Balita Dibaca 674 kali

Hindari 10 Kesalahan Orangtua Dalam Mendisiplinkan Anak

Share info ini yuk ke teman-teman
Dwi
Hindari 10 Kesalahan Orangtua Dalam Mendisiplinkan Anak

Perlunya mendisiplinkan anak dalam kesehariannya bisa berdampak pada keteraturan anak menjalankan rutinitas dan bagaimana mereka bertanggung jawab pada setiap konsekuensi pilihan. Selain itu, mendisiplinkan anak juga baik untuk kepribadian dan hubungan sosialnya saat ini hingga ia dewasa. Namun apakah orangtua sudah mendisiplinkan anak dengan benar? Jangan-jangan, justru selama ini orangtua tidak tahu kalau sudah salah arah?

Mendisiplinkan anak bukan tentang memberi hukuman agar anak jera lho, Bu. Dengan mendisiplinkan anak, mereka akan mempelajari apa yang ia lihat dari orangtuanya. Tidak mungkin mengharapkan anak akan disiplin jika orangtuanya sendiri tidak disiplin. Selain itu, anak yang tumbuh dengan kedisiplinan akan menjadi anak yang lebih bahagia, menyenangkan, dan bisa mengontrol dirinya sendiri tanpa arahan orang lain.

Lalu, apa saja kesalahan orangtua yang sering tidak disadari dalam mendisiplinkan anak? Yuk, simak penjelasan berikut beserta solusi untuk memperbaiki cara mendisiplinkan anak dengan benar:

  1. Cuek dan Memilih Tidak Mendisiplinkan Anak

    Big No untuk orang tua yang memilih membiarkan anak-anak melakukan segala hal yang mereka mau tanpa aturan yang jelas. Ungkapan “namanya juga anak-anak” atau “anak kecil belum mengerti” seringkali menjadi tameng para orangtua yang memilih untuk membiarkan anak mereka tidak disiplin dan tidak bertanggung jawab untuk hal yang mereka lakukan.

    Menjadi anak-anak bukan berarti bebas melakukan kesalahan dan bebas menjalani hari tanpa aturan. Orangtua yang memilih untuk tidak mendisiplinkan anak akan membesarkan anak yang egois, susah diatur, sulit berbaur karena sikapnya tidak baik, dan sosoknya tidak menyenangkan bahkan mengganggu orang lain di sekitarnya. Sayangnya, juga ini akan membawa dampak buruk pada kehidupan sosialnya. Lalu bagaimana mengatasinya?

    Berikan aturan dan jabarkan tanggung jawab anak dengan jelas, singkat, dan mudah dimengerti anak. Bila perlu, ajak anak untuk membuat kesepakatan bersama dan menulisnya untuk selanjutnya ditempel di dinding rumah agar bisa dilihat dan dievaluasi bersama.

    Aturan yang jelas akan membantu anak memahami bahwa ia memiliki tanggung jawab akan dirinya dan sekitarnya di keluarga. Jelaskan tentang konsekuensi saat melakukan kesalahan atau melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. Hindari membuat kesepakatan secara sepihak. 

  2. Memaksakan Cara Tunggal dalam Mendisiplinkan Anak

    Ibu tentu tahu bahwa setiap anak itu berbeda. Tidak bisa sama. Urusan makan saja bisa beda selera, begitu juga dengan aturan mendisiplinkan anak. Cara A bisa jadi cocok untuk keluarga di rumah tetangga, tapi bisa jadi gagal total jika diterapkan di keluarga Ibu.

    Contoh sederhananya adalah, anak A sekali saja dijelaskan bahwa merapikan tempat tidur setelah bangun penting dilakukan. Sedangkan anak B membutuhkan jadwal tertulis yang ditempel di meja belajarnya, dan diingatkan kembali tentang hal ini malam sebelumnya menjelang tidur dan saat anak membuka mata di pagi hari.

    Anak C hanya perlu diingatkan bahwa mainannya akan rusak jika ia melemparnya sembarangan. Tapi anak D membutuhkan 2-3 kali peringatan, sampai membiarkan mainannya rusak sebagai konsekuensi atas perbuatannya sendiri untuk bisa memahami bahwa mainannya adalah tanggung jawabnya.

