Keluarga Dibaca 354 kali

8 Dampak Perceraian Pada Anak dan Cara Menguranginya

Share info ini yuk ke teman-teman
Menur
8 Dampak Perceraian Pada Anak dan Cara Menguranginya

Tidak ada pasangan yang menginginkan perceraian terjadi pada suatu titik dalam hidup mereka. Sayangnya, ujian hidup tidak ada yang bisa menerka. Perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, masalah ekonomi, pekerjaan yang membuat hubungan suami istri menjadi renggang, bahkan kasus serius seperti adiksi terhadap pornografi, narkoba, dan judi menjadi beberapa alasan terjadinya perceraian. 

Data yang diperoleh dari situs resmi Mahkamah Agung tahun 2019 menunjukkan bahwa 419.268 pasangan bercerai pada tahun 2018. Ini belum termasuk pasangan non-muslim yang melakukan perceraian di pengadilan umum.   

Terlepas dari tingginya angka perceraian tersebut, tentu saja setiap pasangan pasti sudah berusaha mencari solusi ketika terjadi masalah. Bertahan demi anak juga sudah dilakukan. Satu tahun, dua tahun, dan mungkin pada tahun berikutnya mereka yang menjalani pernikahan tersebut mengatakan “cukup” dan memilih untuk bercerai. Meskipun, dampak perceraian pada anak menyambut di depan mata.

Dampak perceraian pada anak lah yang kerap membuat pasangan bercerai menjadi merasa bersalah. Khususnya pada tahun-tahun pertama, di mana dampak perceraian terasa sangat berat dirasakan oleh anak yang membuat mereka merasakan amarah, hilangnya kepercayaan, perasaan tertekan, dan cemas bercampur menjadi satu. Orang tua adalah pihak yang harus membantu anak melewati semua perasaan tersebut. Namun sebelumnya, ketahui terlebih dahulu dampak perceraian yang mungkin dialami oleh anak:

  1. Berkurangnya interaksi dengan salah satu orang tua

    Saat perceraian terjadi, hak asuh anak akan jatuh ke tangan salah satu orang tua. Hal ini membuat interaksi anak dengan salah satu orang tua berkurang. Meskipun mantan suami dan istri bisa membuat jadwal pengasuhan agar anak tetap mendapatkan waktu dan kasih sayang kedua orang tuanya, intensitas pertemuan tetap tidak akan menggantikan peran ayah dan ibu saat masih berada dalam ikatan pernikahan. 

    Pada kebanyakan kasus perceraian, sosok ayahlah yang akan jarang ditemui oleh anak. Ternyata, dampaknya pada anak cukup signifikan. Anak yang tumbuh tanpa sosok ayah akan menunjukkan perilaku lebih agresif (mudah marah), mudah depresi, kepercayaan diri rendah, performa di sekolah kurang baik, dan mudah melakukan hal yang dilarang dan hal yang menantang bahaya, khususnya pada usia remaja.

  2. Perubahan sikap orang tua yang mendapat hak asuh terhadap anak

    Mendapat hak asuh atas anak dapat menjadi kebahagiaan maupun menjadi beban. Seberapa kuatnya orang tua mencoba untuk terlihat tegar di hadapan anak, ada waktu di mana beban tersebut seolah terlepas begitu saja dan membuat anak terkena dampaknya. Apalagi, jika orang tua tidak memiliki support system. 

    Sebuah studi yang dilakukan selama 25 tahun dan dipublikasikan pada tahun 2013 di jurnal Psychoanalytic Psychology menunjukkan sejumlah perubahan pada ibu setelah perceraian, yaitu kurang perhatian, kurang menunjukkan kasih sayang, konsistensi menegakkan disiplin berkurang dan menjadi tidak efektif. 

    Bisa jadi, hal ini disebabkan oleh beban ekonomi dan beban pengasuhan yang harus ditanggung sendiri, termasuk luka perceraian yang belum pulih sepenuhnya.

