Balita

Balita Gemar Melempar Barang, Bagaimana Solusinya?

Terakhir diperbaharui

Balita Gemar Melempar Barang, Bagaimana Solusinya?

Salah satu perilaku balita yang paling menantang bagi orangtua adalah melempar barang. Biasanya, kebiasaan ini dilakukan tatkala si kecil sedang marah atau dalam keadaan tertekan.

Mungkin kita kerap berpikir, mengapa balita hobi melempar barang? Bukankah melempar barang, khususnya jika diarahkan kepada orang lain, berbahaya dan memalukan?

Ya, itu jika dilihat dari kacamata orang dewasa. Orang tua mana, sih, yang menghendaki anaknya berperilaku kasar? Namun jika kita mau jernih berpikir dari sudut pandang anak, kita akan melihatnya berbeda. Apa yang dilakukan anak adalah salah satu upayanya mengekspresikan perasaannya dan itu wajar.

Tapi bisa dimaklumi juga jika terbersit dalam benak Anda bahwa Anda tidak boleh memberi empati atas perilaku anak ini. Siapa yang tidak kesal melihat dapur tiba-tiba kotor karena anak sedang asyik melempar-lempar makanan? Bunda juga tentu sebal kan, saat botol dot si kecil dilempar ke lantai kotor? Tak heran jika beberapa Bunda spontan bereaksi dengan berteriak atau memarahi anak.

Tapi sesungguhnya respon emosional Anda itu bukan respon yang diharapkan anak, lho, Bunda. Jika Anda ingin anak berubah di kemudian hari, jangan sekali-kali membentak, mengomel, apalagi memberi hukuman pada anak. Coba Bunda pelajari dulu apa penyebab si kecil gemar melempar-lempar barang.

Penyebab mengapa balita gemar melempar barang

Pertama, balita melakukan itu karena keterbatasan skill-nya. Mungkin Anda berpikir, balita sudah bisa jalan dan bicara, seharusnya sudah mengerti, dong, kalau melempar barang itu tidak baik. Eitt... tunggu dulu, Bunda, balita memang sudah mengerti beberapa hal tapi tetap saja mereka memiliki keterbatasan dalam menangani emosi, situasi yang menantang, rasa lelah, atau rasa lapar. Karena itulah mereka mencari cara untuk bisa mengekspresikan apa yang sedang dirasakannya, sekaligus mencuri perhatian Anda, salah satunya dengan melempar barang.

Kedua, mungkin balita Anda melempar barang karena keingintahuannya yang besar. Dalam beberapa hal, balita seperti ilmuwan kecil. Setuju, kan, Bunda? Mereka selalu saja ingin tahu, salah satunya dengan melempar. Si kecil ingin tahu akan seperti apa sebuah benda jika dilempar, bagaimana proses melempar, sekaligus bagaimana rasanya melempar barang. Balita suka hal-hal yang diulang karena dia sedang bereksperimen dan mengembangkan pemahaman sebab-akibat atas tindakannya.

Ketiga, si kecil melempar barang hanya karena senang. Dia merasa ada sensasi tersendiri ketika barang dilempar. Dia tahu dengan melempar barang, dia akan mendapat banyak perhatian, khususnya dari Anda.

Keempat, balita sedang belajar mengembangkan skill motoriknya dengan menggunakan jari-jemari dan melempar objek lewat jemarinya tersebut. Dia juga mengembangkan koordinasi tangan-mata saat melempar. Itu sebabnya si kecil senang sekali mencoba kemampuannya tersebut.

Kelima, balita sedang mempelajari mengapa barang jika dilempar selalu ke bawah, tidak pernah ke atas. Dia belum paham teori gravitasi, namun dia sudah mampu mengobservasi efeknya. Misalnya ketika melempar bola, pasti bola memantul. Namun ketika melempar buah, buahnya langsung jatuh.

Menghentikan kebiasaan melempar barang

Ketika anak memasuki usia batita, alasan ia melempar barang bisa meningkat. Memperoleh perhatian Anda masih menjadi alasan yang terbesar. Anda perlu tahu, tindakan melempar barang sebagai perilaku agresi atau melepas perasaan marah dan frustasi bisa mulai muncul di usia sekitar 18 bulan. Ini menjadi waktu di mana Anda perlu mengatasi masalah ini dan menghentikan perilaku melempar barang.

