Balita Dibaca 4,487 kali

11 Efek Buruk Jika Suka Membandingkan Anak

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati
11 Efek Buruk Jika Suka Membandingkan Anak

Mendidik anak adalah kewajiban utama orang tua yang akan mempengaruhi kepribadian anak saat ia beranjak dewasa. Salah satu cara terbaik mendidik anak adalah dengan memupuk rasa percaya dan cinta dengan tidak membandingkannya dengan anak orang lain. Ayo siapa yang sering membanding-bandingkan anak? Meski kita mencoba menghindari pertanyaan, “Apakah bayimu sudah bisa melakukan ini atau itu?” tetap saja terkadang ada momen di mana Ibu penasaran dengan perkembangan anak lain. 

Menurut Kathy Seal, penulis buku Pressured Parents, Stressed-out Kids: Dealing With Competition While Raising a Successful Child, membandingkan anak merupakan insting survival manusia. Orangtua cenderung mendidik anak dengan mendorongnya terus menerus untuk berkompetisi. Terlebih lagi sejak dulu nenek moyang kita harus berebut untuk memperoleh makanan dan memiliki fisik yang kuat agar terbebas dari bahaya binatang buas. Wajar bila kemudian kita ingin agar anak memiliki berbagai kemampuan, konsekuensinya kita jadi sering mendidik anak untuk terus bersaing. Meski normal, membandingkan anak juga bisa menimbulkan stres bahkan menghalangi apresiasi terhadap apa yang sudah dicapai anak.

Berhenti membandingkan pola tidur anak

Pernah tidak Ibu bertanya ke teman, “Apakah bayimu tidur sepanjang malam?” hanya untuk memastikan apakah pola tidur anak kita normal atau tidak. Beberapa bayi memang bisa tidur lelap sepanjang malam, meski ada juga bayi yang mudah terbangun setiap berapa menit. Tidak perlu berkecil hati apalagi merasa gagal mendidik anak hanya karena pola tidur bayi Ibu berantakan.

Seperti tumbuh-kembang anak di area lainnya, pola tidur anak juga bervariasi. Strategi yang mungkin berhasil diterapkan pada satu anak, bisa gagal diterapkan pada anak lain. Tidak jarang banyak ibu yang depresi kenapa anaknya tidak bisa tidur sepanjang malam meskipun sudah mengaplikasikan tips-tips yang didapat dari teman atau kerabat.

Stop membandingkan perilaku anak di tempat umum

Seperti warna mata, sikap kepribadian juga bersifat bawaan lahir. Tapi kadang sulit untuk menahan rasa malu ketika si kecil menangis histeris di perpustakaan atau menolak bertemu orang baru. Begitu juga ketika mengajak anak ke restoran, sementara Ibu yang lain terlihat mampu mendidik anak agar tetap duduk dengan tenang di kursinya, eh anak Ibu berperilaku seperti terjebak di penjara. Bagaimana bisa anak lain tenang dengan krayonnya sedang anak Ibu malah melempar-lempar krayonnya?

Yang perlu Ibu ingat, tidak semua seindah seperti yang terlihat. Bisa jadi anak yang sangat manis di depan umum itu adalah hasil upaya keras bertahun-tahun sang Ibu dalam mendidik anak. Tentu Ibu perlu mendisiplinkan anak ketika ia melakukan sesuatu yang bersifat destruktif atau berbahaya.

Tapi untuk masalah mendidik anak agar berperilaku baik, sikap kita yang bisa menerima anak apa adanya bisa menjadi kuncinya. Mungkin Ibu adalah orang yang senang bergaul tapi si kecil sangat pemalu, atau bila Ibu suka olahraga tapi anak tak suka bermain bola, maka itu tanda bahwa Ibu perlu belajar memahami dan mendidik anak sesuai kepribadiannya. Jangan pernah memaksakan agar si kecil mirip dengan Ibu.

Sungguh, tidak ada manfaatnya membuang waktu membandingkan cara Ibu mendidik anak dengan orang lain. Apalagi membandingkan kemampuan si kecil dengan anak lain. Tentu Ibu ingin buah hati tumbuh percaya diri, bukan?

Mendidik Anak Tanpa Membandingkan

Membandingkan anak jadi pendekatan yang umum untuk memastikan apakah cara Ibu mendidik anak sudah benar. Serta memastikan bahwa si kecil memiliki pencapaian normal seperti anak lainnya. Kita suka membandingkan perkembangan anak dengan anak lain, lalu menilai sendiri apakah perkembangan anak kita normal, lebih baik, atau sempurna dibanding anak-anak seusianya. Kemudian, tanpa sadar, kita menggunakan kemampuan anak lain sebagai patokan untuk memotivasi anak sendiri. Misalnya, “Lihat, itu teman kamu udah bisa pipis sendiri lho di kamar mandi” atau “Itu teman kamu udah bisa membaca.” Aduh, ini cara mendidik anak yang keliru lho, Bu!

