Balita

Cara Mengatasi Bayi yang Tidak Mau Menyusu

Terakhir diperbaharui

Cara Mengatasi Bayi yang Tidak Mau Menyusu

Duh, si kecil mogok menyusu lagi, ya Bunda? Coba dicek apakah kondisi mulutnya baik-baik saja. Bagaimana kesehatannya? Apa dia sedang tidak enak badan? Coba cek pula diri Anda sendiri, Bunda, apakah produksi ASI Anda masih berlimpah?

 

Bayi yang tidak mau menyusu memang bikin senewen. Terkadang hal ini dapat membuat para Bunda tidak percaya diri menyusui. Lebih parah lagi, kasus mogok menyusu kerap membuat Bunda menyerah memberikan ASI kepada si kecil dan bahkan langsung memutuskan menyapihnya segera. Aduh, jangan patah semangat dulu dong, Bunda. Kenali lebih dekat apa itu mogok menyusu dan bagaimana cara mengatasinya. Semua pasti ada jalan keluarnya, kok.

 

Apa yang dimaksud nursing strike?

Bayi disebut mogok menyusu (nursing-strike) apabila ia tidak mau menyusu padahal belum waktunya disapih. Mogok menyusu pada dasarnya merupakan cara si kecil mengatakan kepada Anda ada yang salah, entah pada cara ia menghisap ASI, masalah pada ASI Anda, atau ada yang salah pada tubuhnya.

 

Penyebab bayi tidak mau menyusu

Untuk mengetahui apa penyebab si kecil mogok menyusu memang tidak mudah. Anda harus mencoba menjadi seperti “detektif.” Namun setidaknya Anda bisa memeriksa beberapa hal yang merupakan pemicu umum bayi saat melakukan aksi mogok menyusu. Apa saja itu?

 

  1. Kondisi mulut yang tidak nyaman akibat tumbuh gigi, sariawan, atau infeksi mulut lainnya.     
  2.  
  3. Flu atau hidung mampet sehingga mereka kesulitan bernapas saat menyusu.
  4.  
  5. Infeksi telinga yang mengakibatkan tekanan atau rasa sakit saat menyusu.
  6.  
  7. Suplai ASI mulai berkurang atau sedikit.
  8.  
  9. Trauma karena pernah Anda marahi (atau setidaknya Anda menjerit) saat ia tidak sengaja menggigit puting Anda.
  10.  
  11. Bau tubuh Anda yang berbeda dari biasanya karena Anda sedang ganti sabun atau wewangian lainnya.
  12.  
  13. Jadwal menyusu yang tidak tentu dan lingkungan sekitar ketika si kecil menyusu terlalu ramai atau banyak gangguan sehingga konsentrasinya pecah.
  14.  
  15. Perubahan rasa ASI, yang bisa disebabkan oleh konsumsi vitamin atau obat Anda, atau bisa juga karena perubahan hormonal karena Anda sedang haid.

 

Apa yang harus dilakukan ketika bayi mogok menyusu?

Lalu, apa yang bisa kita perbuat ketika bayi mogok menyusu? Pertama, tentu saja Anda harus sangat sabar. Dengan kesabaran dan dukungan penuh dari Anda, si kecil bisa kembali semangat menyusu.

 

Bayi yang tidak mau menyusu otomatis menyapih dirinya sendiri. Tentu kondisi ini amat menyedihkan bagi Anda. Namun sebagai seorang Bunda, anggaplah hal ini sebagai tantangan baru. Dengan semangat ini, Anda tetap akan berupaya menyusui si kecil.

 

Bukan hanya Anda yang merasa tersiksa karena aksi mogok ini. Si kecil juga merasa sedih, lho, Bunda. Karena itu, saat si kecil enggan menyusu Anda bisa terus memberikan perhatian, dan kalau perlu perhatian ekstra, di samping tentu saja kontak fisik yang akan meningkatkan ikatan antara anak dan bundanya.

 

Saat si kecil mogok menyusu, biasanya orang tua khawatir anak akan kekurangan cairan sehingga memicu dehidrasi. Jika Anda cemas bayi Anda tidak mendapat cukup asupan ASI, coba perhatikan popoknya. Jika popok si kecil penuh sedikitnya 5-6 popok sekali buang setiap hari (atau 6-8 kali ganti popok kain per hari) itu artinya Anda tidak perlu khawatir. Si kecil mendapat cukup cairan, kok, Bun. Dia tidak akan dehidrasi karenanya.

