Keluarga

11 Cara Menghemat Uang dengan Mengubah Kebiasaan Kecil

Terakhir diperbaharui

11 Cara Menghemat Uang dengan Mengubah Kebiasaan Kecil

BERBAGAI kebutuhan yang harus dipenuhi setiap bulannya mau tidak mau membuat ibu memutar otak soal cara menghemat uang keluarga. Mulai dari belanja kebutuhan pokok, kebutuhan anak, hingga membayar cicilan, bahkan pengeluaran yang terlihat kecil seperti membeli pulsa harus dihitung masak-masak agar pemasukan yang didapat di awal bulan tidak langsung habis di tengah bulan.

Cara menghemat uang di setiap keluarga pun berbeda, tergantung pemasukan yang diterima. Bagi rumah tangga berpemasukan tetap per bulan dengan kategori menengah ke bawah, ibu mungkin tidak bisa mengalokasikan dana untuk liburan setiap bulan karena terlebih dahulu harus memprioritaskan kebutuhan primer, termasuk biaya sekolah anak.

 

-- Cara Menghemat Uang dengan Menentukan Skala Prioritas

Sebetulnya, ada pakem yang bisa diikuti oleh setiap rumah tangga soal cara menghemat uang di dalam rumah tangga ini. Ibu mungkin pernah mendengar jargon 50:30:20, yakni dari total pemasukan yang diterima per bulan, 50% di antaranya dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk membayar tagihan dan cicilan, 20% untuk menabung atau investasi. Namun, pada prakteknya persentase ini bisa disesuaikan. Intinya, setiap bulan ibu harus bisa menyisihkan uang untuk menabung.

Nah masalahnya, ibu dan ayah kadang keliru menentukan skala prioritas dalam cara mengatur uang yang seharusnya ditabung ini sehingga tidak jarang melontarkan pertanyaan "uang gaji buat apa saja ya? Kok habis terus, nggak bisa menabung?"

Untuk menghindari pertanyaan itu berulang setiap bulan, ada baiknya ibu dan ayah mengikuti cara menghemat uang dengan menentukan skala prioritas di dalam keluarga sebagai berikut.

 

1. Dana darurat

Musibah datang tanpa peringatan. Kalau sudah begini, ibu sangat membutuhkan dana darurat untuk sekedar bertahan hidup. Besarnya dana darurat tergantung dari kondisi rumah tangga masing-masing. Untuk pengantin baru, misalnya, mereka wajib menyisihkan uang untuk biaya persalinan maupun keguguran dengan memasukkannya ke kategori dana darurat.

Sedangkan untuk pasangan yang sudah memiliki anak, dana darurat ini sifatnya lebih mendesak lagi sehingga sebaiknya menjadi prioritas utama dalam menghemat uang bulanan. Jangan sampai uang sudah habis, kemudian anak jatuh sakit sehingga tidak bisa berobat.

Pengalokasian dana darurat ini bisa menjadi salah satu cara menghemat uang jika tidak ada kondisi darurat. Dengan demikian dana ini akan utuh dan ibu bisa memasukkannya ke dalam deposit tabungan.

 

2. Asuransi

Setelah dana darurat sudah teralokasi, tidak ada salahnya untuk menyisihkan sebagian uang untuk asuransi, baik itu asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa. Sebaiknya, setiap anggota keluarga memiliki asuransi kesehatan yang preminya selalu dibayarkan setiap bulan. Tidak perlu yang mahal, menggunakan fasilitas asuransi dari pemerintah seperti BPJS pun sudah cukup. Jika bisa membayar premi asuransi swasta atau mau mengombinasikannya dengan BPJS juga boleh.

Asuransi kesehatan menjadi penting sebagai salah satu cara menghemat uang mengingat penyakit bisa datang kapan saja, sedangkan biaya pengobatan semakin mahal. Dengan asuransi, seluruh atau sebagian biaya berobat bisa ditutup oleh perusahaan asuransi tersebut.

Di lain pihak, asuransi jiwa juga penting bagi penanggung jawab keluarga. Asuransi jiwa ini bisa menjamin keberlangsungan keluarga ketika penanggung jawab keluarga meninggal dunia karena ahli waris akan mendapat sejumlah uang yang bisa digunakan untuk kebutuhan primer seperti biaya kebutuhan harian maupun membayar biaya sekolah anak.

