Kesehatan

6 Jenis Batuk pada Anak dan Cara Mengatasinya

Terakhir diperbaharui

6 Jenis Batuk pada Anak dan Cara Mengatasinya

Batuk pada anak bisa berarti banyak hal. Pada dasarnya, batuk pada anak merupakan mekanisme dalam tubuh anak untuk melindungi tubuh anak itu sendiri, terutama untuk membersihkan saluran napas dari benda-benda asing seperti debu, lendir, maupun benda yang tidak sengaja masuk dan menghalangi saluran pernapasan.

"Anak-anak pasti merasa tidak nyaman ketika mengalami batuk-batuk, orang tua pun kadang kala merasa khawatir dengan hal ini. Namun, batuk pada anak merupakan kejadian yang sangat awam terjadi di belahan dunia mana pun," kata Direktur bangsal anak spesialis bronkoskopi di Rumah Sakit Umum Khusus Anak di Boston, Amerika Serikat, Benjamin Nelson, MD.

Dengan kata lain, batuk pada anak akan sembuh dengan sendirinya. Meskipun demikian, ada saatnya orang tua perlu waspada terhadap jenis-jenis batuk tertentu. Orang tua wajib memperhatikan sinyal-sinyal yang terlihat ketika anak batuk sebelum memutuskan untuk membawanya ke dokter atau bahkan langsung ke instalasi gawat darurat.


2 Bentuk Batuk pada Anak yang Sering Dijumpai

  1. Batuk kering

    Batuk jenis ini bisa jadi merupakan indikasi bahwa anak Ibu memiliki alergi terhadap benda-benda tertentu. Ketika anak mengalami batuk kering, sesungguhnya mereka tengah membersihkan saluran napas di hidung atau tenggorokan dari benda asing.


  2. Batuk berdahak

    Batuk jenis ini biasanya terbentuk seiring dengan flu. Bakteri yang menyerang tubuh dikeluarkan dalam bentuk lendir. Nah, lendir ini yang kerap belum bisa dikeluarkan secara sendirinya oleh bayi atau anak sehingga kadang kala membuat anak lebih rewel daripada biasanya karena ketidaknyamanan di hidung atau tenggorokan mereka yang menghambat sirkulasi udara melalui hidung.


6 Jenis Batuk pada Anak yang Wajib Diwaspadai oleh Orang Tua

Seorang dokter anak yang juga mengajar di Vanderbilt University Medical School, Amerika Serikat, Catherine Dundon, MD. menyatakan bahwa anak-anak di bawah usia 4 bulan seharusnya jarang mengalami batuk. Namun jika mereka sering batuk, bahkan berlangsung lebih dari 4 hari, maka itu bukan merupakan pertanda baik sehingga orang tua harus segera menemui tenaga medis.

Meskipun demikian, untuk mengetahui kadar kegawatan batuk pada anak, ada baiknya orang tua memperhatikan tanda-tanda batuk pada anak berikut ini. 


  1. Batuk karena influenza

    Batuk pada anak yang merupakan gejala influenza biasanya berbentuk batuk kering, terutama yang disertai oleh radang tenggorokan. Namun hal ini juga tergantung tingkat keparahan influenza itu sendiri. Anak bisa juga menderita pilek dan/atau demam dengan suhu di bawah 38.5 derajat celcius, terutama di malam hari.

    Batuk pada anak jenis ini biasanya akan reda sendiri dalam satu hingga dua minggu. Anak mungkin akan sangat rewel selama mengalami batuk ini, tapi orang tua tidak perlu khawatir. Anak cukup diberikan perawatan di rumah (home treatment) seperti membuat uap alami yang ditempatkan di sudut ruangan, memberi lebih banyak asupan cairan berupa asi, susu, atau sup kepada anak, maupun mandi air hangat agar pernapasan anak lebih lega.

    Meskipun demikian, orang tua harus segera membawa anak ke dokter jika batuk pada anak ini juga disertai oleh demam yang suhu tubuhnya mencapai di atas 38.5 derajat celcius atau lendir anak menjadi sangat hijau. Hal ini dikhawatirkan merupakan indikasi adanya penyakit lain dalam tubuh anak.


