Balita Dibaca 9,643 kali

6 Bukti Hubungan Ibu Menyusui dan Pola Makan. Mitos atau Fakta?

Share info ini yuk ke teman-teman
Ismawati

Terakhir diperbaharui 01 Februari, 2019 07:02

6 Bukti Hubungan Ibu Menyusui dan Pola Makan. Mitos atau Fakta?

Benarkah Ibu menyusui perlu menjaga pola makan sempurna untuk menghasilkan ASI berkualitas? Hm, ternyata itu cuma mitos lho. Faktanya, Ibu menyusui dengan kondisi nutrisi yang buruk sekali pun tetap bisa menghasilkan ASI dengan kualitas yang cukup.

Berikut adalah hal yang perlu diketahui tentang  hubungan antara Ibu menyusui dan pola makan:

 

1. Persediaan ASI Ibu kemungkinan besar tidak terpengaruh oleh pola makan

Sering kali, apa yang ibu makan dan minum tidak mempengaruhi produksi ASI. Tersedianya ASI bagi Ibu menyusui kerap kali ditentukan oleh seberapa sering dan seberapa baik payudara Ibu dikosongkan. Semakin sering payudara dikosongkan, semakin banyak ASI yang dihasilkan. Bahkan ibu menyusui yang pola makannya buruk dan seringkali berada dalam kondisi kelaparan bisa terus menyusui selama bertahun- tahun.

Beberapa ibu menyusui merasakan perubahan kuantitas ASI ketika makan makanan tertentu yang dikenal sebagai booster ASI, misalnya pepermint, mint, jahe, atau oat. Meski belum ada hasil studi yang menunjang pernyataan tersebut.

Sementara itu, beberapa Ibu menyusui mengaku bahwa menghidrasi diri lebih sering juga dapat meningkatkan persediaan ASI. Untuk Ibu menyusui disarankan mengonsumsi cairan setiap kali merasa haus. Sebagai catatan, minum alkohol saat menyusui secara negatif mempengaruhi persediaan ASI dan refleks pengeluaran ASI.

 

2. Ibu membutuhkan lebih banyak kalori

Memproduksi ASI membutuhkan kalori lebih banyak. Jadi ketika Ibu menyusui, Ibu akan merasa lebih lapar dibanding bila Ibu tidak menyusui. Bila porsi makan sesuai rasa lapar, maka Ibu kemungkinan menambah asupan kalori.

 

3. Keseluruhan komposisi ASI tidak terpengaruh

Keseluruhan lemak, laktosa, dan kandungan protein di ASI tidak terpengaruh oleh pola makan. Karena kandungan energi ASI ditentukan oleh konsentrasi makronutrisi ini, bukan oleh pola makan.

 

4. Makan lebih banyak ikan bagus untuk otak bayi

Jumlah lemak yang Ibu makan tidak mempengaruhi jumlah keseluruhan lemak di ASI. Tapi, jenis lemak yang Ibu makan memiliki efek pada jenis lemak di ASI Ibu. Jadi bila Ibu ingin ada lebih banyak asam lemak omega 3 di ASI, makanlah lebih banyak makanan dengan kandungan ini. Jenis asam lemak ini penting untuk otak dan perkembangan mata.

 

5. Mineral di ASI sangat tidak berhubungan dengan pola makan

Mineral di ASI tidak berhubungan dengan pola makan ibu menyusui. Tapi pola makan bisa mempengaruhi konsentrasi yodium di ASI. Karenanya wanita hamil dan Ibu menyusui dianjurkan untuk minum suplemen yodium.

 

6. Suplemen vitamin B12 atau vitamin D mungkin dibutuhkan

Pola makan ibu menyusui bisa mempengaruhi konsentrasi vitamin pada ASI. Tapi rata-rata pola makan biasanya memberi Ibu jumlah vitamin yang cukup.  Conton vitamin yang dibutuhkan dalam bentuk suplemen termasuk:

  • Vitamin B12 
    Jika Ibu adalah vegetarian, maka bisa jadi kekurangan vitamian B12. Ini membuat ASI kurang kandungan vitamin B12. Bicarakan pada dokter terkait perlunya konsumsi suplemen vitamin B12. 

  • Vitamin D 
    Paparan sinar matahari yang teratur membantu menurunkan risiko kekurangan vitamin D. Konsultasikan ke dokter bila Ibu merasa membutuhkan suplemen vitamin D. Bayi yang menyusu biasanya berisiko kekurangan vitamin D jika:
    • Memiliki kulit berwarna gelap
    • Ibunya kekurangan vitamin D
    • Menerima terlalu sedikit sinar matahari. 


