Kesehatan Dibaca 164 kali

5 Hal yang Perlu Diketahui dari Cacar Monyet (Monkeypox)

Share info ini yuk ke teman-teman
Hadassah

Terakhir diperbaharui 15 Mei, 2019 12:05

5 Hal yang Perlu Diketahui dari Cacar Monyet (Monkeypox)

Akhir-akhir ini, virus cacar monyet sedang ramai dibicarakan karena virus ini sudah memasuki wilayah Singapura. Dilansir dari laman nasional.kompas.com, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mulai menghimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap virus cacar monyet ini. Maka dari itu, kita perlu mengetahui apa itu virus cacar monyet lebih mendalam, Bu, terutama untuk menghindari si kecil tertular virus ini.

 

Apa itu cacar monyet?

Cacar monyet atau monkeypox tergolong pada kelompok virus orthopoxvirus, yang ditularkan dari hewan seperti monyet, tikus Gambia, dan tupai ke manusia. Virus ini sebenarnya bukan merupakan virus yang baru, karena sudah ditemukan sejak tahun 1958 pada beberapa monyet yang sedang dijadikan bahan untuk penelitian. Laman cdc.gov menulis bahwa penyebaran virus ini pertama kali pada manusia terjadi tahun 1970, yang ditemukan pada sejumlah penduduk Kongo saat sedang menjalani masa intensif untuk pemusnahan virus cacar.

Sejak saat itu, cacar monyet kembali banyak ditemukan di beberapa negara di wilayah Afrika bagian Barat dan Tengah. Kejadian ini sering ditemukan pada daerah dengan iklim hutan hujan tropis, di mana manusia sering bersentuhan dengan hewan yang mungkin sudah terinfeksi. Kasus cacar monyet diberitakan hanya ada tiga kali di wilayah luar Afrika, tahun 2003 di Amerika Serikat sebanyak 47 kasus, tahun 2018 di Inggris sebanyak 3 kasus dan Israel sebanyak 1 kasus. Pada tahun 2019 ini, Singapura dilaporkan menjadi kasus cacar monyet pertama di Asia.

 

Tanda dan gejala awal

World Health Organization (WHO) mengatakan gejala awal yang ditimbulkan oleh penderita cacar monyet hampir sama dengan mereka yang terkena cacar biasa (smallpox), tetapi lebih ringan. Gejala awal cacar monyet dimulai dari demam, pusing, rasa sakit pada bagian otot, sakit punggung, dan selalu merasa lemas. Gejala ini merupakan tahap pertama yang akan dialami oleh penderita cacar monyet. Berbeda dengan cacar biasa, cacar monyet dapat membuat kelenjar getah bening mengalami pembengkakan. Masa inkubasi awal dari terinfeksi sampai virusnya menghilang sekitar 7-14 hari, tetapi bisa lebih lama menjadi sekitar 5-21 hari, tidak menutup kemungkinan dapat bertahan sampai 1 bulan lamanya.

Ruam merah pertama pada cacar monyet terdapat di area wajah, setelah itu menjalar ke seluruh tubuh dengan jumlah yang cukup banyak. Ruam ini akan muncul pada hari ketiga. Dimulai dari luka yang masih rata, sampai membentuk gelembung diikuti dengan pinggiran luka yang menjadi kering. Gejala ini pun merupakan tahap kedua dari cacar monyet dan sering disebut dengan erupsi kulit.

 

Bagaimana penularan cacar monyet?

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, penularan cacar monyet paling besar melalui manusia yang sering bersentuhan dengan hewan yang sudah terinfeksi, tak hanya monyet tetapi juga terdapat pada hewan pengerat lainnya. Beberapa bentuk penularan dari hewan ke manusia meliputi gigitan atau goresan dari hewan yang sudah terinfeksi, saat sedang mempersiapkan daging semak (bushmeat atau daging hewan pengerat yang dimakan, biasa terjadi di Afrika) untuk dimakan, terjadi kontak langsung dengan luka atau kontak tidak langsung, seperti melalui selimut atau seprai yang sudah terkontaminasi.

Tak hanya itu, Bu, penularan lain yang bisa terjadi di antaranya, melalui kulit yang mungkin sedang dalam kondisi kurang sehat (bisa bekas luka yang belum sembuh, atau sedang mengalami gangguan kulit yang ringan, bahkan jika tidak terlihat dengan mata telanjang sekalipun), saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut).

Pada kasus di Afrika, penularan virus cacar monyet paling banyak terjadi pada anak-anak. Kasus initbanyak terjadi pada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka yang masih terus berkembang, sehingga mudah sekali anak-anak untuk langsung terpapar penyakit ini. Maka, penting bagi kita para Ibu untuk memerhatikan kesehatan keluarga, terutama si kecil yang rentan terkena penyakit ini.

 

Apakah cacar monyet bisa diobati?

