Keluarga Dibaca 354 kali

4 Dampak Buruk Stereotip Gender Saat Mengasuh Anak

Share info ini yuk ke teman-teman
Dwi
4 Dampak Buruk Stereotip Gender Saat Mengasuh Anak

“Kok anak cewek main bola sih?”

“Eh, anak cowok itu nggak boleh cengeng!”

Pernahkah Ibu mendengar pertanyaan atau ucapan seperti di atas? Apa reaksi Ibu saat mendengar itu, mengiakan atau justru bertanya-tanya apa ada yang salah dengan itu?

Jika Ibu mengiakan gagasan di atas, maka bisa dibilang Ibu ikut meyakini stereotip gender yang dibakukan oleh masyarakat.

Apa Itu Stereotip Gender dalam Pengasuhan Anak?

Secara umum, stereotip gender adalah melekatkan sifat-sifat yang dikonstruksi secara sosial maupun budaya pada gender tertentu. Misal, laki-laki diidentikkan dengan sifat maskulin, perempuan dengan sifat feminin.

Dalam praktiknya secara spesifik, stereotip gender bahkan dilekatkan pada pola pikir, jenis emosi, hingga benda-benda yang paling sering digunakan oleh gender tertentu. Beberapa di antaranya seperti sifat keras pada laki-laki dan lemah lembut pada perempuan, warna gelap untuk laki-laki dan warna cerah untuk perempuan.

Internalisasi stereotip gender ini terjadi tanpa disadari dan tak jarang menjadi hal paten yang tak bisa diganggu gugat. Lalu, apa masalahnya?

Stereotip gender yang sudah melekat erat dalam pola pikir kita, meskipun untuk hal sepele pun, mengekalkan perbedaan-perbedaan dan standar “ideal” yang semu antara laki-laki dan perempuan maupun identitas gender lainnya.

Sayangnya, perbedaan-perbedaan ini kebanyakan merugikan dan rentan memengaruhi kesejahteraan kehidupan masing-masing gender, yang selanjutnya disebut sebagai bias gender. Tuntutan standar ideal tersebut juga tak luput berdampak besar pada pola pengasuhan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara universal.

Stereotip gender pada pola asuh orangtua yang paling sering kita ketahui adalah membedakan jenis mainan untuk anak laki-laki dan perempuan, pengenalan emosi, hingga seputar toleransi perilaku dan penanaman norma-norma sosial yang semu. Meski terkesan remeh, stereotip gender pada pola asuh tersebut berdampak besar pada bagaimana anak memaknai perbedaan sebagai nilai  harus dipegang teguh.

Akibatnya, pandangan bias gender mulai terinternalisasikan pada keseharian dan menjadi doktrin pada anak. Ketika anak melihat adanya ketidakserasian pada seorang teman dengan nilai-nilai yang diyakini oleh mayoritas, mereka akan mudah menghakimi, memandang aneh, bahkan mungkin mengucilkan anak lain hingga berujung bullying.

Beberapa praktik stereotip gender dalam pengasuhan yang secara tidak sadar sering dilakukan orangtua:

  • Membedakan Jenis Mainan dan Warna

    Mengkategorisasikan jenis mainan dan warna untuk anak laki-laki dan perempuan merupakan implementasi dari norma sosial yang dilanggengkan dalam masyarakat dan diperkuat dalam ranah keluarga.

    Pada praktiknya, anak laki-laki akan didorong untuk menyukai mainan konstruktif seperti lego, mobil-mobilan, atau kelereng. Sementara anak perempuan dianggap wajar apabila bermain boneka, memasak, atau pretend play sebagai perawat. Selain itu, anak perempuan seringkali diidentikkan dengan warna pink dan anak laki-laki dengan warna biru.

  • Membedakan Aktivitas

    Dalam pengasuhan dengan stereotip gender, selain membedakan jenis mainan, aktivitas anak laki-laki dan perempuan pun tak luput diberi batasan-batasan.

    Masyarakat yang terjebak dalam stereotip gender akan mengejek anak perempuan yang senang bermain sepak bola dan anak laki-laki yang suka boneka.

  • Penanaman Karakter dan Emosi

    Tak hanya itu, bahkan pola asuh yang terperangkap oleh stereotip gender pun melakukan penanaman karakter secara tidak seimbang antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki acapkali mendapatkan label dan ejekan ketika mereka menangis, sehingga yang terpatri dalam otak mereka adalah anak laki-laki haruslah kuat, keras, dan tidak boleh cengeng.

    Melansir dari laman Fatherly, American Psycological Association menggambarkan bahwa emosi ideal bagi anak laki-laki dalam masyarakat dengan stereotip gender adalah tegar dan tidak menunjukkan kerentanan. Sementara anak perempuan dituntut untuk memiliki karakter yang lemah lembut, penurut, dan wajar jika sering menangis.

  • Internalisasi Norma Sosial

    Pada taraf pengasuhan yang lebih jauh, terutama ketika anak sudah mulai memahami norma-norma sosial, stereotip gender sangat memengaruhi pola pikir orangtua yang diwariskan pada anak.

    Standar ideal semu yang sering berlindung dalam istilah “sewajarnya”, menginternalisasi keyakinan bahwa sudah kodrat perempuan berkutat dalam urusan domestik sementara laki-laki sewajarnya terlibat dalam ruang publik.

Dampak Buruk Stereotip Gender Saat Mengasuh Anak

  1. Membentuk Pemahaman Superior dan Inferior

    Pola asuh berstereotip gender dalam lingkungan masyarakat patriarki seperti di Indonesia, cenderung lebih mengistimewakan anak laki-laki. Terlebih, anak laki-laki telah didoktrin sebagai individu yang kuat dan keras.

