Terakhir diperbaharui .

Ayo Kenali Manfaat Skin To Skin dengan Bayi

“Lakukan skin to skin!” Kita sering mendengar saran ini di beberapa hari dan minggu pertama kelahiran bayi. Kita juga mendengar istilah golden hour setelah lahir, dimana ibu bersama bayi tanpa mendapat gangguan dari siapapun. Tapi seiring bayi tumbuh dan menjadi lebih mandiri, durasi skin to skin bisa jadi lebih pendek, ibu dan bayi juga lebih mudah terpisah.

 

Skin to skin berarti menggendong atau mendekap bayi sehingga kulitnya bersentuhan dengan Anda. Kulit Anda yang hangat bisa jadi hal pertama yang bayi rasakan setelah ia lahir. Ia bisa bersandar di tubuh Anda, perutnya bertemu perut Anda, atau perutnya berada di dada Anda. Bayi bisa mencium bau Anda, merasakan detak jantung Anda, mendengar napas Anda, dan merasa aman dan nyaman.

 

Skin to skin bersama bayi bisa untuk semua jenis kelahiran, dengan asumsi bayi dalam kondisi stabil, seperti kebanyakan bayi cukup umur saat lahir. Meski setelah menjalani operasi caesar, ibu bisa lakukan skin to skin dengan bayi, atau ayah bila ibu tidak bisa. Skin to skin untuk bayi prematur juga penting. Bila bayi dirawat di NICU, Anda bisa mendapat arahan  bagaimana menggunakan skin to skin untuk membantu menstabilkan bayi baru lahir Anda.

 

Manfaat skin to skin

Manfaat skin to skin pada bayi bisa dirasakan selama bertahun-tahun. Penelitian jangka panjang pada bayi yang ada di ruang NICU di pusat kesehatan Israel menemukan manfaat skin to skin tetap ada selama bertahun-tahun setelahnya. Setelah menilai anak di usia 10 tahun, peneliti menemukan manfaat bagi mereka yang melakukan skin to skin, termasuk pelekatan ibu yang lebih baik, penurunan kecemasan ibu, serta memperkuat perkembangan kognitif anak. Tak heran bila kontak kulit dianjurkan selama tinggal di rumah sakit dan setelahnya.

 

Berikut ini beberapa manfaat skin to skin lainnya:

 

  1. Meningkatkan fungsi jantung dan paru-paru

    Bayi melewati transisi dramatis setelah lahir ketika mempersiapkan tarikan napas pertama di luar rahim. Skin to skin oleh ibu bisa membantu bayi beradaptasi lebih cepat dibanding bayi yang tidak melakukannya. Bayi juga cenderung memiliki tingkat jantung dan napas yang lebih normal dan lebih stabil. Manfaat ini juga terbukti pada bayi prematur maupun yang cukup umur.

     

  2. Suhu tubuh stabil

    Selama hamil, ibu menjaga suhu tubuh janin dengan berkeringat ketika panas dan menggigil dan bergerak ketika dingin. Setelah lahir, bayi belum bisa melakukan kemampuan yang sama, jadi mereka tidak bisa menyesuaikan suhu tubuhnya. Untuk menjaga bayi agar tetap hangat, tubuh ibu lebih baik dibanding penghangat buatan. Sebuah penelitian yang membandingkan antara penghangat buatan, skin to skin oleh ibu, dan skin to skin oleh ayah menemukan tubuh ayah dan ibu lebih baik dibanding penghangat elektrik, dengan nilai ibu sedikit lebih tinggi dari ayah.

     

  3. Regulasi gula darah

    Bayi menggunakan gula darah untuk energi. Sebelum lahir, bayi mendapat glukosa melalui plasenta, setelah lahir, bayi memperolehnya dari ibu. Bila kebutuhan glukosa bayi (misalnya energi yang dibutuhkan untuk tetap hangat) melebihi yang ia dapat dari ASI atau dari livernya, ia akan mengalami gula darah rendah. Ini bisa menyebabkan masalah menyusu, yang bisa memperburuk masalah.

