Balita

Aturan dan Cara Tepat Memuji Anak

Terakhir diperbaharui

Aturan dan Cara Tepat Memuji Anak

Di banyak budaya tradisional, orangtua menghindari memberikan pujian ke anak. Mereka khawatir kalau terlalu banyak memuji anak akan membuat anak bersikap egois dan merasa terlalu percaya diri. Ini dianggap pemahaman yang kuno. Kini, orang saling memuji dan memberikan banyak pujian ke anak. Mereka meyakini memuji anak akan membuat anak lebih termotivasi, lebih peraya diri, dan lebih mampu menghadapi tantangan. Apakah benar seperti itu?

 

Anak akan merasa senang ketika diberitahu kalau mereka sangat cantik atau ganteng dan betapa bangganya Anda pada mereka. Tapi Bunda, ketika memuji anak, ada yang lebih penting dari sekedar meningkatkan rasa percaya diri mereka.

 

Tugas orangtua adalah membentuk perilaku anak. Anak menganggap pujian sebagai hadiah, dan pujian adalah cara untuk membantu anak mengetahui perilaku mana yang bisa diterima, meski sejak usia dini.

 

Seorang ahli menganjurkan orangtua untuk mengatakan 10 hal positif pada anak untuk tiap satu respon negatif. Anda bisa lontarkan komentar untuk perilaku anak yang Anda suka ketika melihatnya. Misalnya, ketika melihat si kecil bermain sendiri dengan balok, cukup katakan, “Kamu mainnya anteng sekarang.”

 

Cara memberi pujian ke anak

Berikut ini cara memberi pujian ke anak yang akan membantu anak menjadi percaya diri dan bertanggung jawab.

 

  1. Fokus pada prosesnya, bukan hasilnya

    Sebuah laporan dari asosiasi psikolog di Amerika menjelaskan tentang kelompok reaksi anak kelas 5 ketika memecahkan soal Matematika. Beberapa anak menerima pujian karena kemampuan intelektualnya, sedang yang lain menerima pujian karena kerja kerasnya. Peneliti menemukan kalau memuji anak karena kepintarannya lebih berbahaya karena membuat anak tidak bisa menghadapi kegagalan. Hal sebaliknya terjadi pada anak yang menerima pujian karena usahanya, mereka terlihat lebih tabah.

     

    Memuji anak karena mereka pintar pada dasarnya memberi pujian untuk genetik yang sudah dimiliki, bukan pada  apa yang anak coba kuasai. Perilaku positif dan keinginan untuk meningkatkan diri yang membuat anak jadi pribadi yang serba bisa.

     

    Itu sebabnya ketika memuji batita dan anak usia sekolah, penting untuk fokus pada proses, bukan hasilnya. Misalnya, bila batita suka membantu Anda mengurus kucing tapi kadang ia menyebabkan berantakan, katakan seperti, “Memang susah bawa minum kucing pakai mangkok tanpa tumpah, tapi Bunda suka kamu sudah berusaha” atau “Bunda suka cara kamu menggiring bola di lapangan.”

     

    Di kedua contoh ini, Anda memuji usaha anak yang mengantar mereka pada kesuksesan. Dan ketika Anda melakukannya, Anda bersikap positif meski hasilnya tidak ideal. Dan tak apa membiarkan anak gagal. Ketika kita turun tangan dengan kemampuan orang dewasa untuk melakukan hal yang anak bisa lakukan sendiri, kita telah merusak kompetensi mereka. Menyelesaikan tugas tanpa bantuan orang dewasa adalah kunci untuk perkembangan diri anak.

     

  2. Menatap mata anak

    Bagaimana cara Anda memberi pujian sangat penting, bahkan lebih penting dibanding suara yang Anda gunakan. Gunakan nada suara yang hangat dan penuh rasa sayang, juga lakukan kontak mata. Dan bila memungkinkan, turunkan posisi Anda ke level anak, dengan wajah Anda menghadap ke wajah anak. Interaksi macam ini meningkatkan rasa percaya diri anak.