    Yang perlu Ibu lakukan adalah mencoba berbagai cara dan mengamati mana yang paling sesuai dengan karakter anak Ibu. Anak pertama sangat mungkin membutuhkan cara mendisiplinkan yang berbeda dengan anak kedua. Lakukan saja dengan lembut dan tentukan cara yang paling tepat dengan mengamati reaksi anak.

  3. Orangtua Tidak Menjadi Teladan Bagi Anak

    Dalam mendisiplinkan anak, orangtua yang tidak menghargai anak biasanya membuat beberapa aturan yang ditetapkan untuk anak, tapi tidak diteladani oleh orangtua. Terlebih jika orangtua justru melakukan kebalikannya.

    Misalnya, orangtua ingin anak tidak berteriak-teriak saat berbicara. Tapi saat memperingatkan anak, orangtua bicara dengan berteriak. Hal ini tentu membuat anak menjadi bingung.

    Contoh lain, orangtua ingin anak berbicara lembut dan tidak kasar. Tetapi orangtuanya justru bicara dengan kasar dan terdengar mengintimidasi orang lain. Sungguh berkebalikan, bukan?

    Yang bisa Ibu lakukan adalah memberi contoh terlebih dahulu apa yang Ibu ingin anak lakukan. Ibu ingin anak bicara dengan lembut? Maka mulailah dengan berbicara yang halus saat menjelaskan pada anak. Jika Ibu ingin anak tidak mengintimidasi temannya, maka contohkan bahwa Ibu menghargainya dengan tidak mengintimidasinya.

  4. Marah Saat Mendisiplinkan Anak

    Luapan emosi marah bisa merusak segalanya. Saat Ibu berkomunikasi dengan marah, anak bisa salah mengartikan kalimat Ibu, mudah mengabaikan aturan, dan menganggap ucapan Ibu tidak penting. Pesan yang ingin Ibu sampaikan pun jadi tidak bisa dimengerti anak.

    Yang bisa Ibu lakukan, pertama adalah mengambil waktu untuk cooling down. Tarik napas dan menyingkirlah sejenak untuk menguasai emosi. Jika sudah tenang, jelaskan tentang kesalahan anak dan kemukakan apa yang seharusnya anak lakukan.

  5. Orangtua Plin-Plan dengan Kesepakatan Bersama

    Plin-plan yang dimaksud dalam mendisiplinkan anak berarti orangtua tidak konsisten pada aturan yang dibuat sendiri.

    Misalkan, jika orangtua ingin anak gosok gigi sebelum tidur, lalu ketika menginap di rumah kakek-nenek rutinitas tersebut ditiadakan atau membiarkan anak melewatkan waktu sikat giginya. Setelah kembali ke rumah sendiri, jangan heran jika anak akan kembali tidak mau diajak menyikat gigi.

    Rutinitas yang sudah dijadwal untuk dilakukan setiap hari hendaknya tetap dilakukan di mana pun anak dan orangtua pergi. Sehingga anak tetap disiplin dengan aturan, rutinitas, dan kebiasaan lainnya.

    Di contoh lain, orangtua ingin anak membersihkan kamarnya setiap pagi. Tetapi ada suatu hari di mana anak tidak membersihkan kamar tapi orangtua tidak mengingatkannya. Hal ini akan membuat anak berpikir bahwa tidak masalah jika ia tidak membersihkan kamarnya.

    Orangtua perlu menetapkan aturan yang jelas, sederhana, tegas, dan konsisten dilakukan. Pantau setiap kebiasaan mendisiplinkan anak dan hindari melewatkan atau melanggar aturan yang sudah dibuat. Jika anak tidak melakukan sesuatu sesuai aturan, konsistenlah dalam memberi konsekuensi logis.

    Sebisa mungkin hindari memberi hukuman yang tingkatannya berbeda untuk kesalahan yang sama. Cobalah konsisten dan fokus pada inti dari kebiasaan disiplinnya.

  6. Menjelaskan dengan Berbelit-belit

    Otak anak dirancang untuk menyerap kalimat sederhana. Hal ini berfungsi untuk memudahkan ia memproses informasi sesuai usianya. Artinya, orangtua sebaiknya tidak bisa memberi penjelasan panjang lebar untuk mendisiplinkan anak, karena sudah pasti fokus mereka akan cepat berubah.

