Kesehatan Dibaca 3,785 kali

5 Pola Makan Bagi Penderita Sakit Perut Pada Anak Hirschsprung

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati

Terakhir diperbaharui 05 Oktober, 2019 16:10

5 Pola Makan Bagi Penderita Sakit Perut Pada Anak Hirschsprung

Pernahkah Ibu mendengar tentang penyakit Hirschsprung?  Bu, penyakit sakit perut pada anak yang disebut Hirschsprung terjadi pada usus besar bayi yang baru lahir, bayi dan juga batita. Penyakit Hirschsprung adalah kondisi saluran cerna yang disebabkan sel saraf ganglion tidak terbentuk di dinding dalam perut sehingga feses tidak bergerak dan membuat anak kesakitan.

Penyakit Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak biasanya disertai oleh konstipasi, diare, dan juga muntah. Bahkan terkadang memicu komplikasi usus serius, seperti enterocolitis dan toxic megacolon. Keadaan ini bisa saja mengancam keselamatan anak. Karena itu, sangat penting untuk mendiagnosa penyakit Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak agar bisa ditangani sejak dini.

Sebenarnya tak banyak anak yang menderita penyakit Hirschsprung. Penyakit Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak hanya terjadi pada sekitar 1 dari 5000 anak. Penyakit Hirschsprung yang menyerupai sakit perut pada anak merupakan penyakit kongenital atau muncul saat lahir, tapi gejalanya bisa tidak terlihat saat lahir. Bila salah satu anak Anda mengalami penyakit Hirschsprung yang membuat sakit perut pada anak, kemungkinan anak Anda lainnya mengidap penyakit Hirschsprung lebih besar dibanding orang yang tidak punya anak dengan penyakit Hirschsprung. Juga, bila orangtua mengalami penyakit Hirschsprung, si kecil punya risiko lebih besar mengalami sakit perut pada anak akibat Hirschsprung.

Apa Saja Gejala Sakit Perut Pada Anak, Hirschsprung?

Dokter umumnya tak sepenuhnya mengetahui dengan pasti mengapa sebagian anak mengalami sakit perut pada anak yang disebut Hirschsprung. Tetapi biasanya ini merupakan penyakit dalam keluarga. Penyakit Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak sekitar 5 kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Anak-anak Down syndrome dan anak-anak dengan kondisi genetik jantung juga memiliki resiko tinggi terkena penyakit Hirschsprung.

Adapun gejala penyakit Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak sangat beragam. Pada bayi baru lahir, penyakit Hirschsprung ditandai dengan gejala tak bisa buang air besar pada 48 jam pertama setelah lahir, perut mengalami pembengkakan, perut kembung dan bergas, diare, dan muntah yang berwarna hijau atau coklat.

Sedangkan pada keadaan yang tidak parah, sakit perut pada anak yang disebut Hirschsprung ini terkadang tidak terdeteksi. Atau bisa juga ketika anak menginjak dewasa. Gejala-gejalanya lebih ringan namun dapat bertahan lama dan kronis seperti pembengkakan yang tidak normal, konstipasi, berat badan yang sulit bertambah, muntah, dan perut bergas. Tentunya penyakit Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak ini dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi sehingga pertumbuhan anak bisa tertunda.  

Bagaimana Mendiagnosa Sakit Perut Pada Anak, Hirschsprung?

Sakit perut pada anak yang disebut Hirschsprung umumnya didiagnosa dengan melakukan tes barium enema. Tes ini dilakukan dengan memasukkan pewarnaan ke usus besar dengan menggunakan enema sehingga barium muncul lebih jelas pada penyinaran sinar X. Dengan cara ini dokter terbantu untuk mendapat gambaran usus dengan lebih jelas. Anak dengan Hirschsprung, biasanya memiliki usus yang lebih  kecil karena sel saraf yang hilang.

Dalam beberapa kondisi, dokter dapat melakukan rectal suction biopsy. Tes ini dilakukan dengan menggunakan alat hisap untuk mengangkat sel dari lapisan lendir usus besar anak. Tes ini untuk melihat sel saraf yang hilang dan menegaskan diagnosa penyakit Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak. 

Sedangkan pada anak yang lebih besar, dokter dapat melakukan tes manometry atau surgical biopsy. Tes manometry dilakukan dengan cara memompa balon dalam rektum untuk melihat otot anal. Bila otot anak tidak rileks, maka anak bisa jadi menderita sakit perut pada anak karena Hirschsprung. Sementara pada surgical biopsy, dokter akan mengambil contoh jaringan usus besar untuk kemudian diperiksa dengan mikroskop. 

Bagaimana Penanganan Sakit Perut Pada Anak, Hirschsprung?

Sampai saat ini, tindakan pembedahan menjadi penanganan paling efektif untuk sakit perut pada anak yang disebut Hirschsprung. Pembedahan dapat dilakukan pada satu atau dua tahap. Tentunya ini bergantung pada tingkat keparahan sakit perut pada anak. Pada anak yang mengalami sakit perut pada anak atau Hirschsprung tingkat parah terkadang harus menjalani pembedahan dalam dua tahap.

