Kesehatan Dibaca 425 kali

10 Cara Mengatasi Nyeri Saat Haid

Share info ini yuk ke teman-teman
Stephanie

Terakhir diperbaharui 09 November, 2019 23:11

10 Cara Mengatasi Nyeri Saat Haid

Nyatanya, sebagian perempuan nggak merasakan apa pun, loh, ketika sedang datang bulan, namun bagi sebagian lainnya, mereka merasakan kebalikannya. Bahkan nggak sedikit yang merasakan nyeri haid sampai mengganggu tidur atau sampai absen dari kantor segala. Nyeri saat haid atau dismenore ini biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia dan setelah melahirkan.

Nyeri saat haid umumnya ditandai dengan nyeri berdenyut (throbbing) di bagian perut bawah, nyeri yang berlanjut, hingga nyeri yang menyebar ke bagian punggung bawah serta di pangkal paha. Nyeri bisa dirasakan sejak satu hingga tiga hari sebelum menstruasi, atau pada tiga hari pertama menstruasi. Kram menstruasi seringkali diikuti dengan rasa mual, sakit kepala, pusing, rasa lelah dan feses lebih cair. Bagaimana cara mengatasi nyeri saat haid, harus diketahui dulu apa penyebabnya.

8 Penyebab nyeri saat haid

  1. Kontraksi rahim

    Singkat kata, nyeri ini disebabkan karena dalam masa menstruasi, rahim kita secara alami berkontraksi untuk mengeluarkan lapisan dindingnya. Itu, loh, yang bentuknya seperti gumpalan atau lapisan tipis berwarna merah darah yang disebut dengan menstrual clots. Kontraksi rahim ini dipicu oleh serupa hormon yaitu prostaglandins. Nah, semakin tinggi kadar prostaglandins ini, maka rasa nyeri akan semakin kuat. Jadi, sebetulnya nyeri kram saat haid ini adalah hal normal, ya, namun ada beberapa kondisi lain yang bisa memperparah dan mesti segera mendapat penanganan dokter. 

  2. Pelvic inflammatory disease

    Adalah infeksi bakteri misalnya gonore atau klamidia pada organ reproduksi perempuan, yang masuk dari vagina lalu menyebar ke dalam rahim, tuba falopi atau indung telur, sehingga menyebabkan peradangan. Bakteri ini biasanya menular lewat hubungan seks. Contoh gejalanya adalah keluar cairan dari vagina yang berbau nggak sedap, nyeri saat melakukan seks atau saat buang air kecil. Selain bikin nyeri, kalau nggak segera diatasi, infeksi ini bisa menimbulkan komplikasi berupa jaringan parut, yang kemudian bisa meningkatkan risiko sel telur yang sudah dibuahi, melekat di luar rahim atau etopic pregnancy.

  3. IUD

    Intrauterine device atau spiral juga bisa menyebabkan nyeri haid. Alat kontrasepsi ini ada dua jenis, yaitu hormonal dan non hormonal (tembaga). Alat KB ini ampuh dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Meski aman untuk digunakan, tapi ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi bagi sebagian orang. Untuk jenis non hormonal ini, beberapa efeknya adalah nyeri haid, mens jadi nggak teratur atau pendarahan berlebih. Namun seharusnya, efek samping ini nggak berlangsung lama, ya.

  4. Cervical stenosis

    Atau disebut juga closed cervix adalah kondisi pembukaan pinggul menyempit atau bahkan tertutup sehingga bisa menghambat keluarnya darah dan menambah tekanan yang membuat nyeri pada rahim. Kondisi seperti ini, bisa terjadi sejak lahir, ataupun terjadi seiring waktu. Penyebabnya ada banyak, contohnya karena kista, endometriosis, jaringan parut, dst. Nggak, hanya nyeri, jika nggak segera diobati kondisi ini bisa menimbulkan gangguan kesuburan. 