     

    Risiko gula darah rendah lebih tinggi pada bayi yang lahir dari ibu dengan diabates gestasional karena tingkat insulin lebih tinggi di darah mereka. Bila jumlah ibu yang mengalami diabetes gestasional meningkat, jumlah bayi yang berisiko gula darah rendah juga meningkat. Skin to skin di beberapa jam setelah lahir bisa membantu menstabilkan tingkat gula darah bayi.

     

  4. Membantu dalam menyusui

    Sebuah video oleh UNICEF menunjukkan bayi baru lahir berhasil menjangkau payudara ibu dan melakukan pelekatan tepat setelah lahir. Tiap bayi yang diletakkan di perut ibu, segera setelah lahir, memiliki kemampuan untuk menemukan payudara ibu dan memutuskan kapan menyusui untuk pertama kali. Insting bayi yang alami bisa membantunya melakukan pelekatan dan menyusu karena ia melakukan skin to skin dengan ibu atau juga dikenal dengan sebutan IMD (Inisiasi Menyusu Dini).  Bahkan banyak bayi di NICU bisa menyusu pertama kali pada payudara.

     

  5. Transfer bakteri baik

    Peran persalinan normal dibanding persalinan caesar dalam mentransfer bakteri baik dari ibu ke bayi tidak bisa dipandang sebelah mata. Melewati jalan lahir membuat usus bayi dihuni oleh bakteri di vagina ibu. Cara lain agar bayi terpapar bakteri ibu adalah melalui skin to skin setelah lahir. Bakteri di vagina dan pada kulit berbeda dari bakteri yang ditemukan di rumah sakit, jadi paparan awal membantu bayi mengembangkan bakteri yang sehat.

     

    Skin to skin juga membantu menyusu pertama. Beberapa gula kompleks di ASI manusia sulit dicerna bayi baru lahir, tapi jadi makanan sempurna untuk spesies bakteri yang melapisi dinding usus, meningkatkan fungsi pencernaan, dan memberi perlindungan dari bakteri berbahaya. Para ahli meyakini bakteri baik melindungi dari penyakit alergi.

     

  6. Lebih sedikit menangis

    Penelitian menunjukkan kalau bayi yang melakukan skin to skin, khususnya bersama ibu, cenderung menangis lebih sedikit dibanding bayi yang terpisah dari ibu. Beberapa ahli menganggap tangisan bayi sebagai “panggilan stres perpisahan,” yang menjadi refleks mamalia untuk memanggil ibu. Selama periode baru lahir, kebanyakan bayi berhenti menangis setelah disatukan dengan ibu, wajar bila bayi kurang menangis ketika ia merasa mendapat perlindungan dan keamanan dari ibu. Dengan menempatkan bayi di satu kamar dengan ibu di rumah sakit bisa membantu memastikan kalau ibu bisa merespon kebutuhan bayi dan sering memberikan skin to skin.

     

    Manfaat skin to skin juga membantu bayi tidur lebih mudah dan lebih lama. Ini membuat para ibu baru bisa mendapat istirahat dan menurunkan tingkat stres.

     

  7. Meredakan rasa sakit

    Penelitian pada bayi yang menjalani prosedur medis menunjukkan kalau bayi mengalami lebih sedikit rasa sakit ketika dilakukan skin to skin selama atau bahkan segera setelah prosedur medis, dan durasi sakit menjadi lebih pendek karena skin to skin. Skin to skin juga lebih bermanfaat dibanding glukosa oral (air gula, larutan tradisional) dalam meredakan sakit selama prosedur heel stick untuk sampel darah.

     

    Skin to skin bisa menjadi pereda sakit yang lebih baik ketika semakin lama berlangsung. Perbandingan 30 menit kangaroo care, 15 menit kangaroo care, dan perawatan di inkubator menemukan pereda sakit yang paling baik adalah skin to skin yang lebih lama.

     

  8. Memperkuat komunikasi ibu dan bayi

    Waktu setelah bayi lahir menjadi kesempatan untuk orangtua belajar tentang perilaku bayi, tanda lapar, tanda kenyang, tanda tidak nyaman, dan seterusnya. Bayi yang melakukan skin to skin membantu memastikan ibu mempelajari tanda dari bayi lebih awal, meningkatkan komunikasi, dan meningkatkan rasa percaya diri ibu serta membantu bayi mengembangkan rasa percaya dan aman.