Bu, pembedahan paling umum untuk mengatasi penyakit Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak biasanya meliputi pengangkatan area usus lalu melakukan prosedur yang disebut ostomy dan menempelkan bagian usus yang tersisa ke rektum. Ada dua jenis ostomy, yaitu Ileostomy dan ColostomyIleostomy adalah tindakan mengangkat seluruh usus besar dan menghubungkan usus kecil ke stoma. Sedangkan Colostomy adalah tindakan mengangkat hanya bagian usus besar saja.Sering kali tindakan ini dilakukan dengan bedah laparoscopic setelah ditegakan diagnosa penyakit.

Selanjutnya feses anak akan melewati stoma ke kantung yang terhubung di dalamnya dan perlu dikosongkan beberapa kali. Cara ini membuat bagian bawah usus bisa sembuh sebelum pembedahan sekunder sehingga ia tidak lagi mengalami sakit perut pada anak. Lalu pada pembedahan kedua, dokter akan menutup lubang dan menempelkan bagian usus yang normal ke rektum.

Usai pembedahan, anak seringkali mengalami konstipasi yang membuat sakit perut pada anak. Konstipasi bisa diatasi dengan obat laksatif namun sebaiknya konsultasikan dulu pemakaiannya dengan dokter. Untuk anak yang sudah cukup besar, Ibu bisa memberikan makanan padat dan makan tinggi serat untuk meringankan serta mencegah konstipasi sehingga ia tidak mengalami sakit perut pada anak. Jangan lupa untuk mendorong anak minum banyak air putih untuk membantu mencegah konstipasi, sakit perut pada anak, dan dehidrasi. Sebab usus besar membantu menyerap air dari makanan sehingga dehidrasi bisa menjadi masalah untuk anak yang ususnya diangkat.

Jika anak yang terus mengalami gejala usai pembedahan seperti diare, demam, perut bengkak, sakit perut pada anak, atau pendarahan dari rektum, maka Ibu harus segera menghubungi tenaga medis untuk mendapatkan penanganan. Sebab kondisi tersebut bisa jadi tanda enterocolitis atau peradangan pada usus. 

Tapi kondisi anak dengan penyakit Hirschsprung yang telah menjalani pembedahan biasanya cukup baik. Pasca pembedahan, umumnya anak bisa buang air besar secara normal dan tidak mengalami sakit perut pada anak atau komplikasi jangka panjang. Namun memang sebagian anak dapat mengalami beberapa gejala seperti konstipasi, sakit perut pada anak, dan masalah pengendalian buang air besar.

Kondisi Anak Pasca Pembedahan

Tentu Ibu penasaran, bagaimana kondisi anak penderita Hirschsprung pasca melakukan pembedahan? Masihkah ia mengalami sakit perut pada anak? Memang efek pembedahan bagi kualitas hidup anak penderita Hirschsprung bergantung sepenuhnya pada jenis pembedahan yang dilakukan. 

Pada tindakan ostomy, umumnya anak akan merasa lebih baik karena bisa buang air besar dengan lebih mudah dan tidak lagi mengalami sakit perut pada anak. Begitu pula pada orang dewasa. Kualitas hidup biasanya juga meningkat tapi masih perlu melakukan penyesuaian dalam penggunaan kantung ostomy. Penderita tentunya akan diberitahu dokter cara merawat bukaan perut atau stoma dan juga cara mengganti kantung ostomy. Penderita pun kelak bisa menjalani kegiatan normal, meski terkadang muncul kecemasan karena merasa berbeda dengan orang lain. Tapi yang penting, si kecil tidak lagi mengalami sakit perut pada anak. 

Sementara itu pada tindakan pull-through, sebagian besar anak lantas bisa buang air besar secara normal, dan tidak mengalami sakit perut pada anak. Namun anak-anak bisa mengalami diare jangka pendek dan akan membaik seiring waktu. Sebagian bayi mengalami ruam popok dan bisa diatasi dengan krim.

Secara bertahap pula, kualitas feses menjadi normal, menjadi lebih padat, dan tidak ada lagi drama sakit perut pada anak. Kegiatan buang air besar pun jadi teratur dengan frekuensi yang semakin berkurang. Pada beberapa kondisi, anak juga bisa mengalami inkontinensi feses. Kondisi tersebut bisa teratasi jika anak-anak telah menguasai cara menggunakan otot anal dengan baik.

Beberapa anak penderita sakit perut pada anak Hirschsprung. bisa mengalami infeksi usus pasca pembedahan yang disebut enterocolitis. Adapun gejala-gejalanya antara lain demam, pembengkakan pada perut, lesu, muntah, sakit perut pada anak, diare dan pendarahan rektum.

Infeksi tersebut dapat ditangani di rumah sakit dengan menggunakan infus dan antibiotik. Usus besar dapat pula dibersihkan secara menyeluruh dan teratur agar feses terangkat sepenuhnya. Pada kasus lainnya, infeksi juga bisa mengindikasikan awal masalah yang lebih serius. Pada keadaan ini pembedahan lanjutan bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi anak dan mencegah infeksi sakit perut pada anak lebih parah.

