Kesehatan Dibaca 1,663 kali

Mengenal Rubella Pada Anak Lebih Jauh

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 11 Oktober, 2018 08:10

Mengenal Rubella Pada Anak Lebih Jauh
Rubella atau biasa disebut campak Jerman adalah infeksi yang terjadi pada kulit dan kelenjar getah bening. Penyakit ini disebabkan oleh virus rubella. Rubella menyebar ketika orang menghirup cairan yang terinfeksi virus, seperti tetesan yang menyebar di udara ketika seseorang yang mengidap rubella bersin atau batuk, atau berbagi makanan serta minuman dengan orang yang terinfeksi. Rubella juga bisa menular melalui aliran darah wanita hamil ke janin.

 

Bunda, rubella biasanya jadi penyakit yang ringan pada anak. Bahaya medis primer dari rubella adalah infeksi pada ibu hamil karena bisa menyebabkan sindrom rubella kongenital pada janin yang sedang berkembang.

 

Sebelum vaksin untuk mengatasi rubella ditemukan di tahun 1969, wabah rubella terjadi setiap 6 hingga 9 tahun, biasanya pada anak usia 5 hingga 9 tahun, bersamaan dengan kasus rubella kongenital. Karena imunisasi, kini lebih sedikit jumlah kasus rubella dan rubella kongenital.

 

Kebanyakan infeksi rubella saat ini muncul pada orang dewasa yang tidak diimunisasi. Para ahli memperkirakan kalau 10 persen orang dewasa rentan terhadap rubella, yang bisa menimbulkan bahaya pada anak yang akan mereka miliki.

 

Tanda dan gejala rubella

  • Infeksi rubella bisa berawal dari demam ringan selama 1 hingga 2 hari dengan suhu 37,2 sampai 37,8 derajat Celsius dan bengkak pada kelenjar getah bening, biasanya pada belakang leher atau di belakang telinga.
  •  
  • Ruam lalu muncul di wajah dan menyebar ke bagian tubuh lain. Ketika menyebar ke area lain, bagian wajah menjadi bersih. Ruam rubella jadi tanda pertama penyakit yang diketahui orangtua.
  •  
  • Ruam terlihat seperti ruam virus lainnya, muncul dengan bercak warna pink atau merah cerah, yang bisa muncul membentuk area warna yang merata.
  •  
  • Ruam terasa gatal dan berlangsung selama 3 hari. Ketika ruam menghilang, kulit yang terkena menjadi mengelupas.
  •  
Gejala rubella lainnya yang umum pada remaja dan orang dewasa bisa berupa:

 

  • Sakit kepala
  •  
  • Kehilangan selera makan
  •  
  • Peradangan pada lapisan bola mata dan kelopak mata
  •  
  • Hidung tersumbat atau berair
  •  
  • Bengkak di kelenjar getah bening pada bagian tubuh lain
  •  
  • Sakit serta bengkak pada persendian (terutama pada wanita usia muda)
  •  
  • Banyak orang yang menderita rubella memiliki sedikit atau tanpa gejala.
  •  
Rubella pada ibu hamil bisa menyebabkan sindrom rubella kongenital, dengan konsekuensi serius pada janin yang sedang berkembang. Anak yang terinfeksi rubella sebelum lahir beresiko mengalami:

 

  • Masalah pertumbuhan
  •  
  • Ketidakmampuan secara intelektual
  •  
  • Cacat pada jantung dan mata
  •  
  • Ketulian
  •  
  • Masalah liver, limpa dan susum tulang.
  •  
Virus rubella menular dari orang ke orang melalui tetesan cairan dari hidung dan tenggorokan melalui bersin dan batuk. Orang yang mengalami rubella paling menular dari 1 minggu sebelum hingga 1 minggu setelah ruam muncul. Orang yang terinfeksi tapi tidak memiliki gejala bisa tetap menyebarkan virus.

 

Bayi yang mengalami sindrom rubella kongenital bisa melepaskan virus di urin dan cairan dari hidung dan tenggorokan selama satu tahun atau lebih dan menularkan virus ke orang yang tidak diimunisasi.

 

Pencegahan rubella

Rubella bisa dicegah degan vaksin rubella. Imunisasi rubella penting untuk mengontrol penyebaran penyakit, sehingga mencegah cacat lahir yang disebabkan oleh sindrom rubella kongenital.

 

Vaksin biasanya diberikan pada anak usia 12 hingga 15 bulan sebagai bagian dari imunisasi MMR terjadwal (campak, gondong, rubella). Dosis kedua MMR biasanya diberikan pada usia 4 hingga 6 tahun. Seperti semua jadwal imunisasi, ada pengecualian dan kondisi khusus. Misalnya, bila anak akan bepergian ke luar negeri, vaksin bisa diberikan paling dini di usia 6 bulan. Bicaralah pada dokter untuk mengetahui kapan vaksin dibutuhkan.

