Keluarga Dibaca 662 kali

4 Jenis Pola Asuh Pembentuk Karakter Anak, Pilih yang Mana?

Share info ini yuk ke teman-teman
Dwi

Terakhir diperbaharui 03 Oktober, 2019 00:10

4 Jenis Pola Asuh Pembentuk Karakter Anak, Pilih yang Mana?

Seiring semakin berkembangnya zaman, semakin banyak orangtua yang menyadari bahwa mereka harus menetapkan sendiri pola asuh ala mereka kepada anak. Banyak orangtua zaman now yang ingin menerapkan pola asuh yang berbeda dari zamannya sendiri saat masih kecil. Hal ini tentu penting mengingat banyak hal yang ikut berubah seiring perubahan zaman, seperti keberadaan gawai dan akses informasi seputar parenting. 

Banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa pola asuh yang mereka terapkan rupanya amat berpengaruh pada kehidupan sosial anak. Ini tentu bukan sembarang opini. Karena rupanya, ada psikolog yang sengaja melakukan penelitian untuk menemukan relasi antara pola asuh orangtua dengan kehidupan sosial anak hingga dewasa. Lantas, apa saja sih pola asuh orangtua dilihat dari kacamata ilmu pengetahuan? Apa ya pengaruhnya untuk kehidupan anak?

Seorang Psikolog asal Amerika bernama Diana Baumrind telah melakukan penelitian terhadap macam-macam pola asuh orangtua sudah sejak tahun 60’an dengan metode observasi naturalistik. Psikolog yang meninggal sekitar September tahun lalu ini mencetuskan tiga jenis pola asuh orangtua berdasarkan hasil riset yang ia dalami dilihat dari cara mendisiplinkan anak, kedekatan orangtua, komunikasi, kontrol terhadap diri anak dan tingkat kedewasaan si anak. Dan seiring berjalannya waktu, penelitian juga semakin berkembang, maka Eleanor Maccoby dan John Martin mengembangkan tipe pola asuh Baumrind dengan menambahkan satu tipe lagi yang melengkapi daftar pola asuh menjadi 4 jenis. Berikut pemaparannya:

1. Pola Asuh Permisif

Pola Asuh orangtua jenis ini dijelaskan Baumrind sebagai tipe pola asuh dengan gaya “orangtua adalah teman”. Tentu siapa saja ingin menjadi seperti sahabat bagi anaknya. Eits, ternyata, pola asuh permisif ini biasanya lebih cenderung membiarkan anak melanggar aturan. Dalam pola asuh ini, karena keinginan kuat untuk menjadi teman bagi anaknya, orangtua akan seringkali melanggar sendiri aturan yang telah disepakati bersama. Padahal, aturan yang disepakati antara orangtua dan anak penting untuk dilakukan secara konsisten. Sayangnya, dalam pola asuh permisif ini orangtuanyalah yang tidak konsisten. Bahkan orangtua dengan pola asuh ini seringkali disebut sebagai orangtua yang terlalu baik! Orangtua dalam pola asuh ini tidak berekspektasi tinggi pada anaknya. Sehingga meski anaknya tidak mencapai prestasi apa pun, mereka akan merasa biasa saja.

Jelas bahwa orangtua masih memberikan aturan kedisiplinan pada anaknya. Tapi karena tidak konsisten, akibatnya adalah aturan yang berlaku sifatnya tidak kuat. Pola asuh orangtua jenis ini juga tercermin dari tidak teraturnya jadwal anak. Orangtua juga lebih membebaskan anak untuk melakukan hal yang ia suka, tapi kurang mengajarkan tanggung jawab. Pendapat anak memang didengar dalam pola asuh ini. Sayangnya hanya untuk hal-hal yang besar. Dalam hal kecil seperti memutuskan ingin menu apa hari ini, pola asuh ini cenderung tidak mempertimbangkannya. Tak jarang, tipe pola asuh ini juga minim hukuman pada setiap pelanggaran aturan. Artinya, orangtua tidak mengajarkan konsekuensi apa yang anak dapat jika ia tidak menepati peraturan.

Di balik kedekatan yang orangtua dapatkan, pola asuh jenis ini ternyata memiliki dampak negatif bagi sosial anak. Di antaranya:

  • Kemampuan bersosialisasi anak lemah: anak merasa segalanya mudah hanya jika ada orangtuanya. Mereka tidak bisa mengatasi keadaan di luar rumah saat tidak ada orangtua karena terbiasa dibantu.

