Kesehatan

Pasta Gigi Anak yang Tepat Bantu Jaga Oral Hygiene Si Kecil Saat Pandemi

Yusrina
Pasta Gigi Anak yang Tepat Bantu Jaga Oral Hygiene Si Kecil Saat Pandemi

“Ngapain sih repot nyuruh anak sikat gigi? Toh masih gigi susu nanti juga lepas sendiri diganti sama gigi permanen!”

Dalam sesi sharing, biasanya ada satu-dua pendapat seperti di atas yang kerap terlontar dari para Ibu. Masing-masing Ibu pasti memiliki perhatian berbeda terkait perawatan gigi anak. Ada yang memandangnya sebagai hal yang secara alami akan anak pelajari seiring tumbuh kembangnya, ada juga yang berkeras mendisiplinkan anak untuk memiliki jadwal gosok gigi harian yang wajib ditaati.

Kebiasaan yang dibangun sejak kecil akan terus melekat dan terbawa hingga dewasa. Gigi yang bersih, rapi, dan sehat akan membawa dampak besar dari segi kesehatan jasmani hingga mental anak. Yup, meski masih gigi susu, ternyata menjaga kesehatan gigi anak itu super penting loh, Bu!

Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi Anak Sejak Kecil

Meski akan tanggal, gigi susu tetap perlu dirawat karena celah-celah di antara gigi tersebut akan menjadi cikal bakal tumbuhnya gigi permanen. Kalau gigi susu sampai lepas sendiri jauh sebelum waktunya, maka nanti gigi-gigi baru akan tumbuh tidak sesuai arah. 

Harusnya gigi baru tumbuh untuk menggantikan gigi susu, namun karena waktunya tidak tepat maka gigi akan tumbuh berantakan. Apalagi kalau gigi taring yang muncul belakangan tumbuh di space yang sudah terisi gigi lain, pasti jadinya berdesakan dan berisiko tumbuh gingsul.

“Gingsul kan manis, nggak apa-apa deh!”

Waduh, gingsul yang terlihat manis itu seperti menang undian loh, Bu. Umumnya sih gigi berantakan hanya akan membuat penampilan semakin acak-acakan. Apa tega membiarkan si kecil seperti itu hanya karena Ibu lalai menjaga kesehatan gigi anak sejak dini? Selain arah gigi yang berantakan, masalah yang menyertai lainnya adalah seputar gigi berlubang, kehitaman, dan bau mulut. Menurut penjelasan Dr. drg. Anggraeni, Sp.KG atau lebih dikenal dengan panggilan drg. Rani, di IG Live Ibupedia pada tanggal 30 Januari 2021, ada beberapa tanda awal gigi berlubang yang patut Ibu waspadai.

Penyebab gigi berlubang pada anak tak hanya terjadi karena satu faktor. Namun umumnya karena makanan yang menempel pada gigi cukup lama telah membentuk plak yang menjadi tempat bakteri menempel. Nah, plak yang terlalu lama menempel karena lalai menggosok gigi ini akan menyebabkan demineralisasi. Nantinya, demineralisasi akan melarutkan email gigi. 

Awalnya hanya akan terjadi lubang ringan pada gigi, namun semakin tidak dirawat akan masuk lebih dalam sampai ke dentin hingga pulpa. Saat lubang sudah sampai pulpa inilah anak akan merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan. Aduh, orang dewasa saja kadang tak sanggup menahan sakit gigi, apalagi anak ya, Bu?

Menurut drg. Rani, kesehatan gigi anak yang buruk akan merembet ke persoalan mental. Sudah seharusnya hal ini jadi concern para Ibu. Seperti pengalaman Ibu Rani tentang anaknya, Devana, yang kini berusia 4 tahun. 

“Anakku tuh kalau lagi ngomong, bibir atasnya suka nutupin gigi bagian atas. Jadi kayak nenek-nenek ompong. Kalau difoto juga jarang banget senyum. Aku pikir kenapa, ternyata karena dia malu sama teman-temannya. Memang sih gigi dia agak hitam dan masih ada yang belum tumbuh gigi, sementara teman-temannya sudah mulai rapi. Sedih deh, soalnya dia nggak pernah cerita.”

