Kelahiran Dibaca 260 kali

6 Tips Puasa untuk Ibu Menyusui agar ASI tetap Lancar

Share info ini yuk ke teman-teman
Asni

Terakhir diperbaharui 19 Mei, 2019 12:05

6 Tips Puasa untuk Ibu Menyusui agar ASI tetap Lancar

BOLEHKAH ibu menyusui puasa? Pertanyaan ini kerap dilontarkan oleh ibu-ibu menyusui sedunia setiap kali bulan Ramadan hampir tiba.

Dan jawaban atas pertanyaan itu pun tetap sama, yakni: tergantung!

Ya, ibu menyusui memang tidak diwajibkan untuk berpuasa, terutama di bulan Ramadan, karena beberapa alasan. Agama Islam sendiri memang memberi kelonggaran bagi ibu menyusui untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan dan mengganti puasanya di kemudian hari maupun menggantinya dengan membayar fidyah jelang Idul Fitri.

Para ulama ada yang berpendapat bahwa ibu menyusui tidak wajib berpuasa karena dikhawatirkan akan memengaruhi kondisi fisiknya maupun bayi yang disusuinya. Bahkan, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa ibu menyusui puasa sama saja dengan melakukan pendzoliman terhadap bayinya karena bayi jadi tidak mendapatkan asupan nutrisi yang sesuai, terutama ketika ia masih menyusui langsung dan eksklusif dari payudara ibu.

Benarkah demikian?

 

Mitos Seputar Ibu Menyusui Puasa

Penting untuk dicatat bahwa hukum Islam yang memperbolehkan atau melarang ibu menyusui puasa bukan didasarkan atas mitos yang beredar di masyarakat ya. Ibu menyusui yang berencana untuk tetap berpuasa pun boleh mengecek informasi yang didengar agar bisa lebih tenang dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan sekaligus memastikan bayi yang ibu susui tetap sehat selama Ramadan.

 

1. Ibu menyusui puasa membuat anak demam dan diare

MITOS!

Demam dan diare merupakan penyakit yang terbilang umum diderita oleh bayi. Demam maupun diare pun terjadi karena adanya virus yang masuk ke tubuh bayi, bukan karena ia mengonsumsi air susu ibu (ASI) yang tengah berpuasa ya.

Dilihat dari sudut pandang medis, demam merupakan salah satu reaksi tubuh anak ketika kemasukan zat asing sehingga tubuh menaikkan suhu untuk melawan kuman jahat tersebut. Virus yang menyebabkan demam pun bisa banyak macamnya, termasuk virus influenza yang menyebabkan bayi batuk pilek. Sementara diare pada bayi juga bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri, alergi, hingga keracunan.

Justru ketika bayi demam dan diare, ibu harus lebih banyak memberikan ASI untuk mencegah dehidrasi pada bayi. Jadi jika bayi mengalami demam atau diare ketika ibu menyusui puasa, observasi terlebih dahulu gejala dan penyebabnya serta bila perlu konsultasikan ke dokter seperti tata laksana demam dan diare pada umumnya ya, Bu.

 

2. Puasa mengurangi kuantitas ASI

MITOS!

Ketika ibu menyusui puasa dan tidak mendapat asupan apapun dalam kurun sekitar 14 jam, tubuh tetap akan memproduksi ASI seperti biasa. Secara kuantitas, ASI juga akan mengalir seperti biasa dengan jumlah yang sama, bahkan tetap banyak jika ibu mengonsumsi makan yang tepat dan menerapkan kebiasaan mengosongkan payudara payudara secara rutin, baik melalui hisapan langsung oleh bayi maupun lewat kegiatan memompa.

 

3. Puasa menyebabkan ASI tidak bergizi

MITOS!

‘Pabrik susu’ di dalam tubuh ibu membakar kalori dan menyerap gizi dari makanan yang ibu konsumsi dan mengonversinya ke dalam bentuk ASI. Kemungkinan besar, kalori dan nutrisi dari makanan terakhir yang masuk ke tubuh ibu sudah habis terkonversi dalam kurun 6 jam.

Nah, setelah itu, tubuh akan mengambil cadangan makanan dari kantong-kantong yang tersimpan dalam tubuh ibu yang lain, misalnya cadangan lemak, gula, dan lain-lain. Selama ibu melakukan gaya hidup sehat sebelum berpuasa, maka kandungan gizi di dalam ASI ibu menyusui puasa tidak akan berubah.

