Kesehatan

Kenali Disentri atau Diare Berdarah Pada Anak Yang Bisa Berakibat Fatal

Terakhir diperbaharui

Kenali Disentri atau Diare Berdarah Pada Anak Yang Bisa Berakibat Fatal
Penyebab disentri berasal dari bakteri usus. Bakteri ini berkembang aktif khususnya di lingkungan yang panas, jadi puncak penyakit jatuh pada bulan-bulan di musim panas. Infeksi disentri bisa terjadi melalui benda atau makanan yang terinfeksi. Orang yang paling umum terinfeksi disentri adalah mereka yang tidak mematuhi aturan kebersihan diri. Kadang anak bisa mengalami diare berdarah (disentri) hanya karena mengkonsumsi buah yang tidak dicuci bersih.
Disentri didefinisikan sebagai diare yang disertai darah, nanah, dan lendir yang biasanya disertai sakit perut. Disentri biasanya disebabkan bakteri atau parasit. Ada dua jenis utama disentri.
  • Yang pertama, amoebic dysentery (disentri amoeba) atau intestinal amoebiasis yang disebabkan oleh sel tunggal, parasit mikroskopik yang tinggal di usus besar.
  • Jenis kedua dinamakan bacillary dysentery, yang disebabkan oleh bakteri invasif.
Kedua jenis disentri ini paling umum terjadi di negara beriklim panas. Kebersihan dan sanitasi yang buruk meningkatkan resiko disentri, dengan menyebarnya parasit atau bakteri yang menyebabkan disentri melalui air atau makanan yang terkontaminasi feses manusia yang terinfeksi.

Gejala Disentri Pada Anak

Anak yang sudah masuk masa inkubasi bisa mengalami sakit kepala, hilang selera makan, dan sakit perut. Disentri berawal dari peningkatan suhu tubuh menjadi 38 hingga 39 derajat Celsius yang berlangsung hingga 5 hari. Gejala umum disentri antara lain rasa sakit saat buang air besar dan feses encer bercampur lendir dan darah, gejala lainnya berupa:
  • Kram dan kembung
  • Demam tinggi tiba-tiba
  • Mengeluarkan gas
  • Desakan untuk buang air besar
  • Berat badan menurun
  • Muntah
  • Lelah
  • Dehidrasi.
Anak akan merasa lemah dan kekurangan darah, atau berat badannya menjadi berkurang untuk waktu yang lama. Kasus diare berdarah ringan bisa berlangsung selama 4 hingga 8 hari, sedang kasus disentri parah berlangsung 3 hingga 6 minggu. Intestinal amoebiasis biasanya berlangsung selama 2 minggu.
Gejala bacillary dysentery dimulai dalam 2 hingga 10 hari setelah infeksi terjadi. Pada anak, penyakit diawali dengan demam, mual, muntah, kram perut, dan diare. Episode diare bisa meningkat menjadi setiap satu jam disertai darah, lendir, dan nanah pada feses anak.
Muntah bisa menyebabkan dehidrasi parah, yang memicu kematian bila tidak segera ditangani. Tanda dehidrasi termasuk mulut sangat kering dan mata sayu. Anak dan bayi akan merasa haus, gelisah, serta rewel. Anak juga mengalami mata sayu dan tidak bisa memproduksi air mata atau urin. Urin kadang berwarna sangat gelap dan pekat.
Kompliksi dari bacillary dysentery berupa berkurang kesadaran, kejang, dan koma. Infeksi yang sangat parah seperti ini bisa berakibat fatal dalam 24 jam. Tapi kebanyakan infeksi membaik secara spontan tanpa penanganan.
Orang dengan amoebic dysentery bisa mengalami masalah berbeda. Komplikasi paling sering terjadi ketika parasit menyebar ke liver, menyebabkan amoebic abscess. Pada kasus ini, penderita mengalami demam tinggi dan berat badan menurun serta rasa sakit pada bahu kanan dan perut bagian atas. Parasit biasanya menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di paru-paru, otak, dan organ lain.