Setelah memahami penyebabnya, kini saatnya Anda mencari solusi atas perilaku melempar barang balita Anda. Berikut beberapa tipsnya:

  1. Lihat dari sudut pandang anak

    Pahamilah bahwa anak mungkin sedang frustrasi, marah, lelah, takut, atau justru sedang bereksperimen. Dengan memahami perasaannya, Anda akan merespon tindakan tersebut dengan penuh kasih sayang, tidak dengan hukuman atau kemarahan.

  2. Beri contoh yang baik

    Meminta balita untuk tidak melempar barang tidak akan efektif jika Anda sendiri masih suka marah sambil melempar-lempar benda.

  3. Gunakan kata-kata yang mudah dipahami anak

    Jika ingin memberi penjelasan, beri penjelasan yang mudah dimengerti si kecil. Daripada berkata, “Bunda nggak pernah, lho lempar mainan balok ini ke adik,” lebih baik Anda mengatakan dengan singkat, “Balok buat bikin rumah-rumahan. Tangan buat nolong orang.”

  4. Batasi apa yang boleh dilempar anak

    Jangan beri hukuman. Kecuali jika lemparan si kecil sudah membahayakan orang lain, seperti memecahkan kaca atau membuat orang terluka parah, jangan hukum ataupun memberi time-out. Lebih baik Anda batasi apa yang boleh dilempar anak.

  5. Ajari si kecil memahami efek perbuatannya

    Buat pertanyaan, seperti “Kalau adik lempar mobil-mobilan ke TV, kira-kira TV-nya gimana, ya?” Memang, sebelum anak berusia 5 tahun akan sulit bagi dia memahami dari sudut pandang yang berbeda, namun dengan latihan yang rutin, skill sosial anak akan cepat berkembang.

  6. Buat permainan melempar

    Agar lempar-melempar anak terarah, cobalah buat games memasukkan kantong karton ke dalam keranjang atau main lempar batu ke kolam. Anak pasti senang, apalagi jika Anda ikut bermain bersamanya. Selain itu, anak juga bisa belajar bahwa melempar itu boleh asal dilakukan di tempat dan waktu yang tepat.

  7. Bereskan mainan bersama-sama

    Setelah semua mainan dilempar dan ruangan berantakan, saatnya Anda mengajak si kecil membereskan mainan bersama-sama. Jangan membebaninya dengan membereskan semua mainan sendiri karena untuk ukuran anak di bawah lima tahun, apalagi di bawah tiga tahun, membereskan mainan sendiri sangat memberatkan. Buat aktivitas membereskan ini menyenangkan dengan beberapa trik, misalnya lomba mengambil balok dan menaruhnya di keranjang penyimpanan mainan.

  8. Temani anak saat makan

    Balita biasanya suka melempar-lempar makanannya. Karena itu duduklah di sampingnya ketika makan sehingga ketika anak akan melempar, Anda bisa segera mencegahnya. Agar anak tidak membuang-buang banyak makanan, sebaiknya Anda memberikan porsi sedikit. Jika kurang, barulah Anda menambahkannya.

  9. Beri alternatif

    Begitu anak tampak akan melempar barang, segera alihkan dengan mengajaknya mengeksplorasi hal-hal yang disukainya. Anda bisa minta anak menghentikan melempar barang yang tidak boleh dilempar dengan mengajaknya melembar barang yang boleh dilempar, seperti bola serta spon. Ajak anak bermain bola. Melempar atau menendang bola jadi cara untuk mengembangkan koordinasi mata dan tangan, keterampilan motorik, dan sekaligus cara untuk menghabiskan quality time bersama.

    Keranjang bola basket mini juga jadi cara untuk menyalurkan keinginan anak melempar barang. Di luar rumah, biarkan anak melempar spon berisi air ke tembok halaman sebagai aktivitas menyenangkan tapi tetap membolehkan anak melembar barang.

    Dengan membolehkan anak melempar benda yang tepat, Anda bisa menjelaskan kepadanya kenapa tidak baik bila melempar sepatu, makanan, mainan, dan benda lain yang tidak sesuai untuk dilempar.

