Balita

11 Cara Mengatasi Anak Cengeng di Fase Terrible Two

Terakhir diperbaharui

11 Cara Mengatasi Anak Cengeng di Fase Terrible Two

Mengatasi anak cengeng tidak cukup hanya dengan memberi permen, es krim, atau memenuhi segala keinginannya. Lebih dari itu, orang tua wajib menyelami lebih dalam mengapa anak-anak menjadi lebih cengeng daripada biasanya, terutama ketika mereka memasuki usia 2 tahun alias fase 'terrible two'.

Meskipun namanya terrible two, fase anak cengeng ini bisa dimulai ketika anak berusia di atas setahun hingga lewat dari usia tiga tahun lho. Lebih tepatnya, terrible two terjadi ketika anak sudah mulai meraih milestone dalam perkembangan dirinya, semisal bisa mengucapkan dua atau tiga kata, sudah bisa berjalan, maupun memanjat.

Sementara dari segi kognitif, anak juga sudah mengerti beberapa konsep diri, seperti 'ini kepunyaan saya' maupun 'itu boleh’ dan ‘itu tidak boleh'. Mereka pun bisa secara sadar mengerti dan mengucapkan hal tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.


4 Tanda Anak Memasuki Fase Terrible Two      

Fase terrible two memang bukan tahapan yang menyenangkan bagi orang tua. Ibu dan ayah bisa dibuat pusing tujuh keliling dalam mencari solusi untuk mengatasi anak cengeng dengan alasan yang kadang-kadang tidak masuk akal.

Tidak mau dipayungi ketika hujan. Ingin mencicipi rasa tanah, meski Ibu sudah berkali-kali mengatakan tidak boleh. Hingga guling-gulingan di depan orang banyak sambil meraung-raung seperti habis disiksa oleh orang tuanya sendiri.

Pernah mengalami itu semua?

Well, ternyata semua sikap 'pemberontakan' itu bukan hanya pertanda anak Ibu sudah bisa ngamuk lho. Ternyata, sikap itu justru merupakan salah satu fase krusial dalam pembentukan karakter sang anak di kemudian hari.

"Semua perilaku anak seperti itu menandakan dirinya sedang mengetes batasan untuk dirinya sendiri. Dengan kata lain, itu adalah salah satu usahanya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dengan caranya sendiri," kata asisten profesor di Rumah Sakit Khusus Anak-Anak NYU Langone, New York, Amerika Serikat, Robin Jacobson.

Lalu, apa saja tanda bahwa anak tengah memasuki fase terrible two?


  1. Perubahan perilaku yang drastis

    Di satu saat, anak Ibu akan kelihatan manis, penurut, suka bermanja-manja dengan orang tuanya, atau menunjukkan tanda-tanda tenang serta mudah diatur. Namun hanya selang beberapa menit kemudian, ia bisa menjerit-jerit, menangis, dan tidak mau menjalankan semua perintah Ibu tanpa alasan yang jelas.


  2. Penolakan

    Si anak mungkin akan menolak untuk masuk ke rumah, berganti baju, bahkan bisa saja tidak mau disentuh oleh orang tuanya sendiri. Pokoknya, semua yang ibu ucapkan atau lakukan merupakan hal yang salah di mata anak Ibu. 


  3. Mencari perhatian

    Anak-anak yang tengah dalam fase terrible two akan suka sekali mendapat perhatian orang tua, atau istilahnya suka caper. Untuk mendapatkan perhatian ini pun, anak-anak tidak segan untuk melakukan hal-hal yang menurut mereka akan berhasil.

    Jadi, jangan heran ketika Ibu sedang membaca buku atau menonton televisi, anak tiba-tiba berteriak sekeras-kerasnya. Mereka mungkin juga melempar mainan ke badan Ibu atau bisa juga sampai membentur-benturkan kepala ke tembok. Tidak perlu panik. Semua itu dilakukan agar perhatian Ibu hanya untuk anak.


  4. Menjadi antagonis

    Dalam tahap ini, anak cenderung terlihat sebagai tokoh antagonis bagi orang tua. Sepertinya, semua hal yang dilakukan anak hanya untuk menyusahkan orang tua, misalnya melempar-lempar makanan maupun berteriak-teriak.

    Ibu tidak perlu kesal ketika anak menangis karena Ibu memakaikannya baju warna merah, bukan hijau. Ibu juga harus banyak bersabar ketika ia tidak mau makan di piring dan lebih memilih mangkok.