  2. Batuk mengi

    Batuk pada anak yang berbunyi seperti gonggongan sering juga disebut sebagai batuk mengi. Julukan itu diberikan karena batuk pada anak jenis ini memang membuat anak seperti menggonggong, terutama di malam hari. Ketika mengalami batuk mengi, anak juga jadi susah bernapas karena adanya pembengkakan di saluran napas yang disebabkan oleh virus. 

    Batuk mengi atau croup kerap menimpa anak di bawah usia 5 tahun. Salah satu ciri khas batuk ini ialah intensitasnya yang meninggi saat tengah malam.

    Biasanya, batuk ini hanya berlangsung 3 hingga 5 hari. Namun, jika batuk menggonggong ini berlangsung lebih dari itu, segera hubungi dokter.


  3. Batuk penanda bronkiolitis

    Pernah mendengar suara batuk pada anak seperti tercekik? Kalau iya, mungkin si anak tengah menderita batuk yang disebabkan oleh virus sinsital pernapasan (RSV) alias bronkiolitis. 

    Bagi anak di atas usia 3 tahun, virus ini mungkin hanya menyebabkan batuk biasa. Namun jika menyerang bayi, RSV bisa membahayakan nyawa sehingga butuh penanganan segera.

    Salah satu tanda yang amat jelas bagi anak dengan batuk bronkiolitis ialah napas yang cepat (lebih dari 50 tarikan napas per menit). Selain itu, anak terlihat kesulitan bernapas serta otot di sekitar dada seperti ikut tertarik setiap anak menarik napas.

    Batuk bronkiolitis sering disangka sebagai asma karena ciri-cirinya yang mirip, penanganannya pun memerlukan obat-obatan serta bantuan oksigen dari luar, bahkan antibiotik jika perlu. Namun untuk diagnosa yang tepat, orang tua sebaiknya memeriksakan anak ke dokter.


  4. Batuk rejan atau pertusis

    Pertusis atau batuk rejan merupakan jenis batuk pada anak yang disebabkan oleh bakteri Bodetella pertussis. Batuk pada anak jenis ini sangat mudah menular dan bisa bersifat mematikan jika menyerang bayi di bawah 3 bulan. Oleh karena itu, pemerintah mewajibkan bayi yang bahkan baru berusia 1 bulan untuk mendapatkan imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus).

    Ciri khas penyakit ini ialah batuk keras yang berlangsung terus-menerus selama 15 detik hingga 1 menit yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut berbunyi 'whoop' sehingga batuk ini sering juga disebut whooping cough. Selain itu, lidah anak kerap menjulur selama anak mengalami batuk rejan, mata melotot, serta wajah membiru karena batuk rejan juga bisa mengakibatkan berhenti napas, terutama pada bayi.

    Batuk pada anak ini bisa berlangsung selama 3 bulan atau lebih sehingga ada pula orang yang menamakan batuk pada anak ini sebagai batuk 100 hari. Tetapi, jangan menunggu satu hari pun untuk membawa anak ke dokter jika orang tua menemukan gejala batuk pertusis pada anak atau bayi. Pasalnya, dibutuhkan perawatan intensif yang membutuhkan antibiotik agar pertusis tidak merusak organ tubuh yang lain maupun mengakibatkan penyakit berbahaya lain seperti pneumonia.


  5. Batuk penanda pneumonia

    Anak dengan batuk penanda pneumonia biasanya lebih cepat merasa lelah, terlihat lesu, dan batuk yang cukup sering. Anak juga bisa batuk disertai muntah berwarna kuning hingga hijau.

    Jika menemui gejala ini, orang tua harus segera memeriksakan anak ke dokter untuk mengetahui apakah batuk pneumonia disebabkan oleh virus atau bakteri. Batuk pneumonia yang disebabkan bakteri lebih berbahaya dibanding virus, terutama jika disertai dengan demam.


  6. Batuk penanda tersedak

    Jangan sepelekan jenis batuk pada anak ini meski terdengar kerap terjadi pada anak. Tersedak merupakan salah satu reaksi anak untuk memuntahkan objek asing yang masuk ke saluran napasnya. Jika benda asing itu tidak bisa keluar, anak mungkin mengalami kesulitan bernapas hingga meninggal dunia.

