Balita Dibaca 380 kali

Perhatikan 8 Hal Ini Saat Bayi Memasukkan Benda ke Mulut

Share info ini yuk ke teman-teman
Dwi
Perhatikan 8 Hal Ini Saat Bayi Memasukkan Benda ke Mulut

Bayi yang baru mengenal dunia memiliki cara eksplorasi yang beragam jenisnya. Salah satunya adalah proses mouthing atau fase oral pada bayi. Dalam fase ini bayi memasukkan benda ke mulut untuk mempelajari benda tersebut.

Pada eksplorasi oral bayi, bayi menggunakan mulut, tangan, dan semua inderanya untuk mempelajari bentuk, tekstur, aroma, rasa, bunyi, dan sebagainya.

Mengapa Bayi Memasukkan Benda ke Mulut?

Aktivitas bayi memasukkan benda ke mulut tidak berarti selalu buruk kok, Bu. Dilansir dari Mom Junction, bayi dilahirkan dengan memiliki refleks alami sebagai bentuk dari reaksi tiba-tiba otot terhadap stimulasi yang didapatkan. Ada dua jenis refleks, yaitu Rooting Reflex dan Suck Reflex.

Rooting Reflex terjadi saat pipi bayi diusap lembut. Bayi akan refleks mengarahkan kepalanya ke sentuhan tersebut dan mulutnya membuat gerakan mengisap seperti saat sedang menyusu.

Sedangkan Suck Reflex terjadi saat area mulut bayi disentuh dan bayi langsung membuat gerakan mengisap. Kedua refleks inilah yang merangsang bayi memasukkan benda ke mulut. Tenang saja, hal ini normal dan wajar.

Nah, kebiasaan bayi memasukkan benda ke mulut ini biasanya dimulai pada usia 4 bulan. Tetapi banyak juga yang sudah mulai pada usia kurang dari 4 bulan. Bayi yang lebih muda akan memasukkan genggaman tangannya atau bahkan kakinya ke mulut untuk dieksplorasi.

Pada awal momen makan di usia 6 bulan, bayi juga akan mencoba untuk memasukkan sendok, celemek, bahkan piring yang Ibu pegang ke mulutnya. Rasa ingin tahunya akan benda yang sedang dipegang orang lain juga semakin meningkat.

Hal lain yang terjadi adalah, bayi memasukkan benda ke mulut saat benda tersebut mudah dijangkau atau berada pada jarak pandangnya. Benda-benda yang mudah dicapai bayi bisa berupa benda-benda kecil di lantai atau yang setinggi posisinya saat merangkak.

Nah, yang satu ini cukup menghawatirkan dan memerlukan kewaspadaan. Tetapi dengan melakukan tindakan preventif yang tepat, tentu akan meminimalisasi terjadinya kecelakaan akibat fase oral bayi ini.

Dampak Positif Saat Bayi Memasukkan Benda ke Mulut

Kebiasaan bayi memasukkan benda ke mulut dipercaya akan baik untuk kesehatannya. Eh? Kok bisa? Saat bayi memasukkan benda ke mulut, benda yang sebelumnya mungkin terpapar bakteri dan kemungkinan tidak bersih, akan membantu tubuh bayi mengenal mikroorganisme apa saja yang harus diwaspadai. Sehingga tubuhnya akan terbiasa dan tahu bahwa bakteri jahat tadi harus dilawan dengan imun.

Meski tidak ada sumber penelitian yang menyebutkan hal ini benar, banyak orang percaya bahwa aktivitas ini justru akan membuat bayi kebal. Namun, tentu Ibu perlu menjaga kebersihan benda di sekitar si kecil, bahkan dengan rutin mencuci tangan dan kakinya ketika si kecil mulai terlihat suka memasukkan benda ke mulut.

Kebiasaan bayi memasukkan benda ke mulut juga bisa dikarenakan bayi sedang tumbuh gigi. Mereka sedang menyamankan gusi yang sedang bengkak dengan memasukkan segala macam benda ke mulutnya.

Nah, kalau yang satu ini bisa diakali dengan memberikan finger food dingin seperti timun atau tomat dingin ya, Bu.

Dampak Negatif Jika Fase Oral Bayi Tidak Terpenuhi

Di lain sisi, proses fase oral pada bayi ini akan membantu melatih otot mulut untuk keperluan makan dan berbicara. Eksplorasi dengan cara bayi memasukkan benda ke mulut akan membantu memperkuat rahang dan mengoordinasikannya dalam gerakan yang teratur bersama bibir, lidah, dan pipi. Inilah nantinya  yang akan mengembangkan kemampuan bayi saat berbicara dan makan.

Bahkan, lebih jauh lagi, fase oral ini akan berdampak pada perkembangan bahasa dan bicara. Bila fase oral cenderung dilarang, akan ada dampak dalam perkembangan kemampuan bicara dan bahasa bayi. Bisa berupa bayi terlambat bicara, atau kemampuan bahasanya tertinggal karena masih cadel atau bicaranya belum jelas.

Ada beberapa kasus bayi yang dalam perkembangannya mengalami hambatan karena fase oralnya terlalu sering dilarang, termasuk saat bayi memasukkan benda ke mulut. Yaitu momen peralihan tekstur makanan dari bubur ke makanan keluarga di usia 1 tahun.