    Meski terlihat sepele, Jacobson menyatakan perilaku berontak ini merupakan tanda bahwa anak Ibu mengalami peningkatan intelejensia yang signifikan ketika memasuki fase terrible two. Mereka bukan menangis, mengamuk, atau berguling-guling tanpa sebab, melainkan ada tujuan yang ingin dicapai.

    Dalam masa ini, anak mulai lebih peka terhadap rutinitas yang sering terjadi di sekitar mereka dan berperan di dalamnya. Mereka, misalnya, ingin membantu Ibu menyapu ruang tamu dengan meniru tindakan Ibu yang dilihatnya setiap hari, tetapi tidak tahu bagian mana saja yang harus dibersihkan sehingga bisa saja anak-anak juga menyapu meja atau kursi.

    Anak juga ingin menjadi pribadi yang lebih mandiri, tapi tetap tidak ingin melepaskan diri dari perhatian orang tua. Anak, misalnya, ingin bisa memakai bajunya sendiri, tapi ingin dibantu Ibu dengan menunjukkan lubang kepala saja. Kalau Ibu kebablasan menunjukkan lubang lengan atau mengancing bajunya, jangan kaget kalau ia bisa mengamuk alias tantrum.


5 Perilaku Anak dalam Fase Terrible Two

Sejauh ini, memang tidak ada penjelasan definitif mengenai bagaimana perilaku anak yang tengah berada dalam fase terrible two karena setiap anak dibesarkan di lingkungan berbeda serta mendapat pola asuh yang berbeda pula. Padahal, mengetahui bentuk ‘keunikan’ anak bisa menjadi petunjuk cara mengatasi anak cengeng di fase terrible two ini.

Meskipun demikian, para ahli telah mengelompokkan contoh perilaku terrible two yang paling awam ditemukan sebagai berikut:


  1. Merasa jengkel ketika keinginan mereka tidak terpenuhi

    Ibu memiliki indera keenam yang bisa membaca pikiran orang? Kalaupun tidak punya, Ibu tetap harus mampu membaca pikiran anak yang tengah berada dalam fase terrible two jika tidak ingin mereka tiba-tiba meledak karena merasa Ibu tidak memahami permintaan mereka.

    Seorang anak bisa saja hanya mengatakan bahwa dirinya ingin minum. Tetapi jika Ibu memberinya minum di gelas biru, anak mungkin tantrum karena sebetulnya ia ingin minum dari gelas kuning. Banyakin stok sabar ya, Ibu.


  2. Menendang, menggigit, memukul

    Ketika anak memasuki usia 2 tahun, ia mungkin sudah bisa berbicara sepatah-dua patah kata, tapi tetap saja kosa katanya masih terbatas. Hal ini berbanding terbalik dengan keinginannya untuk mengeksplorasi dunia yang seperti tanpa batas ini.

    Nah, keterbatasan inilah yang akhirnya membuat si anak kesal sehingga kemudian mengekspresikannya dengan aksi fisik seperti menendang, menggigit, atau memukul. Praktisi spesialis tumbuh kembang anak, Betsy Brown Braun, mengatakan bahwa hal ini sebetulnya normal. Namun, orang tua tetap harus mengontrol perilaku fisik anak seperti ini agar tidak kebablasan hingga ia dewasa kelak.


  3. Tantrum

    Tidak lengkap rasanya melihat anak berada dalam fase terrible two tanpa mengalami tantrum. Anak bisa menangis meraung-raung, menjerit, atau berguling di lantai ketika memasuki masa tantrum. Anak-anak tidak akan peduli bahwa mereka tantrum di pinggir jalan sepi atau di mall padat sekalipun.


  4. Senang mengucapkan "tidak"

    Ditawari es krim, tidak mau. Diberi permen, tidak mau. Dibelikan mainan juga tidak mau. Padahal dalam kondisi 'normal', semua hal itu akan membuat anak merasa bahagia. 

    Kalau sudah begini tandanya anak sedang mengeksplorasi batas kekuasaan yang ia miliki. Anak ingin melihat reaksi orang tuanya ketika ia memiliki kontrol terhadap keinginannya sendiri.


