Balita

6 Cara Memberikan ASIP Ke Bayi

Terakhir diperbaharui

6 Cara Memberikan ASIP Ke Bayi
Ada banyak faktor ya Bun yang menyebabkan seorang ibu memberikan ASI perah ke bayinya. Misalnya, bayi yang baru lahir tidak melakukan pelekatan dengan baik, ibu tidak bisa menyusui langsung karena harus melakukan pemulihan dari puting yang luka atau sakit, bayi belum bisa menyusu optimal di payudara, atau ibu harus keluar rumah tanpa si bayi.

Nah, kalau kita bicara tentang cara memberikan ASIP ke bayi, pasti yang langsung terpikir di benak kita adalah menggunakan botol dan dot. Ternyata ada variasi metode lain yang bisa Bunda coba lho selain dengan dot. Semua metode pemberian ASIP yang ada tentu memiliki resiko dan manfaat. Untuk tahu metode mana yang paling cocok untuk Anda dan si kecil, Bunda bisa berkonsultasi langsung dengan konselor ASI.

Berikut ini adalah 6 cara pemberian ASI perah atau susu formula kepada bayi:

1. Menggunakan Botol Susu

Penggunaan botol susu jadi metode alternatif pemberian ASI yang paling umum dilakukan oleh sebagian besar ibu. Pemberian ASI melalui botol dianggap sebagai cara yang nyaman dan bisa diterima lingkungan sosial manapun. Botol susu bisa menjadi metode pilihan bila metode alternatif lain tidak berhasil. Tapi ada beberapa kekurangan dari penggunaan botol, antara lain:

  • Berlebihan memberikan ASI perah atau susu formula. Kalau ini terjadi pada bayi yang minum sufor,  ini akan meningkatkan resiko obesitas.

  • Minim kontak kulit dengan bayi. Kontak kulit dengan bayi jadi hal penting karena membantu meningkatkan level hormon oksitosin yang nantinya berpengaruh pada jumlah produksi ASI dan membantu mengatur detak jantung, suhu tubuh, serta tingkat gula darah bayi.

  • Adanya perbedaan pada gerakan lidah dan rahang bayi ketika menyusu melalui botol dibanding menyusu langsung di payudara. Pemberian susu formula dari botol juga meningkatkan resiko malocclusion (ukuran rahang dan gigi yang tidak seimbang).

  • Menurunkan kepercayaan diri ibu dalam menyusui. Khususnya bila ibu sering menggunakan botol, ia akan melihat bayi lebih rakus meminum ASI dari botol. Pesan yang terkirim ke ibu adalah ia tidak bisa mencukupi kebutuhan bayi atau ia tidak memproduksi ASI yang cukup untuk bayi.

  • Perbedaan aliran. Ketika bayi minum dari botol, ia bisa mendapat aliran susu yang konsisten lebih cepat dibanding ketika menyusu pada payudara. Ini akan meningkatkan resiko bayi tumbuh dengan preferensi menyusu pada botol.

Pastikan pemberian ASI dari botol digunakan hanya untuk pengaturan asupan dan hisapan, menelan dan bernafas. Ini sekaligus memastikan menurunkan resiko masalah menyusui seperti mogok menyusu langsung dari payudara (nursing strike).

Ketika memberikan ASI dari botol, perhatikan hal berikut ini:

  • Posisikan bayi duduk tegak dan perlahan rendahkan punggungnya ketika aliran ASI bergerak dari botol.

  • Pegang badannya mendekat ke tubuh Anda.

  • Ganti lengan tiap kali bayi disusui. Ini membantu memastikan perkembangan otak dan mata bayi.

  • Beri jeda menghisap sebelum lanjut menyusui.

  • Ikuti petunjuk bayi apakah ia sudah kenyang atau belum.

Sebagian besar ibu banyak yang mengeluhkan kalau anaknya menolak ASIP yang diberikan lewat botol susu. Jika ini terjadi pada si kecil, Bunda bisa melakukan cara beikut ini:

  • Gendong bayi dan ayun-ayun tubuhnya.

  • Hangatkan dan lembutkan botol susu dengan air hangat lalu dinginkan.

  • Tawarkan botol susu ketika bayi tidak merasa lapar tapi terjaga dan rileks .

  • Minta orang lain untuk memberikan ASI dari botol karena biasanya ia mengasosiasikan Bunda dengan menyusu langsung di payudara.

  • Berikan botol susu ketika bayi berada di posisi berbeda dari yang Anda gunakan untuk menyusui dari payudara, seperti telentang atau di atas kursi.