    Mulai dari makanan keras yang berukuran relatif lebih besar dibanding saluran napasnya, semisal kacang, hingga mainan berukuran kecil seperti pecahan puzzle, bisa jadi tersangka yang menyebabkan batuk pada anak penanda tersedak. Biasanya, anak spontan bisa mengeluarkan benda asing itu sendiri, tapi kadang mereka gagal melakukannya sehingga butuh bantuan orang tua. 

    Batuk jenis ini biasanya terjadi secara tiba-tiba. Anak atau bayi batuk keras secara refleks dan kadang diikuti dengan suara seperti tercekik. Dr. Catherine Dundon bahkan menyatakan sumbatan di saluran napas akibat tersedak, misalnya, kacang dapat mengakibatkan pneumonia.

    Jika objek asing itu belum juga keluar dan mulai mengganggu jalan napas, anak atau bayi mungkin memperlihatkan 3 gejala sebagai berikut:

    • Terlihat sangat tegang
    • Tidak bisa berbicara sepatah katapun 
    • Wajah menjadi pucat atau bahkan kebiruan

    Jika hal ini terjadi, orang tua sebaiknya langsung melarikan anak ke instalasi gawat darurat. Anak atau bayi mungkin akan menjalani ronsen kemudian dirujuk ke dokter untuk menjalani bronkoskopi, yaitu prosedur memasukkan pinset ke dalam tubuh dengan kondisi pasien berada di bawah pengaruh obat bius total.


8 Cara Merawat Batuk pada Anak di Rumah (Home Treatment)

Batuk yang hanya merupakan bagian dari common cold biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu 21 hari (bisa kurang atau lebih tergantung kondisi anak). Orang tua hanya harus bersabar dengan kerewelan anak sambil tetap memastikan asupan cairan yang cukup agar anak tidak mengalami dehidrasi.

Sementara itu, orang tua bisa menerapkan 7 bentuk perawatan di rumah ini untuk mengurangi ketidaknyamanan yang timbul dalam diri anak.


  1. Jaga ruangan tetap lembab

    Ketika anak batuk, orang tua harus siap kepanasan karena urung tidur menggunakan pendingin ruangan ya. Karena justru kamar tidur atau ruangan yang lembab lah yang bisa mencegah virus penyebab batuk berkembang cepat.

    Orang tua bisa menghidupkan alat pelembab ruangan jika punya. Atau, tuang air panas ke baskom bersih kemudian teteskan minyak kayu putih agar anak bisa menghirup uapnya dan bernapas dengan lebih lega.


  2. Alat penghisap lendir

    Bagi anak-anak dengan batuk yang disertai pilek, orang tua bisa membantu mengeluarkan lendir lewat hidung dengan menggunakan alat hisap yang dijual di apotek. Namun, penggunaan alat ini juga harus berhati-hati, jangan sampai menyedot lendir terlalu keras sehingga menyebabkan iritasi atau bengkak pada hidung.


  3. Balsem khusus anak

    Mengoles balsem khusus anak sebagai penanganan batuk pada anak juga bisa membantu melegakan saluran pernapasan. Yang penting, oleskan secukupnya saja agar anak bisa beristirahat, terutama ketika tidur di malam hari. 


  4. Konsumsi madu

    Bagi anak yang sudah berusia di atas satu tahun, memberikan madu sebagai asupan tambahan dipercaya sebagai cara ampuh meredakan batuk pada anak. Caranya, campur 2 hingga 5 ml madu dengan air hangat kemudian minumkan kepada anak. Cara ini diyakini mampu mengencerkan dahak, melegakan saluran napas, serta membuat tidur anak menjadi lebih nyenyak di malam hari.

    Meskipun demikian, jangan memberi madu untuk anak di bawah usia 1 tahun, lho. Pasalnya, madu bisa memicu botulisme, yakni kondisi keracunan yang mampu menyerang sistem saraf otak maupun tulang belakang sehingga berpotensi menimbulkan kelumpuhan otot.


  5. Posisi kepala lebih tinggi

    Jika anak menjadi gelisah di malam hari, ada baiknya orang tua memberi bantal agar kepala anak posisinya lebih tinggi dibanding badannya. Cara ini dipercaya bisa menyingkirkan dahak atau lendir dari saluran napas sehingga anak atau bayi bisa bernapas lebih baik dan menghilangkan kegelisahan di malam hari. 


