ketika ia ingin ke kamar mandi, lalu minta ia menahan buang air kecil selama beberapa menit. Anda mulai dengan memintanya menunggu sekitar 5 menit dan perlahan tambahkan beberapa menit. Tujuannya untuk membuat anak bertahan hingga 45 menit.

    Tapi proses ini butuh waktu dan Anda perlu melakukannya setiap hari. Bila sudah cukup besar, anak yang termotivasi bisa melakukannya sendiri.

  4. Gunakan sprei waterproof

    Seprei waterproof bisa membuat kasur tetap aman. Anda juga bisa terapkan metode double bubble ketika merapikan tempat tidur. Gunakan lapisan plastik, seprei biasa dan selimut, lalu ulangi lagi prosesnya.

    Ajarkan anak untuk melepas lapisan atas dan menggunakan lapisan baru. Siapkan baju tidur bersih di sisi tempat tidur agar ia bisa dengan mudah mengganti baju.

  5. Pengobatan

    Obat untuk menghentikan ompol anak biasanya berhasil ketika anak meminumnya tapi ketika obat berhenti dikonsumsi, anak kembali mengompol. Obat juga punya efek samping.

    Di antara pilihan obat untuk anak mengompol adalah desmopressin (DDAVP), bentuk sintetis dari kimia tubuh yang mengontrol produksi urin, yang diberikan di saat tidur. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan semprot hidung, tapi varian semprot hidung bisa menyebabkan tingkat sodium darah rendah yang bisa memicu seizure.

    Pilihan obat lainnya adalah imipramine, antidepresan yang bekerja dengan menurunkan produksi urin, sehingga mempengaruhi jumlah waktu anak menahan urin di kandung kemihnya.

    Obat untuk mengompol bisa membantu dalam situasi sosial seperti ketika anak tertidur di tempat yang ramai. Ingat Bunda, obat-obat ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah usia 5 tahun.

Hal penting yang harus selalu Anda ingat yaitu jangan pernah sekalipun memarahi apalagi menghukum si kecil jika Anda mendapati si kecil mengompol. Hal ini malah akan menambah perasaan tertekan pada diri buah hati Anda dan bukan menghilangkan kebiasaan mengompolnya tapi malah akan menambah frekuensi mengompolnya muncul.

Anda juga harus ingat bahwa menghilangkan kebiasaan mengompol membutuhkan waktu dan tidur tanpa mengompol adalah salah satu keterampilan yang memang harus diajarkan dan membutuhkan kesabaran ekstra untuk melatih hal tersebut.

Daripada Anda terus memarahi si kecil, padahal hal itu tidak menyelesaikan masalah, lebih baik Anda mulai mengajarkan dan mengingatkan buah hati Anda untuk pergi ke toilet dahulu sebelum tidur. Lalu apabila di tengah malam si kecil ingin pergi ke toilet, maka jangan pernah ragu untuk membangunkan Anda agar bisa mengantar si kecil untuk pergi ke toilet.

Langkah antisipasi

Sementara Anda melatih si kecil untuk mulai mengembangkan keterampilannya agar bisa tidur tanpa mengompol, ada baiknya Anda menyiapkan hal-hal seperti berikut ini:

  • Melapisi kasur si kecil dengan matras plastik agar ketika si kecil mengompol, tidak menyebabkan basah pada kasur si kecil. Urin yang membasahi kasur buah hati Anda dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit atau tungau yang bisa menyebabkan iritasi pada kulit buah hati Anda.
  • Memakaikan si kecil popok untuk menghindari basah pada baju si kecil, baju basah yang terjadi karena si kecil mengompol dikhawatirkan menyebabkan iritasi atau ruam popok pada kulit buah hati Anda.
  • Hindarilah minum air putih atau minum minuman lainnya secara berlebihan ketika akan memasuki waktu tidur si kecil karena hal ini  dapat memicu si kecil untuk mengompol di waktu tidur malam hari.

Tetaplah waspada dan perhatikan buah hati Anda, karena mengompol bisa juga menjadi pertanda adanya diabetes melitus atau infeksi pada saluran urinnya. Ketika buah hati Anda mengompol, perhatikan dan tanyakan apakah dia mengalami keluhan-keluhan lain ketika ia mengompol.

Mitos dan fakta seputar anak mengompol

Bunda, berikut ini berapa mitos dan fakta yang perlu Anda ketahui tentang anak mengompol:

  1. Pusar digigit capung agar anak berhenti mengompol

    Membiarkan capung menggigit pusar anak tidak menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi mengompol. Yang kemungkinan terjadi adalah anak yang pusarnya digigit capung menjadi trauma bahkan phobia terhadap capung.

    Memang belum bisa dipastikan apakah kebiasaan mengompol bisa hilang bila pusar anak digigit capung. Tapi  sebaiknya Bunda, jangan biarkan pusar anak di bawah umur digigit oleh capung karena bisa menyebabkan anak mengalami phobia terhadap binatang ini.