  3. Balita menjadi lebih manja dan mengalami kemunduran kemampuan

    Dalam situs Psychology Today disebutkan bahwa dampak perceraian berbeda pada anak dan remaja. Pada anak usia balita yang masih banyak tergantung dengan orang tuanya, perceraian membuat mereka lebih manja atau tergantung pada orang tuanya. Alasannya, dunia anak balita berpusat pada kedua orang tuanya. Kehilangan kestabilan tersebut menimbulkan rasa khawatir, tidak aman (insecure), dan rasa tidak percaya sehingga anak berusaha untuk lebih banyak menarik perhatian orang tua untuk memastikan bahwa mereka tidak kehilangan kasih sayang orang tua. 

    Regresi atau kemunduran dalam hal kecakapan hidup juga terpengaruh oleh meningkatnya ketergantungan pada orang tua. Jangan heran, jika anak yang tadinya sudah lulus toilet training mendadak mengompol kembali, yang tadinya berani beraktivitas tanpa orang tua mendadak harus ditemani, mendadak lebih mudah tantrum, merengek, maupun kehilangan kemampuan merawat dirinya.

  4. Remaja menjadi cepat mandiri dan suka melawan

    Berkebalikan dengan balita yang semakin dependen, dampak perceraian pada remaja adalah semakin independennya mereka pasca perceraian. Kehilangan salah satu orang tua membuat mereka harus mampu mengandalkan dirinya sendiri di banyak situasi. Baik tinggal bersama ibu yang juga mencari nafkah atau ayah yang tidak piawai di urusan domestik, anak remaja mau tidak mau harus belajar untuk cepat menguasai berbagai macam kemampuan yang ia butuhkan untuk kelancaran aktivitas sehari-hari.

    Sayangnya, beban emosi dan fisik atas perceraian yang mereka pendam tidak akan membuat kemampuan mereka mundur layaknya balita. Alih-alih, mereka menunjukkannya dalam bentuk agresi atau sifat melawan dan memberontak. Apalagi, orang tua bukan lagi pusat dunia mereka. Temanlah yang menjadi inti kehidupan mereka. Ketidakmampuan orang tua untuk menjaga komitmen mengasuh anak-anaknya dalam ikatan keluarga membuat mereka berani untuk mengambil keputusan sendiri dan mengabaikan aturan orang tua yang tidak mereka setujui. Prinsipnya, jika orang tua bisa egois dengan bercerai tanpa memikirkan perasaan anak, maka mereka pun boleh egois tidak memikirkan perasaan orang tua.

  5. Kondisi keuangan memburuk

    Dampak  perceraian dari segi ekonomi belum tentu dirasakan oleh semua anak, namun hal ini dapat membawa pengaruh besar jika perceraian ternyata membuat mereka harus pindah ke rumah yang lebih kecil, harus menumpang di rumah anggota keluarga lain, atau mendadak harus kehilangan kenyamanan hidup secara materi. Anak yang lebih dewasa mungkin lebih mudah beradaptasi dengan kondisi keuangan yang memburuk, namun anak yang belum paham mengenai uang bisa jadi menganggap orang tuanya tidak sayang padanya karena tidak lagi memberikan hal yang selama ini mudah ia peroleh. 

  6. Harus beradaptasi dengan lingkungan baru

    Perceraian bisa membuat anak harus berpindah tempat tinggal, berpindah sekolah, dan meninggalkan lingkungan tempat ia merasa aman dan nyaman. Pada anak usia sekolah atau remaja, hal ini dapat membuat anak merasakan kesedihan, kekecewaan terhadap kedua orang tuanya, dan ketakutan tidak dapat diterima di lingkungan baru. Pada balita, serangkaian perubahan ini dapat memicu timbulnya sifat agresif mengingat balita belum mampu mengomunikasikan apa yang mereka rasakan. 