 

3. Dana pendidikan dan pensiun

Jangan salah sangka, menyiapkan dana pendidikan untuk anak itu penting, apalagi saat ini biaya pendidikan makin mahal. Yang salah adalah ketika orang tua mengabaikan masa tuanya dengan tidak pernah memikirkan cara menghemat uang untuk menjamin dirinya sendiri saat sudah memasuki usia tidak produktif.

Katakanlah dana pendidikan untuk anak bisa ditempuh dengan banyak cara. Ada berbagai jalur beasiswa, ada pula anak yang sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri ketika besar nanti. Tetapi tentu tidak ada beasiswa untuk pensiunan dan orang tua sudah tidak dalam masa produktif untuk mencari uang di hari tua. Kalau sudah begini, orang tua pun hanya mengandalkan belas kasihan anak untuk bertahan hidup.

Untuk itu, penting bagi ibu dan ayah untuk juga mengambil investasi jaminan hari tua. Ibu dan ayah bisa mengikuti program pemerintah lewat BPJS maupun bertanya ke bank yang dipercaya mengenai program JHT ini.

 

4. Investasi lainnya

Setelah ketiga hal di atas sudah bisa dipenuhi oleh keluarga ibu, sila memikirkan bentuk investasi lainnya bagi keluarga. Salah satu yang paling sederhana ialah memasukkan sisa uang ke rekening tabungan atau deposito (bisa sudah mencapai nominal tertentu).

Bila ibu belum memiliki rumah, tidak ada salahnya mengumpulkan uang untuk membeli rumah. Bisa juga uang yang masih ada dibelikan kendaraan, emas, ataupun surat berharga lainnya.

Ibu juga boleh mengalokasikan sebagian uang untuk berlibur, bahkan menjalankan ibadah ke luar negeri. Tetapi dua pilihan 'kemewahan' ini harus menjadi pertimbangan terakhir setelah semua kebutuhan primer terpenuhi ya.

 

-- 11 Cara Menghemat Uang dengan Mengubah Kebiasaan Kecil

Menghemat pengeluaran agar tidak besar pasak daripada tiang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kadang-kadang butuh waktu untuk menyesuaikan perubahan gaya hidup yang harus ibu lakukan sebagai salah satu cara menghemat uang keluarga.

Meskipun demikian, perubahan cara menghemat uang tidak harus dilakukan secara drastis. Mengubah gaya hidup demi menabung untuk keluarga bisa dimulai dengan langkah kecil, misalnya menunda belanja barang-barang yang bukan kebutuhan pokok dan sifatnya tidak mendesak, seperti membeli baju pesta yang baru ataupun membelikan anak mainan baru.

Langkah ini bukan hanya akan menekan pengeluaran bulanan, melainkan juga mengajarkan anak tentang salah satu cara menghemat uang dan agar anak lebih menghargai uang itu sendiri. Memang, kedua hal itu tidak terlalu signifikan dalam mengurangi pengeluaran keluarga, namun setidaknya bisa mengurangi beban anggaran bulanan dan dialihkan ke hal lain.

Selain kedua hal tersebut, berikut 10 cara menghemat uang keluarga.

 

1. Buat perencanaan bulanan

Setiap menerima gaji bulanan atau pemasukan dari suami setiap bulan, ibu wajib langsung membuat anggaran pengeluarannya. Hal ini diperlukan untuk memprediksi jumlah tabungan yang bisa disimpan dari nominal tersebut. Simpan sejumlah uang tersebut, kalau perlu buka rekening tersendiri, agar uang itu tidak terpakai untuk belanja kebutuhan lainnya.

Salah satu poin yang harus diperhatikan ketika membuat perencanaan bulanan ialah menentukan daftar menu makanan keluarga. Seperti diutarakan di atas, kebutuhan pangan keluarga ini menelan sekitar separuh dari budget keuangan keluarga sehingga soal perut harus menjadi prioritas dalam daftar cara menghemat uang keluarga.

Jangan sampai ibu kebingungan setiap kali ingin memasak sehingga akhirnya malah tidak memasak sama sekali dan memilih untuk memesan makanan lewat aplikasi atau layanan pesan antar restoran.

Jika bingung menentukan menu makanan keluarga untuk satu bulan, ibu bisa membuat daftar makan per minggu. Kuncinya ialah selalu taati daftar menu tersebut untuk menghindari pembengkakkan anggaran sekaligus sebagai salah satu cara menghemat uang.

 

2. Belanja pintar

Memilih tempat untuk berbelanja kebutuhan bulanan juga tak kalah penting sebagai salah satu cara menghemat uang. Tentunya, tempat terbaik berbelanja kebutuhan sehari-hari semisal sayur-mayur atau daging segar adalah di pasar tradisional. Selain ketersediaannya lengkap, harganya pun relatif murah dibanding pasar swalayan.

