Balita Dibaca 2,138 kali

Menyapih Si Kecil dengan Cinta

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 05 Februari, 2019 01:02

Menyapih Si Kecil dengan Cinta

Menyapih si kecil berarti Anda mulai menghentikan aktivitas pemberian ASI pada buah hati Anda. Jadi ketika Anda menyapih si kecil, tidak akan ada lagi aktivitas menyusui baik menyusui secara langsung maupun menyusui dari botol. Buah hati Anda benar-benar menghentikan asupan ASI untuk tubuhnya.


Menyapih buah hati Anda tentu bukanlah hal yang mudah, membutuhkan waktu yang cukup lama dan terkadang Anda, sebagai orangtua sering merasa tidak tega tapi terkadang muncul pula rasa bebas pada waktu bersamaan, dikala Anda telah berhasil menyapih si kecil.


Walaupun begitu, Anda tak usah khawatir dan cemas, menyapih tidaklah memutuskan hubungan erat yang telah Anda jalin dengan si kecil selama ini.


Jika Anda memiliki kebiasaan menyusui si kecil agar ia merasa nyaman, maka ketika Anda mulai punya niatan menyapih si kecil, berati Anda harus memiliki alternatif lain untuk menggantikan hal tersebut. Anda bisa mengajak si kecil membaca buku bersama di perpustakaan, bernyanyi atau bahkan mengajak si kecil bermain di luar sebagai pilihannya.


Jika si kecil melakukan penolakan ketika Anda mulai menghentikan pemberian ASI, santai saja, hal tersebut memang wajar dan harus dilakukan secara perlahan-lahan, tak usah terburu-buru. Anda harus membiasakan si kecil terlebih dahulu dan tentu hal ini pun tidaklah mudah serta memerlukan waktu yang cukup lama


Kapan waktu yang tepat menyapih anak?

Lalu pada usia berapa idealnya Anda bisa mulai menyapih si kecil? Sebenarnya Anda sendirilah yang tahu kapan waktu yang tepat untuk si kecil agar bisa mulai berhenti menyusu. Sebaiknya Anda tak usah membuat batasan mengenai sampai kapan si kecil harus menyusui.

 

Namun, The American Academy of Pediatrics menyarankan bahwa para ibu yang sudah menyusui buah hatinya selama kurang lebih 1 tahun bisa mulai menyapih buah hatinya, tapi mereka menyarankan pula agar para ibu sebaiknya tetap menyusui buah hati mereka jika memang ibu dan buah hatinya masih menginginkan hal tersebut.


Terkadang memang ibu yang menyusui si kecil yang sudah berusia 1 tahun lebih sering dianggap aneh oleh sebagian orang, tapi tak usahlah memperdulikan apa kata teman, kolega atau orang di sekitar Anda yang berkomentar bahwa perilaku Anda yang masih belum menyapih si kecil itu sangat aneh. Selagi Anda dan si kecil nyaman lakukan saja tanpa mengkhawatirkan perkataan orang-orang.


Namun, jika Anda telah menentukan untuk menghentikan asupan ASI si kecil karena memang ada alasan kuat, silakan menyapih si kecil jika memang Anda yakin itulah yang terbaik.


Menghentikan pemberian ASI pada buah hati Anda pun bisa juga dimulai pada usia 6 bulan, yaitu waktu di mana si kecil sudah mulai mendapatkan asupan MPASI sebagai sumber nutrisinya. Tapi WHO merekomendasikan Ibu menyusui agar tetap melanjutkan pemberian ASI sampai paling tidak anak berusia 2 tahun.


Terkadang pada usia tersebut si kecil sudah mulai kehilangan rasa ketertarikan pada ASI, dia mulai risih dan terlihat tak nyaman saat Anda menyusuinya. Melihat sikap si kecil yang seperti tadi mungkin ini adalah pertanda bagi Anda bahwa si kecil sudah mulai ingin menghentikan asupan ASI dari Anda.


Bagaimana cara yang baik untuk menyapih buah hati?

Lakukanlah proses penyapihan secara perlahan, pertimbangkanlah usia buah hati Anda. Para ahli mengatakan bahwa menghentikan asupan ASI secara tiba-tiba dan memaksa menyapih anak bisa menimbulkan efek traumatik pada buah hati Anda dan juga bisa menyebabkan infeksi pada payudara Anda.


