Balita Dibaca 430 kali

5 Cara Mendidik Anak untuk Berbagi Tanpa Memaksa

Share info ini yuk ke teman-teman
Dwi

Terakhir diperbaharui 24 Oktober, 2019 09:10

5 Cara Mendidik Anak untuk Berbagi Tanpa Memaksa

Di balik tingkah laku dan percakapan menggemaskan di antara anak-anak yang sedang berkumpul dan bermain bersama, selalu ada saja momen di mana mereka akan saling berebut, berteriak, hingga menangis karena tidak mendapatkan mainan yang diinginkan. Beberapa orangtua mungkin fokus menenangkan anak dengan menawarkan barang lainnya. Namun tidak sedikit juga yang memaksa anaknya untuk berbagi atau memberikan barangnya kepada anak lain.

Situasi ini tentu saja sedikit-banyak membuat Ibu merasa tidak nyaman satu sama lain. Kekhawatiran dianggap tidak mendidik anak dengan baik pasti terbayang-bayang dalam benak Ibu. Baik karena mendapati anaknya tidak mau berbagi maupun karena anaknya yang berusaha merebut mainan yang bukan miliknya. Apalagi jika ada embel-embel “pelit” yang terselip di dalam komentar orangtua lain terhadap anak Ibu. Salah satu kebimbangan yang sering membuat Ibu kepikiran adalah bagaimana cara mendidik anak untuk berbagi tanpa memaksa mereka? Benarkah anak memang harus selalu berbagi? Bagaimana jika si kecil tidak rela jika barangnya dipinjam karena itu sangat berharga baginya? Tentu Ibu sangat ingin mengajarkan kepada anak sejak dini agar menjadi pribadi yang peduli dan tidak segan berbagi kepada yang membutuhkan.

Akan tetapi, sebelum membahas lebih jauh tentang cara mendidik anak untuk berbagi, terlebih dahulu kita simak alasan mengapa sebaiknya Ibu tidak memaksa anak untuk berbagi:

1. Mengerti Barang yang Sangat Berarti untuk Anak

Sama seperti orang dewasa, setiap anak pun pasti memiliki benda yang paling sering dibawa ke mana-mana, dicari saat tidak ada di sekitarnya, dan tak rela jika benda tersebut diambil orang lain. Benda tersebut bisa berupa apa saja, misalnya boneka, mobil-mobilan, alat musik kesayangan, mainan tertentu yang paling disukai, bahkan seseorang yang paling dekat dan disayangi seperti Ibu pun bisa jadi sesuatu yang tak boleh dekat dengan orang lain.

Rasa kepemilikan terhadap sesuatu adalah hal wajar yang dialami oleh semua manusia, termasuk anak-anak, karena sesuatu tersebut memiliki makna sangat berharga dan penting untuknya. Ketika Ibu memaksa anak untuk berbagi atas hal yang begitu berarti untuknya, maka anak akan cenderung merasa kebahagiaannya direbut dan justru menyebabkan anak semakin terobsesi pada hal tersebut. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, anak akan terbentuk menjadi pribadi yang agresif untuk menghalangi siapa pun yang akan merampas benda kesayangannya.

Tidak hanya itu, salah satu alasan yang memicu anak tidak mau berbagi benda kesukaannya adalah efek jera yang pernah dialaminya saat membagikan atau meminjamkan mainannya. Misalnya, seorang temannya secara sengaja maupun tidak sengaja merusak mobil-mobilan kesayangan yang sangat berarti baginya. Hal tersebut menimbulkan efek jera kepada anak sehingga dia tidak mau berbagi atau meminjamkan mainannya lagi kepada orang lain. Jika dalam hal ini anak masih dipaksa untuk berbagi, maka akan menyebabkan anak tantrum dan merasa sangat kehilangan.

2. Menanamkan Konsep Berbagi yang Salah

Saat masih usia balita, anak belum benar-benar mengerti konsep berbagi. Menurut Jill Ceder, seorang psikoterapis ahli yang banyak menangani masalah parenting dan anak, konsep ini masih terlalu kompleks untuk dipahami secara langsung oleh si kecil dan membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk membuat anak mengerti konsep berbagi.

Rasa kepemilikannya atas benda tertentu dan pola pikir bahwa segala kebutuhannya harus dipenuhi karena merasa dunia terpusat padanya sangatlah kuat. Hal ini karena anak masih dalam usia pembentukan karakter diri dan perkembangan kemampuan sosial. Jika dipaksa, kita justru akan menanamkan pesan yang salah tentang konsep berbagi.

