Keluarga Dibaca 526 kali

3 Cara Bijak Ibu Menghadapi Kritikan atau Mom-shaming

Share info ini yuk ke teman-teman
Yusrina
3 Cara Bijak Ibu Menghadapi Kritikan atau Mom-shaming

“Sudah punya anak kok masih sempat dandan ya? Ih pasti anaknya nggak dirawat!”

“Baru menyusui 5 bulan kok sudah mau pakai sufor? Lihat tuh ipar-ipar kamu lainnya, belajar dari mereka biar jadi Ibu yang baik!”

Tarik nafas, menghadapi kritikan tentang pola asuh anak memang kerap memancing emosi. Mau berusaha semaksimal mungkin pun, pasti ada saja mulut nyinyir yang membuat hati terluka. Kalau sudah begitu, Ibu harus mulai membentengi diri agar tidak termakan omongan buruk dan berujung depresi karena menjadi target mom-shaming.

Mom-shaming adalah praktik mengkritik pilihan pengasuhan seorang Ibu. Perilaku mom-shaming adalah bentuk tekanan masyarakat dengan cara melabeli perempuan sebagai ibu yang buruk. Berdasarkan penelitian C.S. Mott Children’s Hospital University of Michigan, bahasan utama dalam praktik mom-shaming sebagian besar meliputi disiplin anak (70%), nutrisi makanan anak, kebiasaan tidur, ASI versus botol susu, keamanan, serta perawatan anak.

Menurut survei Mottpoll di atas, sebanyak 61 persen Ibu menghadapi kritikan atas pilihan pengasuhan mereka. Sayangnya, pelaku mom-shaming kebanyakan adalah orang tua mereka sendiri, diikuti oleh pasangan/suami, serta mertua. Ibu juga perlu mewaspadai teman-teman dekat yang punya kecenderungan toxic dan gemar mencemooh. Tak hanya itu, media sosial, seperti Instagram dan Facebook, turut menyumbang 7 persen dalam kasus mom-shaming.

Menghadapi kritikan keluarga dan orang terkasih memang tidak mudah. Apalagi jika Ibu menganggap mereka sebagai support system, rasanya pasti sedih saat dipojokkan seakan tidak pantas menjadi seorang Ibu. Hati-hati ya, jangan sampai Ibu larut dalam pikiran negatif yang malah berdampak pada kesehatan mental Ibu dan si kecil. Yuk kenali siapa saja pelaku mom-shaming yang wajib Ibu ketahui!

Menghadapi Kritikan Orang Terdekat

Dekat belum tentu lekat, jaga jarak bila relasi sudah terlalu toxic ya, Bu!

  1. Bagaimana jika pelaku Mom-shaming adalah Neneknya sendiri?

    Sang nenek pasti ingin ikut andil dalam cara Ibu mengasuh cucu kesayangannya. Ada ungkapan, anak akan selamanya dipandang sebagai anak-anak di mata orangtuanya. Jadi jangan heran jika nenek kerap memaksakan pemikirannya dan meneruskan pengalamannya yang beliau rasa cara terbaik. Hm, padahal zaman sudah berganti dan banyak cara alternatif yang bisa dicoba.

    Bagaimanapun, kalian adalah dua sosok Ibu yang berbeda. Pertama, terimalah bahwa metode Ibu tidak akan persis sama dan minta agar nenek melakukan hal yang sama. Namun, hadapilah kritik tersebut dengan kelembutan. Cobalah menanyakan pendapat beliau tentang hal-hal kecil yang tidak terlalu signifikan. Misalnya cara memandikan anak dan bagaimana baiknya menyusun rutinitas mandi setiap hari.

    Ibu juga bisa membangkitkan kenangan masa kecil saat sedang berdialog. Tunjukkan bahwa Ibu berempati dengan pengalaman nenek dan terbuka akan ide-ide pengasuhan anak. Meski begitu, Ibu perlu menegaskan bahwa Ibu juga memiliki kontrol besar terkait anak.

  2. Menghadapi Kritikan Ibu Mertua

    Berbeda dengan ibu kandung, menghadapi kritikan Ibu mertua bisa jadi amat susah karena masih terasa seperti orang asing. Cara terbaik adalah melibatkan suami. Jelaskan bagaimana perasaan Ibu terkait kritikan pedas mertua lalu mintalah suami untuk turun tangan dengan pendekatan yang sopan dan lembut. Tapi upayakan agar suami dalam posisi netral dan baik dalam memediasi. Jangan sampai nantinya Ibu malah terkesan defensif dan mengacaukan hubungan ibu-anak.

  3. Menghadapi Kritikan Menyebalkan dari Teman

    Hanya karena Ibu bersahabat sejak playgroup, bukan berarti teman Ibu akan memiliki pandangan dan pola asuh anak yang sama. Kuncinya adalah menetapkan boundaries! Batasi ruang untuk berbagi hal-hal yang kelewat privasi seperti hubungan intim, hubungan dengan mertua, konflik finansial dan detail tumbuh kembang anak yang sifatnya cukup pribadi.

