Balita

Mengenal Lebih Jauh Soal Popok: Amankah untuk Anak?

Terakhir diperbaharui

Mengenal Lebih Jauh Soal Popok: Amankah untuk Anak?
Sulit membayangkan kalau saja tidak ada popok di dunia ini. Bisa ditebak betapa repotnya para orangtua saat mendapati buah hati mereka buang air setiap harinya. Tanpa popok, entah berapa banyak celana yang harus dicuci. Popok memang praktis dan efisien, tak heran sejak dipakai secara luas oleh masyarakat di akhir tahun 1960 dan 1970, popok menjadi primadona para Ibu. Meskipun ada banyak isu-isu lingkungan yang mewarnai penjualan popok, namun tak bisa dipungkiri bahwa produk ini sudah sedemikian lekat dalam hidup sehari-hari.
Hmm, pernahkah Bunda bertanya-tanya darimana dan bagaimana popok dibuat? Sebagai produk yang secara langsung melekat di bagian paling sensitif bayi selama berjam-jam ini, asal muasal popok memang jarang diketahui oleh masyarakat umum. Penasaran, kan? Yuk simak penjelasan Ibupedia berikut!

Apa sih sebenarnya 'isi' dari popok sekali pakai itu?

Bentuk popok memang sekilas nampak sederhana, padahal produk ini terdiri dari banyak sekali material. Perusahaan pembuat popok memang tidak berkewajiban melaporkan apa kandungan dari popok buatan pabrik mereka, namun sedikit popok yang beredar saat ini (Pampers, Huggies) memiliki basis model yang sama.
Garis bagian luar popok terbuat dari polyethylene film, yakni bahan yang biasa kita temukan di kantong plastik. Sementara itu, garis bagian dalam popok yang bersentuhan langsung dengan kulit si kecil terbuat dari polypropylene, yaitu suatu material umum yang biasa kita temui di pakaian dalam. Kedua material tersebut dikategorikan aman untuk kulit anak-anak.
Ada pula beberapa produk yang menawarkan kandungan vitamin E serta lidah buaya pada popok agar sang buah hati terhindar dari ruam popok. Pusat terpenting dari popok adalah bagian tengahnya yang mampu menyerap cairan yang keluar dari tubuh anak. Pusat serapan ini terdiri dari WOOD PULP serta polymer yang super menyerap seperti sodium polyacrylate. Diperkenalkan pertama kali pada tahun 1980, sodium polyacrylate dapat membuat desain popol semakin tipis sehingga semakin efektif pula menjaga bayi agar tetap kering. Komponen ini dapat menyerap cairan hingga 30 kali lho, Bun.
Meskipun sodium polyacrylate seharusnya berpusat di bagian tengah popok, terkadang ada yang bocor dan meninggalkan kristal-kristal transparan kecil di kulit sang buah hati. Jadi, kalau lain kali Bunda menemukan ada semacam kristal yang berbinar di kulit anak, maka itulah sodium polyacrylate.
Lalu, bagaimana dengan popok wangi? Kalau Bunda menggunakan popok yang memiliki wewangian, maka produk Anda tersebut memang mengandung sedikit parfum di bagian pusat serapan serta lapisan luar. Parfum itu sendiri biasanya mengandung citral, yakni komponen beraroma jeruk yang biasa ditemukan pada minyak jeruk atau lemon.

Apakah bahan-bahan kimia di popok itu aman bagi kesehatan anak?