Satu studi mengatakan bahwa kandungan zinc, potassium, dan magnesium di dalam ASI memang berkurang selama ibu menyusui puasa di bulan Ramadan. Namun, jumlah ini amat kecil dan cenderung tidak memengaruhi tumbuh kembang bayi, terlebih jika ibu telah menumpuk cadangan nutrisi dengan menjalankan pola hidup sehat sebelumnya.

 

4. Bayi bisa kekurangan gizi jika ibu menyusui puasa

MITOS!

Sekali lagi, kuantitas dan kualitas ASI tidak akan berkurang ketika ibu menyusui puasa, asalkan ibu tetap makan dan minum teratur selama bulan Ramadan. Pada 2007, terdapat studi yang dilakukan terhadap ibu menyusui eksklusif dengan bayi berusia 15 hari hingga 6 bulan.

Dalam penelitian tersebut, sebanyak 36 ibu memutuskan untuk berpuasa di bulan Ramadan, sedangkan 80 ibu lainnya tidak berpuasa. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa puasa Ramadan tidak memengaruhi pertumbuhan maupun perkembangan bayi-bayi tersebut, setidaknya untuk jangka pendek yakni 4 bulan setelah Ramadan berakhir.

Kuantitas dan kualitas ASI memang berbeda-beda di setiap ibu, pun ibu yang sama mungkin akan mengalami naik-turun dalam hal kuantitas ASI karena berbagai faktor. Yang terpenting ialah tetap susui anak sesuai dengan kebutuhannya dan kenali batas ibu sendiri kapan harus membatalkan puasa demi kesehatan ibu dan bayi.

 

5. Puasa membuat ibu menyusui sakit-sakitan

MITOS!

Tubuh ibu menyusui akan melakukan adaptasi seiring dengan berjalannya bulan Ramadan. Ibu menjadi tahu seberapa banyak harus minum air saat sahur dan berbuka puasa maupun jumlah makanan yang harus dimakan agar tetap bugar selama berpuasa di bulan Ramadan.

Meskipun demikian, ibu menyusui mungkin tidak bisa berpuasa satu bulan penuh, apalagi bagi ibu menyusui yang memiliki bayi di bawah 6 bulan dengan ASI eksklusif. Ibu yang menyusui bayi ASI eksklusif akan merasa lebih cepat haus dibanding ibu menyusui tidak eksklusif maupun dengan bayi yang sudah mendapat makanan pendamping ASI. Rasa haus yang berlebihan bisa menyebabkan dehidrasi.

 

6. Menyusui sekaligus puasa adalah cara tepat dan cepat menurunkan berat badan

MITOS!

Ibu mungkin ingin segera menurunkan berat badan setelah melahirkan, salah satunya dengan memanfaatkan momen berpuasa di bulan Ramadan, yakni tidak makan dan minum selama lebih dari setengah hari. Tanpa berpuasa pun, ibu menyusui bisa mengalami penurunan berat badan hingga 0,5 hingga 1 kg per minggu.

Meski demikian, penurunan berat badan yang lebih dari itu tergolong tidak sehat. Bahkan ibu harus segera menghubungi dokter jika merasa mengalami penurunan berat badan yang drastis setelah berpuasa karena bisa jadi ibu mengalami kekurangan gizi yang sekaligus memengaruhi kualitas ASI yang ibu berikan kepada bayi.

 

Kondisi Ibu Menyusui yang Sebaiknya Tidak Berpuasa

Tidak semua ibu menyusui boleh berpuasa. Beberapa di antaranya bahkan dilarang keras jika ibu menyusui menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:

  • Merasa sangat haus yang tidak tertahankan
  • Merasa kepala melayang-layang hingga pusing dan vertigo
  • Lemas
  • Buang air kecil yang berwarna keruh dan bau menyengat.

Jika ibu menyusui puasa menemukan tanda-tanda seperti itu, ada baiknya ibu segera membatalkan puasa dengan cara minum air putih (kalau bisa ditambah garam dan gula sebagai pengganti oralit). Ibu juga bisa mengonsumsi makanan manis seperti buah kurma untuk mengembalikan tenaga kemudian beristirahat. Jika merasa perlu, hubungi dokter dan ceritakan keluhan ibu untuk mendapat pengobatan yang sesuai.