 

Mogok menyusu biasanya terjadi sekitar 2-5 hari, meski ada pula beberapa kasus yang lebih dari itu. Sambil terus mengupayakan agar buah hati Anda kembali menyusu, Anda bisa memompa ASI sesering mungkin. Bisa juga dengan cara manual, yakni menekan payudara dengan tangan.

 

Mengapa ASI harus tetap dikeluarkan? Sebab hal ini banyak manfaatnya, lho, Bunda. Pertama, payudara dapat terus memproduksi ASI meski tidak langsung dihisap oleh si kecil. Alasan lainnya mengapa ASI harus dikeluarkan adalah agar penyumbatan ASI dapat dicegah, begitu pun masalah pembengkakan payudara dapat dihindari. Selain itu, meski mogok menyusu bayi tetap dapat menikmati ASI meski lewat botol, sippy cup, pipet, jarum suntik makan, atau sendok.

 

Solusi untuk mogok menyusu

Bagaimana solusi untuk anak mogok menyusu? Berikut beberapa kiat yang dapat Anda pelajari. Siapa tahu salah satunya cocok diterapkan untuk buah hati Anda.

  1. Lakukan aneka eksperimen terhadap posisi menyusui. Siapa tahu bayi kurang nyaman dengan posisi Anda menyusui selama ini.
  2.  
  3. Coba menyusui ketika bayi Anda sangat mengantuk. Banyak bayi menolak disusui ketika sedang melek namun bersedia menyusu saat menjelang tidur.
  4.  
  5. Susui si kecil sambil bergerak. Beberapa bayi lebih senang menyusu sambil ditimang-timang bundanya atau sambil berjalan-jalan.
  6.  
  7. Coba bawa si kecil ke dokter untuk memastikan apakah ada penyakit seperti infeksi telinga atau sariawan. Nantinya dokter akan memberikan obat untuk mengatasi masalah mulut si kecil. Anda bisa juga meminta saran kepada dokter bagaimana cara menyusui si kecil dalam kondisi seperti ini.
  8.  
  9. Susui buah hati Anda di tempat yang bebas gangguan. Banyak bayi usia 6-9 bulan mogok menyusu karena sedang senang-senangnya melihat lingkungan sekitarnya. Pada usia ini bayi sangat mudah teralihkan perhatiannya, sehingga mereka lebih memilih melihat-lihat hal-hal baru sambil hanya “bermain-main” pada payudara Anda dan bukan sambil menghisap ASI. Karena itu cobalah susui dalam kondisi lampu redup, ruangan sepi, jauh dari suara radio atau televisi.
  10.  
  11. Usahakan sebanyak mungkin melakukan skin-to-skin contact (kontak antar kulit) karena hal ini akan menyamankan bayi Anda dan ia merasa Anda sangat menyayanginya.

 

Membujuk bayi agar mau menyusu

Jangan memaksa bayi untuk menyusu. Memaksa bayi tidak akan berhasil, bayi jadi stres, dan menyebabkan ia terus menolak payudara. Ketika bayi sudah makin pintar menyusu dan bisa mendapat lebih banyak ASI melalui menyusu, anak akan percaya kalau menyusu tidak sulit dan ia juga akan lebih bersabar ketika melakukan pelekatan. Untuk mempermudah prosesnya, Ibu bisa lakukan hal berikut ini:

 