  6. Banyak konsumsi cairan

    Ketika batuk, anak mungkin akan kehilangan sedikit selera makannya. Namun orang tua tidak perlu panik selama anak atau bayi masih mendapatkan asupan cairan yang mencukupi sehingga tidak terjadi dehidrasi. 

    Banyak mengonsumsi cairan akan membuat lendir di saluran napas mencair sehingga mudah dikeluarkan dari tubuh. Untuk bayi di bawah 6 bulan, Ibu bisa melakukan gempur ASI alias memperbanyak pemberian ASI ataupun susu formula. Sedangkan untuk bayi yang sudah mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI atau anak yang sudah mengonsumsi menu keluarga, Ibu juga bisa membuatkan sup serta memperbanyak konsumsi air putih untuk anak.

    Tanda-tanda dehidrasi sendiri di antaranya ialah frekuensi buang air kecil anak kurang dari 6 kali per hari. Selain itu, bibir anak akan terlihat kering plus mata terlihat cekung.


  7. Sedia parasetamol

    Tak jarang batuk pada anak disertai dengan demam yang tidak terlalu tinggi (di bawah 38.5 derajat celcius). Hal ini merupakan normal karena bisa saja anak hanya terkena batuk karena common cold yang bisa sembuh dengan sendirinya.

    Jika panas, Ibu bila perlu bisa memberikan parasetamol alias penurun panas yang dijual di apotek atau toko obat dengan dosis yang sebaiknya telah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

    Meskipun demikian, orang tua justru tidak disarankan untuk memberi obat batuk demi mengatasi batuk pada anak. Dr Nelson dari Boston menyatakan obat batuk mengandung zat yang rawan overdosis jika diberikan tidak sesuai takaran.

    "Lagipula, batuk sebetulnya merupakan mekanisme pembentengan diri dari kuman yang menyerang ke dalam tubuh," kata Dr. Nelson.


  8. Memakai masker dan menjaga kebersihan lingkungan

    Bagi orang tua, hal terpenting yang bisa dilakukan selama anak terserang batuk ialah menjaga kebersihan rumah. Jika ada satu orang yang terkena batuk, besar kemungkinan orang lain di dalam rumah yang sama akan ketularan.

    Ajari juga anak Ibu untuk batuk selalu menutup mulutnya ketika batuk. Jangan lupa juga untuk sering mencuci tangan sebelum menyentuh barang-barang di rumah atau minimal mengelap perabotan dengan cairan disinfektan atau antiseptik karena virus bisa bertahan menempel selama dua jam di benda-benda rumah tangga seperti remote televisi maupun gelas atau sendok makan.

    Orang tua juga bisa memakaikan masker kepada anak sebagai bentuk preventif penularan virus batuk pada anak ke seluruh penjuru rumah. Namun jika anak tidak mau melakukannya, orang tua bisa memakai masker agar tidak tertular penyakit yang sama.


7 Pertanda Batuk pada Anak harus segera diperiksakan ke dokter

Pada dasarnya, jika batuk pada anak tidak mengganggu aktivitasnya sehari-hari, maka tidak ada yang perlu orang tua khawatirkan mengenai batuk pada anak itu sendiri. Aktivitas yang dimaksud ialah anak masih mau makan, minum, bisa tidur dengan nyenyak, maupun bermain dengan aktif seperti biasa.

Meskipun demikian, orang tua perlu segera menghubungi dokter jika menemui tanda-tanda di bawah ini:

  1. Tidak nafsu makan sama sekali
  2. Terlihat lesu dan mudah lelah
  3. Kesulitan tidur di malam hari
  4. Muntah-muntah 
  5. Demam lebih dari 38.5 derajat celcius atau demam berlangsung lebih dari tiga hari
  6. Kesulitan bernapas
  7. Batuk, meski tanpa demam, berlangsung lebih dari satu minggu

Jikapun orang tua masih ragu untuk menentukan apakah batuk yang diderita oleh anak berbahaya atau tidak, silakan langsung menghubungi tenaga medis terdekat untuk menegakkan diagnosa.


(Asni / Dok. Freepik)