Jangan lupa Bun, Anda perlu mensterilkan botol susu dan dotnya. Susu jenis apapun bisa jadi sarang bakteri dan sterilisasi bisa mengatasinya. Bila Anda hanya menggunakan satu botol dan dot, akan lebih mudah dan cepat mensterilkannya di air panas selama 10 menit daripada harus repot menggunakan cairan steril.

2. Menggunakan Sendok

Pemberian ASI dengan sendok jadi cara tepat untuk memberikan ASIP dalam jumlah sedikit (misalnya kolostrum) ke bayi yang tidak bisa melakukan pelekatan atau menyusu dengan benar. Misalnya, ini bisa terjadi pada bayi-bayi yang mengantuk karena penggunaan obat bius selama proses kelahiran atau pada bayi yang mengalami penyakit kuning. Jumlah ASI yang sedikit diberikan melalui sendok bisa membantu membuat bayi terjaga, yang tadinya tidak bisa melakukan pelekatan, bayi menjadi bisa melakukan pelekatan dan menyusu.  Satu aspek keuntungan dari menggunakan sendok adalah bayi bisa menentukan kecepatan menyusunya sendiri.

3. Menggunakan Gelas

Menggunakan gelas bisa jadi alternatif aman untuk memberikan ASI perah atau susu formula ke bayi. Menggunakan gelas membuat lidah bayi bergerak ke bawah dan ke depan, sama seperti gerakan lidah selama menyusui. Menggunakan gelas dengan teknik yang benar dan aman membuat bayi mengontrol asupan ASI dan berhenti ketika dibutuhkan untuk mengatur nafasnya. Menggunakan gelas membuat bayi mengenal bau dan rasa ASI, serta memberi pengalaman makan oral yang positif tanpa mengganggu proses menyusui.

Penelitian telah menunjukkan kalau menggunakan gelas (dibanding botol susu) meningkatkan kemungkinan bayi yang lahir prematur akan mampu menyusu langsung dari payudara ketika pulang dari rumah sakit. Untuk bayi yang umurnya lebih besar, menggunakan gelas, misalnya dari gelas hisap, juga bisa jadi alternatif metode pemberian ASI yang baik.

4. Menggunakan Suplementer Menyusui

Suplementer menyusui merupakan alat berupa selang atau pipa yang disambungkan dari botol susu atau gelas, lalu ditempelkan ke payudara Anda. Nah, bayi bisa meminum susu formula atau ASIP melalui selang yang ditempelkan tersebut. Cara ini sangat cocok dilakukan untuk menstimulasi payudara agar memproduksi ASI lebih banyak atau untuk proses relaktasi (proses pemberian ASI kembali pada bayi setelah beberapa waktu tidak disusui karena alasan tertentu). Meski begitu, untuk beberapa ibu, suplementer bisa sulit digunakan dan dibersihkan. Agar metode suplementer berhasil, bayi harus mau menyusu dan ibu berperilaku positif ketika menggunakannya.

5. Menggunakan jari

Seperti pada penggunaan gelas, menggunakan jari membantu menjaga lidah bayi bergerak turun dan ke depan. Bila dilakukan dengan benar, pemberian ASI menggunakan jari membuat bayi mengontrol asupannya. Metode ini bisa digunakan untuk membantu membangunkan bayi baru lahir yang mengantuk dan tidak melakukan pelekatan, agar melakukan pelekatan pada payudara.

6. Menggunakan pipet

Pipet bisa digunakan untuk memberikan beberapa tetes ASI ke bayi yang bertujuan untuk membangunkan bayi. Tapi ada beberapa kekurangan dari metode ini, antara lain:

  • Tidak memfasilitasi menyusui.

  • Bisa meningkatkan resiko aspirasi.

  • Tidak membuat bayi mengontrol seberapa banyak ASI yang ia peroleh..

  • Bisa menyebabkan konfigurasi pursed lip .

Sebagai kesimpulannya, ketika memilih metode pemberian ASI ke bayi,  sangatlah penting untuk mempertimbangkan hal berikut ini:

  • Apakah metode pilihan Bunda menyebabkan bayi stres?

  • Harga dan ketersediaan alat yang dipilih.

  • Seberapa mudah metode tersebut bisa dilakukan dan dibersihkan.

  • Preferensi Anda.

  • Berapa lama antisipasi penggunaannya?

  • Dampak potensial pada menyusui langsung dari payudara.

Yang perlu diingat, rasa percaya diri dengan kemampuan Anda untuk menyusui sangat penting agar Anda tidak merasa perlu melanjutkan metode alternatif pemberian ASI ketika kebutuhan ASI si kecil sudah teratasi.
(Ismawati)