Penanganan Diare Berdarah Pada Anak

Dokter akan meresepkan larutan glukosa. Jangan paksa anak segera meminum seluruhnya, ya Bun, tapi tuang ke sendok dan tawarkan ke anak. Setelah anak merasa lebih baik, ganti larutan dengan teh tanpa pemanis. Dokter juga akan meresepkan antibiotik. Berikan  obat sesuai resep dokter. Jangan hentikan pemberian antibiotik karena penyakit bisa kambuh atau menjadi kronis. Anak juga perlu mengonsumsi makanan khusus untuk penderita disentri seperti bubur.

Penyebab Disentri

Disentri bisa banyak penyebabnya. Infeksi bakteri menjadi penyebab yang paling umum. Bakteri penyebab disentri termasuk Shigella, Campylobacter, E. coli, dan Salmonella. Frekuensi tiap patogen bervariasi pada area berbeda. Misalnya shigellosis paling umum di Amerika Latin sedang campylobacter menjadi bakteri dominan di Asia Tenggara. Disentri jarang disebabkan oleh penyebab iritasi kimia atau cacing usus.
Intestinal amoebiasis disebabkan oleh parasit protozoa, Entamoeba histolytica. Amoeba bisa bertahan dalam waktu lama di usus besar. Pada kebanyakan kasus, amoeba tidak menyebabkan gejala, hanya 10 persen orang yang terinfeksi menjadi sakit. Intestinal amoebiasis umum terjadi di zona tropis. Orang bisa menjadi terinfeksi setelah menghirup feses seseorang yang mengandung parasit. Orang berisiko tinggi kontak dengan parasit melalui makanan dan air bila air untuk kebutuhan rumah tangga tidak terpisah dari air untuk buangan. Parasit juga bisa masuk melalui mulut ketika tangan dicuci di air yang tercemar.
Bila Anda tidak mencuci tangan sebelum mempersiapkan makanan, makanan bisa tercemar. Buah dan sayuran bisa juga tercemar bila dicuci di air berpolusi atau tumbuh di tanah yang diberi pupuk berupa kotoran manusia.
Bakteri Shigella dan Campylobacter yang menyebabkan bacillary dysentery bisa ditemukan di seluruh dunia. Bakteri ini masuk ke lapisan usus, menyebabkan bengkak, dan diare berdarah dan bernanah. Kedua infeksi ini tersebar dengan menghirup feses di air dan makanan yang tercemar. Bila Anda dan si kecil tinggal atau bepergian ke area yang padat yang bisa mengganggu kesehatan dan kebersihan, berarti Anda beresiko terpapar bakteri invasif. Anak kecil usia 1 sampai 4 tahun yang tinggal di area ini paling mungkin kontak dengan shigellosis, campylobacteriosis, atau salmonellosis.

Diagnosa Disentri

Bila dokter mencurigai si kecil terkena disentri, biasanya dibutuhkan contoh feses anak untuk dianalisa. Untuk infeksi bakteri seperti shigella, diagnosa dilakukan dengan kultur feses. Tapi kultur macam ini tidak tersedia di kebanyakan negara berkembang dan diagnosa dilakukan secara klinis berdasarkan gejalanya. Amoebiasis sering didiagnosa dengan menemukan parasit di bawah mikroskop. Tes darah bisa membantu mengkonfirmasi diagnosa disentri amoeba atau abses liver.