  • Anak cenderung suka melanggar aturan: Hal ini karena mereka terbiasa bernegosiasi dengan orangtua dan orangtua pun biasanya langsung mengiyakan. Sehingga anak pun tidak bisa menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku di masyarakat. Mereka akan melanggarnya untuk memudahkan diri mereka sendiri.

  • Anak jadi tidak acuh terhadap pencapaian diri: Karena anak tidak dituntut untuk memiliki capaian diri yang tinggi, maka anak terbiasa menjadi anak yang ‘biasa-biasa saja’. Anak akan merasa orangtua mereka juga tidak akan menghukum jika mereka gagal dan tidak memberi hadiah jika mereka berhasil.

  • Tidak bisa mengatur waktunya sendiri: Anak dengan pola asuh orangtua permisif akan memiliki jadwal harian yang berantakan. Ia tidak bisa membagi waktunya untuk berkegiatan karena terbiasa tidak adanya jadwal yang jelas untuk beraktivitas saat ia bersama orangtuanya.

Nah, kebanyakan anak dengan pola asuh permisif tumbuh dengan kedisiplinan rendah. Orangtua cenderung bersembunyi di balik ungkapan bahwa anak mereka masih anak-anak. 

2. Pola Asuh Otoriter

Pola Asuh orangtua yang otoriter adalah tipe kedua yang dijelaskan Diana Baumrind dalam risetnya. Tipe otoriter ini mengedepankan aturan yang ketat versi orangtua. Aturan memang penting untuk mendisiplinkan anak. Sayangnya, dalam pola asuh otoriter aturan dibuat bukan untuk membuat anak disiplin. Melainkan untuk memaksa mereka bersikap baik dan tidak mempermalukan orangtua. Aturan yang dibuat oleh orangtua otoriter biasanya banyak, baik untuk di rumah atau di luar rumah. Anak tidak boleh melakukan ini itu sesuai aturan yang diberlakukan orangtua. Tetapi, anak tidak dijelaskan tentang dasar atau alasan adanya aturan tersebut. Sehingga anak hanya didoktrin untuk menurut, tanpa tahu mengapa mereka harus mematuhi aturan tersebut.

Pola asuh ini juga tercermin dari sikap orangtua yang tidak luwes pada anak. Orangtua yang otoriter tampak kejam, dingin, dan tidak bersahabat. Bila dibandingkan dengan orangtua yang suka mendengarkan pendapat anaknya, dalam pola asuh otoriter, pendapat anak tidak didengar. Bila anak melakukan kesalahan, akan berakhir dengan hukuman yang bersifat kasar, seperti dipukul atau dipermalukan dengan kata-kata negatif. Hal ini seolah membuat adanya jarak antara orangtua dan anak. Orangtua seperti ini cenderung ditakuti anak hanya karena mereka kasar, bukan karena mereka dapat dijadikan panutan.

Dalam pola asuh ini, orangtua otoriter percaya bahwa anak tidak perlu diberi pilihan dalam memutuskan sesuatu. Orangtua ingin hanya merekalah yang menerapkan aturan untuk anak. Mereka tidak percaya anaknya bisa memutuskan hal yang tepat dalam kehidupannya, dan hanya akan membuang-buang waktu saja jika mendengar pendapat anak. Memang, ekspektasi orangtua pada anak untuk bersikap baik di mana pun dan mencapai prestasi apa pun lebih tinggi jika dibandingkan dengan pola asuh permisif. Namun, sayangnya, ekspektasi tersebut didasari dengan aturan yang sengaja orangtua terapkan dengan menekan anak. Nah, bila sudah seperti ini, anak tentu merasa terkungkung, bukan?

Anak yang diasuh orangtua otoriter tidak diperbolehkan untuk melakukan negosiasi. Apa aturan yang telah orangtuanya buat, maka itulah yang harus anak ikuti. Tidak diperkenankan bagi anak untuk menawar akan belajar nanti saja setelah bermain, atau istirahat lebih lama setelah hari yang panjang dan melelahkan. Semua telah diatur dan tidak boleh dilanggar.