Berikut beberapa pesan yang salah dalam konsep berbagi yang diserap anak saat kita memaksa mereka untuk berbagi:

  • Anak akan menggunakan tangisan sebagai alat untuk memaksa Ibu atau orang lain agar memberikan yang diinginkan. Si kecil akan selalu bergantung pada Ibu dan sulit berkomunikasi dengan sekitarnya dalam menyelesaikan masalah, terutama saat dia tidak ingin berbagi atau saat orang lain tidak mau berbagi dengannya.

  • Anak akan cenderung pasif dan mengalah setiap kali ada orang lain yang menginginkan benda miliknya. Si kecil akan memiliki karakter yang tidak memiliki kepercayaan diri dan menjadi anak yang terlalu penurut. 

  • Anak akan rentan menjadi korban bullying atau perisakan karena selalu menuruti paksaan orang lain untuk berbagi apa pun miliknya. Jika karakter anak keras dan agresif dalam memaksakan kehendak, hal ini juga bisa memicu anak menjadi pelaku perisakan yang merugikan orang lain.

3. Menghormati Hak dan Pilihan Anak

Salah satu pertimbangan penting dalam mendidik anak untuk berbagi adalah dengan selalu mengingat bahwa anak juga memiliki hak dan pilihan. Menjaga hak anak sama pentingnya dengan menjaga hak orang dewasa. Saat anak dipaksa untuk berbagi benda tanpa izinnya, secara tidak langsung Ibu telah merenggut haknya.

Anak tidak punya pilihan selain menuruti paksaan Ibu untuk meminjamkan mainannya ketika teman sebayanya merengek menginginkan hal yang sama. Di tengah paksaan ini, anak jadi mempelajari hal yang salah dan akan cenderung meniru kebiasaan tidak menghargai hak orang lain. Anak jadi tidak terbiasa meminta izin terlebih dahulu dan merampas yang bukan miliknya. Jika ini dibiarkan berlanjut, kelak anak akan tumbuh menjadi pribadi yang suka berbuat semena-mena terhadap orang lain.

4. Mengajarkan Kesabaran

Ketika Ibu mendidik anak untuk berbagi, secara tidak langsung Ibu akan mengajari anak tentang kesabaran. Anak akan belajar menunggu dan mencoba bermain dengan benda lainnya hingga barang yang dipinjamkan telah dikembalikan. Namun saat Ibu memaksa anak untuk berbagi, anak justru akan menangkap hal sebaliknya. Anak jadi tidak bisa mengelola emosi dan melatih kesabaran saat temannya sedang tidak ingin berbagi.

Rentetan efek ini bisa memicu tantrum dan pada akhirnya anak juga akan mendesak orang lain untuk segera membagi atau meminjamkan barangnya. Kelak, hal ini akan berpengaruh juga pada konsep antre. Anak akan kesulitan beradaptasi dalam mengelola emosi dan cenderung agresif di tengah keramaian yang mengharuskan anak menunggu giliran.

   

Cara Efektif Mendidik Anak untuk Berbagi Tanpa Memaksa:

1. Keteladanan

Cara paling efektif mendidik anak untuk berbagi adalah dengan memberikan teladan yang baik. Karakter ini tidak bisa dibentuk secepat kilat, tapi membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan konsisten. Tentu saja hal ini tidak mudah dilakukan. Dalam praktiknya, Ibu sendiri juga seringkali menghadapi tantangan-tantangan kompleks di tengah masyarakat yang majemuk dengan nilai-nilai yang umumnya berlaku di lingkungan sekitar. Namun, tidak ada salahnya jika Ibu mulai membiasakan untuk berbagi dari diri sendiri, sehingga anak pun memiliki figure teladan untuk diikuti dan lama-kelamaan menjadi kebiasaannya.

Konsistensi adalah kunci dalam hampir segala upaya untuk membentuk karakter anak, tidak terkecuali dalam hal mendidik anak untuk berbagi. Ibu bisa mengajak anak saat berencana memberikan sedekah atau berbagi makanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Penanaman rasa peduli, empati, dan belas kasih secara tidak langsung akan terintegrasi dengan sendirinya dalam konsep berbagi yang Ibu contohkan kepada anak.

