Balita Dibaca 376 kali

8 Manfaat Sepeda Tanpa Pedal (Balance Bike) untuk Si Kecil

Share info ini yuk ke teman-teman
Hadassah
8 Manfaat Sepeda Tanpa Pedal (Balance Bike) untuk Si Kecil

Apakah Ibu sudah pernah mendengar sepeda tanpa pedal atau balance bike? Sepeda ini menjadi pilihan untuk beberapa ibu untuk mengenalkan jenis-jenis sepeda kepada si kecil, baik di wilayah Inggris, Belanda, Amerika Serikat, bahkan saat ini sudah mulai banyak digunakan di Indonesia.

Mengulik sedikit sejarah dari lahirnya balance bike untuk balita, pertama kali inovasi balance bike ditemukan pada tahun 1817 dengan nama walking machine, dan menjadi sepeda pertama yang diciptakan pada saat itu, dilansir dari laman healthland.time.com. Pada tahun 2007, Ryan McFarland, seorang mekanik, memiliki keinginan untuk membuat balance bike untuk Bode McFarland agar bisa bersepeda dengannya. Strider menjadi perusahaan sekaligus inventor pertama yang mengembangkan balance bike hingga saat ini.

Lalu, apa yang menjadikan balance bike menjadi rekomendasi untuk dapat digunakan si kecil? Berikut beberapa manfaat balance bike yang dapat menunjang perkembangan si kecil.

8 Manfaat Balance Bike untuk Si Kecil

Balance bike ditujukan sebagai pelatihan awal sekaligus pengenalan kepada si kecil sebelum naik sepeda. Selain itu, balance bike juga dapat membuat anak berlatih dengan lebih santai tanpa harus merasakan tekanan, sehingga Ibu tidak kesulitan mengenalkan bersepeda sejak dini pada si kecil. Berikut manfaat-manfaat lain yang dapat dirasakan si kecil dalam mengendarai balance bike.

  1. Mudah Digunakan

    Balance bike memang tidak memiliki pedal, tetapi jenis sepeda ini dapat digunakan dengan mudah oleh si kecil. Cadel Evans, mantan pembalap sepeda profesional dari Australia dan pemenang dari Tour de France tahun 2011 menjelaskan, si kecil dapat belajar dua hal dari belajar sepeda, yaitu keseimbangan dan cara menggunakan pedal. Balance bike tidak memiliki pedal, sehingga anak-anak hanya fokus terhadap satu hal, yaitu keseimbangan. Balance bike juga memberi ruang untuk anak dapat berhenti menggunakan kakinya, menyetir dan berputar, membuat si kecil dapat mengontrol, seiring dengan rasa percaya diri yang tumbuh saat berkendara. Hal ini membuat balance bike mudah digunakan untuk si kecil.

  2. Membangun Kekuatan dan Koordinasi

    Desain dari balance bike mendorong anak untuk menggunakan lengan mereka dan mengangkat kaki mereka ketika sedang maju ke depan. Si kecil dapat membangun kekuatannya sendiri sesuai dengan kesiapannya, serta membantu melatih kemampuan motoriknya, yaitu koordinasi dan kelincahannya. Tak hanya itu, balance bike juga dapat membantu meningkatkan fokus dan kemampuan belajar si kecil. “Saat anak-anak mencoba untuk membuat diri mereka stabil, mereka belajar bagaimana cara untuk fokus dengan cepat dan lebih efisien.”, ungkap Catherine Jackso, Ph.D., dari California State University di Fresno.

  3. Lebih Aman

    Tempat duduk dari balance bike lebih cenderung mendekati dasar pijakan, sehingga apabila si kecil terjatuh tidak akan jauh dari permukaan dasar pijakannya. Sedangkan, sepeda roda tiga memiliki manuver yang kurang fleksibel, sehingga ketika si kecil berada pada landasan yang tidak rata atau bergejolak. Balance bike memiliki fokus untuk si kecil dapat menemukan keseimbangan, dibandingkan mengayuh dengan pedal. Selain itu, balance bike dapat melaju dengan cepat berdasarkan dengan dorongan kaki si kecil, sehingga Ibu tidak perlu khawatir jika si kecil terjatuh akibat terlalu kencang.