  • Kenakan pakaian yang memberi bayi akses yang mudah ke payudara. Bayi bisa sangat tidak sabar menunggu ibu menaikkan baju dan membuka bra. Jika bisa, ibu dan bayi berada di tempat yang hangat yang membuat ibu dan bayi bisa telanjang dari pinggang ke atas.
  •  
  • Memperbanyak kontak kulit bisa membantu bayi menyusu lebih baik dan bahkan menambah berat badan lebih cepat. Sebisa mungkin sering dekap bayi, dan beri ia banyak kesempatan untuk menyusu, meski bila Anda belum berhasil membuatnya menyusu. Lakukan kontak kulit, pertama saat ia mengantuk dan tepat setelah minum dari botol susu. Dengan begitu bayi bisa tidur dan terjaga dengan rasa senang, melakukan kontak kulit di payudara ibu, dan ibu hadir untuk menanggapi petunjuk rasa lapar paling awal dari bayi. Bila bayi bergerak ke payudara lalu tertidur bahkan sebelum mulutnya menyentuh puting, atau setelah menghisap dua kali, maka ini langkah yang positif, bukan kegagalan.
  •  
  • Sering tawarkan payudara. Cobalah menyusui di tempat favorit bayi, di posisi favoritnya, di saat mandi, ketika berjalan-jalan, saat berbaring, dengan posisi bayi tegak, bayi telentang, atau kapanpun dan dimanapun ketika bayi terlihat tertarik.
  •  
  • Jangan memaksa bayi untuk menyusu. Tawarkan dengan cara yang biasa dan berpura-puralah kalau Anda tidak keberatan bila ia menolak. Jangan menunjukkan rasa frustrasi Anda saat anak menolak untuk menyusu. Jangan tahan belakang kepala bayi, mendorong, atau menahannya untuk tetap berada di payudara. Bila bayi menarik diri dari payudara, maka jangan coba memaksanya kembali ke ke payudara. Anda bisa coba lagi nanti. Bila bayi terlihat frustrasi ketika Anda menawarkan payudara, jangan membuatnya tertekan, cukup sediakan akses yang mudah ke payudara (dengan banyak melakukan kontak kulit dengan anak) tanpa menawarkan si kecil untuk menyusu. Anda akan terbantu dengan melakukan banyak kontak kulit ketika ia mendekap payudara tanpa paksaan untuk menyusu. Biarkan bayi yang memutuskan kapan ia mau menyusu.
  •  
  • Gendong bayi dekat dengan Anda, gendongan bisa memudahkan Anda melakukannya. Coba gendong bayi di pinggang sambil melakukan aktivitas lain, bermain dengan bayi, dan beri ia banyak perhatian.
  •  
  • Tidur di dekat bayi. Bila bayi tidur bersama anda, Anda bisa lakukan kotak kulit, bayi juga punya akses ke payudara lebih mudah. Bila bayi tidak tidur di tempat tidur yang sama, letakkan tempat tidur bayi di sisi tempat tidur Anda atau di ruangan yang sama agar Anda bisa segera mengetahui petunjuk lapar darinya, proses menyusui di malam hari akan lebih mudah, dan Ibu bisa tidur lebih lama.
  •  
  • Nipple shield bisa membantu saat bayi di masa transisi ke payudara. Bicarakan pada konselor laktasi tentang penggunaan alat ini.
  •  
  • Sesi menyusui untuk menenangkan bayi harus diutamakan, lalu diikuti oleh sesi menyusui untuk menutrisi. Tawarkan payudara agar bayi nyaman setiap ada kesempatan untuk menyusui, ketika bayi akan tidur atau baru saja terbangun, saat bayi tidur atau kapanpun ia butuh menghisap untuk menenangkan diri. Bila bayi menolak menyusu, Ibu bisa lakukan kontak kulit dulu untuk menenangkannya, baru tawarkan untuk menyusu. Setelah bayi mulai bisa merasa tenang dengan cara menyusu, Anda bisa melanjutkan sesi menyusui untuk menutrisi si kecil.

 

Ingat bunda, Anda berusaha untuk mengembalikan bayi ke payudara. Jadi yang harus Anda lakukan adalah mebujuk si kecil, bukan memaksanya.

 

Teknik memberi reward

Untuk bayi baru lahir yang tidak melakukan pelekatan atau bayi yang lebih besar yang tidak mau menyusu, coba teknik berikut ini yang membantu mengajarkan bayi kalau menyusu adalah cara untuk memperoleh ASI:

 

  • Pompa ASI dengan tangan hingga keluar, tepat sebelum bayi melakukan pelekatan, jadi bayi mendapat “reward” langsung karena mau melakukan pelekatan.
  •  
  • Bila Anda menggunakan nipple shield untuk membuat bayi mau menyusu di payudara, coba isi bagian ujungnya dengan ASIP sebelum bayi melakukan pelekatan, agar ia bisa mencicipi ASI lebih dulu ketika melakukan pelekatan.
  •  
  • Teteskan ASI atau susu formula ke ujung puting dengan menggunakan pipet ketika bayi melakukan pelekatan. Anda bisa terus lakukan ini sambil menyusui. Teteskan ASI ke tengah bibir bagian atas bayi. Berikan ASI setetes demi setetes.

 

Bila bayi mulai menyusu tapi berhenti menghisap setelah aliran ASI melambat, Ibu bisa mengompres payudara untuk mempercepat aliran ASI.