     

  9. Mengurangi depresi pasca melahirkan

    Meski ada banyak faktor yang mempengaruhi depresi pasca melahirkan, penelitian baru menyatakan kontak skin to skin segera setelah bayi lahir bisa menurunkan tingkat depresi pada ibu. Menggendong, mencium, dan menyusui bayi segera setelah melahirkan menstimulasi pola hormon dalam tubuh ibu yang mendorong perilaku ibu. Bila pengalaman ini berkurang, beberapa ahli meyakini tubuh ibu menerjemahkannya sebagai sesuatu yang salah dengan kelahiran. Ini bisa menginduksi respon stres atau kesedihan, dan pada beberapa kasus bisa menciptakan rasa cemas, baby blues, atau depresi pasca melahirkan.

     

  10. Mempermudah transisi dari rahim

    Bayi yang menjalani skin to skin secara psikologis lebih stabil, dibanding bayi yang ditempatkan di penghangat setelah lahir. Bayi juga menunjukkan hasil perilaku lebih baik, seperti diindikasikan oleh banyak faktor yang telah disebutkan, termasuk kurang menangis, respon rasa sakit lebih rendah, dan menyusu lebih baik. Singkatnya, stres pada bayi setelah lahir jauh berkurang, ketika ia mulai berada di dunia yang baru.

     

    Ruth Feldman, seorang profesor psychology and neuroscience di Tel Aviv, menyebut skin to skin di hari-hari setelah lahir bukan pilihan tapi kebutuhan bagi semua mamalia, tidak hanya bayi manusia. Tiap mamalia harus berada dekat dengan ibu di hari-hari dan minggu pertama kehidupannya.

     

  11. Meningkatkan ikatan ibu dan anak

    Model kelahiran medis tradisional mengharuskan bayi berada di dalam penghangat, dan dipindahkan ke ruang bayi untuk monitoring oleh perawat, sedang ibu beristirahat di kamar. Model ini kemudian berubah, ibu dan bayi tinggal bersama sejak lahir selama tinggal di rumah sakit, kecuali ada kondisi medis yang membutuhkan pemisahan.

     

    Ketika ibu dan bayi tidak dipisahkan, ada beberapa kesempatan untuk saling mengenal. Sentuhan jadi hal penting agar mamalia bisa bertahan hidup, dan skin to skin memungkinkan ibu dan bayi menggunakan semua panca indera dalam memelihara hubungan baru yang penting ini.

 

Meski kebanyakan penelitian tentang manfaat skin to skin fokus pada manfaatnya selama beberapa jam pertama setelah lahir, semakin banyak penelitian menunjukkan manfaat skin to skin dapat meningkatkan kesehatan setelah beberapa hari pertama bayi lahir.

 

Skin to skin bersama ayah

Banyak persiapan kelahiran dan periode setelah lahir terkait dengan ibu dan bayi. Keduanya membutuhkan momen penting di jam pertama setelah lahir. Tapi semakin banyak penelitian terus menunjukkan pentingnya peran ayah selama kelahiran dan setelah persalinan.

 

Meski setelah periode pasca persalinan, kita tahu kalau interaksi ayah bisa berdampak pada kesehatan sosial dan emosional anak selama 10 tahun pertama, bahkan mungkin lebih lama. Dr. Nils Bergman mengemukakan pentingnya waktu skin to skin untuk ayah karena ini mendorong terjadinya proses rewired pada otak ayah.

 

Skin to skin sering disarankan sebagai aktivitas optimal untuk permulaan bayi. Dr. Nils Bergman melakukan penelitian yang menunjukkan dengan hanya melakukan skin to skin selama 30 menit bersama ayah sudah terjadi proses rewired pada otak ayah.

 

Ibu memperoleh manfaat dari perubahan hormonal alami selama dan segera setelah lahir, terutama hormon oksitosin, untuk membantu insting ibu muncul. Pada ayah, waktu yang dihabiskan bersama bayi dan merawat bayi membantu proses bonding antara bayi dan ayahnya. Dan skin to skin sebenarnya membantu insting sebagai ayah muncul.

 

Banyak proses di tubuh kita berlangsung dan berdampak pada hormon. Hormon kita dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk lingkungan dan tindakan kita. Ketika ayah menghabiskan waktu untuk skin to skin bersama bayi, terjadi perubahan hormonal di tubuhnya, termasuk peningkatan dopamine.