Meski Ibu tidak bermaksud menyakiti si kecil, tanpa disadari kata-kata ini sangat berbahaya. Membandingkan si kecil sebenarnya membuat Ibu dan anak merasa stres, tapi dorongan untuk melakukannya tidak bisa ditolak

Kadang tujuan dibalik membandingkan anak adalah untuk memancing semangat berkompetisinya dan mendidik anak agar punya mental unggul. Kompetisi merupakan dorongan untuk pencapaian anak. Tapi apakah cara mendidik anak ini selalu berhasil?

Tidak ada dua anak yang sama, masing-masing punya bakat, minat, tingkatan, dan kekuatan berbeda. Orangtua bisa membangun atau menghancurkan rasa percaya diri anak ketika mengungkapkan rasa tidak senang karena pencapaian yang buruk. Berikut ini yang perlu Ibu tahu tentang efek negatif dari mendidik anak dengan cara membanding-bandingkan:

  1. Stres

    Anak merasa terbebani bila ia terus dibandingkan. Tugas Ibu adalah mendidik anak, bukan menekannya untuk melakukan sesuatu yang malah membuatnya cemas. Duduk dan bicaralah pada anak bila ada hal mengganggu yang mempengaruhi prestasinya. Temukan solusi bersama. 

  2. Rasa percaya diri rendah

    Anak mulai percaya kalau orang lain lebih baik dibanding dirinya dan ia tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik atau memenuhi harapan orangtua. Perasaan ini sangat merusak kepribadian dan pertumbuhan akademik anak.

  3. Tidak menghargai diri sendiri

    Bila ia masih mendengar kata-kata Ibu yang meminta ia untuk mengikuti anak lain agar berprestasi baik, ini akan menghancurkan rasa percaya dirinya. Cara mendidik anak seperti ini mampu menghancurkan performanya di masa mendatang.

  4. Menghindari situasi sosial

    Bila anak terus dibandingkan, maka ia mulai menghindari interaksi publik bersama Ibu.

  5. Membangun perilaku tidak bersemangat

    Bila bakat dan prestasi anak terus diabaikan, maka ia tidak lagi bersemangat karena Ibu dengan jelas membandingkannya dengan anak lain yang punya prestasi lebih.

  6. Menekan bakat anak

    Ketika anak asik menghabiskan waktunya membuat lukisan sementara Ibu ingin ia berlatih badminton, maka anak akan menghadapi dilema. Padahal, apresiasi adalah cara mendidik anak yang ampuh dalam mengeksplor bakat alami si kecil. Bila bakat melukisnya tidak diapresiasi dan ia setengah hati berlatih badminton, kemungkinan anak tidak memperoleh prestasi yang baik. Bahkan, lambat laun bakat melukisnya tidak punya ruang untuk berkembang dan hilang. Bukannya mendidik anak agar makin kreatif, Ibu malah mematikan kreativitasnya.

  7. Jauh dari Ibu

    Ketika Ibu membandingkan anak dengan saudara kandung, sepupu, teman, atau tetangganya, maka si kecil akan merasa tidak nyaman berada di dekat Ibu. Ini menjadi bukti kalau ada yang salah dalam dirinya yang tidak bisa Ibu terima. Keberadaan Ibu pun menjadi sumber rasa sakit dan anak akan berusaha menjaga jarak. Akibatnya, anak merasa tidak nyaman dan hilang kepercayaan pada Ibu. Kesalahan mendidik anak seperti ini di kemudian hari bisa memicu masalah perkembangan dan perilaku si kecil.

  8. Mendorong perselisihan saudara kandung

    Ketika Ibu terus menerus memberi pujian ke anak Ibu yang lain, bisa-bisa muncul kebencian pada saudara kandungnya sendiri. Ini bisa memicu anak berperilaku agresif, mengejek, dan bahkan saling memukul. Ibu mungkin pernah menyampaikan pesan kalau anak dengan prestasi lebih baik akan lebih disayangi dan dicintai. Sebagai akibatnya, jika gagal berprestasi, maka anak mulai mengecilkan dirinya sendiri.

  9. Menyebabkan keraguan pada diri sendiri

    Bila kita diberitahu kalau kita tidak bagus dalam bidang tertentu dan ada orang lain yang lebih bagus, perlahan tapi pasti, keraguan pada diri sendiri akan tumbuh. Begitu juga dengan anak. Anak menjadi tidak yakin apakah bisa jadi lebih baik. Tugas sebagai orangtua adalah mendidik anak dengan mengapresiasi setiap langkahnya, bukan mengingatkan mereka bahwa anak lain selalu lebih unggul.

