Keluarga Dibaca 394 kali

11 Penyebab Pernikahan Tanpa Seks. Alasan untuk Cerai?

Share info ini yuk ke teman-teman
Yusrina
11 Penyebab Pernikahan Tanpa Seks. Alasan untuk Cerai?

Pembahasan tentang hubungan intim bersama pasangan kerap dianggap tabu dan disimpan erat sebagai rahasia keluarga. Padahal tak jarang pasangan suami istri yang jarang atau bahkan tidak berhubungan intim selama bertahun-tahun tidak menemukan solusi. Kehilangan gairah, perasaan tidak nyaman, atau mungkin merasa enggan melakukan seks karena kelelahan bekerja menjadi alasan di baliknya.

Sebelum mengartikan ketiadaan seks sebagai hilangnya rasa cinta yang mengarah pada perceraian, Ibu perlu mengetahui beberapa fakta terkait sexless marriage berikut ini.

Alasan Umum Mengapa Pasangan Enggan Berhubungan Intim

Profesor Denise A. Donnelly, dalam wawancaranya dengan The New York Time, mengemukakan studinya tentang pernikahan tanpa seks. Ia memperkirakan bahwa 15% pasangan menikah tidak berhubungan seks dengan pasangannya dalam enam bulan hingga satu tahun terakhir. Sedangkan pasangan di bawah usia 30 tahun, melakukan hubungan intim setidaknya 111 kali dalam rentang satu tahun.

Ada banyak kemungkinan terkait ketiadaan seks dalam suatu hubungan, termasuk masalah kesehatan hingga faktor gaya hidup. Lalu sebenarnya sejak kapan sih pasangan memutuskan untuk berhenti melakukan hubungan intim? Studi Donnelly menunjukkan bahwa beberapa orang dalam sampel penelitiannya memang tidak pernah berhubungan seks sejak awal. Sementara, pasangan lain mengidentifikasi waktu atau peristiwa tertentu, misalnya persalinan atau perselingkuhan, yang membuat kegiatan seks melambat atau bahkan berhenti total. 

Studi Donnelly juga menunjukkan bahwa beberapa orang menjadi terbiasa dengan pasangannya, merasa bosan, dan seks menjadi sesuatu yang lambat dan tidak menggairahkan. Pada kasus lain, berhubungan intim dianggap sebagai tuntutan membesarkan keluarga, membangun karier, dan proses menjadi dewasa. Ada pula mereka yang memiliki dorongan seks sangat rendah bahkan tergolong aseksual. Orang-orang ini bisa jadi memiliki rasa bersalah saat berhubungan intim, masalah tidak suka dengan tubuh manusia lain, atau merasa bahwa seks itu "kotor" atau hanya untuk prokreasi.

Sementara itu, studi juga menunjukkan sejumlah kecil pasangan yang memiliki pola campuran dalam berhubungan intim, yakni ada masanya mereka melakukan seks terus menerus yang kemudian disusul oleh jeda panjang.

11 Alasan Pasangan Enggan Berhubungan Intim

  1. Masalah kesehatan

    Kesehatan fisik dan mental seseorang secara keseluruhan dapat berdampak besar pada libido dan keinginan mereka untuk bersentuhan. Hal tersebut juga dapat mengganggu proses fisiologis gairah pada kedua jenis kelamin. Perhatikan kondisi mental Ibu dan pasangan. Apakah ada yang mengalami burn out karena pekerjaan? Atau mengalami depresi? Jangan ragu untuk menghubungi psikolog tentang hal ini ya, Bu.

  2. Libido Tidak Cocok

    Tidak semua orang menginginkan jumlah seks atau durasi hubungan intim yang sama. Ketika hasrat untuk berhubungan seks tidak terjadi bersamaan, maka salah satu harus menunggu hingga mood datang. Solusinya tentu adalah mencari tahu faktor-faktor apa saja yang mampu menaikkan mood untuk bercinta.

  3. Persalinan

    Perempuan biasanya disarankan oleh dokter untuk tidak berhubungan seks setidaknya selama enam hingga delapan minggu setelah melahirkan. Stres tambahan saat merawat bayi, perubahan tubuh, kelelahan, dan faktor hormonal juga dapat memengaruhi libido wanita setelah memiliki anak.

  4. Merasa Tertekan

    Stres yang berlebihan dapat merusak kesehatan Ibu lho, termasuk dorongan seksual yang tidak terpenuhi. Hormon stres kortisol juga dapat berperan dalam menurunkan libido. Selain alasan fisik mengapa stres menurunkan gairah seks, efek psikologis stres dapat membuat Ibu cepat lelah, letih, dan cemas sehingga kehilangan hasrat atau energi untuk berhubungan intim.

  5. Masalah Komunikasi

    Saat Ibu berkonflik dengan pasangan, menjaga keintiman bisa jadi amat sulit. Jangankan melakukan aktivitas seksual, berbicara saja enggan.