  4. Family Time

    Mengendarai sepeda merupakan kegiatan di luar ruangan yang dapat dilakukan bersama dengan keluarga. Hal tersebut dapat mendorong aktivitas secara fisik dan outdoor exploration secara bersama-sama. Adanya balance bike, si kecil yang masih balita pun dapat turut mengendarai sepedanya sendiri. Sehingga, seluruh anggota dapat menjelajahi alam bebas secara bersama-sama. Balance bike juga mudah dimasukkan ke dalam mobil, di mana dengan tidak adanya pedal akan membuat penyimpanannya mudah diatur.

  5. Ringan

    Balance bike dua atau tiga kali lebih ringan dibandingkan sepeda dengan pedal atau training wheels, pada beberapa sepeda mungkin lebih berat dibandingkan dengan si kecil yang mengendarainya. Di samping itu, anak dapat mengendarai sepeda sejauh mungkin sesuai dengan kekuatannya tanpa merasa lelah dan menaiki jalanan yang lebih menanjak tanpa merasa terbeban dengan berat sepeda.

  6. Minim Risiko Cedera

    Saat pertama kali belajar naik sepeda, Ibu pasti ada perasaan deg-deg-an si kecil terjatuh dari sepeda. Dilansir dari laman people.com, anak dapat mengendalikan sendiri kapan ia bergerak atau berhenti menggunakan kedua kakinya yang dapat langsung menginjak permukaan bumi. Selain itu, kecepatan mengendarai balance bike juga diatur sendiri oleh pengendara, hal ini membuat si kecil memiliki risiko cedera yang minim. Ketika si kecil ingin berhenti ke pinggir jalan, otomatis ia akan mengatur kakinya untuk melambat. Kursi yang lebih rendah dibandingkan sepeda biasa, sehingga terhindar dari kemungkinan si kecil jatuh berkali-kali. Beberapa dokter anak menyarankan untuk memilih balance bike dibandingkan training wheels untuk mengurangi dampak negatif jika si kecil terjatuh dan berpengaruh pada pertumbuhan tulang belakangnya.

  7. Bisa Dimulai Sejak Dini

    Rekomendasi umur yang disarankan untuk si kecil mulai menggunakan balance bike adalah umur 3 sampai 5 tahun, tentunya tergantung dari kesiapan masing-masing anak. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk balita yang sudah berumur 18 bulan dapat mengendarai balance bike. Jika si kecil sudah bisa berjalan dengan lancar dan memiliki tinggi yang cukup untuk menginjakkan kaki saat berdiri saat ingin menaiki balance bike, maka ia sudah bisa menggunakan balance bike. Anak yang menggunakan balance bike sedari dini, lebih cepat catch up dengan sepeda biasa dengan mereka yang tidak menggunakannya. Rasa kepercayaan diri yang dimiliki oleh si kecil saat mengendarai balance bike, juga bisa dirasakan dirinya saat ia menaiki sepeda biasa, dikarenakan si kecil sudah terbiasa menjaga keseimbangan melalui balance bike.

  8. Aktivitas Fisik yang Lebih Menyenangkan

    Ketika memasuki usia 1 tahun, kebutuhan sosial yang dimilikinya juga sudah mulai berkembang, termasuk menirukan apa yang menjadi perilaku orang yang lebih dewasa dibandingkan dirinya, salah satunya ketika bepergian bersama dengan keluarga menggunakan sepeda. Apabila Ibu memutuskan untuk beraktivitas di luar menggunakan sepeda, si kecil sudah dapat mengendarai sepedanya sendiri menggunakan balance bike, sehingga ia tidak merasa “sendirian” karena sama-sama melakukan kegiatan tersebut dengan keluarga. Anak cenderung menyukai aktivitas yang dapat dilakukannya sendiri jika ia sudah menguasainya, balance bike mampu membantu dirinya mengasah kemampuan yang dimilikinya secara mandiri. Aktivitas fisik dengan menggunakan balance bike juga lebih menyenangkan dan mudah untuk digunakan. Selain itu, anak juga dapat ditumbuhkan kesadaran akan kebiasaan untuk hidup sehat sedari dini.

