Kelahiran Dibaca 2,056 kali

4 Syarat Agar Menjemur Bayi Aman Dilakukan

Share info ini yuk ke teman-teman
Menur
4 Syarat Agar Menjemur Bayi Aman Dilakukan

Salah satu rutinitas yang biasa dilakukan oleh ibu baru adalah menjemur bayi. Nasehat untuk menjemur bayi biasanya diwariskan turun temurun dengan cara menjemur yang kurang lebih  sama, yaitu menjemur bayi dalam keadaan telanjang di bawah sinar matahari pagi secara langsung. Alasan di balik saran untuk menjemur bayi adalah manfaat sinar matahari bagi tubuh. Namun, bagaimana menjemur bayi dalam sudut pandang medis? 

Manfaat sinar matahari bagi manusia 

Tidak hanya tumbuhan, manusia pun membutuhkan sinar matahari untuk menjaga kesehatan tubuh. Secara umum, sinar ultraviolet B (UV B) dalam sinar matahari mampu mengubah molekul 7-Dehidrokortisol pada lapisan kulit menjadi vitamin D aktif yang dapat digunakan oleh tubuh. Perubahan ini berlangsung di ginjal untuk kemudian sebagian besar diedarkan ke tulang dan gigi.

Vitamin D sendiri bermanfaat untuk penyerapan kalsium, meningkatkan imunitas, anti peradangan, kesehatan otak, pertumbuhan tulang, dan merawat folikel rambut. Pada bayi, kekurangan vitamin D dapat menyebabkan bayi lesu, mudah rewel, dan mudah terkena infeksi. Pada kekurangan vitamin D akut, bayi dapat mengalami kelainan pembentukan tulang kaki dan penyakit ricketsia. Penyakit ini umum diderita oleh anak usia 6 bulan hingga 2,5 tahun dengan gejala melemahnya otot, perkembangan motorik yang terlambat, dan tungkai berbentuk O.

Sayangnya, data yang ditunjukkan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menunjukkan bahwa sebanyak 43% anak perkotaan dan 44% anak pedesaan di Indonesia kekurangan vitamin D. Hal ini dapat disebabkan oleh pemberian ASI tanpa disertai suplemen vitamin D, kurangnya aktivitas luar ruang dengan paparan sinar matahari, maupun asupan makanan yang miskin vitamin D. Padahal, tidak perlu lama-lama, paparan sinar matahari sebentar saja di waktu yang tepat dapat mencukupi kebutuhan vitamin D.

Penelitian tahun 2017 yang dilakukan oleh para dokter di University College of Medical Sciences, New Delhi, terhadap 100 bayi menunjukkan bahwa menjemur bayi selama 30 menit per minggu saja, dengan 40% area tubuh bayi terkena sinar matahari langsung, sudah memenuhi kebutuhan bayi akan vitamin D pada usia 6 bulan. Selain itu, ditemukan pula fakta bahwa waktu terbaik untuk menjemur bayi adalah pada jam 10 pagi hingga 3 sore.

Berarti, apakah cara menjemur bayi di pagi hari selama ini salah? Sebagian besar cara menjemur bayi yang disarankan oleh dokter spesialis anak secara umum adalah dilakukan pada jam 8-9 pagi sebelum matahari berubah terlalu terik. 

Memang terdapat banyak perdebatan mengenai hal ini. Salah satu alasan yang mungkin bisa menjelaskan mengapa ada pendapat berbeda mengenai waktu yang tepat untuk menjemur bayi adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. 

Pada tahun 1958, sinar matahari masih dianggap mampu menyembuhkan bayi kuning. Namun, kini para dokter sudah mengetahui bahwa sinar matahari tidak efektif mengatasi tingginya angka bilirubin pada bayi kuning, karenanya digunakan fototerapi.

Dalam kasus waktu menjemur bayi yang tepat, kebanyakan penelitian terbaru tentang efek sinar UV A dan UV B dilakukan di negara barat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Sementara itu, Indonesia baru mengetahui hasilnya beberapa 1-3 tahun terakhir. Wajar saja jika masih banyak tenaga kesehatan yang menganjurkan menjemur bayi di pagi hari karena ketidaktahuan mereka akan perkembangan terbaru di dunia kedokteran.

Nah,agar Ibu tidak ragu apakah harus menjemur bayi atau tidak, serta apa saja yang perlu diperhatikan saat menjemur bayi, simak rekomendasi IDAI berikut ini!