Kebanyakan bayi yang menjelang usia 1 tahun dengan fase oral dihambat akan kesulitan makan makanan bertekstur utuh seperti makanan keluarga pada umumnya. Proses fase oral yang fokus pada perkembangan makan bisa dilatih dengan mengajarkan anak makan sendiri menjelang usia 1 tahun dengan sendok, garpu, atau alat makan lain. Bisa juga dengan eksplorasi finger food menggunakan tangan. Diharapkan dengan alat makan atau makanan padat, bayi akan belajar melatih organ oralnya terbiasa makan makanan keluarga.

Banyak orangtua yang memilih menunda naik tekstur saat masa MPASI karena takut anak tersedak. Padahal dalam fase oral di momen makan, tersedak oleh makanan juga bagian dari eksplorasi organ oral terhadap berbagai macam bentuk dan ukuran makanan agar bayi tahu sebesar apa makanan yang bisa ia kelola dalam mulutnya.

Selain benda asing seperti mainan atau pakaian yang coba dimasukkan bayi ke mulutnya, jari tangan dan kaki juga biasa menjadi ‘benda’ yang sering dieksplor bayi. Pada bayi yang masih muda, jari kaki adalah benda terdekat yang bisa ia mainkan. Kaki yang sudah mahir ia angkat otomatis akan ia dekatkan ke wajah. Maka bayi akan memasukkan jari kaki ke mulutnya untuk bermain.

Selain itu, jari tangan juga mudah untuk dimasukkan karena dekat dengan area oral. Seringkali, kebiasaan memasukkan jari tangan ke mulut berlanjut terus sampai usia toddler. 

Fase oral ini akan berhenti pada usia 3 tahun. Apabila hingga usia 3 tahun belum juga menghentikan kebiasaan, maka Ibu perlu mewaspadai hal ini sebagai kebiasaan yang sebaiknya tidak diteruskan.

‘Ngempeng jari’ misalnya. Ada anak yang bisa ‘ngempeng jari’ hingga usia masuk sekolah. Tentunya perlu upaya agar anak menghentikan fase ini pada usia 3 tahun. Artinya, bila kurang dari 3 tahun sebaiknya tidak dilarang agar tidak memengaruhi perkembangan fisik dan emosinya, sedangkan di sisi lain bila lebih dari 3 tahun sebaiknya dihentikan juga demi perkembangan fisik dan emosinya.

Mengapa perkembangan fisik dan emosi jadi terpengaruh juga? Fase oral yang dijalani sebelum usia 3 tahun baik untuk perkembangan rahangnya saat makan dan bicara. Baik juga untuk emosinya karena menenangkan anak. Sedangkan saat lebih dari 3 tahun, akan memengaruhi struktur rahang menjadi tidak sesuai dan anak juga jadi tidak bisa menemukan cara lain untuk membuat dirinya nyaman.

Hal ini juga berlaku untuk penggunaan dot. Sebisa mungkin anak sudah dilatih minum menggunakan gelas di ulang tahunnya yang pertama.

Risiko Bayi Memasukkan Benda ke Mulut

  • Tersedak

    Kemungkinan yang paling awal terjadi adalah tersedak. Bayi memasukkan benda ke mulut tanpa bisa memperkirakan apakah benda itu ukurannya sesuai di mulutnya. Bayi juga tidak tahu apakah benda itu aman atau tidak.

    Ukuran yang besar, permukaan yang tidak sesuai untuk organ oral, tentu akan membuat bayi tersedak. Biasanya bayi akan mengambil benda yang berada dalam jangkauan matanya. Maka penting bagi Ibu untuk waspada terhadap benda-benda yang berserakan dan mungkin diambil bayi.

  • Infeksi

    Terpaparnya benda dengan mikroorganisme asing akan membuat bayi mudah mengalami infeksi terutama pada pencernaannya, seperti diare yang sangat riskan dialami si kecil.

    Biasanya di momen merangkak, bayi sudah semakin mahir mencari benda untuk ia eksplor dalam mulutnya, maka risiko terinfeksi juga semakin besar. Baiknya Ibu lebih sering membersihkan mainan anak, lantai atau matras tempat anak bermain.

Yang Harus Diperhatikan Saat Fase Bayi Memasukkan Benda ke Mulut

  1. Berhati-hatilah terhadap benda tajam. Jauhkan bayi dari benda yang tajam dan berukuran kecil, seperti paku payung, pena, pensil bahkan pisau. Dampingi selalu bayi dan awasi jika ia mencoba memasukkan benda yang tidak wajar.

  2. Jauhkan obat-obatan dari jangkauan bayi dan anak, terutama yang berbentuk pil dan dikemas dalam kemasan yang mudah dibuka anak.

  3. Bersihkan seluruh area yang diakses bayi serta mainan yang sering dimainkan bayi. Bila memiliki lebih dari satu anak sebaiknya tidak berbagi mainan yang sudah dipegang anak lain apalagi jika salah satunya sedang sakit.

  4. Ganti benda yang bukan makanan menjadi makanan yang bisa bayi konsumsi sendiri seperti finger food berupa kentang goreng, daging yang diiris memanjang, buah potong, atau wortel dan mentimun.

  5. Pastikan teether dan empeng selalu bersih saat dimainkan bayi.

  6. Untuk bayi yang sudah lebih besar, Ibu bisa memberikan pengertian dengan kata “Itu tidak untuk dimakan”.

  7. Jauhkan cairan seperti alkohol, sampo, sabun cair, detergen, kosmetik, dan benda berbahaya lain dari jangkauan bayi. Posisikan lebih tinggi jika bayi sudah bisa berdiri sambil berpegangan pada benda.

(Dwi Ratih)