  5. PCOS

    Yang satu ini mungkin Anda sudah sering dengan informasinya, ya. PCOS atau polycystic ovary syndrome adalah gangguan kesehatan yang biasanya mengenai perempuan dalam rentang usia melahirkan. Perempuan yang mengalami PCOS ini mengalami gangguan keseimbangan hormon dan metabolisme. Tanda PCOS biasanya adalah heavy bleeding, gangguan kesehatan pada kulit dan rambut rontok. Tanda lainnya adalah adanya rambut berlebih di sekitar wajah (kumis atau janggut) dan di badan.

    Jika Anda sering mengalami nyeri haid dan lambat mendapatkan keturunan, mungkin saja, Anda kena PCOS ini. Karena hormon yang nggak seimbang tadi bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan pelepasan sel telur Anda. Tapi nggak perlu khawatir, karena PCOS bisa dirawat.

  6. Endometriosis

    Jaringan yang melapisi rahim yang melekat di bagian luar rahim, umunya pada tuba falopi, ovarium (indung telur) atau pada jaringan yang melapisi panggul. Biasanya ditandai dengan nyeri di bagian pinggul, pendarahan di antara waktu menstruasi dan nyeri ketika berhubungan seks. Endometriosis yang nggak ditangani dengan baik, bisa mengganggu kesuburan.

  7. Uterine fibroid

    Adalah ‘benjolan’ non kanker yang tumbuh di bagian luar atau dalam dinding rahim. Benjolan tersebut bisa berukuran kecil, atau besar dan jumlahnya bisa ada lebih dari satu. Jika sangat besar, bahkan perut penderitanya bisa kelihatan seperti sedang hamil. Seperti PCOS, nama lain dari miom ini biasanya mengenai perempuan pada usia melahirkan. Meski penyebabnya belum bisa dipastikan, namun ada penelitian yang menyebutkan, sebagian penderita miom ini adalah yang menstruasi pertama kali pada usia yang sangat awal dan kelebihan berat badan bisa memicu timbulnya miom. Adanya miom bisa ditandai dengan nyeri di punggung bagian bawah, nyeri di sekitar paha dan masa menstruasi berlangsung lebih dari satu minggu, tapi seringnya, miom nggak menunjukkan gejala.

  8. Adenomyoisis

    Penebalan dinding rahim yang terjadi ketika jaringan yang melapisi rahim berkembang hingga ke otot rahim, menjadikan rahim membesar dua hingga tiga kali dari ukuran normalnya. Selain kram, adenomiosis bikin perut terasa kembung. Ciri lainnya misalnya peningkatan rasa nyeri atau mens yang lambat selesai. Meski bukan sesuatu yang membahayakan, tapi rasa nyeri yang ditimbulkan bisa sangat mengganggu.

Selain beberapa gangguan kesehatan di atas, ada beberapa faktor lain yang bisa memicu nyeri haid, yaitu usia di atas tiga puluh tahun atau memasuki masa puber lebih awal, misalnya dibawah usia sebelas tahun. Lainnya adalah mengeluarkan banyak darah ketika haid (menorrhagia), darah keluar tidak normal (metrorrhagia), keturunan dan merokok karena bisa membatasi suplai oksigen ke daerah panggul.

Nah, setelah Anda mengetahui apa penyebab kram haid Anda, langkah selanjutnya adalah segera mengatasinya. Kalau penyebabnya adalah gangguan kesehatan seperti di atas, pastinya langkah yang diambil adalah tindakan medis. Selain itu, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk meminamilisir nyeri haid.

Cara mengatasi nyeri saat haid

  1. Olahraga 
    Salah satu cara mengatasi nyeri saat haid adalah dengan berolahraga secara teratur. Contoh, melakukan aerobik tiga kali seminggu, dengan masing-masing sesi setengah jam. Olahraga bermanfaat lainnya yang bisa dicoba adalah berjalan kaki, jogging atau yoga. Olahraga berat justru nggak dianjurkan, ya.