    Misalnya, ketika anak melempar buku ke sudut ruangan, dengan tenang tuntun anak menuju buku yang ia lempar dan minta ia mengambilnya. Bungkukkan tubuh Anda untuk menatap matanya dan katakan, “Kak, buku buat dibaca ya, bukan untuk dilempar. Kita hanya boleh melempar bola dan (sebutkan benda lain yang boleh ia lempar)”. Ikuti dengan membimbingnya meletakkan buku di tempat seharusnya. Ulangi proses ini bila dibutuhkan. Bila Anda cukup sering melakukannya, si kecil akan perlahan paham dan ingat aturan tentang melembar barang.

  10. Prioritaskan “korban”

    Jika ada yang terluka karena lemparan barang si kecil, segera datangi “korban” dan bantu dia. Dengan begitu, anak Anda akan belajar bagaimana Anda memperlakukan “korban” dengan penuh kasih sayang sekaligus mengajarinya bahwa perilaku buruk tidak akan menarik perhatian Anda.

Pastikan barang-barang tidak bisa dilempar anak

Anda juga bisa membuat anak berhenti melembar barang dengan membuat barang-barang tersebut sulit dilempar:

  • Gunakan karet penghisap pada piring dan mangkuk lalu tempelkan pada meja. Cara ini juga akan mencegah insiden tumpah.
  •  
  • Anda bisa cegah anak melempar makanan dengan meletakkan makanan porsi kecil di piring anak. Anda bisa tambahkan makanan bila ia sudah memakan makanan yang ada di piringnya.
  •  
  • Cegah anak melempar mainan ketika berada di stroller atau car seat dengan mengikatkan mainan pada tali.
  •  
  • Bila anak menggunakan dot, Anda bisa gunakan kalung untuk dotnya. Tapi pastikan keamanannya untuk menghindari bahaya tersedak atau tercekik.

 

Lakukan tindakan yang tepat

Melempar barang bisa jadi di luar kendali terutama ketika anak melempar barang pada teman atau ketika ia marah. Tindakan ini tidak bisa ditolerir.

Meski mengingatkan anak dengan mengatakan, “Kita tidak melempar mobil-mobilan, balok, atau boneka,” yang memang perlu dilakukan, juga peting untuk mengetahui alasan anak melakukannya, yang biasanya karena marah. Mengungkapkan kemarahan dengan melempar barang bukan kebiasaan baik. Anak perlu tahu ini, lebih cepat lebih baik.

Ketika anak melempar makanan ke Anda karena protes atau melempar mainan ke teman kerana marah, Anda perlu bertindak tepat.

  1. Bicara pada anak dan biarkan ia menanggung konsekuensinya

    Hal pertama yang perlu Anda lakukan ketika anak melempar benda pada orang lain karena marah adalah menjelaskan tindakannya salah dan tidak bisa diterima. Ingatkan kalau ia hanya boleh melempar bola dan semacamnya saat bermain. Lakukan ini tanpa berteriak. Anda juga perlu memberikan pemahaman pada anak bahwa ia menyakiti orang lain atau menyebabkan berantakan.

    Pada akhirnya anak perlu menerima konsekuensi dari tindakan yang ia lakukan. Berikut ini contoh kalimat yang bisa Anda katakan:

     
    • “Ade sudah lempar makanan ke lantai, sekarang Bunda tidak bisa bacakan buku untuk Ade karena Bunda harus bersihkan makanan yang berantakan ini.”
    •  
    • “Teman Ade jadi kesakitan karena kena lemparan Ade. Itu nggak bagus ya, sekarang Ade minta maaf dan hari ini Ade nggak boleh main sama mainan yang tadi dilempar.”
    •  
    • “Ade cuma boleh lempar bola. Kan Bunda sudah kasih tahu. Karena Ade lempar mainan mobil ini jadi Bunda akan simpan mainan ini sampe Ade mau nurut nasihat Bunda.”
    •  
    • “Kalo Ade marah, Ade bilang supaya Bunda bisa bantu. Ade nggak perlu lempar mainan.”

    Dengan bersikap konsisten dalam kata dan tindakan, akan lebih mudah melatih anak melakuakn hal yang benar dan menghentikan perilaku seperti melempar barang tanpa alasan. Ini bisa sulit awalnya, tapi kesabaran akan berbuah manis akhirnya.