  5. Ini punya saya!

    Di fase terrible two, anak juga mulai menandai teritori yang menjadi miliknya. Ia akan dengan mudah mengklaim bahwa mainan itu adalah miliknya, sofa bagian itu adalah wilayah kekuasaannya, hingga mengklaim Ibu sebagai propertinya. Jadi jangan heran jika anak suka berkelahi dengan teman mainnya hanya karena temannya tersebut menyentuh mobil-mobilan atau boneka-bonekaan anak Ibu.

    Tidak jarang orang tua dibuat stres mencari solusi untuk mengatasi anak cengeng ketika mereka memasuki fase terrible two. Rasanya malu sekali ketika semua mata tertuju kepada orang tua yang anaknya tengah tantrum di ruang publik.


11 Cara Mengatasi Anak Cengeng di Fase Terrible Two

Satu hal yang harus diingat adalah semua orang tua pernah berada dalam masa yang sedang Ibu rasakan kok. Merasa capek, kesal, ataupun marah dengan kondisi anak yang cengeng karena berada dalam fase terrible two adalah hal yang manusiawi.

Meskipun demikian, orang tua tetap harus menyiapkan strategi untuk mengatasi anak cengeng, terutama ketika anak dalam masa terrible two ini. Berikut 11 cara mengatasi anak cengeng seperti diungkapkan oleh Betsy Brown Braun.


  1. Jangan panik

    Langkah pertama yang harus dilakukan orang tua untuk mengatasi anak cengeng, termasuk ketika tantrum anak tengah meledak, ialah menarik nafas panjang dan menenangkan diri. Perlu diingat bahwa tantrum yang dilakukan oleh anak ialah hal normal, sekalipun puluhan pasang mata akan memicing ke arah Ibu karena dianggap tidak bisa menenangkan anak yang tengah marah di ruang publik.

    Jangan karena tidak ingin jadi pusat perhatian, Ibu langsung menuruti semua kemauan anak ketika tantrum. Bukannya menyelesaikan masalah, itu justru akan membuat anak kembali mengulangi hal yang sama untuk mendapatkan kemauannya.

    Orang tua bisa mengalihkan perhatian anak ketika tantrum dengan melakukan hal yang disukai anak ketika tengah tidak sedang marah-marah, misalnya bernyanyi atau membaca buku. Atau jika Ibu dan ayah sudah kehilangan akal, menepilah sebentar seolah-olah tidak peduli kepada perilaku tantrum yang dilakukan anak.


  2. Tegas mengatakan "tidak boleh!"

    Salah satu kesalahan dalam memahami parenting 101 ialah orang tua tidak boleh berkata "tidak boleh" kepada anak karena dianggap akan membatasi kreativitasnya. Namun, Braun menegaskan ada kalanya perilaku anak memang harus dibatasi, misalnya ketika anak melakukan kekerasan fisik ketika menangis seperti memukul-mukulkan kepala ke tembok, menggigit, atau menendang orang lain.

    Meskipun demikian, orang tua bisa menanamkan norma ini dengan kelembutan. Peluklah anak ketika marahnya mereda sambil berkata dengan lembut "anak baik tidak boleh memukul ya" atau sejenisnya. Yang terpenting, lakukan hal ini dengan konsisten agar anak mengerti bahwa hal yang dilakukannya memang tidak baik dalam kondisi apapun.


  3. Timeouts

    Timeouts alias waktu jeda bisa digunakan anak maupun orang tua untuk merenungi kesalahan. Dalam hal menanamkan nilai-nilai disiplin dalam diri anak, orang tua bisa mengajak anak duduk di sebuah ruangan kemudian memberinya waktu merenung. Jika konsisten dilakukan, timeouts bisa menjadi petunjuk bagi anak bahwa ia telah melakukan kesalahan setiap kali dibawa ke spot yang sama setelah melakukan suatu perbuatan.


  4. Mengambil hal favoritnya

    Melarang anak untuk bermain mainan favoritnya bisa jadi alat yang ampuh untuk mengurangi sifat cengeng anak Ibu. Misalnya si anak melempar mainan, maka Ibu bisa menegaskan bahwa anak tidak akan boleh memainkan mainan yang sama karena tindakannya salah.

    Hal yang sama bisa diaplikasikan ketika anak mengamuk, misalnya, di pusat perbelanjaan. Ibu bisa mengatakan bahwa si anak tidak akan diajak lagi kalau terus menunjukkan amarahnya di depan umum. Tindakan tersebut diharapkan mampu mengontrol emosi anak dan menjadikan mereka lebih disiplin.


