Last update on .

Solusi Anak Susah Makan Karena Mengemut Makanan

Ketika anak mulai mencoba makan aneka variasi makanan, masalah baru muncul. Antara lain, ia hanya mau makan satu jenis makanan, mengemut makanan untuk waktu lama, atau menolak makanan selain makanan siap saji.

 

Masalah susah makan pada balita

Bunda, berikut ini beberapa masalah umum yang berhubungan dengan susah makan pada anak:

 

  1. Table manner yang buruk

    Mengajarkan anak tata cara makan bisa dimulai ketika ia makan makanan padat. Jadi ketika anak masih menggunakan highchair atau setelah ia terbiasa duduk di meja makan, tak ada kata terlambat untuk menerapkan kebiasaan baik ini.

     

    Misalnya, meski waktu makan bisa jadi pengalaman sosial, mengajarkan anak untuk tidak berbicara ketika ada makanan di dalam mulutnya tidak hanya menjadi perilaku yang baik, tapi juga mencegah muntah dan tersedak.

     

    Anak mengikuti orangtua tentang bagaimana berperilaku di meja makan, jadi beri contoh perilaku yang Anda ingin anak mengikutinya. Perhatikan apa yang dilakukannya dengan benar dan berikan pujian ketika ia berperilaku baik di meja makan.

     

  2. Alergi makanan

    Ketika anak mengalami alergi pada makanan, tubuh memperlakukan makanan seperti musuh dan melepaskan serangan pada sistem kekebalan.

     

    Kadang tubuh membentuk antibodi yang disebut IgE, protein yang bisa mendeteksi makanan. Bila anak makan makanan itu lagi, antibodi memberi tahu sistem kekebalan anak untuk melepas histamine untuk melawanya. Ini bisa menyebabkan gejala alergi yang bisa bersifat ringan atau berat.

     

    Gejala biasanya muncul dalam hitungan menit atau dua jam setelah makan makanan tertentu. Anak bisa mengeluhkan lidah atau mulutnya gatal atau terbakar. Mata bisa terasa gatal, muncul ruam, atau kesulitan bernafas.

     

  3. Hanya makan satu atau dua jenis makanan

    Wajar bila anak kecil melewati beberapa hari atau minggu dengan hanya mau makan satu atau dua jenis makanan. Salah satu penyebabnya adalah anak tertarik pada makanan yang familiar.

     

    Tapi memilih ayam goreng untuk sarapan, makan siang, dan makan malam juga jadi cara anak menunjukkan kemandiriannya. Tenang Bun, tak ada anak yang jadi kekurangan nutrisi dengan hanya makan ayam goreng selama seminggu. Tetap bersabar dan terus tawarkan variasi makanan sehat tanpa memaksa anak untuk memakannya.

     

  4. Pilih-pilih makanan

    Wajar bila balita memvariasikan kebiasaan makan dari hari ke hari, dan juga normal bila ia tidak memilih makanan baru hingga Anda menyajikannya berulang kali. Ini disebabkan oleh perubahan pada kebutuhan nutrisi balita. Ia tidak tumbuh pesat seperti pada usia pertama, jadi ia kurang tertarik pada makanan dan tidak makan banyak. Ia juga jadi lebih mandiri dan belajar menentukan pilihan sendiri, ini jadi skill yang penting yang perlu ia kembangkan.

     

    Meski membuat orangtua frustasi, ini jadi waktu yang tepat untuk mengajarkan ke anak mencoba hal baru, sebelum ia terus menolak makanan baru sebagai cara menunjukkan kemandiriannya. Seringlah tawarkan makanan sehat, jadi ia punya kesempatan untuk mencobanya ketika merasa siap, bila tidak di waktu makan maka bisa selama ngemil di sore hari.

     

  5. Menolak makan

    Satu kemampuan awal balita adalah makan sendiri. Balita bisa mengontrol apa yang ia masukkan ke dalam mulut. Jadi tak heran bila ia sangat keras kepala tentang apa yang mau dan tidak mau dimakan. Ia mungkin hanya makan satu atau dua makanan yang ia suka selama berminggu-minggu, lalu tiba-tiba berubah pikiran dan ingin sesuatu yang sangat berbeda. Tak perlu cemas, perilaku balita memang seperti ini.