  10. Kecemburuan

    Bila Ibu terus mendidik anak dengan cara membanding-bandingkan, ia mulai mengalami kecemburuan yang ekstrim. Bisa pada anak tetangga, teman sekelas, sepupu, dan seterusnya. Kecemburuan bukan perasaan yang sehat dan kecemburuan ini bisa menimbulkan kebencian bahkan agresi.

    Ketika orang lain selalu dianggap lebih baik, anak mulai berpikir negatif, “Kenapa saya harus mencoba bila selalu tidak dianggap?” Bukannya mencoba tugas dan tantangan baru dengan semangat positif, asumsi anak tentang dirinya dan hasil dari apa yang ia lakukan bisa negatif.

  11. Anak tumbuh menjadi orang dewasa yang cemas dan gelisah

    Orangtua yang membandingkan anak akan perlahan membuat anak merasa cemas dan gelisah. Anak bisa menjadi berlebihan fokus untuk menyenangkan hati orangtua dan akan terus merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka. Perlahan anak kehilangan rasa percaya diri dan otonomi.

Mendidik anak tentulah tugas paling sulit di dunia dan tidak ada yang namanya orangtua ideal. Tapi kita adalah orangtua pertama untuk anak. Kita adalah orang yang mereka cari ketika mereka merasa terpuruk. Bertahanlah dan jangan putus semangat untuk terus membantu anak tumbuh di lingkungan yang positif. Jangan lupa apresiasi anak setiap hari dengan cinta dan afirmasi baik.

Efek jangka panjang membandingkan anak dengan saudara kandungnya

Gaya mendidik anak bisa mempengaruhi seperti apa si kecil tumbuh nantinya. Selain pola asuh, cara orangtua berpikir tentang anak juga bisa memberi dampak besar. Peneliti dari Brigham Young University menemukan fakta tentang cara orangtua mengekspresikan persepsinya tentang anak. Hasil dari penelitian yang diterbitkan di Journal of Family Psychology ini mendorong orangtua untuk berhenti membandingkan anak dengan anak lain sebelum menyebabkan bahaya seumur hidup.

Keyakinan orangtua terhadap anak bisa mempengaruhi seperti apa anak nantinya. Profesor Alexander Jensen dari Brigham Young University mengatakan, sulit bagi orangtua untuk tidak melihat atau berpikir tentang perbedaan diantara anak-anak mereka. Ini cukup wajar. Tapi untuk membantu semua anak agar sukses, orangtua perlu fokus mendidik anak dengan mengenali kekuatan setiap individu dan berhati-hati dalam membandingkan anak di depan mereka.

Peneliti melibatkan 388 remaja dari 17 sekolah berbeda yang merupakan anak pertama dan anak kedua, serta keterlibatan orangtua mereka. Peneliti bertanya pada orangtua “Anak mana yang lebih baik di sekolah?” Kebanyakan orangtua berkata anak pertama lebih baik, padahal saudara kandungnya memiliki prestasi yang sama. Kenapa anak pertama dianggap lebih pintar ketika sebenarnya sama dengan anak kedua?

Ayah atau Ibu mungkin mengira anak pertama lebih cerdas karena mereka harus melakukan tugas yang lebih rumit di sekolah. Anak pertama kemungkinan belajar membaca lebih dulu serta menulis lebih dulu dan ini membuat orangtua berpikir kalau anak pertama lebih mampu. Tapi ketika si adik memasuki masa remaja, anggapan ini memicu si adik menjadi lebih berbeda. Pada akhirnya, adik yang dianggap kurang pintar cenderung berprestasi lebih buruk dibandingkan sang kakak.

Ketika orangtua merasa yakin pada anak pertama, maka ini seperti melepas tekanan dari si kakak dan menempatkannya di pesaing terdekat, yakni si adik. Orangtua cenderung melihat si kakak lebih mampu, padahal rata-rata anak pertama tidak lebih baik di sekolah dibandingkan si adik. Jadi dalam hal ini penilaian orangtua kerap kali tidak akurat. Orangtua juga cenderung mengira anak perempuan secara akademis lebih pintar dibanding anak laki-laki.

Selamatkan keluarga Ibu dari gaya mendidik anak yang terus menggaungkan semangat berkompetisi dan membandingkan. Jangan paksa anak untuk mengikuti kelas musik yang ia tidak suka. Biarkan ia mengikuti minatnya dan berhasil dengan pilihannya. Ibu akan diakui sukses mendidik anak ketika si kecil bahagia dan sukses dengan pilihan yang ia ambil.