Sayang banget kan kalau anak tumbuh kurang percaya diri karena tidak diajarkan cara merawat gigi sejak dini? Terkadang anak kurang paham dan kewalahan saat menyampaikan apa yang ia rasakan. Tanpa disadari ia jadi menarik diri dalam pergaulan dan merasa malu dengan kondisinya yang tidak sama dengan teman sebayanya. Kalau sudah begini, Ibu harus cepat-cepat turun tangan mencegah semakin banyak gigi berlubang!

Menjaga Kesehatan Gigi Anak dengan Rutin Menyikat Gigi


“Anakku tiap hari sikat gigi 2 kali sehari tapi tetap aja tuh giginya berlubang? Salah pilih pasta gigi anak atau cara sikatannya yang kurang bersih?” Tanya Ibu Gian saat menceritakan putri kecilnya Fifi yang berusia 3 tahun.

Sebelum memutuskan anak salah pilih pasta gigi atau keliru menyikat, Ibu perlu tahu dulu nih waktu yang tepat menggosok gigi. Sebelum tidur itu wajib, jangan skip sama sekali! Kalau sehari anak sikat gigi 2-3 kali namun masih makan coklat sebelum tidur, ya tentu saja sisa makanan di mulut akan jadi tempat tumbuh bakteri. Selain itu, cermati juga apakah ia suka mengemut makanan manis? 

“Ada anak yang sering makan makanan manis tapi giginya nggak berlubang. Ternyata dia nggak suka ngemut makanan. Ada yang makan nasi saja diemut. Ternyata gara-gara giginya berlubang, dia nggak kuat ngunyah,” cerita drg. Rani dalam bincang-bincangnya bersama Ibupedia. 

Tips Agar Anak Tertarik Menyikat Gigi


Bagaimana menyikapi anak yang susah diajak sikat gigi? Drg. Rani mengutip tips dari American Dental Association yang bisa Ibu terapkan di rumah, diantaranya:

  1. Menonton video cara menyikat gigi. Temani anak memilih video berupa kartun atau tutorial sikat gigi yang fun dan membuat dia antusias.
  2. Pilih bulu sikat gigi yang lembut. Kini ada banyak sekali pilihan sikat gigi anak mulai dari yang soft hingga super soft agar tidak melukai gusi.
  3. Ajak anak berbelanja sikat dan pasta gigi anak. Bebaskan ia memilih sikat atau pasta gigi anak bergambar kartun favoritnya atau warna-warna yang ia sukai.
  4. Pasang lagu kesukaan anak atau mainan jam pasir. Idealnya, menurut drg. Rani, menyikat gigi sekurang-kurangnya 2 menit. Ibu bisa mengakalinya dengan memasang musik atau menyetel jam pasir selama 2 menit.
  5. Beri stiker/cap setiap anak selesai sikat gigi. Salah satu metode mendisiplinkan anak adalah dengan memberi reward atas upayanya. Misal setelah seminggu rutin mengumpulkan stiker, Ibu akan mentraktirnya jajan es krim.
  6. Stop paksa si kecil menyikat gigi! Semakin dipaksa, anak bisa mengasosiasikan sikat gigi sebagai aktivitas yang tidak menyenangkan. Ibu bisa ajarkan perlahan-lahan dengan menjadi role model. Misal ajak anak menirukan gerakan sikat gigi bersama-sama. Lebih seru lagi jika kakak atau Ayah ikut serta mendampingi si kecil.

“Anakku maunya sikat gigi sendiri dan rewel kalau diawasi. Soalnya dia paling suka pejet-pejet pasta gigi anak, trus diemut-emut seperti permen. Duh, takut kalau sampai tertelan! Tapi bingung juga karena anakku selalu nangis kalau aku bantu sikatan. Gimana ya?” 

Dilema yang dirasakan Ibu Gina ini juga pasti pernah dialami oleh para Ibu di luar sana. Ingin hati membiarkan si kecil belajar sendiri menyikat giginya, eh tapi juga takut kalau ia menelan pasta gigi yang mengandung fluoride melebihi dosis yang dianjurkan. Takaran pasta gigi anak berfluoride untuk usia di bawah 3 tahun hanyalah sebutir beras, sedangkan di atas 3 tahun sebesar kacang polong. Tapi anak biasanya rewel kalau dikasih pasta gigi cuma sedikit, apalagi kalau rasanya manis hmm pasti ingin pakai lebih banyak. 

