Kehamilan Dibaca 12,093 kali

Risiko Infeksi Saluran Kemih Saat Hamil pada Bayi

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 01 Oktober, 2017 01:10

Risiko Infeksi Saluran Kemih Saat Hamil pada Bayi
Ketika mendengar istilah “infeksi saluran kemih,” Anda mungkin langsung berpikir tentang infeksi pada kandung kemih dan gejala yang menyertainya, seperti seringnya keinginan untuk buang air kecil dan sensasi terbakar ketika melakukannya. Kondisi seperti ini juga disebut cystitis, yang umum dialami oleh wanita yang aktif secara seksual antara usia 20 hingga 50 tahun.
Anda bisa terkena infeksi saluran kemih pada bagian manapun dari saluran kemih, yang dimulai pada ginjal, tempat urin diproduksi, berlanjut ke saluran yang disebut ureter di bawah kandung kemih, tempat urin berkumpul hingga Anda buang air kecil, dan berakhir di uretra, saluran kecil yang membawa urin keluar dari tubuh.

Penyebab Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih umumnya disebabkan oleh bakteri dari kulit, vagina, atau rektum yang masuk ke uretra dan menjalar ke bagian lain. Sering kali, bakteri terhenti di kandung kemih dan berkembang biak di sana, menyebabkan peradangan dan memicu gejala-gejala yang muncul. Tapi bakteri juga bisa menjalar dari kandung kemih menuju ureter, untuk menginfeksi satu atau dua ginjal. Infeksi ginjal (pyelonephritis) menjadi komplikasi medis serius yang paling umum pada masa kehamilan. Infeksi bisa menyebar ke aliran darah dan mengancam keselamatan Anda.

Pengaruh Infeksi Saluran Kemih Pada Janin

Infeksi saluran kemih juga berdampak pada bayi yang Anda kandung, yakni meningkatkan risiko persalinan prematur, bayi terlahir dengan berat badan yang rendah, dan juga berhubungan dengan peningkatan risiko kelahiran mati.
Anda bisa saja memiliki bakteri pada saluran kemih tapi tidak menunjukkan gejala apapun, yang dikenal dengan asymptomatic bacteriuria. Ketika tidak dalam kondisi hamil, asymptomatic bacteriuria biasanya tidak menyebabkan masalah dan sering hilang dengan sendirinya. Tapi selama hamil, asymptomatic bacteriuria yang dibiarkan tanpa pengobatan akan meningkatkan risiko infeksi ginjal dan kelahiran prematur, juga risiko berat badan bayi yang rendah. Ini yang menjadi salah satu alasan urin Anda perlu diperiksa secara rutin selama hamil.
Tidak diketahui secara pasti apakah kondisi hamil meningkatkan risiko Anda terkena infeksi saluran kemih atau tidak. Namun ada sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa kehamilan tidak mengakibatkan risiko lebih tinggi munculnya asymptomatic bacteriuria, tapi kehamilan bisa meningkatkan risiko Anda terkena infeksi saluran kemih.
Penyebabnya adalah tingkat hormon progesteron  lebih tinggi selama hamil dan ini menurunkan sifat otot ureter (saluran antara ginjal dan kandung kemih), mengakibatkan pelebaran rahim dan melambatkan aliran urin. Ditambah lagi, rahim yang melebar bisa menekan ureter, membuat urin lebih sulit mengalir dengan cepat seperti biasanya. Kandung kemih Anda juga mengalami perubahan selama kehamilan. Anda akan merasa sulit untuk benar-benar mengosongkannya, dan kandung kemih Anda menjadi lebih rentan terhadap refluks, kondisi di mana urin mengalir kembali ke ureter menuju ginjal.
Perubahan ini membuat urin membutuhkan waktu lebih lama untuk melewati saluran kemih, memberi kesempatan bakteri untuk berkembang biak, dan juga bakteri akan menjadi lebih mudah untuk menjalar ke ginjal. Terlebih lagi, selama hamil urin Anda kurang mengandung asam dan lebih banyak mengandung glukosa, kedua hal ini meningkatkan potensi pertumbuhan bakteri.