     

  6. Konstipasi

    Konstipasi terjadi ketika tubuh memproduksi feses yang keras dan kering. Ini umum terjadi pada anak kecil. Bila anak Anda tidak minum cukup cairan, Anda bisa mengatasi masalah ini. Tapi konstipasi kadang bersifat kronis, otot usus jadi melemah, membuat anak lebih sulit untuk buang air besar. Anak bisa takut buang air besar karena sakit sehingga ia menolak buang air besar.

     

    Pastikan anak mendapat cairan yang cukup. Air putih dan jus buah jadi pilihan tepat. Sajikan makanan kaya serat, seperti brokoli dan sereal. Tapi jangan berlebihan, ya Bun. Cara mudah mengetahui berapa gram serat yang anak perlu makan tiap hari adalah dengan menambahkan 5 pada usianya.

     

    Jadi anak usia 2 tahun membutuhkan 7 gram serat per hari. Hingga masalah konstipasi teratasi, hindari makanan yang menyebabkan konstipasi seperti pisang dan keju.

     

  7. Muntah

    Refleks muntah merupakan respon otomatis yang membantu mencegah tersedak. Balita bisa muntah karena sauatu yang tidak seharusnya masuk ke mulut. Tapi anak juga bisa muntah bila makan terlalu cepat atau ada terlalu banyak makanan di dalam mulut. Ia juga bisa muntah bila tidak menyukai rasa atau tesktur makanan yang ia makan.

     

    Buat anak rileks saat makan, ini berarti ia tidak berlarian saat makan. Potong makanan jadi ukuran kecil dan hindari makanan yang berisiko tersedak seperti anggur utuh, kismis, kacang, atau popcorn.

     

    Ajarkan anak untuk mengambil makanan satu per satu dan mengunyah serta menelannya sebelum mengambil makanan lain. Jangan tinggalkan anak sendirian saat ia makan. Bila ia muntah ketika minum air bersama makanan, berikan minum setelah ia selesai makan.

     

  8. Anak suka mengemut makanan

    Para orangtua dengan balita dan anak kecil pasti mengalami masalah yang satu ini, anak susah makan dan mengemut makanan di dalam mulutnya.

     

    Ketika anak menyimpan makanan di dalam mulut dan tidak menelannya, seluruh latihan makan dan waktu makan membuat orangtua frustasi, dan juga menimbulkan stres untuk anak. Ketika ini terjadi, waktu makan bisa berlangsung selama berjam-jam. Orangtua jadi kehilangan kesabaran, anak menangis, dan ia menolak untuk makan sama sekali.

 

Apakah Anda mengalami hal berikut ini juga, Bunda?

Pada tiap kali makan, anak usia balita mengemut makanan di mulutnya, orangtuanya tidak tahu bagaimana membujuk agar ia mau menelan makanannya.

 

Orangtua menunggu lama dan harus selalu mengingatkan anak untuk mengunyah dan menelan makanan di mulutnya. Orangtua sudah berusaha mengantisipasi semua gangguan dan mengajak anak duduk di meja makan selama waktu makan, tapi anak malah melamun dan terus mengemut makanan di mulutnya.

 

Anak menghabiskan waktu makan lebih dari satu jam karena kebiasaan ini, dan waktu makan jadi menimbulkan stres karenanya. Ketika diberitahu kalau piringnya akan segera dicuci, ia menjadi marah dan tidak mau orangtua melakukannya.

 

Sepertinya anak menyukai makanan yang lebih lembut teksturnya, tapi ia sudah cukup besar untuk makan makanan bertekstur lunak. Ia sering minum air untuk membantunya menelan makanan.

 

Apa yang bisa dilakukan orangtua bila anak mengemut makanan?

Memang wajar bila anak usia 2 tahun suka bermain dengan makanannya. Pada usia ini, bereksplorasi dan menggunakan kemandirian jauh lebih prioritas bagi anak dibanding duduk untuk makan bersama keluarga.

