Keluarga Dibaca 450 kali

11 Cara Menumbuhkan Rasa Empati pada Anak

Share info ini yuk ke teman-teman
Stephanie

Terakhir diperbaharui 22 Agustus, 2019 11:08

11 Cara Menumbuhkan Rasa Empati pada Anak

Ibu merasa anak seperti tidak memiliki empati? Tidak perlu khawatir, Bu, empati pada anak dimulai dengan cara yang amat sederhana, atau anak belum mampu berempati seperti orang dewasa dan rasa empati ini akan perlahan berkembang seiring dengan bertambah usianya. Namun, empati pada anak memang tidak muncul begitu saja, namun perlu diajarkan.

Secara harafiah, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Singkat kata, empati adalah kemampuan untuk, berbagi perasaan, untuk memahami apa yang sedang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain. 

Bagaimana empati terbentuk?

   

Menumbuhkan empati sejak bayi

Misalnya, bayi usia dua bulan merengek karena diletakkan di tempat tidurnya. Kemudian Ibu berusaha menenangkan anak dengan mengusap-usapnya, menggendong dan mengajaknya berbicara sampai ia tenang kembali. Selama proses mengasuh ini, anak mulai memahami rasa kasih sayang yang Ibu berikan untuknya. Perlahan, koneksi yang terbangun antara Ibu dan anak akan berkembang dan menjadi modal untuk tumbuhnya empati.

Contoh lainnya adalah ketika bayi Ibu yang berusia dua bulan seakan mengajak Ibu bermain cilukba, ia berkali-kali menutup dan membuka dengan selimut pada wajahnya untuk membuat Ibu tertawa dan ia akan mengikutinya, hal ini disebut dengan ‘meniru emosi’. Pada tahap ini, bayi belajar mengenal orang-orang di sekitarnya, dan apa yang dirasakan oleh orang tersebut. Hal ini juga menjadi awal untuk menumbuhkan empati.

   

Tanda awal empati pada balita

Meski anak usia balita awal terlihat sensitif dengan kondisi di sekitarnya, tapi bukan berarti itu adalah empati, ya, Bu. Balita mengobservasi dan meniru apa yang dilakukan orang dewasa pada mereka. Misalnya, ketika di kelas, seorang anak menangis karena terjatuh, teman-temannya berkerumun di sekitar anak tersebut untuk melihat bagaimana cara guru mereka menenangkan temannya dan kemudian anak-anak akan meniru tindakan si guru. Makanya, empati mesti dicontohkan pada anak secara terus-menerus. 

   

Berkembang pada usia prasekolah

Empati pada anak umumnya akan mulai terlihat di usianya tiga hingga empat tahun. Pada usia ini, anak mulai memahami apa yang ia rasakan. Anak juga mulai mampu mengaitkan apa yang ia rasakan tersebut dan apa yang dirasakan oleh orang lain. Misalnya, anak akan menghampiri dan berusaha menghibur temannya yang sedang tidak sehat.

Dalam usia ini, makanya amat penting mengajar anak juga bersosialisasi, misalnya dengan teman-teman sebayanya, misalnya dengan mengikut sertakan anak pada kelas bermain. Dengan adanya lingkungan seperti ini, bisa menjadi wadah untuk anak untuk berlatih menumbuhkan rasa empati.

Dua orang Psikolog, yaitu Daniel Goleman dan Paul Ekman, memecah pengertian empati dalam tiga jenis, di antaranya: 

  1. Empati kognitif.
    Adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan oleh seseorang dan apa yang dipikirkannya. Empati jenis ini menjadikan kita mampu berkomunikasi dengan baik karena membantu menyampaikan informasi dengan cara yang mudah diterima oleh orang.

  2. Empati emosional.
    Disebut juga dengan afektif empati, adalah kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Rasa empati ini amat diperlukan untuk membangun hubungan dengan orang lain.