  5. Rewards and punishments

    Langkah keempat di atas bisa jadi merupakan bentuk punishments alias hukuman atas kenakalan yang ditunjukkan oleh anak ketika tantrum. Namun ketika anak belaku baik setelah tantrum usai, orang tua juga perlu mengeluarkan sanjungan agar ia bisa membedakan mana perilaku yang membuat orang tua marah tanda perbuatannya salah, mana perilaku yang membuatnya mendapat hadiah karena bersikap baik sehingga bisa mencegah tantrumnya kumat lebih sering. 


  6. Mengalihkan perhatian

    Terkadang, mengajak anak mandi pun bisa membuat orang tua serasa ikut bertempur di Perang Dunia Kedua. Anak menjerit histeris ketika bajunya hendak dilepas, apalagi diajak untuk mendekat ke pintu kamar mandi.

    Namun, ibu bisa mencoba mengalihkan perhatian dengan memberikannya mainan favorit untuk dibawa serta ke kamar mandi. "Kita mandiin mainan aja yuk." Maka anak pun bisa asyik bermain mainan favorit sementara Ibu atau ayah membersihkan sekujur badan si anak.


  7. Berhenti dan menepi

    Ketika segala cara sepertinya sudah Ibu lakukan untuk mengatasi anak cengeng, tapi semuanya tidak berhasil, mungkin itu pertanda Ibu harus berhenti berusaha dan mengaku kalah dengan keadaan. Misalnya, si anak terus saja menangis karena tidak ingin pakai baju yang Ibu siapkan, maka berhentilah membujuknya. Ibu bisa merapat ke sisi ruangan sambil menenangkan diri, misalnya sambil minum teh, membiarkan anak menangis, namun tetap mengawasinya agar tidak melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri.


  8. Tidak melarang

    Ketika anak marah-marah dengan melempar mainannya, orang tua sebaiknya tidak berkata "jangan melempar!" Tetapi, katakan saja "yuk kita main lempar bola saja. Sini Ibu yang tangkap."


  9. Ikuti dramanya

    Pernah mengalami anak yang tantrum gara-gara tidak ingin menyudahi waktu bermainnya dengan teman-temannya?

    Kalau iya, Ibu mungkin bisa mengikuti alur drama yang diciptakan si anak dengan berempati. Misalnya dengan mengatakan, "Ibu senang kamu main dengan teman-teman, tapi ini sudah hampir malam, mainnya dilanjutkan di dalam rumah bersama Ibu ya."


  10. Mencari bantuan

    Sosok Ibu bukanlah malaikat. Ibu atau ayah juga bisa merasa penat dan putus asa dalam menghadapi tantrum anak. Jika sudah merasa mentok seperti ini, jangan ragu untuk meminta bantuan orang lain ya.

    "Merasa marah atau kesal dengan sikap anak yang sepertinya sering kali tantrum merupakan reaksi yang wajar terjadi pada orang tua. Namun, jika perasaan marah itu membuat ibu atau ayah ingin melukai diri sendiri atau orang lain, mungkin itu adalah tanda untuk segera mencari support dari orang lain," kata Braun.

    Orang lain yang dimaksud oleh Braun bisa siapa saja, mulai dari tetangga, saudara, hingga kalangan profesional seperti dokter anak maupun psikolog.


  11. Terrible two hanyalah fase yang akan berlalu 

    Sebetulnya, tidak ada saran yang lebih baik bagi orang tua dalam mengatasi anak cengeng di fase terrible two, kecuali sabar. Pasalnya, ini hanyalah masa dalam perkembangan anak yang tidak terelakkan serta akan berlalu dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia anak.

    Orang tua perlu mengingat fakta bahwa kedekatan dengan anak tidak akan bertambah lebar ketika anak tantrum. Namun, anak akan merasa dijauhi atau bahkan dimusuhi oleh orang tua mereka sendiri jika ayah atau ibu memarahi mereka di saat tantrum.

    Alasannya, tantrum hanyalah satu cara yang dipahami oleh anak untuk meluapkan emosi. Jika orang tua justru marah, anak bisa bingung dengan cara apa lagi mereka bisa mengekspresikan emosi.

    Jadi mulai sekarang, banyak-banyak menyetok kesabaran ya, Bu.


(Asni / Dok. Freepik)