 

Tiap orangtua bisa merasakan frustasi ketika menyuapi balita dan anak tidak mau menerima makanan baru, bermain dengan makanannya, atau menyimpan makanan di mulut tanpa menelannya.

 

Lakukan aktivitas makan bersama balita dan anggota keluarga lainnya sesering mungkin. Ambil makanan dari piring Anda untuk mencontohkan kebiasaan makan yang sehat. Saat makan, tawarkan si kecil tiap makanan, termasuk makanan yang ia sudah kenal dan sukai. Tawarkan beberapa makanan baru dalam beberapa hari, satu per satu, agar mencicipi makanan baru tidak berubah jadi drama.

 

Pastikan Anda menawarkan makanan baru ketika tidak sedang terburu-buru dan Anda dan balita dalam kondisi rileks. Sajikan makanan dalam potongan kecil, makan dan nikmati makanan ini di hadapannya untuk mendorong anak melakukan hal serupa.

 

Sesering mungkin, ajak anak berbelanja sayur dan buah dan biarkan ia memilih makanan baru, dengan warna yang ia sukai, yang bisa dicoba oleh seluruh anggota keluarga.

 

Ketika ia tidak menerima makanan baru, atau menahan makanan di mulut terlalu lama, coba bersikap sabar dan tidak terlalu memperhatikannya. Juga pastikan Anda membatasi gangguan seperti televisi, dan lakukan permainan menarik untuk membuat waktu makan jadi menyenangkan dan positif.

 

Bila gagal, ajak ia memasang timer selama 20 sampai 30 menit dan beritahu kalau ketika waktu habis, berarti waktu makan sudah selesai. Ini akan membantu anak mengetahui batas waktu berapa lama ia bisa duduk untuk makan.

 

Bunda, penting untuk membahas perilaku makan anak dengan dokter anak untuk mengetahui apakah si kecil mengalami masalah mengunyah atau menelan yang membutuhkan perhatian. Meski mengemut makanan di mulut bukan hal yang perlu dikhawatirkan, melakukannya terlalu lama bisa meningkatkan risiko tersedak atau konsekuensi nutrisi dan kesehatan yang buruk bila terus dilakukan.

 

Sebagai aturan umum, bila anak lebih suka makanan dengan tekstur lebih lembut dan butuh sering minum air untuk menelan makanan, Anda perlu periksakan anak ke spesialis. Ini untuk membantu mengidentifikasi apakah masalah anak susah makan bersifat fisik atau bukan. Bila sifatnya fisik, dokter anak jadi orang yang tepat mengatasi masalah ini.

 

Tapi bila sudah dipastikan anak sehat, maka informasi berikut bisa bermanfaat bagi Anda sebelum mencari bantuan tambahan dari profesional.

 

Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda ketahui:

 

  1. Sebelum waktu makan

    Bila anak biasanya makan cemilan di antara waktu makan, ia akan terlalu kenyang untuk bisa dengan nyaman makan di waktu makan. Bila merasa ini masalahnya, coba batasi asupan cemilan sebelum makan.

     

    Di awal, Anda bisa membagi dua jumlah cemilan yang biasanya Anda berikan, jadi rutinitas anak tidak sepenuhnya berubah. Lihat apakah ini membawa perubahan pada aktivitas makan anak.

     

  2. Saat makan

    Ketika membujuk anak untuk makan, apakah ia mendapat banyak perhatian karena usaha Anda untuk membuatnya menghabiskan makanan? Seperti pada televisi, terus berbicara pada anak bisa menjadi gangguan baginya. Anak jadi menikmati semua perhatian yang ia dapat dan karenanya termotivasi untuk terus melakukan perilakunya.

     

    Untuk melihat apakah ini yang jadi penyebab anak susah makan, coba duduk bersamanya dan hanya bicara ke anak ketika ia menelan makanannya, beri pujian ketika ia melakukannya.

     

    Bila perilaku anak termotivasi oleh perhatian yang Anda berikan, ia bisa dengan cepat belajar kalau menelan adalah cara untuk mendapatkannya, bukan dengan mengemut makanan di mulut. Ini juga mengajarkan anak untuk berbicara hanya ketika mulut telah bersih dari makanan.