  2. Anak mengompol karena terlalu malas untuk ke kamar mandi

    Yang kebanyakan orang tidak sadari adalah normal bagi anak yang tidak dilatih untuk tetap kering saat malam hari untuk mengalami insiden mengompol hingga usia 7 tahun. Anak bukan terlalu malas, tapi ia memang memiliki kandung kemih yang berukuran kecil, yang tidak bisa menahan semua cairan sepanjang malam, dan tubuhnya tidak cukup sadar untuk membangunkannya saat tidur.

  3. Hukuman membantu anak berhenti mengompol di malam hari

    Anak yang mengompol di malam hari tidak punya kontrol terhadap apa yang ia lakukan. Ini sama seperti ketika seseorang bersin. Menghukum anak karena mengompol hanya akan merusak rasa percaya diri dan membuatnya merasa telah mengecewakan Anda.

  4. Mengompol disebabkan oleh stres

    Mengompol biasanya tidak disebabkan oleh stres. Penyebab paling umum anak mengompol antara lain pematangan kandung kemih yang tertunda, kantong kemih berukuran kecil, genetik (orang yang mengompol saat kecil lebih mungkin punya anak yang mengompol juga), dan tidur dalam yang tidak terbangun karena kandung kemih penuh.

  5. Anak laki-laki lebih berisiko mengompol dibanding anak perempuan

    Penelitian menunjukkan kalau anak laki-laki cenderung lebih berisiko mengompol dibanding anak perempuan. Anak laki-laki biasanya belajar buang air di toilet atau toilet training lebih lambat dibanding anak perempuan, jadi ia juga terlambat untuk bisa menghindari kebiasaan ngompol saat malam hari. Tapi ini tidak berarti anak perempuan kebal terhadap masalah ini.

  6. Kebanyakan anak yang mengompol memiliki masalah medis

    Umumnya, tidak jadi masalah bila anak di bawah usia 6 tahun mengompol di malam hari. Bila anak sudah bisa tetap kering di malam hari selama 6 bulan sebelumnya, lalu mulai mengompol kembali, maka ada sesuatu yang perlu Anda bahas bersama dokter. Beberapa alasan medis yang menyebabkan anak mengompol tiba-tiba antara lain infeksi saluran cerna, diabetes, kandung kemih abnormal, dan cacing kremi.

  7. Resep obat akan mengatasi masalah mengompol pada anak

    Penggunaan obat harus jadi alternatif terakhir. Yang utama untuk kasus anak mengompol adalah orangtua bersabar dan menunggu hingga anak bisa mengatasinya. Tentu bila Anda mengira anak mengompol karena alasan medis, segera bicara pada dokter.

     

  8. Taktik yang paling baik adalah dengan menunggu

    Ini sangat benar. Bila anak di bawah usia 6 tahun dan masih mengompol, rencana terbaik untuk orangtua adalah dengan memberi waktu bagi anak. Kenakan popok di malam hari, dan biasanya ketika anak tidak lagi merasa nyaman menggunakan popok, ini akan memotivasinya untuk tetap kering dengan sendirinya.

  9. Semua anak mengompol di malam hari karena alasan yang sama

    Bila Anda tidak lagi memakaikan popok sebelum anak siap, maka ini kemungkinan benar. Tapi bila anak kering di pagi hari selama 4 minggu berturut-turut, ia seharusnya bisa tetap kering setelahnya. Bila ia tiba-tiba mengompol kembali, Anda perlu berkonsultasi ke dokter.

  10. Anak mengompol karena minum terlalu banyak sebelum tidur

    Meski benar kalau minum dalam dua jam sebelum tidur bisa menyebabkan mengompol di malam hari, sering kali ini bukan penyebab mengompol. Sebaiknya anak yang mengompol membatasi minum di malam hari, meski sering kali ini saja tidak akan mengatasi masalah.

  11. Mengompol disebabkan oleh potty training yang gagal

    Mengompol tidak disebabkan oleh potty training yang buruk dan jangan dianggap sebagai kegagalan pada orangtua atau anak. Mengompol tidak bisa dikontrol anak, jadi tidak ada hubungannya dengan potty training. Berikan dorongan positif agar anak bisa kering di malam hari, tapi jangan pernah menghukum karena anak mengompol.  

  12. Anak mengompol untuk mendapat perhatian

    Apakah Anda mengompol untuk mendapat perhatian? Begitu juga dengan anak. Pada beberapa kasus ekstrim dimana anak merasa membutuhkan perhatian, meski ini negatif, ini bisa terjadi. Tapi ini tidak akan terjadi untuk waktu yang lama. Anak yang mengompol memang membutuhkan perhatian tapi mereka tidak akan melakukannya bila punya pilihan lain.

Jika si kecil mengeluhkan ada rasa sakit atau perasaan terbakar ketika ia mengompol, lebih baik segera bawa si kecil berkonsultasi dengan dokter Anda. Bisa jadi ada masalah dengan kesehatan si kecil. Jadi waspadalah selalu dan perhatikan si kecil dengan seksama.

Jangan lupa pula bahwa mengatasi kebiasaan mengompol pada buah hati Anda memerlukan waktu yang tidak sebentar, butuh waktu yang cukup lama. Jadi bersabarlah dan tetaplah rutin mengajarkan dan mengingatkan si kecil secara bertahap agar ia bisa menghilangkan kebiasaan mengompolnya.

(Wati & Ismawati)