  7. Rentan terlibat dalam tindakan berisiko

    Dampak perceraian pada remaja ternyata lebih berbahaya, yaitu rentan terlibat dalam tindakan berisiko seperti merokok, konsumsi alkohol, narkoba, maupun seks bebas. Penelitian oleh KL Donaghue,dkk pada tahun 2010 mendukung temuan ini, di mana remaja yang orang tuanya bercerai saat mereka masih balita rentan melakukan hubungan seks pada usia 16 tahun atau kurang. Pada remaja perempuan, hilangnya sosok ayah dalam kehidupan mereka juga memperbesar kemungkinan mereka untuk aktif secara seksual dengan lebih dari satu orang.

  8. Mengalami depresi dan trauma

    Perceraian yang terjadi dapat menyebabkan depresi dan kecemasan pada anak, terlepas dari usia, jenis kelamin, dan kultur sosial mereka. Pada remaja, hal ini dapat diperburuk dengan jatuhnya harga diri serta trauma akan mengalami hal yang sama saat mereka menikah kelak. 

Cara Mengatasi Dampak Perceraian pada Anak

Meskipun dampak perceraian akan mengacaukan hidup anak pada beberapa tahun pertama perpisahan kedua orang tuanya, anak-anak kelak akan mampu pulih dari luka perceraian dan kembali ke kehidupan nyata dengan lebih baik. Semua bisa terjadi jika kedua orang tua membantu anak untuk mengatasi masa sulitnya. 

Berikut ini adalah hal yang bisa orang tua lakukan untuk mengatasi dampak perceraian pada anak:

  1. Berhenti bertengkar

    Setiap perceraian pasti diawali dengan pertengkaran. Masalahnya, banyak yang masih berada dalam tegangan tinggi saat bertemu dengan mantan pasangannya dan tidak dapat menahan diri dari pertengkaran di depan anak-anak mereka. Tentu saja, hal ini akan membuat perasaan anak kembali terluka. Bagaimanapun juga, tetap tersisa dalam diri anak rasa bahagia ketika melihat orang tuanya akur. Jika tidak dapat melakukannya, mampu menahan diri dari mengucapkan kalimat negatif pada pasangan saja sudah bisa mengurangi dampak perceraian pada anak.

  2. Berhenti menjelekkan mantan pasangan

    Setiap pihak dalam perceraian pasti merasa bahwa kesalahan mantan pasangannya berkontribusi dalam terjadinya perceraian. Dan tidak semua orang bisa segera menerima dan melupakannya. Sayangnya, menjelekkan mantan pasangan kerap dilakukan secara sadar maupun tidak sadar di depan anak, baik dalam bentuk keluhan ketika lelah, penjelasan kala anak bertanya, atau curhatan kepada anak yang telah dianggap cukup usia. 

    Menjelekkan pasangan di depan anak yang masih kecil dapat membuatnya benci pada salah satu orang tuanya. Padahal, kerjasama kedua orang tua masih dibutuhkan untuk membesarkan anak. Rasa benci pada salah satu orang tua bukan tidak mungkin akan mempengaruhi persepsinya terhadap sifat lawan jenis yang akan mempengaruhi kehidupan asmaranya kelak.

    Karena itu, menahan diri untuk tidak menjelekkan mantan pasangan di depan anak akan mampu mengurangi dampak perceraian pada anak. Sejelek apapun mantan pasangan (misal pelaku KDRT), anak akan tetap lebih tenang hidupnya jika orang tuanya tidak membahas masalah tersebut dalam lembaran baru pasca perceraian.

  3. Segera membuat jadwal rutinitas baru

    Salah satu dampak perceraian pada anak adalah munculnya rasa tidak aman akan apa yang kelak akan terjadi. Rasa percaya yang berkurang pada orang tua setelah keduanya bercerai dapat membuat anak seperti kebingungan dan kehilangan pegangan. Karenanya, orang tua harus segera membuat jadwal rutinitas baru untuk anak agar anak merasa aman mengetahui kehidupannya kini kembali dapat diprediksi. Beberapa rutinitas tersebut misalnya membuat jadwal mengunjungi/dikunjungi oleh orang tua yang tidak mendapat hak asuh dan menentukan jadwal aktivitas harian secara tertulis jika perlu. Jika biasanya Ayah yang mengantar sekolah, sekarang antar jemput sekolah yang akan menjemput anak setiap pagi. Atau, jika biasanya Ibu dapat menemani seharian, mungkin kini anak harus dititipkan di daycare karena Ibu harus bekerja.