Misalnya saja Anda menghentikan pemberian ASI pada si kecil secara mendadak dan tanpa ada tahapan-tahapan terlebih dahulu sehingga si bayi kaget. Hal ini sangat tidak bagus untuk buah hati Anda dan tubuh Anda sendiri pun akan terkena imbasnya, seperti terjadi peradangan atau pendarahan di sekitar area dada Anda.


Cobalah trik berikut ini agar si kecil dapat berhenti menyusu secara perlahan dan alami, sehingga tidak menimbulkan efek trauma dan rasa nyeri pada tubuh Anda.


  1. Pertama, memperpendek waktu menyusui si kecil.

    Anda bisa mulai membiasakan si kecil dengan waktu menyusui yang pendek. Jika Anda biasa menyusui si kecil selama 15 menit, cobalah perpendek waktu menyusui tersebut menjadi 12 atau 10 menit. Jika si kecil sudah mulai terbiasa, perpendeklah lagi waktu menyusui. Lakukanlah hal ini terus-menerus hingga si kecil mulai bisa lepas tanpa ASI.


  2. Cara yang kedua yaitu membiasakan si kecil untuk minum ASI dari botol atau gelas.

    Anda bisa menggabungkan cara yang pertama dengan metode ini, setelah membiasakan memperpendek waktu menyusui untuk si kecil, Anda bisa menyelingi memberikan ASI pada si kecil dengan botol susu atau gelas untuk batita maupun balita. Namun tentu hal ini harus dilakukan secara perlahan-lahan.


    Jangan berharap si kecil akan langsung bisa berpindah secara penuh menyusu dari botol atau minum susu dari gelas. Tentu Anda harus melakukannya secara berulang-ulang dan sabar. Menghentikan asupan ASI si kecil secara perlahan-lahan selain bermanfaat untuk si kecil, hal ini sangat bermanfaat pula untuk kesehatan Anda, karena tubuh Anda pun akan mulai membiasakan diri dengan pola tersebut dan tubuh Anda akan mulai mengurangi produksi ASI dengan sendirinya.


    Sehingga Anda terhindar dari penyakit seperti payudara yang berdarah karena tidak menyusui sedangkan payudara Anda terus-menerus memproduksi ASI, serta terhindar dari penyakit radang kelenjar dada.


  3. Cara yang terakhir yaitu tunda dan alihkan perhatian si kecil jika ia mulai meminta Anda untuk menyusuinya.

    Jika si kecil mulai terbiasa dengan aktivitas menyusui yang telah Anda tetapkan, misalnya saja si kecil sudah terbiasa jika Anda hanya menyusui dia dua kali dalam satu hari. Namun, sewaktu-waktu ia meminta Anda untuk melakukan lebih dari kebiasaan barunya tersebut.


    Nah jika begini lebih baik Anda menolaknya dengan menunda permintaan si kecil tersebut. Lalu, alihkan perhatian si kecil terhadap ASI pada hal lain yang lebih menarik. Misalnya saja, Anda bisa mengajak si kecil bermain di taman, atau mengajaknya berenang, atau bisa juga mengijinkan si kecil bermain bola dengan teman-temannya.


    Yang harus Anda ingat, Anda harus tegas, jangan sampai Anda menuruti keinginan si kecil walau hanya satu kali saja, karena hal tersebut akan merusak kebiasaan yang telah Anda terapkan pada si kecil.


Jenis-jenis cara menyapih anak

Bagaimana penyapihan terjadi bergantung pada kondisi masing-masing. Kadang ibu memandu proses menyapih (mother-led-weaning), kadang anak yang melakukannya (child-led weaning) dan kadang keduanya (mutual weaning).


  1. Mother-led weaning

    Ada banyak alasan kesehatan yang menyebabkan ibu memutuskan untuk menyapih anak, misalnya:

