Kelahiran

5 Perbedaan Persalinan Alami dan Persalinan dengan Induksi

Terakhir diperbaharui

5 Perbedaan Persalinan Alami dan Persalinan dengan Induksi
Para ibu hamil yang sedang menunggu kelahiran anaknya mungkin akan menghadapi situasi ini: Apakah sebaiknya menjalani persalinan dengan induksi atau menunggu persalinan spontan? Sebagai informasi, persalinan dengan induksi terjadi ketika persalinan dimulai secara buatan, biasanya dipancing dengan oksitosin bentuk sintetik (Syntocinon atau Pitocin). Bunda perlu menyadari kalau persalinan induksi membawa sejumlah resiko.
Banyak pasangan yang tidak mengetahui alasan kenapa menunggu persalinan dimulai tanpa intervensi lebih dianjukan dan lebih menguntungkan. Pada kenyataannya persalinan dengan induksi tidak semudah menerima obat lalu persalinan dimulai dan terjadi begitu saja. Berikut beberapa hal yang membedakan persalinan alami yang dimulai secara spontan dan persalinan dengan induksi.

1. Hormon Persalinan Bekerja dengan Cara Berbeda

Ketika Anda menjalani persalinan spontan, oksitosin terlepas untuk menstimulasi kontraksi pada rahim. Oksitosin bertindak seperti kunci untuk membuka reseptor oksitosin di dalam rahim. Selama kehamilan trimester pertama dan kedua, rahim hanya memiliki beberapa reseptor, untuk melindungi Anda dari persalinan terlalu dini. Ketika masuk trimester akhir, jumlah reseptor meningkat secara signifikan. Saat persalinan dimulai, reseptor diaktifkan oleh oksitosin di dalam aliran darah, lalu bekerja secara efektif untuk mengontraksi otot dan membuka serviks.
Oksitosin yang terlepas datang dalam bentuk gelombang. Ini sebabnya rahim tidak terus-menerus berkontraksi dan tidak terjadi kontraksi yang sangat kuat sejak awalnya. Tingkat oksitosin juga meningkat secara perlahan. Pada permulaan persalinan, kontraksi datang setiap 20 hingga 30 menit, dan berlangsung sekitar 30 detik.
Ketika tempo persalinan meningkat, kontraksi akan semakin berdekatan (dengan jarak 2 sampai 5 menit) dan lebih lama (60 sampai 120 detik). Persalinan alami terus berlanjut dalam kurun waktu sekitar 10 jam, sehingga Anda punya banyak waktu untuk isitrahat di sela kontraksi, dan tubuh bisa menyesuaikan intensitas kontraksi.
Tapi ketika Anda diinduksi, hal ini terjadi sebelum tubuh Anda dan bayi siap. Ini bisa berarti tidak ada cukup reseptor dalam rahim, dan oksitosin sintetis dalam jumlah banyak dibutuhkan untuk memulai persalinan dan untuk menjaga kontraksi terus berlangsung. Tingkat oksitosin buatan dinaikkan hingga Anda mengalami 3 sampai 4 kontraksi dalam 10 menit. Tiap kontraksi harus berlangsung selama 40 hingga 60 detik, dan harus ada jeda setidaknya satu menit antar tiap kontraksi.
Syntocinon atau Pitocin diberikan terus-menerus melalui infus. Ini berarti kontraksi terjadi sangat lama dan kuat sejak awal, dan tubuh tidak mendapat istirahat. Dan tentunya, setelah Anda menerima induksi, Anda tidak bisa menghentikannya. Anda bersiap untuk mengeluarkan bayi, meski itu berarti melalui bedah sesar.

2. Oksitosin Alami Melindungi Otak Bayi

Pada persalinan alami, oksitosin yang diproduksi tubuh melewati plasenta. Oksitosin mendiamkan otak bayi selama persalinan dan melindunginya dari kerusakan yang bisa terjadi karena kekurangan oksigen. 
Ketika kontraksi dimulai dan meningkat secara perlahan, tingkat oksitosin juga meningkat secara simultan. Ini membantu menjaga bayi tetap aman. Selama persalinan dengan induksi, oksitosin sintetis mengganggu kemampuan tubuh untuk memproduksi hormon sendiri. Karenanya bayi lebih beresiko kekurangan oksigen selama persalinan dengan induksi. Bayi merespon situasi ini dengan menunjukkan gejala stres. Yang paling kelihatan ketika detak jantung bayi tidak sesuai setelah kontraksi. Bila berlanjut, dokter akan merekomendasikan operasi sesar untuk menghindari kerusakan otak pada bayi.

