Kesehatan Dibaca 1,547 kali

Bahaya Botulisme Pada Madu Buat Bayi Di Bawah 1 Tahun

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 29 Agustus, 2017 13:08

Bahaya Botulisme Pada Madu Buat Bayi Di Bawah 1 Tahun
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan berkaitan dengan MPASI bayi adalah tentang pemberian madu buat bayi. Bunda harus ingat, madu tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 12 bulan. WHO menyatakan madu adalah makanan yang tidak aman untuk bayi dan tidak boleh ditambahkan pada makanan, minuman, atau susu formula yang diberikan pada bayi berusia kurang dari 12 bulan. Ini secara teknis berlaku juga untuk madu pada makanan yang diproses.
Banyak yang menganggap madu tidak begitu berbahaya untuk bayi. Juga ada banyak budaya tentang pemberian madu pada bayi sejak lahir dan menjadikannya makanan pertama bayi. Padahal ada beberapa fakta tentang madu dan risiko yang mungkin pada bayi.

Madu dan Botulisme

Madu bisa mengandung spora Clostridium botulinum yang bisa memicu bayi mengalami keracunan botulisme. Dari 145 kasus botulisme, sekitar 94 kasus (65 persen) terjadi pada bayi. Para ahli memperkirakan jumlah ini terus meningkat tiap tahunnya. Beberapa area di dunia memiliki kemungkinan pencemaran madu dengan spora botulisme lebih tinggi karena itu semua tergantung pada kondisi tanah.

Gejala Botulisme Pada Bayi

Bayi yang mengalami botulisme bisa mengalami gejala berikut:
  • Lesu
  • Selera makan menurun
  • Konstipasi
  • Menangis lemah
  • Terlihat terkulai
Semua gejala ini terjadi akibat lumpuh otot yang disebabkan oleh bakteri beracun. Bila bayi Anda memiliki tanda botulisme, segera membawanya ke rumah sakit karena penyakit ini bisa mengancam nyawa. Pastikan Bunda menyimpan contoh makanan yang kemungkinan tercemar bakteri botulisme untuk dites.
Gejala botulisme biasanya muncul dalam 12 sampai 36 jam setelah bayi mengonsumsi madu yang tercemar, tapi bisa juga terjadi paling awal beberapa jam dan paling lama 10 hari. Gejala botulisme pada bayi bisa terjadi selama 14 hari.

Botulisme Pada Orang Dewasa

Pada orang dewasa, jumlah spora botulisme yang terhirup dari madu tidak akan berpengaruh karena kita memiliki usus yang sudah matang. Usus orang dewasa mengandung asam yang cukup untuk melawan produksi racun yang diproduksi bakteri botulisme. Setelah bayi mencapai usia 1 tahun atau lebih, usus mereka memiliki keseimbangan asam yang membantu menghancurkan dan melawan racun yang diproduksi bakteri botulisme.

Risiko Botulisme Pada Makanan, Sirup Jagung, dan Sirup Maple

Spora botulisme hanya bisa dibunuh oleh suhu panas yang tinggi. Racun yang diproduksi pada kondisi anaerobik, hanya bisa dibasmi dengan pendidihan. Jadi secara teknis, madu untuk bayi sangat tidak aman, termasuk pada makanan yang dipanggang seperti roti. Spora botulisme tidak akan hancur jika dimasak hanya dengan metode pemasakan rumah tangga.
Sirup jagung juga bisa mengandung spora ini, karena biasanya tidak melewati proses pasteurisasi. Bila Bunda mendapat anjuran untuk menggunakan sirup jagung demi mengatasi sembelit pada bayi, coba metode lain. Meski insiden keracunan botulisme pada bayi melalui madu yang tercemar sangat jarang terjadi, Anda perlu mempertimbangkannya sebelum mencampurkan madu ke makanan bayi.
Sedangkan sirup maple, biasanya diambil langsung dari dalam pohon maple. Bagian getah pohon maple hampir tidak mungkin tercemar botulisme. Metode pembuatan sirup dari getah maple ini melibatkan proses pendidihan yang terus-menerus. Spora umumnya tidak bisa bertahan hidup pada kondisi ini. Pendidihan jadi salah satu cara membunuh spora botulisme.
Tidak ada risiko botulisme dari sirup maple dan karenanya sirup ini dianggap aman. Tapi ada beberapa dokter anak yang menyatakan sirup maple tidak bagus untuk anak di bawah usia 1 tahun. Jadi pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter anak tentang pemberian sirup maple pada si kecil.