     

  3. Pilih kata-kata yang tepat

    Ketika memuji anak, gunakan bahasa yang sesuai untuk tahap perkembangan anak. Untuk memuji bayi, Anda bisa hanya bergumam dan tersenyum. Ketika anak bertambah besar, gunakan kata-kata yang tepat dan tunjukkan pemahaman serta empati. Misalnya, bila anak usia 2 tahun Anda ingin mengenakan kaos kaki tapi tidak bisa, katakan seperti, “Kamu sudah berusaha keras untuk bisa memakai kaos kaki itu. Bunda bisa bantu jadi kamu bisa pakai sepatu sendiri.”

     

  4. Berikan pujian untuk kekuatan individu anak

    Anak selalu membandingkan dirinya dengan anak lain. Ia membandingkan dirinya dengan kakaknya, mulai dari cara menendang bola hingga membuat karya seni. Anda bisa katakan, “Kakak memang bisa memainkan bola, tapi Bunda lihat kamu bisa lari dengan sangat cepat.” Pendekatan ini bisa membantu anak memahami kalau tiap orang punya kekuatan dan semua berbeda.

     

  5. Perhatikan hal-hal kecil

    Anak mencari perhatian, ini membuat mereka merasa disayang. Anda bisa katakan, “Terima kasih ya sudah mau menggosok gigi tanpa Bunda suruh.”

     

    Pujian yang spesifik memberitahu anak kalau Anda memberikan perhatian dan memberi contoh konkret dari perilaku yang Anda inginkan.  Ketika si kecil dengan tenang meminta giliran pada adiknya untuk memainkan mainan baru, bukan dengan berteriak-teriak, berikan pujian tentang cara dia mengatasi situasi agar ia tahu Anda melihatnya.

     

  6. Bukan pujian palsu

    Hindari kata paling, kebanyakan anak menyadari kalau mereka bukan anak yang paling baik, bukan siswa terbaik, atau atlet terbaik. Ketika anak sulit mengerjakan tugas atau salah ketika bermain piano, jangan berikan pujian palsu. Lebih baik katakan, “Kamu berusaha sangat keras untuk memainkan lagu itu.” Anak sangat ahli dalam mendeteksi pujian yang tidak tulus, dan memberinya pujian yang palsu bisa membuat mereka mempertanyakan kredibilitas Anda.

     

  7. Berikan pujian ketika anak layak mendapatkannya

    Anda tidak harus pelit melontarkan pujian, tapi jangan berlebihan atau Anda berisiko membuat anak meminta pujian untuk tiap tindakan kecil. Anda bisa memuji anak ketika pertama kali ia membawa sendiri piring kotor ke dapur, tapi tidak perlu memujinya tiap kali ia memasukkan piring kotor ke bak cuci. Cukup ucapkan, “Terima kasih sudah bantu Bunda.” Ini akan membuatnya senang karena ia tahu Anda menghargai kontribusinya.

 

Dos dan don’ts dalam memuji anak

Sebelum Anda bertepuk tangan dan melontarkan pujian, ada beberapa dos dan don’ts penting yang perlu diingat yang akan membantu anak menemukan nilai dari kata-kata pujian Anda:

  • Daripada mengatakan, kamu pemain bola yang hebat, katakan “Kamu menendang bola sangat keras dan kamu jadi pemain belakang yang bagus.” Spesifik jauh lebih baik dan membantu anak mengidentifikasi kemampuan khusus mereka.

     

    Kapanpun memungkinkan, secara spesifik katakan, “Bunda suka cara kamu mewarnai tiap sudut gambar” atau “Kombinasi warna yang kamu pilih bagus.” Pujian deskriptif seperti ini membuat anak mengerti kenapa ia mendapat pujian dari Anda. Dan ketika tindakan sesuai dengan pujian, anak bisa membedakan antara pujian palsu dan yang sesungguhnya. Lagi pula, anak tidak butuh pujian untuk tiap hal yang dilakukan.

  •  
  • Dorong aktivitas baru. Puji anak karena ia mau mencoba hal baru, seperti belajar mengendarai sepeda atau mengikat tali sepatu, dan tidak takut melakukan kesalahan.
  •  
  • Coba untuk tidak berlebihan memuji tentang atribut anak, seperti “Kamu pintar, ganteng, cantik, cerdas, dan berbakat. Orangtua dan kakek-nekek tentu melakukan ini dan tidak apa. Tapi bila anak sering mendengar pujian ini, akan terdengar kosong dan punya arti kecil bagi anak.