Gejala Infeksi Saluran Kemih Pada Ibu Hamil

Gejala infeksi saluran kemih (cystitis) bervariasi pada setiap ibu hamil, tapi gejala umumnya bisa meliputi:
  • Rasa tidak nyaman pada bagian panggul atau sakit pada perut bagian bawah.
  • Rasa sakit, tidak nyaman, atau terbakar ketika berkemih dan mngkin selama berhubungan seksual.
  • Dorongan untuk buang air kecil yang sering atau tidak terkontrol, meski hanya ada sedikit urin di kandung kemih.
Anda juga bisa mendapati urin berbau tidak biasa dan terlihat gelap. Anda bisa temukan darah di dalamnya juga. Bunda kemungkinan juga akan mengalami demam tingkat rendah, tapi yang lebih sering terjadi, suhu tubuh Bunda akan tetap normal.
Jika Anda menunjukkan tanda kemungkinan infeksi ginjal, Anda perlu segera mendapat perhatian medis. Gejala yang umumnya sering terjadi antara lain:
  • Demam tinggi disertai gemetar dan berkeringat.
  • Sakit pada punggung bagian bawah atau sisi di bawah tulang rusuk, pada satu atau kedua sisinya, dan mungkin juga pada perut.
  • Mual dan muntah.
  • Anda mendapati darah atau nanah pada urin dan mengalami beberapa gejala cystitis juga.
Sebenarnya sulit untuk mengetahui secara pasti apakah Bunda mengalami infeksi saluran kemih ketika hamil, terutama jika gejalanya ringan. Bila Anda mengira mengalami infeksi, pastikan untuk menghubungi dokter agar bisa melakukan tes urin.

Penanganan Infeksi Saluran Kemih Pada Ibu Hamil 

Seperti telah disebutkan sebelumnya, asymptomatic bacteriuria dapat menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir yang rendah. Jika tidak diobati, kemungkinan Anda untuk mengalami infeksi ginjal bisa meningkat hingga 40 persen. Tapi dengan pengobatan yang memadai, risiko bisa menurun drastis hingga antara 1 sampai 4 persen.
Untuk mengetahui apakah ada bakteri di saluran kemih, dokter akan meminta contoh urin pada kunjungan pranatal pertama dan mengirimnya ke lab untuk diperiksa, ia juga akan menanyakan apakah Anda mengalami gejala atau tidak. Jika hasilnya negatif, ada kemungkinan kecil Anda mengalami infeksi saluran kemih di kemudian hari. Jika hasil tes positif, Anda akan diobati dengan antibiotik oral yang aman diminum selama hamil. Dengan mengonsumsi keseluruhan antibiotik, biasanya selama satu minggu, akan menghilangkan infeksi.
Setelah pengobatan, Anda akan dites lagi untuk memastikan infeksi telah hilang. Jika infeksi belum juga hilang, Anda akan diobati lagi dengan jenis antibiotik yang berbeda. Pemeriksaan kultur urin harus dilakukan pada interval yang teratur selama kehamilan untuk memastikan Anda tidak mengalami infeksi. Jika bacteriuria kambuh kembali, Anda akan diobati lagi dan mungkin perlu terus mengonsumsi antibiotik dosis rendah selama sisa waktu kehamilan untuk mencegahnya kambuh kembali.
Jika Bunda mengalami infeksi saluran kemih selama hamil, penanganannya sama, meski Anda diberikan antibiotik oral untuk waktu yang lebih pendek. Antibiotik akan menyembuhkan gejala dalam beberapa hari, tapi Bunda tetap harus menghabiskan seluruh obat yang dokter berikan untuk membasmi semua bakteri di saluran kemih. Anda akan dites setelah pengobatan dan secara periodik setelahnya (juga di saat gejala datang kembali), dan kembali diobati jika diperlukan. Jika Anda menderita infeksi saluran kemih, Anda perlu mengonsumsi antibiotik dosis rendah setiap hari sebagai pencegahan.

Mencegah Infeksi Saluran Kemih Selama Hamil

Lakukan langkah berikut untuk meminimalisir kemungkinan Anda terkena infeksi saluran kemih:
  • Jangan abaikan keinginan untuk berkemih. Coba kosongkan kandung kemih secara keseluruhan ketika Anda buang air kecil.
  • Minum banyak air putih, setidaknya 8 gelas setiap hari.
  • Setelah buang air besar, bersihkan diri dari bagian depan ke belakang untuk mencegah bakteri di kotoran mendekati uretra.
  • Jaga kebersihan area genital dengan sabun berformula ringan dan air.
  • Hindari produk pembersih area kewanitaan dan sabun berformula berat yang bisa mengakibatkan iritasi pada uretra dan area genital Anda.
  • Bersihkan area genital dan berkemihlah sebelum dan sesudah berhubungan seksual.
(Ismawati)