  3. Compassionate empathy.
    Adalah bentuk gerakan untuk membantu orang lain atas hal yang ikut kita rasakan.

Lalu, mengapa rasa empati ini penting

Rasa empati dibutuhkan, agar kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, sehingga kita bisa memberi tanggapan dengan baik. Empati umumnya terkait dengan perilaku sosial, dan semakin besar empati yang dimiliki seseorang, dikatakan cenderung lebih memiliki kemauan untuk menolong orang lain.

Ada banyak manfaat dari empati 

  • Empati membawa kebaikan. Perasaan positif dan bahagia akan meningkat ketika rasa empati yang kita sampaikan, didengar dan dimengerti dengan baik. kemudian, ketika kita merasa diri kita dimengerti oleh orang lain, maka akan terjalin hubungan.

  • Pelaku empati akan merasa mendapatkan identitas diri, dan hal ini bisa memicu diri seseorang untuk terus berbuat kebaikan lagi dan lagi di dalam hidupnya.

  • Empati bisa meningkatkan kesehatan secara emosional dan fisik, melalui koneksi yang terbangun dan perhatian.

  • Empati dikatakan mampu menghilangkan masalah psikologis, seperti stress, kesepian, rasa malu, kecemasan (anxiety), dst.

  • Rasa empati bisa menghindari terjadinya konflik, mencegah konflik menjadi marah dan membantu menyelesaikannya.

  • Empati membuka sudut pandang dan cara pikir seseorang, meningkatkan rasa peduli serta keinginan untuk menolong.

Selain itu, empati penting dimiliki untuk mengembangkan hubungan sosial yang sehat dan membangun karakter seperti peduli dan kebaikan hati. Ketika Ibu melihat anak seakan tidak memiliki empati, bukan berarti demikian karena mungkin cara menunjukkan empati antara pemikiran Ibu dan anak berbeda, atau anak mengutarakan empatinya masih dengan cara yang amat sederhana. Di sisi lain, empati bukanlah sesuatu yang pasti terjadi atau dimiliki anak dalam tahap tumbuh kembang tertentu. 

Salah satu contoh bentuk empati anak, adalah ketika ia memeluk temannya yang ia ketahui sedang sedih. Hal yang sederhana dari pandangan Ibu inilah, yang menjadi awal mula tumbuhnya empati pada anak, dan hal ini akan terus berkembang seiring usianya bertambah dan pastinya perlu dilatih.

Bagaimana cara menumbuhkan empati pada anak?

   

1. Berempati pada anak

Ketika Ibu mengajak anak untuk berlatih berenang, setibanya di depan kolam berenang, ternyata anak justru merasa takut. Tunjukkan rasa empati pada anak, misalnya dengan mengatakan, ‘Air kolamnya dalam, makanya kamu merasa takut, ya? Nggak perlu takut lagi, ya, karena Ibu bakal menemani kamu belajar berenang’.

   

2. Menyuarakan perasaan orang lain

Contoh, anak dan temannya berkelahi karena berebut mainan di kelas. Ibu bisa menyuarakan perasaan temannya si anak, misalnya, ‘Lihat, deh, temanmu sekarang jadi sedih karena permennya kamu ambil. Ayo, kembalikan permen miliknya dan ambil permen yang lain untuk kamu’.

   

3. Menyemangati anak menunjukkan rasa empati

Misalnya, dengan mengajak anak menjenguk temannya yang tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Agar semangatnya bertambah, Ibu bisa mengajak anak untuk membelikan buah tangan untuk temannya, dan biarkan ia yang memilihkannya sendiri.

   

4. Memberi contoh

Anak seperti spons, yang menyerap apa pun yang ia lihat, dalam hal ini, anak mencontoh bagaimana orang di sekitarnya berinteraksi dan bertingkah laku. Manfaatkan hal ini untuk mengajarkan kebaikan pada anak sejak dini. Jika anak melihat Ibu memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar Ibu, maka anak akan meniru.