     

    Bila Anda memuji berlebihan, Anda akan kehilangan kredibilitas. Bila Anda katakan “Kerja yang bagus,” atau “Bunda suka gambar itu” berulang kali nantinya kata-kata ini tidak lagi punya arti.

     

    Pujian membuat anak menerima pesan kalau mereka diterima dan dihargai, tapi pujian berlebihan seperti “Kamu yang terbaik, paling pintar, atau paling cantik,” hanya membuat anak pada akhirnya merasa kecewa. Beberapa ahli juga mengatakan memuji berlebihan bisa membuat anak merasa tertekan untuk melakukan sesuatu dan bisa mengembangkan kebutuhan untuk selalu mencari persetujuan dari orang lain. Tapi bila Anda sering memberi dorongan, dan menyimpan pujian ketika sangat dibutuhkan, anak akan merasa lebih percaya diri karenanya.
  •  
  • Berikan pujian ketika anak memang bersungguh-sungguh. Katakan, “Kerja yang bagus,” atau “Kamu berusaha sangat keras di ujian” ketika anak bersungguh-sungguh. Katakan ke anak kalau Anda melihat usaha keras mereka. Ini juga membuat anak menyadari kalau Anda mengetahui perbedaan antara kapan mereka bekerja keras untuk mencapai sesuatu dan kapan anak memperoleh prestasi dengan mudah saja.

 

Ketika orangtua berlebihan memuji anak

Banyak Ayah dan Bunda mengalami kesulitan untuk tidak berlebihan ketika memuji anak. Sebenarnya seberapa banyak yang dianggap berlebihan?  Dan berapa banyak yang dianggap terlalu sedikit? Apakah kuantitas penting atau kualitas pujian yang lebih utama?

 

Meski tidak ada formulanya,  para ahli memahami kapan, di mana, dan bagaimana memuji anak menjadi alat penting dalam meningkatkan rasa percaya diri anak yang sehat.

 

Orangtua biasanya memuji anak ketika mereka berprestasi bagus di sekolah, menang pertandingan bola, atau berhasil membangun istana dari pasir. Orangtua melontarkan pujian untuk apapun yang terlihat luar biasa, tapi pada banyak kasus, pujian diberikan ke anak untuk apapun yang biasa-biasa saja.

 

Jenn Berman, PhD, seorang terapis dan penulis buku berjudul The A to Z Guide to Raising Happy and Confident Kids, mengatakan orangtua cenderung berlebihan dalam memuji anak. Dengan memberikan pujian berlebihan, orangtua mengira membangun rasa percaya diri anak, padahal yang terjadi bisa sebaliknya.

 

Terlalu banyak menerima pujian bisa berefek negatif. Ketika pujian diberikan dengan cara yang tidak tulus, ini membuat anak takut mencoba hal-hal baru atau mengambil risiko karena mereka merasa khawatir tidak bisa berada di posisi atas yang dipuji orangtua.

 

Selalu memuji anak membuat mereka menerima pesan kalau mereka harus selalu menerima persetujuan orangtua dan sering melihat ke orangtua untuk mendapat persetujuan.

 

Tidak memberi pujian sama merusaknya seperti memberikan terlalu banyak pujian. Anak akan merasa kalau ia tidak cukup baik atau merasa Anda tidak peduli, dan sebagai akibatnya, anak tidak melihat point kekuatan pada diri mereka.

 

Jadi berapa jumlah pujian yang tepat? Para ahli mengatakan kualitas pujian lebih penting dibanding kuantitasnya. Bila memuji dengan tulus dan fokus pada usaha anak, bukan hasilnya, Anda bisa berikan sesering mungkin ketika anak melakukan sesuatu yang layak dipuji.

 

Orangtua perlu mengenali usaha anak yang mendorong mereka untuk bekerja keras dan mencapai tujuan. Satu hal yang perlu diingat adalah prosesnya, bukan hasil akhirnya yang penting. Anak Anda mungkin bukan pemain basket terbaik di teamnya. Tapi ia berlatih setiap hari, Anda perlu memuji usaha ini meski teamnya menang atau kalah karena ini yang paling penting.