 

Dopamine bertanggung jawab untuk banyak hal, termasuk rasa senang. Peningkatan dopamine ditambah pelepasan oksitosin berarti otak ayah menciptakan asosiasi positif terhadap interaksinya dengan bayi. Skin to skin dengan ayah bisa membantu insting untuk menjadi orangtua secara alami muncul.

 

Kenapa skin to skin bersama ayah jadi hal penting?

Banyak ayah melewatkan sesi skin to skin, tapi ini tidak berarti Anda ayah yang buruk, meski penelitian menunjukkan ini jadi bagian penting dalam awal menjadi orangtua.

 

Mungkin karena ini berhubungan dengan asosiasi biologis yang positif terhadap bayi. Ketika jam 2 pagi dan bayi menangis, asosiasi positif ini bisa berarti ayah dapat mengatasinya dengan lebih baik. Ketika bayi rewel bersama ibu, ini bisa berarti ayah mengambil alih tanpa diminta. Asosiasi positif juga bisa berarti sedikit lebih percaya diri dalam membantu mengurus bayi, atau memilih menggendong bayi langsung tanpa menggunakan gendongan untuk waktu lebih lama.

 

Setiap bayi sebaiknya menghabiskan waktu skin to skin selama 30 menit bersama ayah di hari pertama kelahirannya. Meski apa yang terjadi pada hari pertama kehidupan bukan akhir dari keberhasilan sebagai orangtua, tapi bisa dan memang memiliki peran dalam perkembangan bayi serta ikatan anak dan orangtua.

 

Kita sering mendengar tentang pentingnya skin to skin antara ibu dan bayi karena membantu mencegah pendarahan pasca persalinan, membantu awal laktasi, dan membantu stabilitas suhu tubuh dan nafas bayi. Kita jarang mendengar tentang pentingnya skin to skin bersama ayah. Bayi mendapat manfaat dari skin to skin, tapi sepertinya di situasi ini, ayah juga menerima manfaat dari kontak kulit. Dengan mendorong skin to skin di hari pertama bayi, kita bisa membantu ayah mulai menjadi orangtua dengan cara yang positif. Proses rewiring pada otak ayah bisa berarti transisi yang lebih mudah tidak hanya bagi ayah tapi juga ibu dan bayi.

 

Skin to skin saat bayi demam

Oksitosin merupakan hormon yang sering disebut hormon cinta, bertanggung jawab untuk ovulasi, pengaturan laktasi, dan membuat ibu merasa lebih baik. Oksitosin punya efek langsung pada otak dan terbukti memfasilitasi pelekatan dan menimbulkan rasa emosional aman. Manfaat oksitosin tidak berhenti sampai di sini, tapi juga terlihat pada sistem saraf di jalan vagal, efek pada suhu tubuh, tekanan darah, dan kecemasan. Oksitosin bisa terlepas dan terserap melalui kulit melalui sentuhan, tekanan ringan, dan suhu yang hangat.

 

Skin to skin dengan bayi menstimulasi sentuhan ringan pada kulit, tekanan, dan panas alami tubuh bayi yang pada gilirannya meningkatkan pelepasan oksitosin pada ibu. Ketika bayi mengalami demam, skin to skin menyebabkan peningkatan pelepasan oksitosin.

 

Penerimaan oksitosin dari ibu ke bayi melalui skin to skin memicu pengaturan suhu tubuh serta penurunan detak jantung karena relaksasi. Penurunan pada detak jantung berefek pada penurunan tekanan darah dan peningkatan kemampuan bayi untuk mengatur suhu tubuh. Efeknya mengagumkan meski skin to skin berlangsung sebentar.

 

Meski skin to skin tidak menggantikan penanganan yang dianjurkan dokter, tapi perlu digunakan untuk meningkatkan penanganan dan kenyamanan anak ketika tidak enak badan. Demam tertentu, khususnya yang lebih tinggi dari 38 derajat Celsius, bisa mengindikasikan kondisi kesehatan serius dan bisa membutuhkan penggunaan obat penurun demam di bawah panduan dokter.

(Ismawati)