  2. Jangan bereaksi

    Bayi dan balita merupakan pencari perhatian. Untuk menghindari mendorong perilaku ini, lakukan yang terbaik dengan bersikap tenang. Ambil makanan tapi jangan kembalikan ke piringnya dan ucapkan kalimat seperti, “Makanan tempatnya di piring” atau “Makanan harus tetap di piring.”

    Konsisten dengan ucapan yang Anda gunakan, dan pastikan menggunakan kata yang mengindikasikan apa yang Anda inginkan, jangan ucapkan frase seperti, “Kita tidak melempar makanan,” yang mengindikasikan apa yang Anda tidak inginkan terjadi. Dengan tidak mengembalikan makanan ke piringnya, Anda mengajarkan anak setelah makanan dilempar, makanan tidak akan kembali lagi ke tempatnya. Ia akan belajar ini dengan cepat.

  3. Sertakan seluruh keluarga

    Bicara pada anak yang lebih besar tentang kenapa penting untuk tidak bereaksi ketika adik melempar makanan. Kadang anak yang lebih besar menjadi terpancing untuk melakukan hal yang sama karena menganggapnya sebagai hiburan. Buat rencana untuk tetap tenang dan tidak bereaksi ketika si kecil melempar makanan. Buat tantangan untuk melihat siapa yang bisa jadi paling tenang.

  4. Dekatkan high chair ke meja makan

    Saat si kecil bisa melihat lantai dari high chair-nya, melempar makanan jadi terasa lebih seru baginya, terlebih ketika melihat anjing atau kucing peliharaan memakan makanan yang ia lempar ke lantai. Anda bisa lepas bagian tray pada high chair, dan letakkan high chair mendekat ke meja makan agar anak sulit melihat lantai. Dengan begitu si kecil akan fokus ke makanan dan berinteraksi dengan anggota keluarga. Ini juga jadi kesempatan untuk mencontohkan cara makan yang baik.

  5. Bawa hewan peliharaan ke luar rumah

    Bagi bayi, tak ada yang lebih menyenangkan selain melempar makanan dan melihat si hewan peliharaan seperti anjing dan kucing memakannya dan memintanya lagi. Bila memungkinkan, bawa hewan peliharaan ke luar rumah atau cukup ke ruangan lain di waktu makan, saat si kecil di tahap melempar barang.

Melempar makanan tanda anak sudah kenyang

Melempar makanan bisa jadi isyarat untuk memberitahu kalau anak sudah kenyang. Memang tanpa sadar kita menyediakan makanan yang kita yakin tepat untuk si kecil dan berharap ia akan menghabiskannya. Ketika ia memalingkan wajah, merapatkan mulut, atau mendorong makanan dari mulut, ini jadi tanda kalau ia sudah kenyang, dan Anda perlu memahaminya. Biarkan anak menentukan berapa banyak makanan yang ia makan pada tiap waktu makan. Sering kali, orangtua tidak memahami tanda ini atau memilih untuk tidak memperhatikannya, dengan mendorong makanan ke bayi atau mengikuti mulut bayi dengan sendok, karena untuk memastikan bayi menerima nutrisi yang cukup.

Bayi lahir dengan intuisi makan Bun, mereka tahu berapa banyak makanan yang dibutuhkan dan kapan harus berhenti makan, jadi kita perlu mempercayai ini dan tidak memaksa anak untuk memakan lebih banyak. Dengan menawarkan 5 sampai 6 kali makan dan cemilan setiap hari, dengan banyak variasi, bisa dipastikan si kecil akan memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Sajikan porsi yang tidak besar atau berlebihan yang bisa memicu melempar makanan, tawarkan bila anak terlihat menginginkannya, jangan memaksanya. Ini akan menciptakan pengalaman makan yang lebih menyenangkan dan melatih kemampuan alami anak untuk makan.

Bila anak masih melempar makanan, tetap tenang dan fokus mengajarkan si kecil atau batita Anda apa yang Anda ingin mereka lakukan, tahap ini akan berlalu dan waktu makan akan tetap bernilai positif dan tidak menimbulkan stres.

(Dini & Ismawati)