Penanganan Dan Pencegahan Disentri

Obat yang sifatnya anti parasit seperti metronidazole dan iodoquinol umumnya digunakan untuk mengatasi disentri yang disebabkan oleh amoebiasis. Antibiotik seperti ciprofloxacin, ofloxacin, levofloxacin, atau azithromycin digunakan untuk mengatasi organisme yang menyebabkan disentri bacillary.
Orang dengan diare berkepanjangan harus berkonsultasi dengan dokter. Bila bepergian, jangan lupa membawa antibiotik seperti ciprofloxacin selama 1 hingga 3 hari dan gunakan bila terjadi diare berat. Gunakan obat antidiare semacam loperamide untuk memperlambat dan mencegah dehidrasi. Konsultasikan ke dokter untuk penggunaan obat pada anak usia di bawah 2 tahun.
Menggantikan cairan yang hilang akibat diare sangat penting, ya Bunda. Pada kasus ringan, konsumsi minuman ringan, jus, dan air kemasan, sudah cukup. Tapi diare yang lebih parah perlu ditangani dengan larutan yang mengandung elektrolit seperti potasium, garam, dan sukrosa. Untuk diare parah, biasanya dibutuhkan larutan oral komersil. Anak perlu mengkonsumsi cairan yang cukup agar urin berwarna jernih hingga kuning cerah tiap 3 hinga 4 jam. Ketika terkena disentri, sebaiknya hindari produk susu.
Disentri bisa dicegah dengan mempraktekkan kebersihan personal. Bila Anda dan si kecil bepergian atau tinggal di area dengan tingkat disentri tinggi, ikuti saran berikut:
  • Jangan makan makanan yang dimasak di kondisi yang tidak sehat seperti dari penjual di pinggir jalan.
  • Hanya makan makanan yang dimasak dan telah dipanaskan di suhu tinggi. Jangan makan makanan matang yang telah dingin.
  • Jangan makan sayuran mentah. Hindari makan buah tanpa mengupasnya. Buka buah dengan mengupasnya sendiri.
  • Hanya minum air kemasan atau air yang telah dimasak. Jangan gunakan es kecuali yang dibuat dari air bersih.
  • Hanya gunakan air kemasan untuk mencuci dan memasak makanan, mencuci tangan, dan menyikat gigi.
  • Selalu bawa pembersih tangan berbahan dasar alkohol ketika bepergian.

Cara Alami Dan Cepat Menghentikan Diare Pada Anak

Diare menjadi masalah kesehatan yang sangat umum pada bayi dan anak kecil. Infeksi virus menjadi penyebab utama diare pada batita. Efek samping pengobatan, alergi makanan, parasit, dan bakteri jadi penyebab lainnya yang mungkin. Obat rumahan bisa digunakan untuk menghentikan diare pada batita bila tidak berlanjut selama lebih dari 36 jam. Tapi intervensi medis segera dibutuhkan bila diare disertai demam tinggi atau gejala lain. Anda harus memastikan si kecil terhindar dari dehidrasi. Ini jadi yang paling penting ketika diare terjadi. Diare bisa memicu dehidrasi pada batita yang kemudian menyebabkan masalah kesehatan yang serius.
Diare bisa ringan dan akut. Bila tidak diatasi dengan tepat, bisa berbahaya. Selain buang air besar yang tidak biasa, anak juga mengalami hilang selera makan, demam, kram, sakit perut, mual, dan darah atau lendir pada feses.
Diare dengan feses berwarna kuning pada batita umum terjadi dan bisa menjadi indikasi infeksi perut. Sistem kekebalan anak masih belum sepenuhnya berkembang,  jadi tubuhnya belum bisa melawan infeksi. Karenanya, feses yang berwarna kuning pucat dan encer sangat umum terjadi.
Bila batita Anda mengalami diare, ia bisa mengeluarkan feses dengan warna berbeda. Feses berwarna hijau normal untuk bayi baru lahir yang menyusu eksklusif. Kurang makan bisa juga menyebabkan feses berwarna hijau cerah pada batita. Batita dengan diare hijau harus diberi banyak cairan.
Diare batita lebih encer dibanding feses normal. Anda harus segera menghubungi dokter bila si kecil mengalami diare berkepanjangan, sakit perut parah, atau ada darah pada fesesnya. Tapi Anda masih bisa mengatasi kasus diare yang ringan di rumah dengan beberapa cara berikut:

1. Hindari Dehidrasi Pada Anak

Dehidrasi jadi komplikasi utama diare. Untuk mencegahnya, Anda harus tawarkan cairan ke anak yang bisa berupa jus anggur dan air putih. Bila anak masih menyusu, ia harus menyusu lebih sering. Untuk mencegah penurunan elektrolit, Anda bisa tawarkan minuman pengganti elektrolit. Minuman yang mengandung gula harus dihindari karena bisa memperburuk diare.