Melindungi Bayi Dari Botulisme

Botulisme pada bayi jarang terjadi tapi merupakan kondisi yang serius. Bakteri dari spora ini bisa tumbuh dan berkembang-biak pada usus bayi dan memproduksi racun berbahaya. Kondisi ini bisa terjadi pada bayi hingga usia 12 bulan.
Untuk melindungi bayi dari botulisme, Bunda bisa melakukan cara-cara berikut ini:
  • Hindari paparan pada tanah atau debu yang berpotensi tercemar. Tanah bisa mengandung spora botulinum, yang bisa bersirkulasi di udara dan terhirup paru-paru. Risiko terpapar tanah yang tercemar paling tinggi di area konstruksi dan pertanian.
  • Jangan berikan madu buat bayi. Madu liar berpotensi menjadi sumber spora C. Botulinum. Hindari pemberian madu meski dalam jumlah sedikit, pada bayi di bawah usia 1 tahun.
  • Waspadai makanan kalengan. Panaskan makanan kalengan selama 10 menit sebelum menyajikannya.

Penanganan Botulisme Pada Bayi

Botulisme pada bayi ditangani di rumah sakit, biasanya di ruang ICU (intensive care unit), dimana dokter akan membatasi jumlah racun di tubuh bayi. Racun bisa mempengaruhi otot pernafasan, jadi dokter akan menggunakan ventilator pada bayi. Karena racun bisa mempengaruhi otot untuk menelan, dokter akan memberi cairan infus ke bayi atau memberi makan melalui selang sebagai bantuan nutrisi.
Anti racun kini tersedia untuk menangani botulisme pada bayi, yang disebut botulism immune globulin intravenous (BIGIV) yang diberikan sesegera mungkin. Bayi dengan botulisme yang menerima BIGIV bisa sembuh lebih cepat. Dengan diagnosa awal dan penanganan medis yang tepat, bayi bisa sepenuhnya pulih dari penyakit ini.

Botulisme dan Ibu Menyusui

Bagaimana dengan ibu menyusui yang mengkonsumsi madu, apakah botulisme bisa menular melalui ASI? Apakah ibu bisa terus menyusui bayi yang mengalami botulisme? Ibu menyusui boleh mengonsumsi madu. Botulisme tidak menular melalui ASI. Teruslah menyusui atau memberi ASI perah selama bayi mengalami botulisme dan menjalani proses penyembuhan.
Selalu cuci tangan, terutama jika sedang di rumah, di mana madu biasanya dikonsumsi anggota keluarga lain. Menjaga kebersihan tangan akan membantu mencegah madu kontak dengan mulut bayi.
Meski spora bakteri yang bisa menyebabkan botulisme bayi ada pada madu, dan ibu menghirup spora botulisme pada madu, ukuran spora terlalu besar untuk masuk ke ASI. Selain itu, racun botulinum tidak bisa ditularkan ke ASI. Karenanya, ASI tidak akan menjadi sumber spora bakteri atau racun yang menyebabkan botulisme bayi. ASI memiliki nutrisi optimal untuk bayi, dan ibu harus diberi dukungan untuk terus menyusui selama bayi sakit dan menjalani proses penyembuhan.
Bunda, bayi dengan botulisme mengeluarkan racun dan organisme C. Botulinum pada feses selama beberapa minggu hingga bulan setelah gejala awal. Mencuci tangan dengan cermat harus dilakukan setiap kali Anda mengganti popok bayi. Popok kotor harus segera dibuang ke tempat yang aman dari kontak dengan manusia atau binatang. Orang dengan luka terbuka pada tangan harus mengenakan sarung tangan ketika mengganti popok.
Karena pasien yang mengalami botulisme mengeluarkan racun selama beberapa minggu hingga bulan, sebaiknya batasi kontak dengan bayi dan anak lain selama waktu ini. Langkah ini untuk memastikan anak lain tidak kontak dengan racun dari popok bayi yang bocor. Kontak apapun antara pasien dan anak lain selama waktu ini harus diawasi oleh orang dewasa.
(Ismawati)