    Faktor-faktor lain yang membuat pasangan enggan berhubungan intim:

    • Senang berkonflik dan adu argumen

    • Perasaan negatif

    • Bersikap Pasif-agresif

    • Perilaku tidak setia/selingkuh

    • Adu kekuasaan/dominasi

    • Kecanduan pornografi

  6. Disfungsi ereksi

    Kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi dapat menyulitkan terjadinya hubungan intim. Meskipun disfungsi ereksi adalah masalah umum, hal itu juga dapat memengaruhi tingkat kecemasan, kepercayaan diri, dan harga diri pria. Pria yang memiliki gejala ini harus selalu berkonsultasi dengan dokter, jangan sampai ada masalah kesehatan serius yang membuatnya susah ereksi.

  7. Dorongan Seks Rendah

    Rendahnya dorongan seks, atau biasa disebut gangguan hasrat hipo-seksual, adalah masalah bisa dialami pria dan wanita. Pada wanita, sejumlah faktor dapat menyebabkan hasrat seksual rendah, termasuk siklus menstruasi, penggunaan kontrasepsi hormonal, persalinan, menyusui, histerektomi, dan menopause.

  8. Efek Samping Obat

    Banyak obat memiliki efek samping pada aktivitas seksual. Beberapa obat yang dapat menyebabkan disfungsi seksual termasuk dekongestan yang dijual bebas, beberapa jenis antihistamin, antidepresan, serta obat tekanan darah tinggi.

  9. Masalah Kesehatan Mental

    Gejala depresi termasuk kurangnya energi, kehilangan minat terhadap apapun, menarik diri dari pergaulan, serta suasana hati yang selalu murung dan tertekan dapat mempengaruhi hasrat seseorang untuk berhubungan intim.

  10. Trauma Pelecehan

    Pelecehan seksual di masa lalu dapat memiliki efek jangka panjang yang dapat memengaruhi hubungan saat ini dan masa depan. Reaksi emosional seperti ketakutan dan rasa malu, stres pasca trauma, dan distorsi dalam persepsi diri dapat berdampak serius pada kehidupan seks seseorang.

    Jika hal ini terjadi pada Ibu atau pasangan, lebih baik bersikaplah terbuka pada orang yang Ibu percayai agar mendapatkan pertolongan. Trauma bukan hal remeh, dituntut kesabaran penuh karena proses penyembuhan yang panjang. Tentu dukungan pasangan atau psikolog akan sangat membantu!

  11. Permasalahan Hidup

    Ada sejumlah faktor dalam kehidupan yang mempengaruhi intensitas seseorang dalam berhubungan intim, diantaranya:

Apa yang Harus Dilakukan Jika Pasangan Ibu Enggan Berhubungan Intim?

Hal pertama yang harus Ibu lakukan tentunya adalah komunikasi. Terbukalah untuk menyampaikan pendapat pada pasangan. Lalu tanya kepada diri sendiri, apakah hubungan pernikahan tanpa seks menjadi masalah besar bagi Ibu? Sangat besar hingga perlu untuk bercerai? Apakah pasangan Ibu memiliki alasan yang rasional dan membutuhkan pertolongan?

Tidak ada jumlah berhubungan intim yang "tepat" dalam suatu pernikahan, yang lebih penting justri memiliki keintiman fisik dan emosional dengan pasangan. Hindari membandingkan pernikahan Ibu dengan orang lain karena setiap hubungan itu unik. Meski Ibu merasa jarang sekali bercinta, ternyata studi menunjukkan sangat banyak pernikahan tanpa seks di dunia ini. Hasil penelitian di tahun 2017 menemukan bahwa lebih dari 15% pria dan hampir 27% wanita melaporkan bahwa mereka tidak berhubungan seks dalam satu tahun terakhir.

Jika Ibu memerlukan bantuan untuk berkomunikasi dengan pasangan, pertimbangkan untuk berbicara dengan ahli kesehatan mental atau terapis untuk mendapatkan ide tentang cara agar kembali mesra. Penting untuk menjaga percakapan tetap positif dan tidak membuat pasangan Ibu merasa diserang atau disalahkan.

Setiap pernikahan berbeda dan Ibu perlu bekerja sama sebagai pasangan untuk mencari tahu apa yang cocok untuk Ibu. Jangan mencoba memenuhi harapan orang lain atau apa yang menurut Ibu "normal". Bicarakan tentang apa yang masing-masing inginkan, butuhkan, dan harapkan. Kemudian, bekerjasamalah untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia.

Jarang berhubungan intim tak selalu menjadi alasan untuk bercerai, lebih baik mencari solusi bersama selagi bisa. Namun jika semua cara sudah ditempuh dan Ibu menjalani hari-hari dalam kesedihan, selalu ada jalan keluar. Cari tahu apa yang terbaik bagi pernikahan Ibu, tentu dengan dukungan dokter, terapis, serta keluarga dan sahabat tersayang.

Sex-less marriage is definitely not the end of the world, tapi alangkah baiknya jika Ibu atau Ayah tidak meremehkan hal ini. Selagi ada kesempatan, bekerjasamalah agar bisa kembali mesra. Selamat mencoba! 

(Yusrina)