Ibu Nila Farid Moeloek, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, mengatakan bahwa virus ini sama dengan cacar air yaitu tidak ada obatnya untuk langsung sembuh. “Ini soal menyerang daya tahan tubuh. Jika daya tahan tubuh lemah, maka akan langsung terkena virus ini.”, ujar Nila. Selain itu, sampai sekarang belum ada vaksin yang dibuat untuk mencegah virus ini masuk ke dalam tubuh kita. Para peneliti mengatakan bahwa vaksin cacar, antivirus, serta vaksin immune globulin, bisa digunakan untuk melawan virus ini ketika sudah terpapar ke dalam tubuh kita. Beberapa vaksin tersebut juga disarankan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk dapat Ibu berikan kepada si kecil.

WHO mengatakan walaupun virus ini tergolong jenis virus yang ringan, tetapi jika penderita tidak segera ditangani terutama anak-anak, akan mengalami risiko pada kematian, apalagi jika mendapatkan penanganan yang terlambat.

 

Perhatikan 5 Hal ini agar Terhindar dari Virus Cacar Monyet

Cacar monyet menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang, terutama anak-anak. Tak hanya mengenal jenis penyakit ini, tapi Ibu juga harus tahu bagaimana mencegah virus ini masuk ke dalam tubuh anak. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang selalu ditanamkan oleh Kementerian Kesehatan, merupakan kunci utama agar kita, terutama si kecil, dapat terhindar dari berbagai macam virus, salah satunya virus cacar monyet. Berikut beberapa tips PHBS untuk mencegah virus cacar monyet menyerang tubuh kita.

 

1. Jangan lupa selalu cuci tangan dengan sabun!

Penyebaran virus paling cepat terjadi melalui tangan, terutama saat si kecil masih dalam tahap mencari tahu. Ia akan menggunakan tangannya untuk mengetahui beberapa hal yang dilihatnya. Ibu harus selalu mengingatkan si kecil atau mengajak si kecil untuk mencuci tangan memakai sabun setelah melakukan aktivitas yang memungkinkan penularan virus dapat terjadi. Jika hanya cuci tangan dengan air, kuman serta virus yang menempel pada tangan si kecil belum hilang, walau secara mata terbuka kotorannya sudah tidak ada di tangan. Jangan lupa untuk selalu sedia hand sanitizer di tas saat bepergian, jika tidak menemukan air untuk mencuci tangan. Usahakan untuk memilih hand sanitizer yang tidak terlalu berbau alkohol agar tetap ramah untuk bisa digunakan si kecil.

 

2. Usahakan membawa barang kepunyaan sendiri saat travelling

Saat sedang menginap di luar rumah, Ibu bisa mengusahakan untuk membawa barang sendiri terutama kepunyaan si kecil. Seperti bantal, selimut, alas tidur, botol minum, bahkan alat makan juga sebaiknya menggunakan kepunyaan sendiri. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penularan virus cacar monyet, terutama saat bepergian ke luar negeri.

 

3. Perhatikan asupan gizi si kecil

Seperti pepatah mengatakan “Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa raga yang kuat”, begitu juga untuk kebutuhan asupan si kecil. Makanan 4 sehat 5 sempurna harus terus diberikan kepada si kecil. Tak hanya untuk tercapainya pertumbuhan serta perkembangan si kecil yang maksimal atau stunting, tapi juga terus memperkuat sistem kekebalan tubuh si kecil melalui nutrisi yang didapat. Dengan begitu, si kecil akan terus terhindar dari penyakit terutama virus cacar monyet.

 

4. Hindari konsumsi daging yang tidak dimasak dengan baik dan benar

Proses pengolahan daging mentah yang tidak baik, memungkinkan virus-virus masih menetap di dalamnya. Penularan virus terutama cacar monyet sebagian besar juga dapat menular dengan mengonsumsi daging yang tidak diolah dengan benar. Usahakan untuk selalu memilih tempat makan yang terjamin kualitas pengolahannya, terutama pengolahan daging mentah sebelum disantap.

 

5. Hindari kontak langsung dengan hewan liar

Hewan liar yang sudah terkena virus cacar monyet tidak bisa diidentifikasi secara kasat mata, melainkan harus melalui penelitian terlebih dahulu. Ibu dapat mengawasi si kecil untuk tidak melakukan kontak fisik secara langsung kepada hewan, terutama hewan liar. Ajak si kecil untuk memahami jika bersentuhan dengan hewan, apalagi hewan liar, berpotensi memiliki virus yang dapat tertular padanya, sehingga membuat si kecil jatuh sakit.

 

Kemenkes RI menyatakan bahwa virus cacar monyet belum sampai ke Indonesia. Walau begitu, kita harus tetap waspada terhadap penyebaran virus tersebut dengan melakukan pencegahan-pencegahan seperti yang telah disebutkan. Tak hanya untuk kesehatan si kecil, tapi Ibu serta Ayah dan anggota keluarga lainnya juga harus memerhatikan kebersihan untuk terhindar dari berbagai macam penyakit seperti salah satunya cacar monyet.

 

(Hadassah / Dok. Freepik)