     

  3. Setelah makan

    Apakah ada sesuatu yang biasanya terjadi setelah makan yang anak tidak suka melakukannya? Seperti tidur siang, mandi, atau waktunya anak main sendiri ketika Anda mencuci piring.

     

    Bila Anda sulit membuat anak melakukan hal tertentu setelah makan, kemungkinan panjangnya waktu makan dimanfaatkan anak sebagai cara untuk menghindarinya. Jika ini yang jadi masalahnya, coba rencanakan sesuatu yang lebih menyenangkan setelah makan, dan biarkan anak tahu kalau segera setelah selesai makan, ia bisa mengikuti aktivitas ini.

    Anda perlu persiapkan aktivitas yang dapat mendorong anak melakukan tugas lainnya yang tidak mau ia lakukan, seperti mandi.

     

    Dorongan positif akan memotivasi anak untuk mengikuti instruksi Anda dan ketika rutinitas terbentuk menjadi kebiasaan (biasanya setelah dilakukan secara konstan selama 2 minggu), Anda bisa mulai menurunkan dorongan positif yang Anda berikan.

     

Bila telah melakukan semua usaha dan tidak ada yang bisa jadi solusi anak susah makan, akan lebih baik bila Anda berkonsultasi pada profesional yang ahli dalam perilaku anak.

 

Terapi di rumah untuk mengatasi anak susah makan

Mengemut makanan bisa jadi gejala diagnostik dari kesulitan sensorimotorik oral pada anak. Ketika anak bisa mengatasi kesulitan sensori-oral, serta meningkatkan gerakan lidah, bibir, dan pipi ketika mengunyah, mengemut makanan akan berhenti.

 

Penting untuk membantu anak membersihkan mulut setelah tiap kali makan dan membuatnya nyaman dengan menyikat gigi secara teratur. Ketika anak selalu menyimpan makanan di mulut untuk waktu yang lama, ia berisiko tinggi mengalami kerusakan gigi dan aspirasi.

 

Penting untuk diingat, Bunda, mengemut makanan adalah cara anak mengatasi kesulitan motorik dan sensori. Dengan mengatasi penyebab masalahnya, anak tidak lagi perlu mengemut makanan. Solusi bukan pada menangani mengemut makanannya, tapi penyebab kenapa anak melakukannya. Penanganan spesifik akan bergantung pada penyebab anak mengemut makanan.

 

Beberapa stretegi berikut bisa Anda lakukan saat membantu terapi anak di rumah.

 

Bila mengemut makanan terjadi akibat kesadaran sensori yang buruk:

  • “Bangunkan” mulut sebelum, selama, dan setelah makan dengan makanan pedas, garing, dingin, atau berkarbonasi. Jenis makanan ini bisa membantu anak lebih sadar dengan mulutnya dan mengatur gerakan oral dengan lebih efektif. Makanan seperti acar dan wortel mentah bisa disertakan. Air mineral karbonasi bisa diminum di sela mulut yang penuh. Tambahkan perasan lemon pada air mineral bila anak mau meminumnya. Tambahkan es pada cairan lainnya.
  • Minta anak mengunyah es sebelum dan selama makan. Ini membuat mulut terjaga, juga menurunkan rasa tidak nyaman saat anak makan.
  • Gunakan cermin kecil di meja, dan minta anak melihat mulutnya sebelum menerima makanan dan setelah makan. Bantu anak mengenali seperti apa rasanya mulut yang kosong.

 

Bila mengemut makanan terjadi akibat penurunan kemampuan mengunyah dan gerakan oral yang buruk:

  • Sikat sisi lidah ketika menggosok gigi. Ini bisa membantu lateralisasi lidah yang dibutuhkan untuk mengunyah. Coba sikat gigi elektrik bila anak mau menggunakannya.
  • Siapkan stimulasi sensori yang kuat atau sering pada bagian dalam pipi. Ini bisa dilakukan dengan sikat gigi atau mendorong bagian dalam pipi dengan jari. Mengunyah adalah kerja sama antara lidah dan pipi. Sering kali koordinasi mengunyah yang buruk disebabkan oleh pipi yang tidak aktif.
(Ismawati)