    Untuk anak dengan usia lebih kecil, gunakan kalimat langsung dan sederhana. Sedangkan untuk anak usia sekolah yang lebih besar, buatlah penjelasan Ibu menjadi sebuah diskusi dua arah dengan mengajak anak memberikan pendapatnya. Baru kemudian masukkan poin kedisiplinan yang ingin Ibu sampaikan pada anak.

  7. Menggunakan Banyak Kata dan Kalimat Negatif

    Penggunaan kata ‘tidak’ dan ‘jangan’ merupakan kelemahan setiap orangtua .Sulit untuk menghindari dua kata ini saat berbicara pada anak. Padahal, penggunaan kedua kata ini sebisa mungkin harus dihindari saat mendisiplinkan anak. Hal ini karena anak akan merespons langsung dengan penolakan. Sebaliknya, gunakanlah kalimat positif yang berarti sama.

    Misalnya, “sepertinya kalau diletakkan di sini, akan terlihat lebih rapi.” Untuk anak yang lebih besar dan sudah bisa mendebat, Ibu harus bisa mengelola emosi dan lebih bersabar menghadapinya. Tarik napas dulu, lalu jelaskan bahwa sikap melawan saat bicara tidak dibenarkan. Jika sudah sama-sama dingin, maka orangtua bisa mengajak anak berbicara tentang perilaku anak yang akan diperbaiki. Bila perlu, gunakan teknik komunikasi I-Message untuk memperbaiki interaksi orangtua dan anak.

  8. Berbohong Pada Anak

    Seringkali orangtua melarang anak berbohong, tetapi orangtua sendiri membohongi anaknya. Ini juga termasuk dalam hal sederhana seperti berbohong tentang rasa makanan (manis dibilang pahit agar tidak dimakan anak), berbohong tentang waktu (pamit pergi sebentar pada anak tetapi ternyata pergi seharian), atau berbohong tentang disuntik itu tidak sakit (padahal bisa dijelaskan bila disuntik akan sedikit sakit, lalu sakitnya menghilang).

    Hal-hal sederhana seperti itu bisa sangat berarti bagi anak. Sehingga ketika orangtua justru melakukan kebalikan dari apa yang seharusnya anak tidak boleh lakukan, mereka cenderung enggan didisiplinkan. Sebisa mungkin jadilah contoh yang baik agar mendisiplinkan anak terasa mudah. Jika orangtua disiplin, maka anak akan mengikuti.

  9. Menganggap bahwa Mendisiplinkan Anak Berarti Menghukum

    Orang tua perlu berhati-hati jika ingin berpendapat bahwa mendisiplinkan anak berarti menghukum. Padahal, mendisiplinkan anak berarti memberi anak batasan jelas tentang sesuatu. Ada aturan yang perlu mereka patuhi dan rutinitas teratur yang perlu dijalani.

    Mendisiplinkan anak berarti membantu anak memutuskan pilihan tepat dalam menjalani kehidupannya. Mendisiplinkan anak juga berarti memberitahu mereka mana yang baik dan tidak baik untuk dilakukan bagi dirinya, keluarga, dan orang di sekitarnya.

  10. Memukul Anak

    Mendidik anak dengan kekerasan sudah terbukti tidak efektif untuk mendisiplinkan anak. Mungkin anak akan terlihat patuh, namun mental anak akan hancur dan mereka akan hidup dalam ketakutan dan trauma. Anak yang hidup dengan bentakan dan kekerasan fisik maupun mental akan mengalami banyak gangguan dalam tumbuh-kembangnya.

    Mendisiplinkan anak bukan berarti menyerang anak dengan kata-kata kasar, teriakan, apalagi kekerasan fisik. Bahkan American Academy of Pediatrics tidak menyarankan penggunaan kekerasan fisik, kekerasan verbal, dan intimidasi pada anak dengan dilatarbelakangi oleh alasan mendisiplinkan. Orangtua perlu mengevaluasi diri kembali guna dapat memberikan cara terbaik dalam mendisiplinkan anak tanpa menyakiti mereka.

(Dwi Ratih)