Meskipun demikian bukan berarti ibu tidak boleh berbelanja di swalayan atau supermarket. Hanya saja, butuh trik khusus ketika berbelanja di sini karena ibu rawan mengalami pembengkakkan anggaran. Ada baiknya ibu membuat daftar barang yang akan dibeli sebelum berangkat ke supermarket dan tidak membeli barang selain yang ada di dalam daftar.

Penting juga bagi ibu untuk berbelanja dalam keadaan kenyang untuk mengantisipasi 'lapar mata'. Pun kalau bisa, berbelanjalah tanpa membawa si kecil agar efisien dari segi waktu maupun budget, apalagi kalau anak ibu suka marah jika keinginannya tidak terpenuhi.

Cara menghemat uang yang signifikan, baik ketika berbelanja di pasar tradisional maupun supermarket, yakni belanja harus dilakukan dalam sekali perjalanan alias ibu tidak harus bolak-balik untuk membeli kembali barang yang lupa dibeli. Pasalnya, ketika ibu kembali ke toko atau pasar, ada kemungkinan ibu membeli barang lain di luar daftar belanjaan susulan tersebut.

 

3. Staycation

Jenuh di rumah terus? Ingin liburan keluarga, tapi dana terbatas? Bisa kok!

Ibu dan ayah bisa merencanakan staycation alias liburan yang dilakukan di negara sendiri. Staycation juga bisa diartikan sebagai liburan yang dilakukan di rumah dan melibatkan perjalanan ke atraksi-atraksi lokal yang berada di sekitar area tempat tinggal, atau dengan kata lain, menjadi turis di kota sendiri.

Menginap di penginapan murah, berwisata ke tempat tanpa dipungut tiket masuk atau dengan harga terjangkau seperti taman, pantai, maupun museum, merupakan bentuk staycation. Meski budgetnya bisa ditekan, tujuan staycation tetap sama dengan vacation pada umumnya, yakni menghilangkan stres dan menghadirkan kebahagiaan di tengah keluarga.

 

4. Gunakan produk yang bisa dipakai berulang kali

Berapa budget yang ibu anggarkan untuk membeli popok sekali pakai dalam sebulan? Biasanya sekitar Rp200 ribu hingga Rp800 ribu, tergantung merk dan pola pemakaian. Jika anak sudah bisa diajarkan potty training alias buang air kecil dan besar di toilet, ada baiknya untuk menyegerakan hal ini sehingga anak bisa menggunakan pakaian dalam yang dapat dicuci.

Selain itu, ibu juga bisa mengaplikasikan cara menghemat uang dengan membeli botol minum sebagai salah satu cara menghemat uang pasalnya ibu tidak perlu lagi membeli botol mineral setiap kali bepergian. Ini mungkin terlihat sepele, namun cukup signifikan terasa ketika botol minum juga bisa dibawa ketika anak sekolah atau bepergian.

 

5. Membeli barang second

Barang bekas pakai orang lain alias barang second tidak selalu berkualitas buruk. Ibu bisa berselancar di dunia maya maupun pergi ke pasar tertentu untuk menemukan barang-barang second, tapi masih layak pakai, bahkan dari merk terkenal alias branded.

Membeli barang second juga bisa diterapkan ketika memilih mainan untuk anak-anak. Sepeda roda tiga, mobil-mobilan, bahkan buku cerita dalam kondisi baru kerap dibanderol dengan harga selangit. Namun, ibu bisa lebih proaktif mencari mainan second yang kualitasnya masih bagus dengan harga lebih miring di garage sale atau toko mainan/sepeda. Menyenangkan anak sekaligus menerapkan cara menghemat uang ternyata bisa sejalan, kan?

 

6. Lebih aktif membandingkan harga

Kadang kala, barang yang sama dijual dengan harga berbeda di toko yang berbeda pula. Untuk itu, ibu jangan cepat lelah untuk membandingkan harga di berbagai tempat untuk mendapatkan harga terbaik.

Selain itu, saat ini banyak aplikasi yang menawarkan diskon atau cashback. Manfaatkan itu!

Memang langkah ini membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak, tetapi ibu akan puas dengan hasilnya. Tabungan pun bisa bernapas sedikit lega.