Selain memperhatikan tanda-tanda dalam diri ibu sebagai sinyal untuk tidak berpuasa, ibu juga bisa mengamati kondisi bayi selama ibu menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan. Sekalipun ibu tidak menemukan 4 tanda di atas, ibu menyusui sebaiknya berhenti puasa jika menemukan tanda-tanda dehidrasi di dalam diri bayi sebagai berikut:

  • Buang air kecil lebih dari 6 kali dalam satu hari (24 jam) serta berwarna kuning keruh
  • Ketika menangis, bayi tidak mengeluarkan air mata
  • Daerah ubun-ubunnya menjadi cekung atau terlihat masuk ke dalam kepala
  • Masih rewel bahkan setelah menyusu dalam waktu yang lama
  • Terlihat lemas atau tertidur dalam waktu yang panjang
  • Ujung tangan dan kakinya terasa dingin
  • Berat badan bayi tidak bertambah atau cenderung menurun.

Jika ibu merasa bayi butuh pemeriksaan lebih lanjut, jangan ragu untuk segera menghubungi tenaga medis atau segera menghubungi rumah sakit terdekat. Penanganan cepat pada bayi dengan gejala dehidrasi akan menghindarkannya dari berbagai komplikasi penyakit.

 

Tips untuk Ibu Menyusui Puasa

Hal yang harus digarisbawahi oleh ibu menyusui puasa ialah jangan memaksakan diri. Jika ibu sedang tidak fit atau merasa tidak enak badan di tengah-tengah berpuasa, ada baiknya ibu menyudahi puasa di hari itu, bahkan menunda dulu puasa di keesokan harinya sampai kondisi tubuh benar-benar pulih. Ingat ya, Bu, ketika ibu sakit, bayi juga bisa terkena dampaknya lho.

Jika ibu tetap ingin menyusui sambil berpuasa, tidak ada salahnya mengikuti tips-tips berikut seperti direkomendasikan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

 

1. Niat dan persiapan

Seperti halnya berpuasa pada umumnya, niat merupakan hal penting untuk menciptakan pola pikir bahwa ibu sanggup menyusui meski tidak makan dan minum selama kurang lebih 14 jam dalam satu hari. Sebelum Ramadan datang, tidak ada salahnya melakukan latihan puasa terlebih dahulu untuk mengecek kondisi tubuh ibu sendiri sekaligus mengetahui asupan yang harus ibu konsumsi saat sahur maupun berbuka agar tubuh tetap fit.

Pastikan ibu dalam kondisi sehat, kalau perlu konsultasi dengan dokter maupun bidan untuk memastikan hal ini dan mendapat saran mengenai menu makanan yang bisa menunjang puasa sekaligus kegiatan menyusui yang ibu lakukan. Tidak ada salahnya juga meminta saran kepada ibu lain yang berhasil puasa sambil menyusui, tapi ingat bahwa kondisi tiap ibu menyusui berbeda-beda ya.

 

2. Mencari bantuan

Selain mempersiapkan diri, ibu juga harus memikirkan urusan rutin rumah tangga, seperti membersihkan rumah, mencuci piring, baju, dan mengajak main si kakak (jika ada). Jangan segan untuk merekrut bala bantuan untuk meringankan pekerjaan ibu, misalnya menyewa asisten rumah tangga atau meminta orangtua dan saudara menginap di rumah selama Ramadan agar ibu tidak mudah stres yang berakibat pada macetnya aliran ASI.

 

3. Minum lebih banyak cairan

Ibu menyusui setidaknya harus minum 2 liter air (10 – 12 gelas) dalam sehari ditambah makanan yang berkuah seperti sup atau jus buah. Tetapi, hindari mengonsumsi teh, kopi, maupun minuman bersoda karena itu akan membuat ibu menyusui puasa lebih sering buang air kecil sehingga lebih cepat merasa haus bahkan dehidrasi.

 

4. Menjaga asupan makanan

Selain menjaga tubuh agar tetap terhidrasi dengan baik, ibu menyusui puasa juga harus menjaga agar asupan makanan yang masuk ke tubuhnya memenuhi kebutuhan kalori bagi ibu menyusui. Berdasarkan catatan AIMI, ibu menyusui puasa membutuhkan tambahan 700 kalori per hari dengan 500 kalori di antaranya didapat dari makanan yang ibu konsumsi mulai dari berbuka puasa hingga waktu sahur dan 200 kalori sisanya diambil dari cadangan makanan yang tersimpan di tubuh ibu.