2. Pola Makan 

Pola makan BRAT bermanfaat menghentikan diare pada anak. Pola makan ini mencakup nasi, pisang, roti, dan saus apel. Perut batita sangat halus. Semua makanan ini lunak, jadi tidak akan mengganggu perut. Kandungan potasium pada pisang membantu anak mengatasi diare. Setelah memulai diet BRAT, buah dan sayuran harus diperkenalkan kembali pada pola makan anak setelah 48 jam. Daging dan produk susu bisa ditawarkan bila anak bisa mentoleransi makanan ini.
Selain diet BRAT, Anda bisa juga berikan yoghurt yang dicampur dengan kentang, wortel, atau roti. Tapi Anda perlu menghindari pemberian makanan tertentu seperti susu sapi, produk susu kecuali yoghurt, jus pir, jus apel, serta jus chery. Jus apel tidak bagus untuk batita yang terkena diare. Tapi saus apel bagus untuknya. Ini karena saus apel dibuat dari buah utuh. Sebaliknya, jus apel mengandung sorbitol atau gula alami. Sorbitol bisa menyebabkan diare.

3. Meningkatkan Lemak Dan Serat

Diare pada batita merupakan bentuk diare kronis. Karenanya Anda perlu meningkatkan jumlah lemak dan serat pada pola makan anak. Anda bisa berikan sereal, roti, buah segar, dan sayuran pada anak.

4. Pisang

Pisang mengandung nutrisi esensial sehingga dianggap sebagai makanan yang paling tepat untuk batita. Kandungan elektrolit potasium esensial pada pisang membantu otot dan mengatur darah di tubuh anak. Pisang juga kaya zinc, zat besi, magnesium, kalsium, vitamin C, vitamin B6, dan vitamin A. Pisang mengandung pemanis alami sehingga bayi akan menyukainya. Pisang juga menyediakan banyak energi untuk anak yang bagus untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Tapi, pisang yang belum masak bisa menyebabkan konstipasi, jadi harus dihindari. Anda bisa tawarkan pisang ke bayi selama proses penyembuhan dari diare karena bermanfaat menggantikan elektrolit yang hilang.

5. Jahe  

Jahe sangat bermanfaat untuk semua masalah pencernaan. Karenanya, jahe jadi pilihan bagus untuk mengatasi diare. Satu sendok teh bubuk jahe kering bisa dicampur dengan bubuk kayu manis dan madu. Campuran ini bisa dikonsumsi 3 kali dalam sehari. Minum teh jahe 2 sampai 3 kali sehari juga bermanfaat.

6. Cuka Apel 

Cuka apel memiliki kandungan antibakteri, yang sangat bermanfaat untuk mengatasi diare yang disebabkan oleh bakteri. Kandungan pectin di produk ini bermanfaat meredakan kejang. Campuran 2 sampai 3 sendok makan cuka apel di air putih bisa diberikan ke anak selama 2 kali sehari. Ini sangat bermanfaat untuk memperbaiki kondisinya.

7. Blueberry

Anthocyanosides pada blueberry memiliki kandungan antibakteri dan antioksidan. Blueberry juga memiliki serat yang mudah larut, yang bermanfaat untuk meredakan gejala diare. Mengunyah blueberry beberapa kali sehari menjadi cara terbaik untuk menghentikan diare. Ini bermanfaat untuk membunuh bakteri yang menyebabkan diare. Sup yang dibuat dari blueberry kering juga bisa diberikan ke anak.

8. Kentang

Kentang menjadi makanan yang efektif digunakan untuk melawan diare. Mengkonsumsi kentang yang sudah direbus bisa mengembalikan nutrisi yang hilang, juga menenangkan perut yang sakit. Tapi kentang pedas harus dihindari karena bisa memperburuk kondisi diare.

9. Nasi Putih

Nasi putih menjadi makanan selanjutnya yang bisa membantu mengatasi diare pada batita. Kandungan zat tepung pada nasi putih sangat tinggi sehingga sangat mudah dicerna. Nasi putih bisa diberkan tapi hindari penambahan bumbu atau saus.
Pada diare normal, feses biasanya berwarna terang hingga coklat gelap. Tapi bila ada lendir atau darah pada feses, ini mengindikasikan masalah yang berat seperti parasit atau cystic fibrosis. Bila buang air besar anak tidak normal, Anda perlu berkonsultasi ke dokter. Penanganan medis segera dibutuhkan bila anak menunjukkan tanda berikut:
  • Menolak makan atau minum
  • Diare berdarah
  • Muntah berulang
  • Perubahan perilaku, termasuk penurunan respon
  • Sakit perut.
(Ismawati)