Meski di masyarakat anak yang diasuh secara otoriter akan patuh pada aturan di mana saja, sayangnya mereka tumbuh menjadi anak yang kasar dan agresif. Meski begitu, efek dari pola asuh ini, adapula anak yang tumbuh menjadi terlalu pemalu dan suka menyendiri. Mereka juga akan kesulitan berbaur dengan teman sebayanya karena mereka cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Karena kebanyakan diatur oleh orangtua, anak juga sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungan karena ia akan dibayang-bayangi ketakutan salah berbuat. Ayah dan ibu pasti ingat kan bahwa kesalahan akan berakibat hukuman kasar bagi anak-anak ini?

Anak-anak ini juga bisa mengalami depresi dan rasa takut berkepanjangan bahkan dapat berujung benci pada orang tuanya. Mereka juga akan kesulitan mengontrol diri dan emosinya karena minimnya pengalaman sabar dan telaten dalam memecahkan masalah.

3. Pola Asuh Otoritatif

Berbeda dengan dua tipe sebelumnya, pola asuh orangtua yang otoritatif ini memiliki dampak yang lebih positif terhadap pembentukan karakter anak. Orangtua otoritatif menerapkan aturan untuk mendisiplinkan anaknya, bukan sekadar untuk memaksa anak bersikap baik. Aturan yang diterapkan oleh orangtua otoritatif juga memiliki konsekuensi, tapi bukan hukuman kasar dan keras. Orangtua dengan pola asuh ini akan banyak menjelaskan alasan-alasan sebuah aturan dibuat, dan bagaimana anak akan didisiplinkan dengan cara yang baik jika mereka melanggar aturan tersebut.

Orangtua otoritatif lebih luwes dalam interaksinya dengan anak. Mereka lebih demokratis, hangat, dan menghargai pendapat anak-anaknya. Biasanya, jika anak melakukan kesalahan, mereka akan menerima konsekuensi yang fair, seperti jam main akan dikurangi 5 menit, atau tidak boleh makan snack manis saat waktu ngemilnya datang. Setelah itu, orangtua akan menjelaskan kesalahan apa yang dibuat anak sehingga mereka harus mendapatkan ‘hukuman’ seperti di atas. Orangtua dalam pola asuh ini mendengarkan pendapat anaknya. Mereka akan mengajak anak berdiskusi tentang hal apa pun, termasuk mengevaluasi kesalahan dan bagaimana cara memperbaikinya. Komunikasi dua arah antara orangtua dan anak terjaga dengan baik.

Meski beberapa aturan ada yang ketat, anak tetap nyaman melaluinya karena mereka percaya pada siapa yang membuat aturan tersebut. Mereka meyakini bahwa adanya aturan tersebut jelas, tidak dibuat sepihak dan baik untuk mereka. Rasa percaya inilah yang membuat aturan yang diterapkan orangtua dalam pola asuh otoritatif lebih dipatuhi anak dengan kesadaran anak sendiri. Aturan ini juga dapat orangtua sesuaikan dengan kondisi si anak. Artinya, aturan ketat bisa dilonggarkan jika keadaan anak tidak memungkinkan. Orangtua masih mempertimbangkan situasi dan kondisi anak saat menjalankan aturan.

Orangtua otoritatif juga termasuk pendengar yang baik. Mereka akan mendengarkan anak dan melibatkan mereka dalam diskusi. Mereka juga mendukung keputusan anak sehingga anak merasa dihargai sebagaimana mestinya.

Lalu, apa efeknya bagi anak jika mendapatkan pola asuh otoritatif?

Kolaborasi dari dukungan dan ekspektasi yang sesuai standar akan melahirkan anak yang mampu mandiri dalam memecahkan masalahnya. Anak juga akan menjadi pribadi yang dapat mengontrol emosinya dan dapat mengatur sendiri kegiatannya. Kepercayaan diri ini didapat dari orangtua yang rajin mengkomunikasikan apa pun dengan anak dan rasa percaya yang orangtua berikan.