Meskipun kegunaan dari balance bike memiliki banyak keuntungan, masih ada sebagian Ibu atau orang yang lainnya memiliki pertimbangan dalam memilih balance bike atau training wheels. Berikut pro dan kontra yang dapat Ibu lihat sebagai pertimbangan memilih balance bike.

5 Pro dan Kontra dari Balance Bike

Laman embraceoutside.com mencoba menjabarkan beberapa pro dan kontra dari menggunakan balance bike. Berikut rinciannya.

Pro

  • Anak mudah untuk melatih kemampuan motoriknya dari segi keseimbangan dan koordinasi sedini mungkin. Rasa percaya diri pada anak dapat tumbuh dan diharapkan dapat meminimalisasi rasa takut pada anak ketika ia akan beralih pada sepeda reguler.

  • Lebih aman digunakan karena mengeliminasi distraksi dari menggunakan pedal dan rantai untuk mendorong berputarnya pedal. Risiko cedera juga lebih minim, karena si kecil dapat berhenti dengan kedua kakinya sebelum terjatuh.

  • Mengakomodir penggunaan untuk jarak umur yang lebih besar. Model dapat digunakan dimulai dari umur 18 bulan sampai dengan 6 tahun. Sehingga, balance bike tidak using setelah umur anak beranjak lebih besar. Bahkan ada beberapa model yang dapat dikembangkan sesuai dengan tingkat kepercayaan diri anak.

  • Ada beberapa kisaran harga dimulai dari yang murah sampai yang mahal dengan tujuan untuk pengguna yang lebih berpengalaman. Terdapat juga beberapa model dan warna seperti sepeda dengan pedal.

  • Balance bike juga memiliki model yang eco-friendly, yaitu terbuat dari kayu. Model dengan kayu menggunakan kayu brich yang dapat digunakan kembali jika sepeda sudah tidak digunakan.

Kontra

  • Beberapa pengguna merasa bahwa balance bike hanya bersifat sementara, atau segera usang seiring bertumbuhnya anak.

  • Ada beberapa model yang cenderung baru, tetapi selang beberapa waktu ada inovasi dari model lain yang lebih baru. Hal ini membuat beberapa pembeli merasa bahwa balance bike tidak bertahan lama.

  • Model balance bike dengan kayu memang terlihat lebih menarik, tetapi butuh perawatan yang ekstra supaya sepeda tetap terjaga kualitasnya.

  • Karena balance bike diharapkan dapat digunakan sesuai dengan pertumbuhan fisik anak, membuat pilihan balance bike cenderung lebih banyak dengan rentang umur anak yang cenderung sedikit. Misalkan, balance bike untuk umur 18 bulan, dapat memiliki besaran yang cukup signifikan dengan anak yang berumur 24 bulan, sehingga kemungkinan Ibu harus membeli lagi yang baru.

  • Walau ide balance bike ini memiliki beberapa keunggulan untuk anak yang baru pertama kali mengenal sepeda, beberapa orang merasa bahwa pada akhirnya setiap anak akan belajar menggunakan sepeda reguler, sehingga tidak perlu mengenalkan anak pada suatu inovasi lain yaitu balance bike.

Kailyn Baum dari Pedalheads Bike Camps, menjelaskan bahwa balance bike atau training wheels memiliki keunggulan yang berbeda dari masing-masing penggunaannya. Balance bike mengajari anak untuk menyari keseimbangannya sendiri, sedangkan training wheels mengajarkan anak untuk bersepeda menggunakan pedal. Memang kebanyakan anak yang menggunakan balance bike dapat menemukan rasa kepercayaan dirinya saat berpindah ke sepeda regular, tetapi tidak menutup kemungkinan anak yang menggunakan training wheels juga memiliki kepercayaan diri yang sama ketika berpindah ke sepeda reguler. Kembali lagi, tergantung pada kesiapan dari masing-masing anak, serta pengalamannya belajar dengan menggunakan balance bike atau training wheels. Tentunya, tergantung juga dengan kesiapan Ibu dalam mengajari anak menggunakan yang mana. Selamat memilih media untuk belajar bersepeda yang terbaik untuk si kecil, Bu!

(Hadassah/ Dok. Unsplash)