Karena anak adalah peniru yang ulung, maka tentu Ibu dan orang-orang terdekat harus berupaya memberikan teladan positif untuk membentuk karakter anak. Selain itu, ada satu kebiasaan baik yang sangat penting untuk diajarkan kepada anak dalam hal berbagi, namun sering terlupakan dalam pelaksanaannya. Yaitu kebiasaan untuk meminta izin kepada pemilik sebelum meminjam. Dengan demikian, selain belajar untuk berbagi, anak juga memahami konsep izin dan kepemilikan sehingga dia tidak akan cenderung memaksakan kehendak apabila ingin orang lain tidak bersedia berbagi atau meminjamkan barangnya.

2. Selalu Ingatkan dan Apresiasi Anak Jika Saat Berbagi

Membentuk karakter anak harus dilakukan secara perlahan-lahan dan berulang-ulang. Tujuannya, agar karakter tersebut akan selalu diingat oleh anak hingga menjadi kebiasaan dalam kesehariannya. Saat anak bisa berkomunikasi secara verbal, Ibu bisa mulai mengajarkan si kecil menggunakan kalimat yang baik, bernegosiasi, dan mengelola emosi saat bermain dengan temannya. Memang susah-susah gampang ya, Bu. Ibu harus memiliki tekad kuat dan tidak bosan mengingatkan anak dengan cara yang baik. 

Ibu harus mengajarkan anak untuk berbagi secara bertahap. Misalnya saat ada seorang anak yang ingin meminjam barangnya, terlebih dahulu Ibu bisa menanyakan kepada si kecil apakah dia bersedia meminjamkan. Jika si kecil bersedia, beri dia apresiasi berupa pujian dan katakana bahwa Ibu bangga padanya. Namun jika si kecil tidak mau, ajarkan dia untuk mengatakan “tidak” secara baik-baik dan jangan sekali pun terpengaruh untuk memaksa anak berbagi meskipun melihat temannya menangis. Setelah situasi lebih tenang, ajak anak Ibu berkomunikasi empat mata. Tanyakan alasannya tidak mau berbagi dan pada saat itu, Ibu bisa menyelipkan nilai-nilai tentang pentingnya berbagi. Sehingga, anak tidak merasa tertekan dan konsep berbagi akan terserap dalam memorinya dengan lebih efektif. Di lain waktu, setelah Ibu cukup yakin anak memahami konsep tersebut, Ibu bisa membiarkan anak menyelesaikan sendiri masalahnya dan memantau dari jauh.

3. Jangan Mengancam Anak

Hal yang harus selalu diingat dalam mendidik anak untuk berbagi adalah menghindari mengancam anak jika mereka sedang tidak kooperatif dengan Ibu. Dalam prosesnya, tentu akan menguras tenaga dan mengaduk-aduk emosi. Apalagi di usia balita, anak masih cenderung menggunakan fisik untuk mengekspresikan gejolak emosinya, seperti memukul, menggigit, dan melempar barang. Tapi yakinlah bahwa tangisan, teriakan, tantrum, bahkan kesengajaan yang terkadang dilakukan si kecil selama Ibu berupaya mengajarkan kebaikan akan berbuah manis suatu saat nanti jika Ibu melakukannya dengan benar.

Jangan memaksa anak menjadi yang sempurna hingga mengancam mereka, tapi fokuslah mengarahkan si kecil kepada kebaikan. Karena dengan mengancam anak, Ibu justru akan menancapkan efek trauma, membuat anak menjadi agresif saat melawan, bahkan meniru perilaku mengancam orang lain apabila keinginannya tidak terpenuhi. Mengancam anak sama halnya dengan memaksa. Dan dalam hal ini, Jill Ceder menekankan bahwa memaksakan kehendak kepada anak justru tidak mengajarkan keterampilan sosial. Anak tidak akan belajar menyelesaikan masalahnya dengan baik dan selalu menjadikan tantrum sebagai alat untuk mengekspresikan kekesalannya. Ibu tentu tak ingin ini terjadi bukan? Oleh karena itu, perlu kesabaran ekstra dan persiapan mental serta fisik dalam mendidik anak untuk berbagi.

4. Mengajarkan Tentang Pilihan dan Konsekuensi

Saat mendidik anak untuk berbagi, pastikan Ibu juga menyisipkan hukum aksi-reaksi dengan penjelasan yang mudah diterima oleh anak. Pada dasarnya, hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat ini sama dengan konsep pilihan-konsekuensi. Tentu Ibu sering mendengar pepatah yang berbunyi: siapa yang menanam, dia yang menuai. Pepatah ini bisa Ibu jadikan dasar saat mengajarkan anak untuk berbagi.