 

7. Hiburan di rumah

Profesi ibu rumah tangga sering dianggap remeh karena 'hanya' berdiam di rumah dan mengurus anak. Padahal, berdasarkan riset yang dilakukan di Amerika Serikat, profesi ibu rumah tangga merupakan pekerjaan terberat di muka bumi karena harus bekerja rata-rata 14 jam per hari dan hanya memiliki waktu istirahat 1 jam.

Oleh karena itu, tidak heran jika ibu ingin sesekali pergi ke luar rumah, misalnya ke bioskop atau mall. Hal itu tentu sah-sah saja, asalkan ibu siap mengeluarkan uang lebih untuk menyenangkan diri.

Namun, ada cara lain untuk menghilangkan penat bagi ibu rumah tangga dengan menekan budget, misalnya menonton film lewat aplikasi atau streaming ditambah cemilan popcorn atau snack yang dibeli di minimarket. Kegiatan ini bahkan bisa dilakukan bersama anak sehingga menciptakan bonding yang lebih kuat.

Jika keinginan ibu untuk keluar rumah memang tidak tertahankan, ada baiknya memilih tujuan outdoor seperti taman bermain. Riset menyatakan berada di alam terbuka dapat menghilangkan stres lho. Jika ibu memiliki hobi membaca, sila datang ke perpustakaan atau toko buku yang menyediakan buku untuk dibaca secara gratis.

 

8. Kerjakan semua sendiri

Nah, cara menghemat uang yang ini mungkin memerlukan sedikit skill ataupun latihan khusus karena ibu dan ayah dituntut untuk bisa melakukan kegiatan rumah tanpa meminta bantuan orang lain. Kegiatan rumah yang dimaksud misalnya melancarkan keran yang mampet, memperbaiki engsel pintu yang lepas, sampai menjahit kancing baju yang copot. Selama kerusakan di rumah masih bisa diperbaiki sendiri, atau setidaknya diperbaiki bersama dengan suami, tidak ada salahnya repot sedikit.

 

9. Hemat energi

Kebiasaan baik yang terlihat sepele ternyata juga bisa menjadi cara menghemat uang. Misalnya, mematikan lampu atau kipas angin saat tidak digunakan, menutup keran air ketika bak atau ember sudah terisi penuh, maupun hanya menyalakan AC ketika tidur malam. Positifnya lagi, semua hal itu bisa diajarkan juga kepada anak sehingga kebiasaan itu akan menjadi sifat mereka hingga dewasa nanti.

 

10. Bayar tagihan tepat waktu

Membayar tagihan bulanan tepat waktu bisa menghindarkan ibu dari jerat denda. Meski jumlahnya tak seberapa, tapi setiap sen uang itu berharga, bukan?

Salah satu cara untuk menghindari pembayaran tagihan yang terlambat ialah dengan menggunakan fasilitas autodebet. Bukan hanya lewat debit, kartu kredit pun kini menyediakan fasilitas ini untuk memudahkan pembayaran pelanggannya.

Dengan autodebet, saldo tabungan atau limit kartu kredit akan otomatis terpotong sesuai tagihan. Fasilitas ini sangat membantu bagi ibu yang pelupa atau terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan di kantor maupun urusan domestiknya sehingga lupa tanggal jatuh tempo pembayaran.

 

11. Hati-hati dengan kartu kredit

Bagi pemilik kartu kredit, penawaran diskon dari gerai biasanya lebih banyak dan lebih besar nominalnya. Belum lagi, sistem poin yang berlaku di kartu kredit juga bisa ditukar dengan beragam hadiah. Namun tidak dipungkiri bahwa hal ini justru berpotensi membuat tagihan kartu kredit makin besar di akhir bulan.

Ibu boleh saja menggunakan kartu kredit untuk melakukan transaksi keuangan, tapi harus betul-betul dikontrol. Ketika akan membayar tagihan kartu kredit, ibu akan diminta membayar lunas sesuai tagihan atau dengan minimum pembayaran. Selalu bayar lunas tagihan kartu kredit untuk menghindari tagihan yang belum terbayar terkena bunga sehingga malah akan memberatkan beban tagihan.

Jika ibu dan ayah memiliki lebih kartu kredit lebih dari satu, ada baiknya segera evaluasi penggunaannya kemudian tutup kartu kredit yang jarang digunakan. Dengan memiliki hanya satu kartu kredit, ibu dan ayah jadi bisa mengontrol limit pemakaiannya. Belum lagi, poin yang dikumpulkan bisa lebih banyak karena terkumpul di satu kartu, bukan?

 

(Asni / Dok. Freepik)