4. Pola Asuh Abai

Pola asuh orangtua yang satu ini rupanya juga banyak ditemukan di masyarakat. Orangtua dengan pola asuh ini cenderung tidak mengeluarkan banyak energi karena seolah anak akan bisa mengatur dirinya sendiri. Orangtua jenis ini tidak peduli apakah kebutuhan mental dan fisik anaknya sudah cukup terpenuhi atau belum. Orangtua bahkan lebih banyak tidak tahunya tentang apa yang dibutuhkan anaknya karena kurangnya berkomunikasi dengan baik. Biasanya, orangtua jenis ini hanya fokus pada pekerjaan, mencari nafkah, memastikan uang sekolah anak sudah terbayar, ada tempat tinggal untuk berlindung, kebutuhan di rumah tercukupi, mainan anak pun ada. Mereka tidak menghadirkan sosok sebagai orangtua di hadapan anak. 

Ada jarak yang begitu kentara secara emosional antara orangtua dan anak dengan pola asuh ini. Anak menjadi seperti hilang arah karena orangtuanya tidak memandunya dalam hal apa pun. Sehingga dalam pemecahan masalah pun mereka juga kesulitan. Kehangatan cinta orangtua juga minim didapatkan anak dalam pola asuh ini. Bahkan, banyak dari orangtua tipe ini cenderung tidak menghadiri pertemuan orangtua dengan guru, atau acara-acara sekolah yang melibatkan anak mereka. Parahnya, orangtua dengan pola asuh ini juga cenderung menghindari anak mereka, hanya karena tidak ingin terlalu pusing memikirkan masalah anak-anak mereka.

Pola asuh ini akan menghasilkan anak dengan tingkat kepercayaan diri rendah. Anak menjadi sosok yang sulit bergaul dengan sebayanya maupun dengan orang dewasa lainnya. Anak-anak dalam pola asuh ini juga cenderung sering merasa takut, marah, dan stres karena merasa tidak ada dukungan dari keluarga. Mereka juga berpotensi tumbuh menjadi anak yang suka kekerasan untuk mencari perhatian.

Bila melihat dari beberapa jenis pola asuh orang tua di atas, tentunya Ayah dan Ibu ingin menerapkan pola asuh terbaik. Sebenarnya, Ibu dan Ayah tanpa sadar melakukan kombinasi dari beberapa pola asuh di atas. Tidak ada salahnya menelaah kembali ingin menggunakan pola asuh mana demi kebaikan anak. Ayah dan Ibu dapat mencoba beberapa tips di bawah ini dalam menerapkan pola asuh yang baik:

  • Buatlah daftar aturan dasar sederhana di rumah. Aturan ini dibuat bersama dengan melibatkan anak dalam diskusi. Jelaskan pada anak apa harapan Ayah dan Ibu dari aturan ini. Anak akan mengerti bahwa aturan ini dibuat untuk mendisiplinkan semua anggota keluarga. Jelaskan juga alasan apa yang mendasari dibuatnya aturan ini.

  • Buat kesepakatan tentang konsekuensi. Adanya konsekuensi jika melanggar aturan juga perlu dijelaskan pada anak. Konsekuensi berbeda dari hukuman kasar. Konsekuensi dapat berupa time-out  atau berkurangnya waktu nonton televisi. Ayah dan Ibu dapat membuat konsekuensi yang sebenarnya ringan, tapi mengena untuk anak.

  • Konsisten. Ini yang terpenting. Karena menjadi konsisten seringkali sulit. Bahkan bagi orang tua sekalipun. Bantulah anak dengan menjelaskan tentang pentingnya memiliki aturan yang jelas dalam keluarga. Penjelasan dan teladan yang baik akan membantu anak tetap mengikuti aturan yang berlaku.

  • Siapkan hadiah saat anak bersikap baik. Bantu anak agar mengikuti aturan yang berlaku dan berikan mereka hadiah tak terduga yang sederhana saat mereka berbuat baik.

  • Komunikasikan segalanya bersama anak. Komunikasi menjadi penting karena anak pun butuh didengar pendapatnya. Interaksi seperti ini akan membangun kepercayaan diri anak karena mereka merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Nah, dari pemaparan jenis pola asuh di atas, Ibu dan Ayah termasuk tipe yang mana? Dengan mempertimbangkan efek yang akan memengaruhi karakter anak, tidak ada salahnya jika Ibu dan Ayah merenungkan lagi apakah sebenarnya pola asuh yang selama ini diterapkan sudah cukup efektif dan memastikan tidak berdampak buruk bagi perkembangan karakter anak. 

(Dwi Ratih/Dok. Freepik)