Balita Dibaca 1,200 kali

7 Cara Menyapih Anak Saat Tidur Malam

Share info ini yuk ke teman-teman
Stephanie

Terakhir diperbaharui 17 Juli, 2019 06:07

7 Cara Menyapih Anak Saat Tidur Malam

Bagi seorang Ibu, apalagi yang beruntung bisa memberikan ASI pada bayinya, mungkin akan merasa khawatir ketika mesti melakukan penyapihan pada bayi. Khawatir bayi tidak mendapatkan gizi yang semestinya. Banyak juga ibu yang merasa sedih menyapih anak karena takut akan mengurangi keintiman antara ia dan bayi, atau merasa kehilangan momen istimewa bersama buah hatinya. Bagi bayi pun, proses ini juga bisa menjadi sulit, karena ia terbiasa menyusu pada Ibu.

 

Lalu, apa, sih, menyapih itu? 

Intinya, menyapih anak adalah proses mengurangi atau menghentikan bayi menyusu dari payudara Ibu, untuk kemudian ia dikenalkan dengan makanan orang dewasa, yaitu berupa makanan semi padat atau jenis cairan lainnya. Definisi lainnya, menyapih juga berarti mengubah kebiasaan menyusu langsung dari payudara, ke ASI yang dituang dalam botol, dari breastfeeding ke makanan solid dan dari breastfeeding atau susu botol ke cangkir.

Menyapih pada dasarnya dilakukan pada bayi, ya, bu, tapi karena banyak juga anak yang mendapatkan ASI bahkan sampai usianya dua tahun, maka menyapih juga bisa dilakukan pada balita. 

 

Kenapa Harus Dilakukan Penyapihan?

1. Mutual Decision

Ini cara yang dirasa paling mudah dan nyaman untuk dilakukan bagi keduanya. Artinya, baik Ibu mau pun bayi, sudah sama-sama siap untuk melakukan penyapihan. Misalnya, karena tubuh bayi sudah ‘merasa’ ASI tidak lagi mencukupi kebutuhannya dan sudah menunjukkan ketertarikannya pada makanan padat. Hal ini ditandai dengan bayi sering memasukkan sesuatu ke mulutnya, berat badannya tidak bertambah dengan normal (tidak ideal) dan seakan-akan ia butuh lebih banyak susu.

   

2. Mother led weaning atau planned weaning

Adalah proses penyapihan yang diambil dari keputusan Ibu. Ada pun penyebabnya, seperti Ibu menjadi stress karena tidak bisa memproduksi jumlah ASI yang cukup. Ukuran payudara ibu, nggak, memengaruhi jumlah produksi ASI, tapi memang, jika ukuran payudara Ibu besar, maka ASI yang tertampung bisa lebih banyak atau karena ibu sudah kembali bekerja dan butuh waktu istirahat yang cukup di malam hari, atau mesti mengonsumsi obat-obatan tertentu, yang dikhawatirkan bakal memberikan efek yang negatif buat si bayi.

 

3. Baby led weaning

Atau penyapihan secara natural. Misalnya, bayi tidak lagi ingin menyusu langsung pada Ibu. Semakin jarang melakukan breastfeeding ini, maka dengan sendirinya jumlah produksi ASI akan terbatas. Tubuh bayi juga mungkin sudah membutuhkan asupan lain. Bayi yang sakit pun, nggak, dibutuhkan penyapihan, ya, berbeda kalau Ibu yang sakit.

    

Nggak, hanya karena tiga hal di atas, menyapih juga ada manfaatnya buat tubuh bayi. Betul memang, ASI adalah asupan terbaik bagi bayi, setidaknya sampai umurnya enam hingga satu tahun, ASI bisa membantu mencegah bayi sakit akibat infeksi mau pun non infeksi. Namun, seiring bertambahnya usia bayi, nutrisi dalam ASI tidak lagi mencukupi semua kebutuhannya untuk tumbuh kembang dengan maksimal, misalnya kebutuhan protein.