Beberapa bayi bereaksi terhadap makanan yang dikonsumsi oleh Ibu menyusui. Secara umum tidak ada makanan yang perlu dihindari oleh ibu menyusui. Tapi sebagian kecil bayi yang menyusu ASI menunjukkan tanda sensitivitas pada makanan dengan bereaksi pada makanan yang ibu makan.

Tapi pada kebanyakan kasus, bayi yang sensitif pada makanan biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala ketika menyusu secara eksklusif, tapi mulai menunjukkan tanda signifikan setelah mulai makan makanan yang memicu reaksi.

Bila bayi secara medis terdiagnosa sensitif terhadap makanan, maka Ibu cukup menghindari makanan tersebut agar bisa terus memberikan si kecil ASI. Bila Ibu khawatir bayi sensitif terhadap makanan tertentu, minta saran dari ahli nutrisi atau dokter spesialis.

 

Pola makan mempengaruhi bakteri di ASI

Kini ada semakin banyak studi yang meneliti pentingnya jenis bakteri di usus dan kesehatan secara menyeluruh.

Bayi mendapat lebih dari sekedar nutrisi dari ASI. Bayi juga menerima prebiotik dan probiotik serta pelindung kekebalan yang penting lainnya. Apabila Ibu menyusui punya lebih banyak bakteri bermanfaat di ASI, itu berarti Ibu melepas lebih banyak bakteri bermanfaat (probiotik) ke bayi melalui ASI. ASI dari ibu yang mengalami obesitas cenderung mengandung komunitas bakteri berbeda dibanding ASI dari ibu dengan berat badan normal. Jika Ibu menyusui mengalami obesitas,maka cobalah untuk menurunkan sedikit berat badan.

 

ASI selalu berubah sesuai kebutuhan bayi

ASI berubah dari hari 1 ke hari 7 di awal Ibu menyusui, lalu berubah lagi ke hari 30 dan seterusnya. Perubahan juga terjadi dari awal ke akhir periode Ibu menyusui. Bahkan ASI dari ibu yang  memiliki bayi prematur berbeda dengan ASI dari ibu dengan bayi yang lahir cukup umur.

Dengan kata lain, perubahan ASI terjadi untuk memenuhi kebutuhan bayi. Komposisi di ASI juga berubah bergantung apakah ibu punya bayi laki-laki atau bayi perempuan. Begitu juga ASI dari ibu yang makan banyak variasi nutrisi pada tiap waktu makan setiap hari bisa berbeda dengan ASI ibu yang makan makanan siap saji setiap waktu makan.  Meski ASI ibu berbeda bergantung pada kebutuhan individual bayi, ASI tetap sangat berbeda dengan susu formula.

 

ASI penting untuk bayi

Ketika Ibu menyusui si kecil, jagalah pola makan yang seimbang demi bisa memberi nutrisi melimpah yang dibutuhkan ASI. Ibu tidak wajib mengikuti pola makan sempurna untuk memproduksi ASI berkualitas. Cukup makan dengan baik dan teratur maka Ibu pun akan merasa lebih baik.

 

Diet saat Ibu menyusui

Banyak wanita berhasil menurunkan berat badan selama menyusui. Tapi bila Ibu memutuskan melakukan diet, penting untuk memperhatikan hal berikut:

  • Jangan lakukan diet lebih awal dari 2 bulan setelah melahirkan.
  • Kekurangan nutrisi bisa memicu kekurangan vitamin di tubuh, seperti vitamin A, D, B6, dan B12 yang sangat penting untuk perkembangan mental dan fisik bayi.
  • Efek samping yang sering terjadi akibat diet adalah penurunan kekuatan. Sebagai akibatnya, Ibu menyusui tidak bisa memberi perhatian sepenuhnya dan perawatan yang dibutuhkan bayi.
  • Penurunan berat badan harus bertahap. Maksimal sebanyak 0,45 kg per minggu. Jika tidak, banyak racun berkumpul di sel lemak yang akan masuk ke darah dan ke ASI.

 

Makan sehat penting untuk Ibu menyusui

Ibu menyusui bisa makan hampir apa saja asalkan berhati-hati. Ada pendapat semakin bervariasi nutrisi ibu, semakin sedikit masalah pencernaan dan alergi yang akan dialami bayi. Anak yang minum ASI menjadi terbiasa dengan makanan ibu yang bervariasi  dan tubuhnya perlahan menerimanya. Ibu bisa makan hampir semua jenis menu asalkan sehat. Makanan siap saji dan mengandung pemanis serta alkohol, sebaiknya dihindari oleh ibu menyusui.