  1. Dilakukan antara pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore

    Dalam situs Ikatan Dokter Anak Indonesia, Ibu disarankan untuk menjemur bayi pada jam 10 pagi hingga jam 4  sore sebanyak dua kali sehari. Pertimbangannya adalah radiasi sinar UV B –yang dibutuhkan untuk mengaktifkan vitamin D- paling tinggi adalah pada rentang waktu tersebut. Sementara itu, sinar UV A tersedia sepanjang hari sejak matahari terbit hingga terbenam. Namun, sinar UV A tidak membantu pembentukan vitamin D di kulit.

    Meskipun demikian, baik bagi bayi maupun orang dewasa, sensible sun exposure atau paparan sinar matahari secukupnya pada dua tangan dan kaki saja dapat menjaga cukupnya konsentrasi vitamin D dalam tubuh.  

  2. Durasi menjemur bergantung pada beberapa faktor

    Proses pembentukan vitamin D pada tubuh ternyata juga dipengaruhi oleh berapa lama menjemur bayi dilakukan, seberapa banyak permukaan kulit yang terpapar sinar matahari, dan pukul berapa. Berdasarkan penelitian,  dibutuhkan minimal 5 menit dan maksimal 30 menit paparan sinar UV B agar terdapat konsentrasi vitamin D pada jumlah yang tepat. Berapa menit durasi tepatnya tergantung dari waktu, musim, garis lintang, dan pigmentasi kulit. 

    Bayi yang berkulit putih seperti orang Eropa memiliki melanin lebih sedikit, yang berarti lebih tidak kuat jika terpapar sinar matahari langsung. Risikonya, bayi bisa mengalami sunburn. Karena inilah, para ibu di Indonesia bisa menjemur bayi mereka yang berkulit sawo matang (yang berarti memiliki banyak melanin) lebih lama dari mereka yang berkulit putih. Meskipun demikian, kebanyakan dokter spesialis anak menganjurkan untuk menjemur bayi sekitar 10-15 menit saja. 

    Seberapa dini seseorang terpapar sinar matahari akan menentukan besar kecilnya risiko terkena kanker kulit, bukan seberapa banyak paparan sinar matahari yang diterima oleh tubuhnya. Karenanya, melindungi bayi dari sinar matahari akan mencegahnya terkena kanker kulit saat dewasa.

  3. Tidak dalam keadaan telanjang

    Sebenarnya, 20% permukaan kulit saja sudah mampu meningkatkan konsentrasi vitamin D. Penelitian di New Delhi di atas juga menunjukkan bahwa menjemur bayi dengan 40% permukaan kulit terpapar sinar matahari sudah mampu memenuhi kebutuhan akan vitamin D. Dengan pertimbangan tersebut, maka sebaiknya menjemur bayi dilakukan tanpa harus melepas seluruh pakaian. Meskipun masih mengenakan pakaian, segera akhiri sesi menjemur jika kulit atau pakaian bayi sudah terasa hangat.

    Penggunaan tabir surya minimal SPF 15 juga diperbolehkan ketika sinar matahari tidak dapat dihindari. Gunakan 15-20 menit sebelumnya dan ulangi lagi setiap dua jam, saat tubuh berkeringat, atau saat aktivitas berenang, hanya di bagian kulit yang terpapar sinar matahari. Bagi Ibu yang memiliki bayi prematur, penggunaan tabir surya tidak disarankan karena kandungan bahan kimia tabir surya sangat mudah diserap oleh kulit bayi yang tipis.

  4. Perlakuan khusus untuk bayi di bawah 6 bulan 

    Khusus untuk bayi berusia di bawah 6 bulan, amat disarankan untuk menghindari paparan sinar matahari langsung (direct sunlight) pada jam 10 pagi hingga 4 sore. Bukan berarti bayi tidak boleh dijemur ya, Bu. Boleh saja hanya tidak langsung di bawah sinar matahari, apalagi dalam keadaan telanjang dan dalam waktu lama. Jadi, Ibu bisa menjemur bayi di bawah pohon yang teduh atau di teras. Percayalah, meskipun kulit bayi tidak terkena cahaya matahari, radiasi UV B sudah bisa mencapai kulit dan melakukan tugasnya. Namun, UV B tidak mampu menembus kaca sehingga bayi yang terpapar sinar matahari di balik kaca tidak akan mendapat manfaat dari UV B. Jadi, banyaknya radiasi tidak berbanding lurus dengan tingginya suhu udara sehingga tidak perlu menunggu kulit bayi terasa hangat untuk mengakhiri sesi menjemur bayi.

    Untuk mencegah terbakarnya kulit bayi yang masih sensitif serta risiko melanoma (kanker kulit) di kemudian hari, para dokter juga merekomendasikan bayi di bawah usia 6 bulan untuk tetap menggunakan pelindung yang cukup seperti pakaian dan topi ketika beraktivitas di bawah matahari langsung. Jika perlu, gunakan penutup mata saat menjemur bayi. Meskipun demikian, rekomendasi utama para dokter adalah tetap menjauhkan bayi dari paparan sinar matahari secara langsung.