Selain itu, secara alami, bayi mulai siap untuk mendapatkan makanan pendamping pada usianya empat sampai enam bulan. Menghisap dan mengunyah adalah suatu perilaku kompleks, yang mengandung refleks dan beberapa komponen yang mesti dilatih, seperti stimulasi oral. Jika, stimulasi ini tidak dilakukan dalam masa perkembangannya, maka bisa berakibat negatif bagi pola makan bayi.

Nah, kalau pola makannya saja sudah, nggak, bagus, lalu bagaimana bayi bisa tumbuh optimal, kan, Bu?

Penyapihan terutama di malam hari juga bermanfaat untuk memperbaiki kualitas tidur orangtua dan bayi. Karena makannya berkurang di malam hari, maka bayi akan makan lebih lahap di siang hari.

   

Apa Tanda Anak Siap untuk Penyapihan?

  • Dalam usia yang tepat. The American Academy of Pediatrics, menyarankan, penyapihan dilakukan ketika bayi memasuki usia enam bulan.

  • Bayi sudah bisa duduk atau menegakkan kepalanya. Artinya, otot-otot lehernya sudah berfungsi dengan baik.

  • Koordinasi antara mata, mulut dan tangannya sudah bekerja dengan baik. mengenalkan MPASI (makanan pendamping air susu ibu), bisa berbahaya jika secara fisik ia belum siap.

  • Bayi terlihat tertarik dengan makanan yang sedang Ibu makan.

  • Bayi sudah mencapai berat badan yang ideal.

  • Bayi sudah bisa menahan makanan di dalam mulutnya.

Beberapa trik yang bisa Ibu lakukan untuk penyapihan ini, misalnya, memasukkan ASI ke dalam botol, memanjangkan jarak waktu menyusu anak, memastikan ia cukup makan di siang hari dan mengganti satu botol ASI dengan cairan lainnya, misalnya air putih atau lainnya sesuai anjuran dokter. Sebaiknya, nggak, memberikan jus atau teh manis, ya, Bu, karena manis bisa merusak gigi, mengganggu berat badannya dan bisa menyebabkan bayi diare.

    

Bagaimana Cara Menyapih Anak Saat Tidur Malam?

  1. Pendekkan durasi pada setiap sesi night feeding. Intinya, night feeding adalah bayi atau anak menyusu pada jam tidur malam Ibu.

  2. Kurangi satu kali pemberian ASI di malam hari, misalnya selama lima hari sampai satu minggu. Setelahnya bisa dikurangi kembali. 

  3. Kurangi kebiasaan menyusui di setiap kali bayi bangun dan menangis. Hal ini bisa menjadi kebiasaan, ya, Bu. Selain itu, kebiasaan menyusu setiap terbangun juga menjadikan popoknya basah terus, yang akhirnya akan bangun lagi dan lagi.

  4. Jika bayi atau anak terlihat melepas payudara Ibu, segera selesaikan kegiatan menyusu.

  5. Terapkan ‘dream feeding’, atau menyusui sebelum Ibu tidur tanpa membangunkan bayi. 

  6. Ajak Ayah untuk ikut terlibat. Cara ini disebut-sebut adalah salah satu yang paling ampuh, loh, Bu. Caranya adalah dengan menempatkan tempat tidur anak di sebelah ayah. Jika bayi atau anak bangun di malam hari, maka Ayahlah yang menggendongnya. Cara ini dirasa bisa membantu bayi ‘mencium’ aroma ASI.

  7. Ajarkan bayi untuk tidur kembali tanpa harus digendong dan menyusu terlebih dahulu. Comforting yang bisa Ibu lakukan, misalnya dengan menepuk-nepuk atau menggosok punggung bayi. Berkomunikasi dengan bayi juga bisa dicoba, ya, Bu. Ajak ia bicara, tujuannya agar ia belajar memahami kalau di malam hari bukanlah waktu untuk minum susu, tapi untuk tidur. Dengan latihan seperti ini, perlahan ia akan mengerti.

 

Apa yang Menyebabkan Proses Menyapih Menjadi Gagal?