   

5. Mengajarkan anak melatih emosi

Cobalah untuk menenangkan anak dengan cara yang baik. contoh, anak ngambek karena Ibu mematikan TV. Ketika melihatnya marah atau menangis, jangan buru-buru ‘meleleh’ dengan langsung menghidupkan TV kembali, ya, Bu, karena anak perlu belajar untuk mengontrol emosinya. Contoh solusi yang bisa dilakukan, ‘Ibu tahu kamu kesal, tapi nanti kalau marahnya sudah hilang, bantu Ibu melipat pakaian, ya’. Pun, cara ini mengajari anak juga menunjukkan rasa empati terhadap orang lain.

   

6. Mengoreksi penggunaan kata ‘maaf’

Saat anak mengatakan ‘maaf’, nyatanya, belum tentu ia sudah paham apa makna sebenarnya dari meminta maaf. Salah satu untuk mengajari anak misalnya, ‘Tahu nggak, temanmu menangis, karena tadi kamu pukul, yuk, kita lihat dan minta maaf’. Cara ini dikatakan akan mengajari anak arti ‘meminta maaf’ yang sebetulnya dan mengajarinya memahami hubungan antara aksi (memukul) dan reaksi (menangis).

   

7. Menamai perasaan

Maksudnya, pada anak yang lebih kecil, mereka belum mengerti perasaan yang mereka alami. Ibu bisa membantu mereka labeling atau menamai perasaan yang mereka alami. Contoh, ‘kamu sepertinya sedang kesal, kenapa?’
Cara lain untuk mengajar anak labeling emotion adalah dengan menggunakan kartu gambar wajah dengan beragam mimik, atau berlatih sambil bermain di depan kaca.

   

8. Manfaatkan kejadian sehari-hari

Misalnya, ketika Ibu dan anak sedang bermain di taman, ada seorang anak yang es krimnya terjatuh, Ibu bisa memanfaatkan hal ini untuk anak belajar mengekspresikan emosinya, ‘bagaimana kalau es krimmu yang terjatuh, apa kamu akan sedih? Atau kamu akan marah?’

   

9. Mengajarkan kasih sayang

Ajari anak untuk memberikan perhatian dan kasih sayang tidak hanya untuk keluarga atau pun teman-temannya, tapi untuk semua ciptaan Tuhan, misalnya dengan memberi tanggung jawab anak untuk memberi makan kucingnya atau menyiram tanaman. Contoh lainnya adalah mengajak anak berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, sekadar memberi sebotol minum pada seseorang di pinggir jalan atau merayakan hari ulang tahun bersama teman-temannya di panti asuhan.

   

10. Berbagi emosi

Pastikan agar anak merasa nyaman untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan, baik itu hal yang baik atau buruk, pastikan anak melihat Ibu sebagai pendengar yang baik untuknya. Jika Ibu melihat sekiranya anak enggan menyuarakan isi hatinya, Ibu bisa memulai pertanyaan untuknya.

   

11. Jangan biarkan sifat kasar

Sering, dong, mendengar beberapa kalimat seperti di bawah ini,

  • Ah, namanya juga anak-anak, sudah biasa mereka berkelahi, mereka, kan, belum mengerti'.

  • ‘Saya juga dulu masih kecil sering berkelahi dengan saudara atau anak-anak lain, tapi setelah besar, tidak ada masalah’.

Hal seperti ini, nggak boleh dibiasakan, ya, Bu. Pola pikir seperti ini tidaklah tepat, dan Ibu mesti menerapkan parenting way yang lebih baik untuk anak-anak Ibu, karena kita mengharapkan anak-anak kita untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik daripada diri kita dan agar anak bisa diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya.

      

Di atas hanyalah beberapa contoh hal yang bisa Ibu lakukan untuk menumbuhkan rasa empati pada anak sejak dini. Ingatlah, setiap anak memiliki masa tumbuh kembang yang berbeda, memiliki cara belajar dan kepribadian yang berbeda pula. 

      

(Stephanie / Dok. Freepik)