       
    • Anda merasa sudah cukup. Bila Anda ibu menyusui dari anak usia batita, Anda merasakan hal ini, terutama bila buah hati sering menyusu di malam hari. Anda merasa lelah.
    •  
    • Ingin hamil lagi dan menyusui menggaunggu masa subur Anda. Coba bicara pada bidan atau dokter tentang hal ini.
    •  
    • Tidak menyusui lagi karena hamil. Banyak bayi atau batita berhenti menyusu dengan sendirinya ketika ibu hamil. Ini karena kehamilan biasanya mengurangi persediaan ASI. Bila buah hati dan Anda merasa senang melanjutkan menyusui selama kehamilan, tak masalah.
    •  
    • Disarankan menyapih anak karena alasan medis. Bila ini yang terjadi dan menyusui penting bagi Anda, bahas bersama dokter tentang mencari pilihan alternatif. Kadang memperolah pendapat kedua bisa membantu.
    •  
    • Kembali bekerja. Banyak ibu yang kembali bekerja yang berhenti atau terus menyusui.
    •  
    • Punya masalah menyusui. Kadang, karena kurang informasi dan dukungan, masalah muncul yang membuat menyusui jadi tidak memungkinkan. Konselor laktasi bisa membantu Anda mengatasi masalah ini, membantu Anda menyapih atau meyakinkan Anda kalau menjadi ibu lebih dari sekedar menyusui.

     

    Tekanan untuk menyapih anak

    Kadang, ibu menerima informasi yang tidak akurat yang memaksanya untuk menyapih anak, meski ibu dan bayi menikmati hubungan menyusui.

    Misalnya Anda:

     
    • Diberitahu kalau ASI Anda terlalu encer atau tidak cukup atau bayi tidak mendapat ASI yang cukup. Ini sangat tidak benar.
    •  
    • Diberitahu kalau pola makan Anda tidak cukup bagus untuk menghasilkan ASI berkualitas. Ini juga tidak benar. Anda mungkin pernah mendengar orang lain bicara tentang ASI yang kering dan khawatir bayi tidak mendapat cukup ASI. Penting untuk menggunakan indikator yang tepat untuk menilai apakah bayi mendapat ASI yang cukup.
    •  
    • Diberitahu kalau bayi harus disapih setelah tumbuh gigi. Ini juga sangat tidak benar.
    •  
    • Mengira Anda harus menyapih bila bayi menolak menyusu atau nursing strike. Wajar bila bayi mengalami fase menolak menyusu lalu kembali menyusu seolah tak terjadi apa-apa.
    •  
    • Mengalami tekanan untuk menyapih ketika anak bertambah besar. Bila menyusui berjalan baik untuk Anda dan buah hati, tak perlu berhenti.

  2. Child-led weaning

    Kadang, anak berhenti menyusu dengan sendirinya. Bila ini yang terjadi, ia kemungkinan berusia lebih dari 12 bulan dan sedang menikmati variasi makanan dan minuman berbeda.  Bila bayi di bawah usia 12 bulan, tidak wajar baginya disapih, lebih mungkin karena ia menolak menyusu dibanding disapih.


  3. Mutual weaning

    Kadang bukan ibu atau anak yang melakukan penyapihan. Kadang, ini terjadi perlahan tapi pasti dan berhasil untuk Anda dan buah hati.

     

    Mulai sejak bayi berusia 6 bulan dan makan makanan padat, perlahan ia mulai mengonsumsi lebih banyak jenis makanan lain. Ia secara alami kurang berselera pada ASI. Seiring waktu, ia lebih tertarik pada variasi makanan dan cairan dari gelas dan ini perlahan menggantikan ASI dari pola makannya.


Apa yang terjadi setelah anak disapih?

Pengalaman yang dialami ibu ketika berhenti menyusui bisa tak terduga. Bagi sebagian ibu, akhir menyusui bisa jadi momen penuh emosi. Bisa terjadi perubahan fisik di akhir menyusui. Sering kali lebih mudah menerima dan mengatasi hal yang kita alami ketika kita tahu kalau hal ini normal.


Sayangnya banyak ibu tidak menyadari efek yang akan dialami setelah menyapih anak. Jadi apa sajakah perubahan fisik dan emosi setelah berhenti menyusui? Berikut ini beberapa di antaranya:


  1. Anda mengalami perubahan mood

    Ketika perjalanan menyusui berakhir, wajar bila Anda mudah marah dan sedih. Beberapa ibu mengalami kecemasan juga. Biasanya perasaan ini berhenti setelah beberapa minggu.


    Bila kondisi ini parah, atau terus terjadi setelah beberapa minggu, cari bantuan dari tenaga kesehatan. Diperkirakan perubahan mood bisa disebabkan oleh perubahan hormonal, seperti penurunan prolaktin dan oksitosin yang terjadi ketika ibu berhenti menyusui. Ini tidak mengejutkan karena prolaktin membantu Anda merasa tenang dan rileks serta oksitosin dikenal sebagai hormon cinta.