Prinsip makan sehat baik untuk siapa saja tapi terutama penting untuk ibu baru. Jika setelah bayi lahir seluruh keluarga menjalankan pola makan yang baik, ini akan memberi manfaat besar untuk tiap orang.

Untuk mengetahui reaksi bayi pada makanan yang Ibu makan, Ibu bisa mulai membuat diary makanan. Tuliskan makanan yang Ibu makan selama satu hari dan reaksi bayi terhadap makanan ini. Dengan melakukan ini, Ibu bisa tahu pasti apa saja yang baik untuk si kecil dan mana yang harus Ibu hindari.

 

Bagaimana seharusnya ibu menyusui makan?

  • Kandungan kalori harian harus ditingkatkan menjadi 500 sampai 600 kcal dibanding pola makan biasa. Tapi bila Ibu belum mencapai angka ini, tidak akan mempengaruhi tubuh. Produksi ASI membutuhkan peningkatan konsumsi energi, jadi tambahan kalori akan mudah habis.
  • Ibu menyusui dianjurkan sering makan dalam porsi kecil untuk menyediakan persediaan nutrisi yang konstan untuk tubuh. Tidak perlu menerapkan jadwal makan khusus. Cukup makan sesuai selera makan Ibu. Ada baiknya Ibu juga makan cemilan. Di awal, bayi butuh banyak waktu di payudara, jadi Ibu bisa merasa lapar selama atau segera setelah menyusui.
  • Piramida makanan klasik menyertakan sereal, daging, ikan, sayuran, dan buah. Tapi semakin banyak variasi makanan akan semakin baik. Tidak ada batasan atau larangan makanan tapi ada beberapa jenis makanan yang perlu Ibu lebih waspadai.
  • Ibu menyusui harus minum banyak cairan. Sekitar 4 liter sehari biasanya cukup tapi bila Ibu tidak ingin minum, jangan paksakan diri. Tiap wanita memiliki kebutuhan cairan berbeda bergantung berat dan konstitusi tubuh.

Bila ibu tidak mengalami alergi makanan, maka bayi kemungkinan juga tidak mengalaminya. Kadang, reaksi yang muncul akibat produk makanan tertentu tidak berbahaya, misalnya beberapa variasi ikan atau daging. Memperhatikan reaksi bayi akan membantu menghindari masalah jangka panjang. Sebagai aturan umum, ibu menyusui secara perlahan memperluas variasi makanan dan setelah 6 bulan Ibu bisa makan apapun yang diinginkan. Organisme tubuh bayi beradaptasi terhadap hal baru dan menjadi bisa mencernanya.

 

Apakah makanan pedas aman bagi ibu menyusui?

Di beberapa negara, ibu menyusui terbiasa makan makanan pedas dan ini tidak menyebabkan perubahan drastis pada pola makan selama menyusui. Tidak ada bukti kalau bayi menjadi bergas atau rewel saat ibu menyusui mengonsumsi makanan pedas. Sebaiknya tetap jalankan pola makan yang sehat dan bervariasi dan hindari makanan yang cenderung membuat Ibu merasa tidak nyaman.

Tidak seperti susu formula, ASI berubah rasanya sesuai makanan yang Ibu makan. Misalnya, bila Ibu makan bawang putih, ASI bisa memiliki rasa yang sama dan si kecil akan menyukainya juga.

Para ahli bahkan menganggap ini sebagai cara Ibu menyusui untuk memperkenalkan rasa makanan padat ke bayi. Ibu membantu bayi mengembangkan indera perasa agar siap menerima makanan padat. Rasa manis dari gula alami pada ASI akan mendominasi indera perasa anak.

Mengenali sensitifitas bayi terhadap makanan bisa diketahui ketika Ibu menyusui anak dan ia bereaksi seperti berikut:

  • Rewel setelah menyusu
  • Sedikit tidur
  • Menangis lama
  • Terlihat tidak nyaman
  • Terbangun tiba-tiba
  • Nafas berbunyi
  • Reaksi pada kulit
  • Ada lendir atau warna hijau pada feses.

Namun, tanda ini tidak menjadi indikasi respon terhadap makanan pedas apabila hal tersebut merupakan indikasi alergi terhadap makanan seperti produk susu atau jagung.