1. Sodium polyacrylate

Menurut dokumen yang diterbitkan oleh Occupational Safety and Health Administration di Amerika Serikat, sodium polyacrylate pada popok dikategorikan sebagai hal ringan. Menghirup beberapa partikelnya mungkin akan mengakibatkan iritasi di saluran pernafasan, namun bahan ini tetap dikategorikan aman dan bebas racun.
Sodium polyacrynate sendiri tidak membuat iritasi pada kulit. Karena berbahan dasar polymer, maka ia melekat pada popok yang terlalu besar untuk bisa terserap oleh kulit. Meski begitu, ada kemungkinan bahwa sodium polyacrynate kadang tercampur oleh sedikit acrylic acid yakni material yang biasanya tertinggal dari proses pembuatan di pabrik.
Secara teori, acrylic acid dalam jumlah yang besar dapat membahayakan kulit sang buah hati. Namun, menurut laporan yang diterbitkan oleh Journal of Toxicology and Environmental Health pada tahun 2009, acrylic acid yang terdapat pada popok anak jumlahnya tidak terlalu besar sehingga Bunda tak perlu khawatir. Namun, tetap saja ada sebagian masyarakat yang menolak penelitian tersebut dan yakin bahwa sodium polyacrylate dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit. Untung saja, kasus reaksi alergi tersebut sangat amat jarang ditemukan di masyarakat.
Sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Clinics in Dermatology di tahun 2008 mencantumkan bahwa hanya ada satu kasus alergi yang paling mungkin terjadi karena sodium polyacrylate, namun ternyata kasus tersebut malah menimpa orang dewasa. Sedangkan, anak-anak sendiri jarang menampakkan adanya reaksi alergi karena penggunaan popok.

2. Parfum

Sebagian bayi  mungkin terlalu sensitif terhadap parfum atau sitral yang terdapat pada popok.  Meski begitu, terjadinya reaksi alergi karena parfum termasuk langka. Menurut hasil temuan Journal of Toxicology and Environmental Health di tahun 2009, jumlah sitral yang terdapat pada wewangian popok sejuta kali terlalu sedikit sampai bisa menyebabkan anak terkena alergi. 3. DioxinsWood pulp yang terdapat pada popok memang memberikan bantalan ekstra serta daya penyerapan yang lebih kuat. Tetapi ternyata ia juga mengandung bahan-bahan kimia yang cukup berbahaya yaitu dioxins. Bahan kimia ini tercipta saat wood pulp bercampur dengan chlorine yang dipercaya menjadi penyebab kanker pada manusia.
Untunglah, menurut hasil studi yang dilakukan oleh Environmental Helath Perspectives di tahun 2002, dioxin yang terdapat pada popok si kecil tersebut jumlahnya tidak terlalu besar sehingga tidak membahayakan kesehatan buah hati Bunda. Hasil penelitian tersebut juga menyatakan bahwa anak-anak ribuan kali lebih mudah terpapar dioxin yang terdapat pada menu makanan sehari-hari seperti lemak hewani.
Jadi, Bunda tidak perlu khawatir dengan adanya temuan dioxin pada popok mengingat jumlahnya yang terlalu sedikit tersebut. Justru, Anda harus lebih berhati-hati pada cara mengolah daging hewan agar si kecil tidak sampai terkena penyakit serius.

Apa yang disarankan oleh para dokter anak soal popok?

Para ahli serta pediatrik sepakat bahwa popok itu aman bagi kesehatan anak dan mampu menjaga kulit bayi. Menurut Ilona Frieden, direktur dokter anak dan dermatologi di UC San Francisco's Children's Hospital, dewasa kini semakin jarang ditemukan ruam kulit yang diakibatkan oleh penggunaan popok. Sebab, saat ini popok sudah dilengkapi oleh teknologi yang mampu menyerap kelembaban. Teknologi tersebut diyakini mampu mengurangi ruam pada kulit bayi.
Setiap hari, Frieden menangani banyak pasien dengan keluhan ruam pada kulit mereka, namun sangat amat jarang ditemukan kasus ruam karena popok. Menurut Frieden, ruam yang diakibatkan popok sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh infeksi jamur dan iritasi pada area yang sering terkena cairan saat si kecil buang air besar.
Kalau Bunda menemukan adanya reaksi alergi pada kulit si kecil akibat dari penggunaan popok, maka ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan sendiri di rumah. Cobalah untuk mengganti merk popok anak, siapa tahu dia hanya kurang cocok dengan merk popoknya kini. Atau, Bunda bisa juga mengganti popok dengan kain yang dibungkus menyerupai popok. Cara tradisional ini memang tidak akan menyerap cairan secara sempurna namun tentunya ia bebas dari bahan-bahan kimia.
Untuk merawat ruam kulit, Freiden merekomendasikan cara paling standar yakni sering-seringlah mengganti popok anak. Pastikan agar kulitnya kering terlebih dahulu sebelum membalurkan krim atau pelembab kulit. Setelah kulitnya kering dan lembut, baru pakaikan ia popok baru.
(Yusrina)