  • Bayi belum bisa tidur sendiri.
    Setelah terbangun, bayi mungkin belum bisa langsung tertidur lagi. Ia terbiasa mesti menyusu karena membuatnya merasa rileks.

  • Bayi belum siap.
    Bayi belum siap dari sisi usia dan fisiknya. Karena sistem pencernaannya yang masih kecil, bayi di bawah usia enam bulan, belum bisa menahan lapar dalam waktu yang cukup panjang.

  • Sedang tumbuh gigi.
    Pada usia lima sampai enam bulan, bayi tumbuh gigi adalah hal biasa dan pastinya hal ini bikin bayi merasa tidak nyaman. Ciri-ciri bayi sedang tumbuh gigi adalah sering mengemut jari, menggaruk-garuk kuping dan hidung atau rewel sepanjang hari. Nah, pada saat ini, bayi akan menjadi lebih sering menyusu, bukan karena ia lapar, tapi untuk menghilangkan rasa nyeri. Jika perlu, Ibu bisa berkonsultasi dengan dokter untuk membantu mengatasi nyeri yang dialami bayi.

  • Tidak konsisten.
    Misalnya, karena Ibu yang tidak tega saat mendengar bayinya menangis di malam hari. Padahal, bayi tentu belum terbangun dan menangis di malam hari karena ia lapar, bisa saja hanya karena bayi ingin digendong.

  • Bayi merasa capek.
    Misalnya karena jam tidurnya kurang di siang hari atau waktu tidurnya terlambat di malam hari. Hal ini bisa bikin tidur malamnya terganggu dan ia akan sulit tidur lagi kalau terbangun.

 

Kunci dari menyapih anak adalah melakukan secara perlahan, bertahap dan konsisten. Penyapihan terutama pada bayi yang dilakukan secara drastis, bisa bikin bayi trauma, loh, Bu. Selain itu, berhenti menyusui tiba-tiba juga bisa membuat Ibu mengalami mastitis. Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara, yang terkadang juga bisa disebabkan oleh infeksi. Mastitis ini, nggak, cuma bisa dialami ibu yang memberikan ASI, tapi juga pada ibu non ASI.

Gejala mastitis yang paling umum adalah payudara yang membengkak dan warnanya menjadi kemerahan. Pastinya, payudara akan terasa nyeri ketika dipegang. 

Ada kalanya kegiatan menyapih ini harus ditunda dulu, di antaranya jika berat badan bayi belum masuk ke ukuran ideal, atau jika Ibu sudah kembali ke kantor misalnya, pastinya waktu Ibu untuk bayi dan anak di siang hari akan amat terbatas. Menyusui di malam hari bisa membantu menggantikan waktu yang terlewatkan tadi atau reconnecting. Waktu di malam hari ini bisa Ibu sediakan sekadar untuk cuddling dengan anak. Anak yang merasa kesepian, biasanya akan rewel atau sering terbangun di malam hari.

Membentuk ikatan atau bonding dengan bayi tidak hanya saat memberikan ASI, kok, Bu, masih ada banyak cara lain, misalnya memeluk, mengajaknya bicara atau membacakan buku. Apalagi, ikatan antara Ibu dan bayi sudah terbentuk semenjak ia berada di dalam rahim Ibu, so, ikatan itu, nggak, akan hilang begitu saja, ya, Bu. Penyapihan adalah hal yang normal dalam tahap tumbuh kembang bayi.

 

Tips Bonding dengan Bayi

  • Mempelajari apa yang sekiranya diinginkan bayi, misalnya, arti tangisannya. Hal ini membuat bayi merasa kalau Ibu memahami dia.

  • Memberikan pijatan.

  • Skin to skin contact, misalnya mencium bayi.

  • Tersenyum atau tertawa sambil melakukan kontak mata dengan bayi.

  • Mengajak bayi bermain, atau sekadar menyanyikan lagu.

 

Jadi, menyapih memang bukanlah hal yang mudah, ya, Bu, namun demi perkembangan si anak, menyapih mesti tetap dilakukan.

 

(Stephanie / Dok.Freepik)