 

Vaksin rubella tidak boleh diberikan pada ibu hamil atau wanita yang akan hamil dalam 1 bulan saat menerima vaksin. Bila mengira akan hamil, pastikan Anda kebal terhadap rubella melalui tes darah. Bila Anda tidak kebal, Anda perlu menerima vaksin setidaknya satu bulan sebelum hamil. Ibu hamil yang tidak kebal harus menghindari siapa saja yang menderita rubella dan harus divaksin setelah kelahiran agar kebal selama kehamilan mendatang.

 

Inkubasi rubella

Masa inkubasi untuk rubella adalah 14 hingga 23 hari, dengan rata-rata masa inkubasi 16 hingga 18 hari. Ini berarti butuh 2 hingga 3 minggu untuk anak mengalami rubella setelah terpapar orang yang tekena penyakit.

 

Ruam rubella berlangsung selama 3 hari. Kelenjar getah bening tetap bengkak selama satu minggu atau lebih, dan nyeri sendi berlangsung selama lebih dari 2 minggu. Anak yang mengalami rubella biasanya sembuh dalam 1 minggu, tapi orang dewasa bisa lebih lama.

 

Penanganan rubella

Rubella tidak bisa diobati dengan antibiotik. Kecuali ada komplikasi, rubella akan membaik dengan sendirinya. Wanita hamil yang terpapar rubella perlu segera menghubungi dokter kandungan.

 

Rubella biasanya bersifat ringan pada anak dan bisa dirawat di rumah. Awasi suhu tubuh si kecil ya Bun dan hubungi dokter jika demam terlalu tinggi. Untuk meredakan rasa tidak nyaman, Anda bisa berikan acetaminophen atau ibuprofen. Tapi ingat, Anda tidak boleh memberikan aspirin pada anak yang mengalami penyakit akibat virus, karena penggunaanya terkait dengan sindrom Reye.

 

Sindrom Reye

Sindrom Reye jarang terjadi tapi jadi kondisi serius yang menyebabkan bengkak di liver dan otak. Sindrom Reye sering terjadi pada anak dan remaja yang sedang dalam masa penyembuhan dari infeksi virus, paling umum flu atau cacar.

 

Tanda dan gejala seperti seizure dan kehilangan kesadaran membutuhkan penanganan darurat. Diagnosa dini dan penanganan sindrom Reye bisa menyelamatkan nyawa anak. Aspirin terkait dengan sindrom Reye, jadi waspadai pemberian aspirin pada anak atau remaja. Meksi aspirin bisa digunakan pada anak di atas usia 2 tahun, anak dan remaja yang dalam masa penyembuhan dari cacar air atau gejala seperti flu tidak boleh minum aspirin.

 

Pada sindrom Reye, tingkat gula darah anak biasanya turun sedang tingkat amonia dan keasaman di darahnya meningkat. Di waktu yang sama, liver menjadi bengkak dan mengalami penumpukan lemak. Bengkak bisa terjadi juga di otak, yang akan menyebabkan seizure atau kehilangan kesadaran.Tanda dan gejala sindrom Reye biasanya muncul sekitar 3 hingga 5 hari setelah infeksi virus seperti influenza atau cacar, atau infeksi saluran pernafasan atas.

 

Untuk anak kurang dari usia 2 tahun, tanda pertama sindrom Reye bisa berupa diare dan nafas yang cepat. Untuk anak yang lebih besar dan remaja, tanda dan gejala awal berupa muntah yang terus-menerus dan rasa kantuk yang tidak biasanya.

 

Ketika kondisi terus terjadi tanda dan gejala bisa menjadi lebih serius, berupa:

 

  • Disorientasi dan halusinasi
  • Perilaku agresif dan rewel
  • Sangat lesu
  • Lemah atau lumpuh di lengan dan kaki
  • Seizure
  • Penurunan tingkat kesadaran.
Tanda dan gejala ini membutuhkan penanganan darurat. Diagnosa dan penanganan sindrom Reye yang dini bisa menyelamatkan nyawa anak. Segeralah bertindak bila Anda merasa anak mengalami sindrom Reye. Cari bantuan medis bila anak mengalami seizure dan hilang kesadaran.

 

Hubungi dokter bila anak mengalami hal berikut setelah flu atau cacar:

 

  • Menjadi mengantuk atau lesu
  •  
  • Muntah berulang kali
  •  
  • Perubahan perilaku yang tiba-tiba.
Penyebab pasti sindrom Reye tidak diketahui, meski beberapa faktor bisa memiliki peran. Sindrom Reye bisa dipicu oleh penggunaan aspirin untuk mengatasi penyakit atau infkesi virus, khususnya flu dan cacar pada anak dan remaja yang memiliki gangguan oksidasi asam lemak.

 

Gangguan oksidasi asam lemak adalah kelompok gangguan metabolisme dimana tubuh tidak bisa menghancurkan asam lemak karena enzim hilang atau tidak bekerja dengan baik. Tes dibutuhkan untuk menentukan apakah anak mengalami gangguan oksidasi asam lemak. Pada beberapa kasus, paparan terhadap racun seperti insektisida juga bisa menyebabkan sindrom Reye.
(Ismawati)