Anak di bawah usia 3 tahun butuh pengawasan Ibu. Bahkan saat ia selesai menyikat gigi sendiri, Ibu tetap harus membantu sikat lagi agar lebih bersih. Nah, otomatis penggunaan pasta gigi anak haruslah aman dan nyaman bagi si kecil.

Memilih Pasta Gigi yang Aman dan Disukai Anak


Saat memilih pasta gigi anak, Ibu harus mengecek kandungannya terlebih dahulu. Jangan hanya berfokus pada varian rasa dan desain kemasan pasta gigi anak. Tentu hal itu penting agar si kecil semangat menyikat gigi, namun formulanya juga harus oke ya Bu!

Seperti cerita Ibu Gina yang selalu memperhatikan komposisi kandungan pasta gigi anak saat berbelanja. “Aku selalu lihat dulu nih, apakah ada kandungan SLS atau pakai pemanis buatan. Aku selalu milih yang pakai xylitol alami dan food-grade biar rasanya tetap manis tapi aman buat anakku. Aku so far pakai Purekids Toothpaste, untungnya ada varian banana flavour favorit anakku, jadi dia happy tiap sikat gigi.”

Menurut jurnal PDGI, SLS (Sodium Lauryl Sulfate) merupakan suatu bahan kimia yang digunakan sebagai deterjen pada sabun cuci mobil, pembersih lantai, shampoo, sabun mandi dan juga pasta gigi. Penggunaan SLS yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi pada rongga mulut, ulserasi yang parah, penurunan kelarutan air liur serta perubahan sensitivitas rasa. Batas pemakaian SLS yang dibenarkan dalam pasta gigi adalah 1-2%, sedangkan pemakaian rata-rata SLS dalam pasta gigi di pasaran adalah sebanyak 1,5-5%. 

Tak salah jika Bu Gina kemudian memilih pasta gigi anak yang aman tanpa SLS seperti Purekids Toothpaste karena efek samping SLS cukup ngeri juga ya, Bu! 

Mengapa Memilih Pasta Gigi Anak dari Purekids?

Bagi anak yang baru mulai berkenalan dengan pasta gigi, penting sekali untuk memilih  pasta gigi anak yang aman jika tertelan tanpa kandungan SLS, terutama bila si kecil belum bisa berkumur. Nah, semua hal itu bisa Ibu dapatkan di Purekids Toothpaste.

Pure Kids Toothpaste merupakan pasta gigi untuk membersihkan dan merawat gigi anak agar tetap sehat dan tidak berlubang. Purekids Toothpaste adalah pasta gigi anak yang aman bila tidak sengaja tertelan karena formulanya tidak mengandung SLS sehingga mencegah iritasi pada mulut dan untuk mencegah gigi keropos. Pure Kids Toothpaste juga mengandung xylitol, yaitu pemanis alami yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri kariogenik (bakteri penyebab kerusakan gigi). Selain itu, xylitol juga bisa mencegah peradangan pada gusi yang disebabkan penumpukan bakteri gingivitis.

Pasta gigi anak dari Purekids juga menawarkan 2 varian rasa; pisang dan strawberry. Ibu bisa mengajak si kecil untuk memilih rasa buah favoritnya. Karena memakai xylitol sebagai pemanis alami, rasa Purekids Toothpaste yang manis juga bisa bikin betah anak berlama-lama menyikat gigi. Selain itu, produk pasta gigi anak Purekids tidak mengandung paraben dan pewarna buatan sehingga pastanya tidak berwarna. Ibu pun kini bisa lega saat membiarkan anak berlama-lama menyikat giginya sendiri. 

Bagaimana, Ibu tertarik mencoba pasta gigi anak dari Purekids? Tak perlu khawatir, kini Purekids Toothpatse bisa didapatkan di Apotek Century, Apotek Kimia Farma, Farmers, Foodhall, Diamond, Aeon, Lulu, Grand Lucky, serta baby shop dan apotek terdekat. 

Jangan lupa juga untuk rutin memeriksakan si kecil ke dokter gigi anak setiap 6 bulan sekali ya, Bu! Ayo bangun kebiasaan baik menyikat gigi sebelum tidur agar terhindar dari gigi berlubang bersama Purekids Toothpaste!

Penulis: Yusrina