Bila Ibu menyusui mengonsumsi makanan pedas dan melihat gejala ini, hindari makan makanan pedas selama satu minggu dan perkenalkan nanti untuk melihat perilaku bayi. Beberapa bayi menjadi rewel bila ibu makan makanan pedas sehingga sebaiknya tidak berlebihan. Bila perlu, jadwalkan pertemuan dengan dokter untuk meminta saran.

 

Bolehkan ibu menyusui mengonsumsi minuman dingin?

Tidak hanya di saat hamil, saran ini kerap kali didengar pula oleh para Ibu menyusui. Saran ini biasanya datang dari orang tua supaya Ibu tidak minum minuman dingin karena bisa membuat bayi pilek. Ini tidak benar sama sekali, beberapa wanita juga diminta tidak mandi air dingin karena juga bisa menyebabkan masalah yang sama. Saran ini jelas tidak memiliki penjelasan rasional.

Bila ibu menyusui minum minuman dingin, sebenarnya hal ini tidak akan membahayakan bayi atau membuatnya pilek. Sebab, infeksi virus tidak ditularkan melalui ASI. Apabila ibu menularkan infeksi ke bayi, hal ini terjadi karena penularan terjadi melalui tetesan cairan tubuh dan virus tertular ke bayi bahkan sebelum gejala terlihat pada ibu.

Tidak ada alasan untuk ibu tidak menyusui saat sakit, sebab pilek atau batuk tidak akan mengubah komposisi ASI. Mungkin satu-satunya waktu di mana ibu menyusui tidak bisa memberi ASI kepada si kecil adalah ketika menjalani pembedahan karena alasan medis.

Jadi tidak ada hubungan antara konsumsi minuman dingin dan perubahan komposisi ASI ya, Bu. Asalkan Ibu menyusui minum banyak cairan, maka kualitas ASI juga akan terjaga. Selain itu, makanan yang kaya protein juga amat dibutuhkan oleh ibu menyusui. Tidak perlu mengonsumsi terlalu banyak protein selama laktasi, cukup 400 kalori tambahan. Minum satu gelas air jeruk dingin di siang hari saat udara menyengat juga tidak akan membahayakan ibu dan si kecil.

 

Mitos seputar pola makan ibu menyusui

Ada banyak pemahaman keliru tentang menyusui yang membuat ibu bingung. Mana yang benar dan mana yang salah? Berikut ini penjelasannya:

 

1. Makan untuk dua orang

Selama hamil, tubuh wanita mengumpulkan kandungan bermanfaat untuk janinnya. Lemak tersimpan pada area pinggang, perut, dan bawah lengan. Setelah melahirkan, ibu menyusui biasanya kembali ke berat badan normal di akhir tahun pertama atau selama tahun kedua usia bayi.

Jangan membuat diri Ibu haus dan lapar. Ingat, ini bukan tentang kuantitas makanan, tapi kualitasnya. Di sisi lain, makanan bervariasi akan cukup menutrisi untuk ibu dan bayi. Ibu tidak perlu makan banyak untuk bisa menyusui. Yang perlu Ibu lakukan adalah makan makanan sehat.

 

2. Semakin banyak ibu minum semakin banyak ASI yang diproduksi

Salah. Minumlah sebanyak yang Ibu mau. Akan selalu ada cukup ASI untuk bayi. Ditambah lagi, bila ibu minum cairan hangat 10 sampai 15 menit sebelum menyusui, maka tingkat hormon oksitosin akan meningkat dan menyebabkan ASI lebih mengalir. Ini tidak berarti akan ada lebih banyak ASI, tapi memudahkan bayi untuk menghisap ASI. Teh yang dicampur susu juga tidak mempengaruhi laktasi.

 

3. Kacang meningkatkan laktasi dan membuat ASI lebih berlemak

Secara umum, komposisi ASI biasanya konstan, apapun makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui. Tidak mungkin meningkatkan kandungan lemak pada ASI dengan makanan. Konsumsi kacang tidak meningkatkan kandungan lemak di ASI tapi mengubah komposisi lemak, membuat ASI lebih kental, karenanya lebih sulit untuk dihisap bayi.

 

4. Bawang putih dan makanan pedas membuat rasa ASI tidak enak

Meski rasa ASI bisa bervariasi, bukan berarti bayi akan menolak menyusu. Selain itu, Ibu menyusui juga tidak perlu berhenti makan makanan pedas karena penelitian tentang hal ini membuktikan bahwa bayi tetap mau minum dari payudara ibu.

 

(Ismawati, Yusrina / Dok. Pixabay)