  4. Memberi penjelasan dengan bahasa yang mudah diterima

    Memberikan penjelasan tentang perceraian sejak awal pada anak dapat mengurangi besarnya dampak perceraian kelak. Khususnya pada anak kecil yang pemahamannya masih terbatas dan hanya mampu mengerti hal konkret, menjelaskan tentang Ayah dan Ibu yang berpisah tentu tidak mudah namun bisa dicoba. 

    Kalimat penjelasan seperti yang dimuat dalam Today’s Parents ini bisa dicoba:

    “Ayah dan Ibu akan bercerai dan besok akan tinggal di rumah yang berbeda. Adek bisa tetap ketemu Ayah, kok. Yang penting, Ayah dan Ibu masih sayang sama Adek. Ada yang mau Adek tanyain?”

    Intinya adalah penjelasan bahwa orang tua tidak akan bersama lagi dan bahwa orang tua masih sayang anak. Hal ini penting ditekankan mengingat ketika anak balita yang pemahamannya masih terbatas melihat ayahnya meninggalkan rumah, ia akan berpikir bahwa ayahnya meninggalkannya, bukan meninggalkan ibunya. 

    Jika anak bertanya lagi, jawab dengan kalimat yang pendek. Pertanyaan ini mungkin tidak akan muncul sekali dua kali saja, karena itu bersabarlah untuk mengulang-ulang jawaban yang sama hingga anak paham.

  5. Memberi perhatian, menjaga kedekatan

    Dampak perceraian yang membuat anak merasa kehilangan dapat diobati dengan memberikan perhatian penuh pada anak, semampu yang orang tua bisa. Pada anak kecil, hal ini berarti memenuhi segala kebutuhannya dan menemaninya.

    Pada anak usia sekolah yang mulai memiliki lingkungan lain seperti sekolah, teman, dan guru, orang tua bisa menjaga kedekatan dengan cara menjadi teman mencurahkan isi hati. Berusaha menggali apa yang dirasakan anak akan lebih mudah saat anak belum memasuki usia remaja, meskipun tidak semua anak dapat menjelaskan apa yang dirasakannya atau bersedia mengungkapkan perasaannya. Orang tua tidak perlu bertanya langsung seperti, “Kakak sedih ya?” yang mungkin tidak akan dijawabnya. Alih-alih, pernyataan seperti, “Ibu tahu, banyak anak yang orang tuanya bercerai merasa marah, kecewa, dan sedih..” mungkin dapat membuatnya bercerita tentang perasaannya.

    Intinya, orang tua harus mampu menyediakan ruang dan waktu bagi anak untuk mencurahkan perasaannya, atau setidaknya memberikan perhatian dan kasih sayang. Anak yang mendapatkan dukungan dan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya pasca perceraian mampu mengalihkan masalah perceraian orang tua ke aktivitas di sekolah, hubungan dengan teman, dan menjalani rutinitas dengan lebih baik.

Jangan khawatir, anak tidak serapuh itu…

Dari semua dampak perceraian dan usaha untuk membuatnya lebih mudah diterima anak, orang tua perlu percaya bahwa anak ternyata memiliki daya tahan yang luar biasa untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Penelitian menunjukkan bahwa anak pada akhirnya akan bangkit dan mampu menjalani hidup dengan baik. Mereka mungkin tidak akan melupakannya, tetapi hidup mereka terus berjalan dan mereka ternyata baik-baik saja. Jangan lupa, dukungan orang tuanya lah yang paling penting bagi anak agar mampu bertahan. 

(Menur / Dok.Freepik)