  2. Air hangat 
    Sebelum mengonsumsi obat penahan rasa sakit sebagai cara mengatasi nyeri saat haid, sebaiknya Anda menggunakan kompres hangat dan letakkan di bagian perut yang terasa nyeri. Opsi lainnya adalah mandi air hangat. Air hangat bisa membantu menjadikan otot-otot lebih rileks lho. 

  3. Atasi stress 
    Stress adalah cikal bakal dari banyak penyakit, termasuk kram otot. Makanya, Anda mesti belajar untuk mengelola stress dengan baik. Misalnya, dengan bertukar pikiran dengan teman, menonton ke bioskop atau pergi liburan keluarga.

  4. Makanan sehat 
    Cara mengatasi nyeri saat haid lainnya adalah dengan mengubah pola makan menjadi lebih sehat . Beberapa jenis makanan yang dianjurkan adalah yang banyak mengandung Omega-3, magnesium, vitamin B-1 dan B-6. Selain dari makanan, bisa juga dengan mengonsumsi suplemen. Namun Anda perlu berkonsultasi dulu dengan dokter mengenai jumlah kebutuhan yang sesuai dengan tubuh Anda.

  5. Orgasme 
    Berhubungan intim juga bisa dijadikan cara mengatasi nyeri saat haid lho. Tentu lebih baik dilakukan sebelum menstruasi tiba, yaitu saat PMS. Ketika mencapai orgasme, tubuh melepaskan endorfin dan hormon lainnya yang bisa membantu meredakan nyeri. 

  6. Jamu kunyit 
    Kunyit sebagai salah satu cara mengatasi nyeri saat haid sudah lama diandalkan. Kunyit mengandung kurkumin yang bersifat sebagai anti peradangan yang membantu meredakan efek dari kontraksi otot. Kunyit juga mengandung analgesik untuk menghilangkan rasa sakit pada bagian tubuh lainnya seperti punggung atau panggul. Tidak perlu terlalu sering mengonsumsinya, karena konsumsi kunyit yang berlebih bisa memicu asam lambung.

  7. Jamu jahe
    Selain membuat perut terasa hangat, jahe disebut-sebut bisa mengontrol pendarahan ketika menstruasi dan dijadikan cara mengatasi nyeri saat haid. Walaupun aman, namun obat herbat seperti jahe dan kunyit ini mesti dikonsumsi dalam batas sewajarnya, karena jika dikonsumsi berlebih, jahe berpotensi mengencerkan darah, diare dan heartburn. Cara membuatnya pun mudah, cukup rebus irisan jahe, bisa juga ditambahkan dengan kunyit dan madu secukupnya, lalu minum selagi hangat.

  8. Pijat
    Memijat membantu melancarkan darah dan bisa jadi cara mengatasi nyeri saat haid. Pijat dengan lembut bagian yang terasa nyeri, misalnya di sekitar perut, panggul atau punggung. Dipijat juga bisa membantu meredakan stress.

  9. Air
    Cara mengatasi nyeri saat haid lainnya adalah dengan memperbanyak frekuensi minum air untuk mencegah dehidrasi yang bisa memicu kram, mengurangi makanan berlemak, memperbanyak asupan kalsium serta mengurangi kafein seperti kopi, teh dan minuman bersoda. 

  10. Obat
    Pilihan terakhir sebagai cara mengatasi nyeri saat haid adalah mengonsumsi obat penghilang rasa sakit sesuai anjuran. 

Apa tanda nyeri haid tidak normal atau kapan Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter? Yaitu jika nyeri yang Anda rasakan semakin bertambah setiap bulan atau nyeri yang amat sangat. Makanya, penting untuk Anda membuat catatan tentang gejala apa saja yang Anda rasakan setiap bulan dan rajin mencatat tanggal menstruasi. Tergantung dari gejala apa saja yang Anda rasakan, pemeriksaan yang bakal Anda jalani misalnya penggunaan ultrasound, CT scan atau gynecologic laparoscopy.

(Stephanie / Dok. Freepik)