Jika anak enggan berbagi, Ibu bisa berbicara dari hati ke hati dan menanyakan alasan si kecil. Di saat anak tenang dan mendengarkan Ibu dengan cermat, Ibu bisa menjelaskan tentang konsekuensi yang mengikuti pilihannya. Hindari menakut-nakuti anak dengan kalimat, “Kalau tidak mau berbagi, nanti tidak punya teman” atau “Kamu bukan anak Ibu kalau kamu tidak mau berbagi” dan kalimat-kalimat bermakna negatif lainnya. Hal ini bisa berakibat fatal pada pembentukan jati dirinya. Anak akan cenderung memiliki karakter lemah dan rentan menjadi korban perisakan atau bullying karena takut kehilangan teman.

Selain itu, konsep berbagi yang akan diingat anak adalah konsep yang keliru. Anak akan berbagi bukan karena kepedulian, empati, dan belas kasih. Namun semata agar dia merasa terlihat baik di mata orang lain dan mengandung unsur pamrih. Ini tentu saja bukanlah hal yang Ibu inginkan.

Oleh sebab itu, penting untuk mengarahkan anak dengan benar makna berbagi dan konsekuensi. Ibu bisa mengatakan kepada si kecil bahwa orang lain akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Katakan padanya bahwa dia berhak tidak berbagi mainan kepada temannya, dan temannya pun berhak untuk tidak berbagi dengannya.

Misalnya, “Kalau Adik tidak mau meminjamkan, tidak apa-apa. Tapi nanti kalau teman Adik juga tidak mau berbagi, Adik tidak boleh memaksa” atau “Kalau Kakak tidak suka dan sedih saat mainan Kakak dirusak, Kakak juga harus menjaga barang yang Kakak pinjam supaya pemiliknya tidak sedih.”  Dengan begitu, lambat laun si kecil akan belajar menghadapi kekecewaan dan mengerti bahwa ada konsekuensi pada setiap pilihannya.

5. Mengajarkan Anak Kapan Harus Berbagi dan Tidak Harus Berbagi

Meski konsep berbagi sangat penting ditanamkan sejak dini, ada satu hal yang perlu diperhatikan lagi. Seiring bertambahnya usia, kemampuan sosial, dan meluasnya lingkar pertemanan anak, Ibu perlu mengajarkan kapan waktu yang tepat untuk berbagi dan kapan anak tidak harus berbagi. Hal ini sangat penting dalam mendidik anak karena berkaitan erat dengan sistem pertahanan diri dan kemandiriannya dalam kemampuan bersosialisasi. Anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki empati dan belas kasih yang baik, tetapi juga memerlukan tameng untuk memperkuat karakternya. Dalam hal ini, dibutuhkan kerjasama antara Ibu dan orang terdekat si kecil. Harapannya, konsistensi bisa tercapai supaya anak mengerti batasan-batasan dari konsep berbagi.

  • Yang pertama, anak sebaiknya diajarkan untuk menentukan kapan dan kepada siapa dia boleh berbagi Misalnya, katakana pada si kecil bahwa dia boleh berbagi kepada orangtua, orang-orang terdekat, dan teman-teman yang sering berinteraksi dengannya setiap hari miskin. Anak juga bisa diajarkan untuk berbagi makanan kepada orang miskin atau yang membutuhkan asalkan ada Ibu atau Ayah yang menemani.

  • Yang kedua bisa jadi merupakan tantangan yang lebih berat untuk Ibu dalam mendidik anak untuk berbagi. Pasalnya, tidak sedikit komentar miring yang dilontarkan masyarakat saat Ibu berusaha menanamkan konsep ini pada anak. Label “pelit” adalah yang paling sering kita dengar saat kita membiarkan anak memilih untuk tidak berbagi dan terkadang membuat Ibu jadi kepikiran. Apakah benar keengganan untuk berbagi selalu berarti pelit? Ternyata tidak melulu seperti itu lho, Bu. Ada kalanya kita harus menunjukkan batasan-batasan kepada anak kita dalam hal berbagi. Misalnya, anak diajarkan untuk tegas berkata tidak saat temannya ingin menyontek atau merebut bekal makanannya. Dan yang tidak kalah penting yaitu mengingatkan anak untuk tidak langsung berbagi kepada orang asing tanpa orangtua atau orang terdekat yang mengawasi. Ini diperlukan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan seperti penculikan, pelecehan seksual, dan sebagainya.

(Dwi Ratih / Dok.Freepik)