    Akibatnya, mereka tumbuh dengan sifat yang cenderung dominan dan percaya bahwa dirinya menempati posisi superior dibandingkan anak perempuan. Maka tak heran apabila anak laki-laki akan memandang lemah anak perempuan, dan anak perempuan berasumsi bahwa sudah sewajarnya mereka berada pada posisi inferior.

    Jika ini terus berlanjut, anak perempuan akan memiliki tingkat kepercayaan dan harga diri yang lebih rendah dibandingkan laki-laki, terus berpikir bahwa kebutuhan laki-laki lebih penting daripada kebutuhan dirinya, bahkan mewajarkan perlakuan diskriminasi terhadap perempuan.

  2. Membatasi Potensi Anak

    Tak bisa dimungkiri bahwa dengan adanya pembedaan jenis mainan, aktivitas, bahkan perlakuan pada anak laki-laki dan perempuan, akan sangat memengaruhi perkembangan potensi mereka.

    Bila menerapkan pola asuh dengan stereotip gender, maka anak laki-laki hanya memiliki kesempatan untuk mengasah potensi yang mengedepankan pemikiran, konstruktif, dan logis. Sementara anak perempuan pun terbatas pada potensi kreativitas, imajinasi, serta keterampilan seputar perawatan.

  3. Anak Tidak Mengenal Keragaman Emosi

    Jika anak laki-laki terus-menerus didoktrin untuk menahan atau menyembunyikan emosinya dan mengedepankan logika berpikir, ada kemungkinan lambat-laun mereka menjadi anak-anak yang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan atau emosinya, bahkan sulit untuk belajar soal empati.

    Berbeda halnya dengan anak perempuan. Pola asuh berstereotip gender ini menuntut mereka untuk selalu mengedepankan emosi dan menyingkirkan perasaan yang berkebalikan seperti marah, yang dianggap lebih wajar dimiliki oleh anak laki-laki.

    Padahal, memiliki kemampuan mengelola emosi sangat penting bagi anak laki-laki maupun perempuan. Anak-anak perlu tahu bahwa emosi merupakan hal alami dan memerlukan keterampilan dalam mengelolanya. Sehingga kelak anak akan mampu menenangkan diri di saat mengalami gejolak emosi dan terhindar dari kemungkinan depresi.

  4. Pelestarian Standar Ideal yang Semu dalam Norma Sosial

    Jika sejak kecil anak-anak telah terdoktrin dengan stereotip gender dalam pengasuhan, maka besar kemungkinan inernalisasi standar ideal dan norma sosial yang semu tersebut akan mereka percayai sampai dewasa dan diwariskan pada anak-cucu mereka.

    Bila demikian yang terjadi, maka stereotip gender yang berbahaya ini akan sulit terputus dan menjadi lingkaran setan yang merugikan.

Tips Menerapkan Pola Asuh Adil Gender

Mengingat dampak buruk di balik stereotip gender dalam pengasuhan, alangkah bijak apabila orangtua mulai menghindarinya dan beralih pada penanaman nilai-nilai adil gender. Dengan menerapkan pola asuh adil gender, diskriminasi akan berkurang, keterampilan dan minat anak bisa dikembangkan dengan lebih optimal tanpa perlu membatasi potensi mereka, dan kerukunan akan terjalin dengan lebih baik karena tidak ada pihak yang dirugikan.

Berikut beberapa tips memulai pola asuh adil gender dalam keluarga:

  1. Introspeksi Diri

    Pertama-tama, orangtua harus menyadari pemahaman diri sendiri tentang bias gender dan terus belajar. Jika orangtua sudah memahami letak ketidakadilan tersebut, maka langkah selanjutnya adalah memperbaiki diri dengan mulai menerapkan pola pengasuhan yang tidak terjebak pada stereotip gender yang merugikan.

  2. Libatkan Anak dalam Menerapkan Konsep Adil Gender

    Anak adalah peniru ulung dan orangtua adalah teladan mereka. Apabila orangtua sudah memiliki kesadaran untuk lepas dari stereotip gender yang merugikan, maka akan lebih mudah untuk memperkenalkan pada anak konsep adil gender.

    Ayah dan Ibu bisa mengawalinya dengan memvalidasi emosi pada anak laki-laki maupun perempuan, menghargai perbedaan, memberi anak pilihan permainan dan warna yang mereka sukai, tidak membatasi aktivitas dan stimulasi, serta selalu mendampingi dan mendukung anak dalam menghindari stereotip gender di lingkungan sekitarnya.

  3. Ajarkan Nilai Kebaikan dan Tanggung Jawab

    Buang jauh-jauh label “boys will be boys” dan “cewek itu lemah” ketika menerapkan pola asuh tanpa stereotip gender. Alih-alih, ajari anak laki-laki untuk tidak mendiskriminasi orang lain dan latihlah anak perempuan untuk membangun kepercayaan diri dan berani melawan intimidasi siapa pun.

    Saat anak-anak mulai memahami secara sadar tentang value keluarga, bekali mereka dengan nilai-nilai kebaikan tanpa memandang gender dan pemahaman tentang tanggung jawab serta konsekuensi atas perbuatan mereka.

Melepaskan diri dan keluarga dari stereotip gender yang telanjur mendarah daging di masyarakat tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Yakinlah bahwa setiap langkah kecil perubahan yang kita lakukan, akan selalu berdampak pada perbaikan.

Penulis: Dwi Ratih