 

Posisi laid-back breastfeeding

Kontak kulit dengan ibu dan teknik laid-back breastfeeding bisa sangat membantu ketika bayi tidak mau menyusu. Anda bisa coba teknik ini dengan masuk ke bathup berisi air hangat bersama bayi. Letakkan bayi di perut ibu, di air. Ajak bayi bicara. Ini bisa butuh waktu, bayi bisa mulai mencari cara ke payudara dan mulai menghisap. Pastikan ada orang yang membantu ibu ketika melakukan ini, demi keamanan bayi.

 

Bagaimana bila bayi tetap tidak mau menyusu?

Pastikan penyebab yang membuat bayi tidak mau menyusu bukan karena masalah fisik. Apakah bayi mengalami cedera ketika lahir atau kondisi lain yang membuat posisi untuk menyusui terasa sakit? Apakah bayi punya masalah dengan bernapas saat menyusu atau koordinasi antara menghisap dan menelan? Apakah bayi mengalami refleks muntah berlebihan yang membuat menyusu tidak nyaman? Apakah bayi mengalami refluks yang membuatnya merasa sakit saat menyusu? Apakah bayi sakit tenggorokan karena intervensi medis? Ini hanya beberapa hal yang bisa mengganggu menyusui.

 

Kadang bayi akan secara agresif tidak mau menyusu karena alasan yang tidak diketahui, bayi akan sering menolak digendong dan juga bisa mudah terstimulasi berlebihan. Bayi tetap bisa kembali ke payudara, tapi harus dengan cara yang sangat lembut agar ia merasa nyaman ketika berada di payudara.

 

Berikut ini daftar tahapan yang bayi alami saat transisi ke menyusui:

  • Bayi secara agresif menolak payudara
  •  
  • Bayi menangis lebih sering ketika digendong dibanding ketika diletakkan
  •  
  • Bayi ingin digendong di posisi yang sama
  •  
  • Bayi mau digendong dengan gaya cradle hold
  •  
  • Bayi berusaha mencari payudara
  •  
  • Bayi akan menjilat ASI di puting
  •  
  • Bayi mencoba menghisap
  •  
  • Bayi minum sedikit ASI di payudara
  •  
  • Bayi menyusu dengan baik bahkan sebelum let down terjadi
  •  
  • Mulai dengan menggunakan botol susu atau gunakan bentuk alternatif apapun yang Anda suka di posisi menyusu yang biasa Anda gunakan, tanpa menyusui. Bila bayi menolak digendong di awal, mungkin ada baiknya menyusui bayi di gendongan atau sambil memegang bayi dengan wajah menjauh dari Anda.
  •  
  • Bekerja sama dengan bayi hingga ia menjadi nyaman digendong di posisi manapun lalu digendong di posisi menyusui.
  •  
  • Setelah bayi nyaman digendong di posisi menyusui, mulai coba kontak kulit lebih banyak. Jangan secara aktif membuat bayi melakukan pelekatan sebelum ia merasa nyaman kontak kulit.
  •  
  • Ketika bayi nyaman di payudara, coba susui dengan botol susu di payudara. Anda berusaha membuatnya nyaman menyusu di posisi menyusui.
  •  
  • Langkah selanjutnya, mulai tawarkan payudara untuk tujuan menenangkan ketika ia sangat rileks dan mengantuk atau tertidur. Menyusui di posisi berbaring miring akan membantu, karena kotak tubuh berkurang di posisi ini.
  •  
  • Beberapa bayi akan menerima payudara setelah botol susu. Setelah bayi mau menerima payudara, Anda bisa mulai menyusui penuh.

 

Penggunaan botol susu

Banyak ahli menyarankan agar bayi tidak menggunakan botol susu atau dot ketika ia masih belajar menyusu dengan baik, kebutuhan menghisap bayi akan membantu proses menyusui. Tentunya, bila bayi mengalami bingung puting, cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan menghindari pemberian botol susu hingga ia bisa menyusu kembali langsung dari payudara.

 

Coba gunakan media lain untuk memberikan ASI selain botol susu, misalnya sendok atau pipet. Alat nursing suplementer juga bisa sangat membantu bila bayi bisa melakukan pelekatan dengan baik. Alat ini mendorong bayi untuk terus menyusu karena ia mendapat aliran ASI yang konstan sekaligus menstimulasi tubuh Anda untuk memproduksi ASI lebih banyak.

(Dini & Ismawati)