Pola Makan Penderita Sakit Perut Pada Anak Hirschsprung Pasca Operasi

Seperti telah disinggung sebelumnya, pasca pembedahan anak bisa terus mengalami masalah buang air besar. Untuk membantu mengatasi masalah buang air besar, menghindari sakit perut pada anak, dan meningkatkan kesehatan perut secara umum ada baiknya ikuti pola makan penderita Hirschsprung. Sebaiknya seluruh anggota keluarga mengikuti pola makan ini agar anak penderita Hirschsprung tidak merasa sendirian. Berikut ini pola makan yang bisa ibu ikuti saat anak mengalami Hirschsprung yang menyebabkan sakit perut pada anak.

  1. Membatasi konsumsi gula dan alternatif gula

    Gula dan alternatif gula bisa meningkatkan jumlah gas, menyebabkan kembung, sakit perut pada anak dan memicu diare. Karena itu hindarkan anak dari makanan manis dan mengandung gula seperti permen, kue, soda, jus, sirup dan makanan sejenis lainya. Jauhkan pula anak-anak dari alternatif gula seperti sukrosa, sorbitol, dan manitol untuk menghindari sakit perut pada anak. Biasanya untuk selalu baca label makanan dan memilih makanan serta  minuman yang mengandung gula kurang dari 10 gram per sajian.

     

  2. Mengkonsumsi makanan tinggi serat

    Serat membantu membuat feses jadi lembut dan mencegah konstipasi serta sakit perut pada anak. Serat juga membantu mengontrol tingkat gula darah. Karena itu perkenalkan serat secara bertahap sebab serta juga bisa menyebabkan gas dan kembung. Pastikan pula anak minum cukup cairan agar tidak mengalami untuk menghindari sakit perut pada anak. Air putih menjadi pilihan yang terbaik. Tambahkan pula produk psyllium pada makanan anak. Namun sebaiknya berhati-hati ya Bu, sebab bebeberapa produk psyllium bisa menyebabkan anak tersedak. Awasi anak dan pastikan anak tak mengalami kesulitan saat menelan.

     

  3. Waspadai reaksi anak terhadap produk susu

    Susu dan produk susu memiliki kandungan gula yang disebut laktosa. Tubuh lalu menggunakan enzim laktase untuk memecah laktosa pada usus. Nah, jika anak tidak memproduksi laktase yang cukup, maka anak bisa mengalami kesulitan menyerap laktosa lantas mengalami gejala sakit perut pada anak, perut kembung, gas dan diare.

    Untuk itu, sebaiknya kurangi asupan laktosa anak, cobalah produk susu bebas laktosa, tawarkan yoghurt dan keju keras seperti cheddar yang lebih mudah diterima tubuh dan tidak menyebabkan sakit perut pada anak. Untuk konsumsi susu, batasi susu hingga 500 ml sehari setelah usia anak lebih dari 12 bulan.

     

  4. Makan secara teratur

    Bu, pastikan anak makan secara teratur 3 kali sehari dan satu atau dua cemilan setiap hari. Atur agar anak makan tiap 3 jam. Sebab makan sepanjang hari akan membuat perut bekerja tanpa henti dan menyebabkan sakit perut pada anak.

     

  5. Buat catatan perubahan gejala pada anak

    Ibu perlu membuat catatan perubahan gejala anak agar tidak ada yang terlewatkan dan Ibu bisa melihat perkembangannya dari waktu ke waktu apakah ia masih mengalami sakit perut pada anak atau tidak. Sebab tidak semua anak bereaksi sama pada makanan. Kemampuan anak untuk menerima makanan bergantung sepenuhnya pada pengaruh penyakit pada perut dan bagian usus yang diangkat atau mengalami ostomy.

    Dalam menerapkan pola makan tersebut, mungkin Ibu akan mengalami periode trial and error. Beberapa orangtua terbantu dengan membuat catatan makanan yang dimakan anak dan efeknya. Misalnya saja efek makanan pada frekuensi dan tekstur feses, serta keluhan sakit perut pada anak, kembung dan bergas.

Cara Alami Atasi Sakit Perut Pada Anak Sebagai Gejala Hirschsprung

Tak selalu mengandalkan obat-obatan kimia, beberapa bahan-bahan alami di rumah bisa digunakan untuk meringankan gejala sakit perut pada anak, Hirschsprung. Contohnya saja memberi anak makanan kaya serat seperti gandum utuh, buah dan sayur dalam jumlah yang cuku agar feses terbentuk dengan mudah.

Selain itu, utnuk menghindari sakit perut pada anak, Ibu perlu meningkatkan asupan cairan yang akan membantu anak tetap terhidrasi saat usus berada dalam fase penyembuhan. Anak juga perlu melakukan aktivitas fisik dan gerakan aerobik jika sudah mampu melakukannya. Hanya jika perlu saja, gunakan laksatif untuk membantu meringankan konstipasi dan melancarkan gerakan buang air besar.

(Isma/Puji/Dok:Freepik)