    Teman Ibu tidak akan mengomentari hal-hal yang tidak dia ketahui. Daripada memutuskan persahabatan hanya karena berbeda filosofi soal mengasuh anak, sebaiknya Ibu menghadapi kritikan teman dengan kepala dingin. Jauhi konfrontasi sebisa mungkin, namun jika tindakannya berlebihan seperti fitnah bahkan kekerasan verbal, jangan ragu ambil tindakan tegas. Kesehatan mental Ibu dan keluarga jauh lebih penting dari persahabatan yang tidak membangun.

  4. Menghadapi Kritikan Pasangan

    “Setiap hari kerjanya cuma tiduran sama anak, nggak lihat apa rumahnya berantakan?”

    Duh, menghadapi kritikan suami memang paling bikin hati mencelos. Padahal menjadi full-time mom itu kerja keras luar biasa. Terkadang tidur bersama anak jadi satu-satunya kesempatan untuk beristirahat setelah lelah terjaga sepanjang malam. Tapi suami tahu apa kalau tidak terlibat?

    Coba cari cara untuk mengomunikasikan hal ini ya, Bu. Katakan dengan jujur jika Ibu butuh bantuan dalam berbagi tugas rumah tangga. Jangan dipendam hingga depresi, lebih baik pergi ke psikolog atau konselor pernikahan saat hubungan sudah tidak sehat lagi.

    Menghadapi kritikan suami memang harus banyak bersabar, namun karena statusnya adalah pasangan, sebaiknya si Ayah juga berusaha untuk memahami dan tidak malah ikut menjadi pelaku mom-shaming. Ibu berhak memiliki support system yang baik, misalnya mengikuti komunitas untuk para Ibu baru atau curhat dengan sahabat yang terpercaya.

Berpikir Dua Kali sebelum Menghadapi Kritikan

Sebelum Ibu mengkonfrontasi orang yang mengkritik, lebih baik diam sejenak dan ajukan pertanyaan kepada diri Ibu sendiri. Dilansir dari verywellfmily, setidaknya ada 3 pertanyaan wajib yang harus Ibu jawab sebelum merespon kritikan.

  1. Apakah Ibu memang sengaja meminta pendapat?

    Jika Ibu secara sadar meminta nasihat, bersiaplah untuk mendengar apapun jawabannya. Meminta nasihat membutuhkan hati yang lapang dan pikiran terbuka. Pastikan Ibu dapat menerima bahwa orang lain mungkin memberi tahu Ibu sesuatu yang sulit didengar.

    Bila perlu, carilah orang-orang yang memiliki wawasan luas atau keilmuan terkait topik tersebut. Jika jawaban orang lain tidak sesuai dengan harapan Ibu, jangan bertindak defensif. Ucapkan terima kasih dan apresiasi seperti “Oke, nanti aku pikir-pikir lagi ya saranmu.” Toh dari awal Ibu memang meminta pendapat, bukan adu mulut.

  2. Apa ada intensi lain di balik kritikan itu?

    Menghadapi kritikan orang yang datang tanpa diminta kadang memang bikin geram. Sebelum buru-buru menjawab, coba tenangkan diri dan bayangkan niatan orang tersebut. Apakah mereka berbicara karena mereka benar-benar peduli pada Ibu? Apakah mereka mencoba untuk mengucapkan bagian mereka dengan hormat dan penuh kasih? Apakah mereka pantas untuk ditanggapi?

    Terapkan atau tolaklah saran mereka. Lebih baik berfokus pada intensi mereka daripada Ibu menelan bulat-bulat semua ucapannya begitu saja. Hanya Ibu yang bisa memutuskan bahwa orang tersebut sedang berusaha menyakiti hati atau  nasihatnya bermaksud baik walau tidak diinginkan. Dengan cara lembut, beri tahu orang tersebut bahwa Ibu merasa nyaman dengan metode pengasuhan milik Ibu sendiri.

  3. Apakah Ibu salah menafsirkan omongan orang?

    Menghadapi kritikan sebaiknya jangan dalam kondisi emosional. Ibu harus berpikir jernih dan jangan terlalu overthinking. Terlebih berusaha menafsirkan apa yang tersirat di balik kritikan. Misalnya ketika ada rekan kerja berkata, “Ayo pergi ke salon dan belanja baju baru, kamu sepertinya butuh deh. Jangan hanya pikirkan anakmu saja.” bukan berarti kolega Ibu bermaksud mengkritikan penampilan Ibu yang berantakan. Mungkin saja ia hanya ingin mengajak Ibu bersantai, me-time, dan memanjakan diri sejenak sebelum kembali ke rutinitas rumah tangga dan pekerjaan di kantor.

    Daripada menerka-merka maksud omongan orang, lebih baik tingkatkan kemampuan mendengarkan tanpa emosi. Bukan berarti saat Ibu lelah dan sensitif, maka semua orang bisa kena semprot. Jika ada ucapan yang menyinggung, Ibu bisa menanyakan maksud ucapan tersebut agar lebih jelas.

    Tidak semua yang kita pikirkan itu valid lho, Bu. Jika bercampur emosi atau ekspektasi berlebih, pikiran tersebut bisa berubah jadi monster yang menyerang kesehatan mental Ibu sendiri. Mulai sekarang, yuk belajarlah berpikir dua kali sebelum menghadapi kritikan!

(Yusrina)