Oleh karena itu, ibu menyusui puasa harus tetap memperhatikan kadar gizi yang masuk ke tubuhnya dengan komposisi 50 persen karbohidrat, 30 persen protein yang didapat dari ikan, daging sapi, daging ayam, telur, maupun susu, serta 20 persen kacang-kacangan. Jumlah tersebut bisa ‘dicicil’ mulai dari makan sahur, berbuka puasa, hingga makan malam selepas shalat tarawih.

Ibu perlu mencatat bahwa waktu makan yang ibu miliki cenderung lebih pendek dari biasanya sehingga ibu disarankan membagi waktu makan dan minum secara merata. AIMI menyarankan ibu minum secukupnya setiap jam atau makan malam dengan porsi kecil, tapi sering. Ibu juga bisa membuat semacam catatan menu makan (food diary) untuk mengetahui kecukupan asupan selama berpuasa.

 

5. Menyusui seperti biasa

Meski ibu tidak makan dan minum selama kurang lebih 14 jam, tetap susui bayi sesuai permintaan dan kebutuhannya ketika ibu berada bersama bayi. Bagi ibu menyusui yang juga bekerja di luar rumah, tetap pompa payudara sesuai jadwal agar kuantitas ASI tetap terjaga mengingat jumlah ASI sangat bergantung pada seberapa sering ibu mengosongkan payudara.

Di siang hari, beberapa ibu menyusui mungkin akan merasakan payudaranya lebih kosong dari hari-hari biasa. Tetapi jangan khawatir karena hal itu lumrah dan payudara ibu akan kembali terasa penuh dengan ASI setelah berbuka puasa.

Jika ibu mengandalkan ASI perah dengan metode power pumping, tidak ada salahnya menggeser jadwal memerah lebih banyak ke malam hari. Selain ibu tidak lagi dalam kondisi berpuasa, malam hari merupakan waktu optimal bagi produksi hormon prolaktin.

 

6. Minum suplemen

Kondisi setiap ibu menyusui berbeda-beda. Ada yang bisa puasa penuh meski memiliki bayi yang menyusu eksklusif, namun tidak sedikit juga ibu menyusui yang harus mengonsumsi suplemen sekalipun bayinya sudah mengonsumsi makanan pendamping ASI.

Bagi ibu menyusui yang tergolong kategori kedua tersebut, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai suplemen yang aman dikonsumsi untuk ibu menyusui puasa. Dokter biasanya akan meresepkan suplemen yang mengandung 10 miligram Vitamin D untuk dikonsumsi saat makan sahur, tapi ibu mungkin juga diresepkan suplemen lainnya tergantung hasil pemeriksaan dokter.

 

Makanan yang Baik untuk Buka Puasa dan Sahur bagi Ibu Menyusui

Kunci utama dalam berpuasa bagi ibu menyusui ialah minum air putih yang banyak agar terhindar dari dehidrasi sekaligus menjaga suplai ASI tetap lancar untuk si kecil. Selain itu, asupan makanan dengan gizi yang baik saat sahur dan berbuka puasa akan menjaga tubuh ibu menyusui tetap bugar selama berpuasa sekaligus menghindarkan bayi rewel saat menyusu langsung di payudara ibu.

Saat sahur, ibu dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, sayuran, protein, dan buah, serta air putih setidaknya 2 gelas (500 ml). Karbohidrat kompleks bisa berupa oatmeal, nasi putih, nasi merah, nasi cokelat, nasi hitam, kentang, pisang, jagung, ubi jalar, dan alpukat.

Sedangkan saat berbuka, ibu menyusui justru tidak dianjurkan untuk makan atau minum yang terlalu manis dan mengandung banyak gula. Seperti dilansir British Nutrition Foundation, mengonsumsi gula berlebih saat berbuka puasa justru akan membuat kadar gula dalam darah terjun bebas sehingga ibu cepat mengantuk dan berat badan naik meski sudah seharian berpuasa.

Saat berbuka, ibu menyusui puasa dianjurkan mengonsumsi buah-buahan seperti kurma dan dua gelas air putih (500 ml). Adapun mengonsumsi makanan utama bisa dilakukan setelah melaksanakan shalat maghrib atau isya (dan tarawih). Sebelum tidur, ibu menyusui juga bisa mengonsumsi cemilan sehat seperti biskuit, buah-buahan, serta (jika perlu) susu khusus ibu menyusui.

 

(Asni / Dok. Freepik)