Apakah menjemur bayi dapat menghilangkan kekuningan pada bayi?

Bayi yang baru lahir belum memiliki organ tubuh yang berkembang sempurna, termasuk fungsi hatinya. Terdapat zat kuning bernama bilirubin yang dihasilkan saat sel darah merah dipecah. Bayi yang baru lahir biasanya menghasilkan lebih banyak bilirubin. Hati lah yang akan mengolah bilirubin agar dapat dikeluarkan lewat feses. Nah, mengingat fungsi hati bayi belum sempurna, maka kadar bilirubin dalam darah masih tinggi yang kemudian membuat bayi berwarna kekuningan (jaundice).

Menurut dr.Daulika Yusna, Sp.A, terdapat banyak penelitian yang menunjukkan bahwa sinar matahari tidak terbukti efektif untuk mengurangi kadar bilirubin pada bayi. 

Untuk menghilangkan jaundice, biasanya fototerapi atau terapi sinar dilakukan pada bayi. Bayi akan diletakkan ke dalam boks bayi khusus yang dilengkapi dengan sinar berwarna biru. Sinar ini berfungsi untuk membantu memecah bilirubin. Durasi waktu penyinaran tergantung dari kadar bilirubin bayi dan penyebab jaundice. Jadi, fototerapi adalah cara yang tepat untuk mengatasi bayi kuning, bukan dengan cara menjemurnya di bawah sinar matahari.  

Jika bayi tidak kuning, apakah vitamin D dari ASI saja cukup?

Tidak. ASI tidak mampu memenuhi kebutuhan bayi akan vitamin D, meskipun Ibu mengonsumsi suplemen vitamin D. Karena itu, American Academy of Pediatrics menyarankan pemberian suplemen vitamin D sebanyak 400 IU pada beberapa hari pertama setelah lahir. Hal ini umumnya berlaku di negara yang sinar mataharinya sangat minim.

Bahaya sinar matahari

Di negara empat musim, sinar matahari yang melimpah pada musim panas merupakan suatu kemewahan. Umumnya, dokter anak di sana tidak merekomendasikan bayi baru lahir untuk dijemur karena tidak adanya sinar matahari yang memadai, termasuk cuaca yang tidak menentu. Inilah yang membuat orang-orang di sana memaksimalkan musim panas dengan mengekspos kulitnya di bawah sinar matahari. Tidak terkecuali bagi bayi mereka. 

Sayangnya, sinar matahari pada waktu tertentu cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kanker kulit. Orang dewasa dapat menggunakan tabir surya atau sun screen untuk melindungi diri dari bahaya sinar ultraviolet, namun bagi bayi berusia di bawah 6 bulan sebaiknya menggunakan penutup tubuh seperti  pakaian lengan panjang, topi, atau payung. Saat berada di bawah sinar matahari, usahakan cari tempat teduh. Begitu pula saat di mobil, beri pelindung sinar UV A pada kaca jendela agar perjalanan berdurasi lama tidak membahayakan kulit sensitif bayi.

Mengapa Ibu perlu sangat berhati-hati terhadap sinar matahari? Alasannya, perkembangan melanin bayi belum sempurna. Melanin adalah pigmen alami kulit yang memberikan perlindungan terhadap bahaya sinar matahari. Semakin banyak melanin, semakin gelap pula kulit. Pada mereka ras yang berkulit pucat seperti ras Kaukasia, sinar matahari lebih mudah membuat kulit terbakar (sunburn) dan berwarna kemerahan. Sementara itu, pada kulit Asia, sinar matahari berlebih dapat membuat kulit gosong/semakin gelap. Sunburn berbeda dengan gosong yang dialami kulit Asia karena sunburn menyebabkan rasa perih, mengelupas, dan berwarna kemerahan. Dengan kadar melanin yang sedikit ini pula ras Kaukasia lebih rentan terkena kanker kulit. 

Karena itu, bayi-bayi di Indonesia cukup beruntung mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun dan memiliki ketahanan kulit terhadap paparan sinar matahari.

Jadi, apakah menjemur bayi sebaiknya dilakukan?

Ibu perlu bertanya pada diri sendiri apakah tujuan yang ingin dicapai dengan menjemur bayi. Jika ingin mencegah bayi kuning, menjemur bukan lagi menjadi solusi mengingat fototerapi adalah jalan keluarnya. Namun, jika Ibu ingin menambah cadangan vitamin D secara alami, menjemur bayi boleh dilakukan dengan sejumlah syarat agar manfaatnya maksimal dan tidak membahayakan bayi. 

(Menur/Dok.Freepik)