    Bila memungkinkan, menyapih secara perlahan bisa meminimalisir perubahan mood yang Anda alami. Ini karena menyapih perlahan membuat perubahan hormon terjadi lebih bertahap dan memberi tubuh kesempatan untuk menyesuaikan diri.


    Meski akhir menyusui terjadi secara bertahap, tetap wajar bila Anda merasakan kesedihan dan kehilangan. Banyak ibu merasa menyusui membantu menciptakan kedekatan fisik dan emosi antara ibu dan bayi.


    Jadi ketika  proses menyusui berakhir, normal bila Anda merasa kedekatan dengan buah hati berakhir. Tapi tetap ingat Bun, jalinan kedekatan antara Anda dan bayi bisa terus berlanjut meski setelah ia disapih.


  2. Butuh waktu sampai ASI mengering

    Wajar bagi ibu yang menyapih anak terus mendapati ASI keluar ketika memerah dengan tangan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar ASI sepenuhnya kering setelah menyapih bervariasi dari satu ibu dengan ibu lain. Beberapa ibu yang telah sering menyusui untuk waktu lebih lama, bisa butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.


    Produksi ASI terjadi mengikuti permintaan. Semakin sering ASI dikeluarkan dari payudara, semakin banyak akan dihasilkan tubuh. Bila kegiatan menyusui berhenti ketika payudara memproduksi banyak ASI, misalnya ketika bayi sering menyusu, bisa butuh waktu lama untuk payudara mengurangi dan perlahan berhenti memproduksi ASI. Bila menyusui berakhir ketika payudara tidak memproduksi ASI, misalnya ketika bayi sudah masuk usia batita, persediaan ASI Anda kemungkinan bisa menyesuaikan dengan lebih cepat. Waktu yang tepat kapan payudara sepenuhnya berhenti memproduksi ASI sangat bervariasi pada tiap ibu.


  3. Persediaan ASI jadi naik-turun

    Ketika penyapihan terjadi, awalnya payudara akan terus memproduksi ASI yang biasa diproduksi. Berhenti menyusui secara perlahan membuat persediaan ASI menurun perlahan seiring waktu dan mengurangi risiko bengkak, kelenjar ASI tersumbat, atau mastitis. Sebaliknya, bila proses menyapih terjadi tiba-tiba, kemungkinan besar Anda mengalami bengkak, saluran tersumbat, atau mastitis.


    Ketika berusaha menghentikan payudara memproduksi ASI, mengeluarkan sedikit demi sedikit ASI penting dilakukan. Tapi bila Anda mengalami saluran ASI tersumbat, mengeluarkan ASI dengan memerah  menggunakan tangan untuk membersihkan sumbatan penting untuk membantu menurunkan risiko mastitis.


    Begitu juga bila Anda mengalami mastitis, untuk sementara keluarkan ASI untuk membersihkan ASI statis. Ini penting dilakukan untuk menurunkan risiko mastisis menjadi abses. Setelah kelenjar yang tersumbat atau mastitis bisa diatasi, Anda bisa kembali tidak mengeluarkan ASI dan hanya memonitor payudara. Seiring waktu, persediaan ASI akan menurun dan perlahan produksi ASI berhenti.


  4. Siklus menstruasi kembali terjadi

    Pada banyak ibu, periode menstruasi tidak terjadi ketika mereka menyusui secara eksklusif. Bahkan ini jadi bentuk KB alami yang dikenal dengan Lactational Amenhorrhoea Method. Ketika menyusui berhenti, kemungkinan siklus menstruasi akan perlahan kembali normal. Tapi ini tidak berarti Anda tidak bisa hamil ketika menyusui, Bunda.


  5. Payudara kembali ke ukuran seperti sebelum hamil

    Setelah berhenti menyusui, ASI menghasilkan sel yang perlahan mengecil. Ketika proses ini terjadi, dalam beberapa bulan, payudara akan kembali ke ukuran sebelum hamil. Tapi tak perlu khawatir payudara akan jadi kendur.


    Akhir menyusui bisa membawa banyak perubahan emosi dan fisik. Meski beberapa perubahan terasa tidak menyenangkan, mengetahui apa yang akan terjadi bisa membuat Anda lebih siap menjalaninya.

(Wati & Ismawati)