Ingat, tak ada siapa pun yang bisa jadi ibu sempurna atau anak sempurna yang mahir dalam semua bidang akademik, olahraga, dan lainnya. Tiap orang tentunya menghadapi tantangan berbeda dan situasi berbeda dari rumah ke rumah. Bila Ibu pikirkan secara mendalam, dua anak Ibu berbeda dalam kemampuan dan keterampilannya. Banggalah pada anak Ibu dengan kapasitas yang sama, berikan mereka cinta dan bangun rasa percaya diri pada anak.

Memang terkadang kita tidak bisa menghindari membandingkan anak, seberapa pun kita sudah mencoba adil dalam mendidik anak.  Dengan mengingat bahwa setiap anak memiliki minat dan hobi berbeda, maka cukuplah percaya dan biarkan anak tumbuh menunjukkan kemampuannya masing-masing. Mendidik anak dengan menanamkan rasa percaya akan membuat si kecil bersemangat mengeksplor potensi terpendam dirinya.

Membandingkan anak dengan cara yang positif

Kata-kata berikut langsung saja meluncur keluar dari mulut ibu, “Lihat ia lebih baik dari kamu, kenapa kamu tidak bisa lebih baik dari dia?” Kenapa kita membandingkan anak dengan yang lain? Meski kita berusaha menghindarinya, kita tetap melakukannya.

Apakah ini perilaku yang tidak bisa dihindari atau bisakah kita menolak dorongan untuk melakukannya? Perilaku membandingkan bersifat kontra produktif bagi siapa saja. Tapi ini lebih berat untuk anak sebab mereka adalah makhluk lembut yang rentan akan kritik negatif. Meskipun jika kritik itu bersifat membanding-bandingkan, maka akan terasa lebih menyakitkan. Ini tidak berarti kita tidak boleh menjelaskan kesalahan anak, ya Bu. Mendidik anak dengan memperlihatkan kesalahannya tentu boleh, asal disertai dengan solusi membangun.

Wajar bila kita ingin tahu dimana posisi anak diantara anak-anak lain. Tapi menunjukkan seberapa baik anak lain dibandingkan anak Ibu akan membuat buah hati Ibu merasa inferior.

Berikut ini beberapa pendekatan positif dalam mendidik anak:

  • Tetapkan benchmark (tolok ukur), bukan membandingkan. Hargai usaha anak, meski bila nilai ulangannya lebih jelek dari sebelumnya. Cara ini akan membangun rasa percaya dirinya.

  • Dorong anak untuk mengatasi kelemahannya, tanyakan apakah anak membutuhkan bantuan. Berikan dukungan.

  • Berikan pujian untuk keunggulan yang dimiliki anak. Hargai apapun tugas yang ia lakukan dengan baik.

  • Hindari ekspektasi yang tidak realistis. Bila anak perempuan Ibu ingin jadi penulis, jangan paksa ia untuk unggul dalam olahraga. Ia mungkin cerdas, tapi tidak memiliki cukup minat bisa membuatnya gagal untuk berhasil di bidang apapun.

  • Siapkan dukungan dan cinta tanpa syarat. Bila nilai anak tidak bagus, jangan buat ia merasa telah mengecewakan atau mempermalukan Ibu. Selalu berikan dukungan ke anak. Dorong ia untuk berlatih lebih banyak dan selalu hargai usahanya di depan banyak orang.

Daripada membandingkan anak, cari cara untuk memperkenalkan keterampilan dan minat baru pada anak. Seperti ibu yang menunjukkan ke balitanya cara memotong pisang. Imitasi adalah cara yang seru untuk mendidik anak. Ibu tak perlu memaksa balita untuk memotong pisang karena ia belum harus memotong makanannya sendiri. Yang bisa Ibu lakukan adalah memberikan pisau plastik dan tunjukkan bagaimana serunya memotong buah kesukaannya. 

Ibu bisa lakukan pendekatan yang sama, jangan tonjolkan ketidakmampuan anak atau memaksanya untuk menjadi sempurna. Secara perlahan, kenalkan dan latih si kecil untuk menguasai kemampuan tertentu. Ibu bisa mulai mendidik anak dengan mengenalkannya pada berbagai kemampuan yang dimiliki anak lain. Tentu tanpa nada mencibir dan membanding-bandingkan ya, Bu. Jangan cemas bila sang buah hati tidak punya minat terhadap keterampilan yang Ibu coba kenalkan. Mendidik anak memang butuh kesabaran dan konsistensi. Tetap semangat ya, Bu!

(Ismawati, Yusrina)