 

Memuji usaha anak, bukan hasilnya, juga bisa berarti Anda menyadari usaha anak ketika ia bekerja keras untuk membersihkan taman, memasak makan malam, atau menyelesaikan tugas rumah. Tapi memuji harus diberikan kasus per kasus dan pada proporsi yang sesuai. Berikut ini contoh di kehidupan nyata yang menunjukkan memuji anak sesuai dengan prestasinya:

  • Bila anak adalah siswa yang bertanggung jawab yang konsisten mendapat nilai bagus di pelajaran Matematika, misalnya, Anda bisa menekankan pada kebiasaan belajarnya yang baik, tapi jangan berlebihan dengan memujinya setiap malam ketika ia duduk dan membuka buku bila ini adalah rutinitas yang normal. Berikan pujian ketika anak melakukan sesuatu yang luar biasa.
  •    
  • Ketika putri Anda berlatih berminggu-minggu dan akhirnya bisa mengendarai sepeda roda dua, berikan pujian untuknya.
  •    
  • Ketika anak beratraksi dengan sepedanya, Anda bisa katakan kalau ia berani. Tapi jangan berlebihan karena ia melakukannya hanya untuk bersenang-senang.

 

Ketika anak melakukan usaha khusus dan layak menerima pujian, Anda bisa lontarkan pujian ketika menganggapnya sesuai. Tapi larangan yang para ahli sepakati adalah menghindari memuji dengan imbalan uang.

 

Anda tentu ingin anak yang termotivasi sendiri. Bila Anda mengatakan, “Kalau kamu dapat nilai bagus, kamu akan dapat uang 50 ribu,” ini berarti Anda menciptakan situasi di mana anak termotivasi oleh uang, bukan oleh rasa positif dari keberhasilannya.

 

Meski menawarkan insentif uang bukan ide yang tepat, Anda perlu melihat kesempatan untuk merayakan kerja keras anak dan prestasinya. Keluar untuk makan es krim atau makan di luar setelah menerima rapor bagus jadi cara untuk merayakan kerja keras anak.

 

Memuji anak dengan membandingkannya dengan anak lain

Memuji anak karena lebih berprestasi dibanding teman sebayanya awalnya mungkin terlihat baik. Meski penelitian menunjukkan kalau pujian dengan membandingkan ini membuat anak termotivasi dan menikmati sebuah tugas, setidaknya ada dua masalah besar yang terjadi ketika Anda memuji anak dengan membandingkannya dengan anak lain.

 

Pertama, memuji anak dengan membandingkannya dengan anak lain hanya memotivasi selama anak bisa lebih unggul. Bila kompetisi berakhir tidak seperti yang diinginkan, anak akan kehilangan motivasi.

 

Pada sebuah eksperimen di Amerika pada anak kelas 4 dan 5, di mana anak diberikan satu set puzzle untuk diselesaikan dan mereka menerima:

  • Pujian dengan membandingkan dengan anak lain
  • Pujian tentang penguasaan seperti komentar tentang seberapa bagus anak menguasai tugas, atau
  • Tidak dipuji sama sekali.

 

Selanjutnya anak menyelesaikan tugas kedua. Kali ini mereka ditinggal tanpa mendapat komentar tentang tugas yang telah diselesaikan. Bagaimana pengaruhnya pada motivasi anak? Ini bergantung pada jenis pujian yang anak terima sebelumnya. Mereka yang menerima pujian dengan membandingkan mengalami kehilangan motivasi. Tapi anak yang menerima pujian karena kemampuannya menunjukkan peningkatan motivasi. Dengan kata lain, pujian dengan membandingkan anak berefek negatif ketika anak berhenti mendengar kalau mereka lebih baik dari temannya.

 

Masalah kedua, memuji dengan membandingkan mengajarkan anak kalau kompetisi, bukan penguasaan, yang menjadi tujuan utamanya.

 

Ketika anak menganggap tujuan utamanya adalah untuk jadi lebih baik dari teman, mereka kurang motivasi diri untuk  menyelesaikan tugas. Tugas hanya dianggap menarik ketika mereka bisa menunjukkan kalau mereka yang terbaik.

 

Yang lebih parah, anak menjaga kemampuan kompetisinya tetap tinggi sehingga menghindari tantangan dan kesempatan untuk belajar. Mereka menganggap kenapa harus mencoba hal baru dan berisiko gagal? Memuji dengan membandingkan tidak mempersiapkan anak untuk menghadapi kegagalan. Bukannya belajar hal baru dari kesalahan, anak malah meresponnya dengan merasa tidak berdaya.

(Ismawati)