3. Rasa Sakit Kontraksi Yang Berbeda

Perbedaan utama antara persalinan alami dan induksi adalah intensitas kontraksi. Pada persalinan alami, oksitosin bekerja menstimulasi rahim untuk berkontraksi dan membuka serviks. Ketika serviks merenggang, reseptor rasa sakit mengirim pesan ke otak, yang direspon dengan melepaskan endorphin. Endorphin 10 kali lebih kuat dibanding morphine, dan bekerja untuk menetralkan sensasi sakit. Ketika tingkat oksitosin meningkat, semakin banyak endorphin terlepas.
Pada persalinan dengan induksi, oksitosin buatan digunakan untuk menstimulasi kontraksi. Tubuh Anda tidak menerima signal dari otak untuk melepas endorphin dan Anda mengalami rasa sakit lebih intens. Persalinan alami biasanya terjadi perlahan, dengan kontraksi yang meningkat dari pendek dan ringan.
Seiring waktu kontraksi ini jadi semakin dekat, lebih lama, dan lebih intens. Pada persalinan dengan induksi, ini tidak bisa terjadi. Rasa sakit yang intens langsung terjadi. Otak tidak merespon rasa sakit dari kontraksi ini, dan tidak bisa terlibat dalam persalinan. Sebagai hasilnya, Anda lebih beresiko menerima pereda rasa sakit seperti epidural.

4. Refleks Ejeksi Fetus Hanya Terjadi Pada Persalinan Alami

Refleks ejeksi fetus pertama ditemukan oleh Niles Newton di tahun 1960-an. Refleks ini berupa keinginan mendorong yang kuat dan tidak terkontrol, seolah tubuh siap mengeluarkan bayi. Pada persalinan alami, tingkat oksitosin meningkat stabil, mencapai puncaknya ketika serviks terbuka. Puncak oksitosin ini menstimulasi kontraksi yang kuat dan tak terhindarkan yang mendorong bayi turun dan keluar. Inilah yang disebut refleks ejeksi fetus. Adrenalin juga terlepas di waktu yang sama, untuk memberi Anda energi dan kewaspadaan yang Anda butukan untuk melahirkan bayi.
Selama persalinan dengan induksi, puncak oksitosin tidak terjadi. Oksitosin sintetis diberikan melalui pompa dan tidak bisa ditingkatkan untuk mencapai puncak pada akhir persalinan. Bila Anda diinduksi dengan oksitosin sintetis, atau menerima epidural selama persalinan, Anda tidak akan mengalami refleks ejeksi fetus. Wanita yang persalinannya diinduksi sering kali membutuhkan intervensi pada tahap ini, seperti penggunaan ventouse atau forceps (yang juga bisa berarti episiotomi), untuk membantu melahirkan bayi.

5. Gerakan Selama Persalinan Berbeda

Pada persalinan alami, wanita hamil akan mencari posisi dan tempat yang membuatnya merasa paling nyaman. Pada persalinan tahap awal, Anda mungkin ingin bergerak selama kontraksi, yang akan membantu bayi menemukan posisi lahir yang optimal. Di tahap akhir persalinan, Anda bisa mandi air hangat. Pasangan bisa memberi dukungan selama tahap mengejan, mendorong bayi untuk bergerak turun dan memanfaatkan gravitasi.
Selama persalinan dengan induksi, Anda dianjurkan melakukan monitoring yang konstan. Ini karena persalinan sekarang beresiko tinggi. Anda juga menerima infus yang membatasi kemampuan untuk bergerak bebas.
Anda tidak bisa relax mandi air hangat dan tidak bisa menggunakan kolam melahirkan untuk meredakan rasa sakit kontraksi. Bila Anda menerima epidural, Anda harus berbaring miring atau duduk di tempat tidur. Ini meningkatkan resiko stres janin dan kemungkinan sesar.

Alasan Kenapa Ibu Hamil Sebaiknya Menghindari Induksi

Bunda, jarang sekali induksi memberi manfaat untuk kesehatan ibu dan bayi, berikut beberapa alasan lain kenapa Anda perlu menghindari induksi saat melahirkan:
  • Persalinan induksi membuat Anda beresiko mengalami masalah kesuburan sekunder karena peningkatan resiko kerusakan pada rahim yang disebabkan oleh kerusakan kandungan.
  • Induksi persalinan membuat Anda beresiko pendarahan sepanjang persalinan dan setelah melahirkan karena kerusakan yang terjadi pada rahim akibat obat induksi.
  • Persalinan dengan induksi membuat Anda beresiko tinggi menjalani kelahiran sesar darurat, mendekati 50 persen. Ini cukup tinggi karena banyak persalinan dengan induksi gagal dan membuat  ibu dan bayi mengalami stres secara medis. Menambahkan obat induksi ke ibu dan bayi yang sudah stres bisa menyebabkan kerusakan tambahan pada keduanya.
(Ismawati)