Balita Dibaca 2,189 kali

Cara dan Manfaat Membedong Bayi

Share info ini yuk ke teman-teman
Atalya

Terakhir diperbaharui 12 Januari, 2019 06:01

Cara dan Manfaat Membedong Bayi

Bedong bayi, siapa yang tak mengenal istilah tersebut, apalagi buat para orangtua di Indonesia ini. Bedong bayi memang sudah menjadi tradisi tersendiri di masyarakat kita. Tentu Bunda pun sudah sangat familiar dengan istilah ini. Kegiatan melilit si kecil dengan kain agar si kecil merasa lebih aman dan hangat tubuhnya, inilah yang dikenal dengan istilah bedong bayi. Selain merasa aman dan hangat, membedong tubuh si kecil memiliki manfaat lainnya seperti menghindarkan buah hati Anda dari perasaan takut atau terkejut bila mendengar bunyi-bunyi keras dan sangat membantu dalam menenangkan si kecil yang aktif.

Ketika Anda ingin membedong si kecil Anda harus tau dan memperhatikan benar-benar bagaimana teknik bedong bayi yang tepat. Jangan sampai Anda melilitkan kain terlalu ketat pada si kecil. Lilitan ketat pada tubuh bagian kaki bisa berakibat fatal bagi buah hati Anda. Si kecil bisa saja mengalami nyeri persendian atau bahkan mengalami dyplasia pinggul.

Dyplasia pinggul adalah keadaan di mana tulang rawan pinggul si kecil patah dikarenakan ikatan kencang yang terjadi di bagian kaki. Dyplasia pinggul ini sangat rentan terjadi pada awal masa pertumbuhan bayi. Maka dari itu Anda harus belajar dan mengetahui dengan rinci bagaimana cara tepat membedong si kecil agar si kecil terhindar dari kelainan tersebut.

Bila Anda ingin membedong si kecil, waktu yang tepat untuk membedongnya yaitu setelah Anda memandikan atau menyusui buah hati Anda. membedong bayi pada waktu tersebut akan merileksasi tubuh dan perasaan si kecil sehingga ia merasa nyaman layaknya sedang berada di dalam kandungan Anda.

Kenapa dan kapan membedong bayi?

Membedong bisa jadi kenyamanan bagi bayi dan ada beberapa alasan kenapa membedong bayi jadi hal yang bagus. Membedong bayi segera setelah lahir dan di beberapa minggu pertama usianya membantu bayi tetap hangat karena tubuhnya butuh waktu untuk belajar menyesuaikan suhu tubuh sendiri.

Jangan lupa Bun, bayi punya tubuh Anda untuk mengatur perubahan yang dibutuhkan termasuk suhu tubuh. Selain itu, membedong membantu bayi tidur lebih baik, yang juga membantu ayah dan ibu tidur lebih nyaman. Pastikan saja Anda membedong bayi hingga usianya sekitar dua bulan, atau lebih awal bila bayi sudah mulai belajar berguling.

Bayi baru lahir jadi penyebab orangtua kurang tidur dan apapun yang bisa membantu ayah ibu tidur lebih baik akan sangat populer di kalangan orangtua. Bayi baru lahir memiliki refleks Moro, yang bisa mengganggu tidur atau membangunkannya cukup sering, jadi membedong tidak hanya membuat bayi hangat setelah lahir tapi juga membatasi gerak lengan dan mencegahnya terbangun tiba-tiba.

Pro-kontra membedong bayi

Membedong bayi jadi hal yang umum dilakukan sebelum abad 18, dan praktik ini terus berlanjut hingga saat ini karena dinilai memiliki banyak manfaat. Membedong juga bisa bermanfaat bagi Anda sebagai orangtua baru, bayi yang lelap tidurnya akan membantu Anda tetap tenang dan bisa beristirahat.

  1. Membantu bayi tidur lebih baik

    Membedong bayi bisa melindunginya dari gerakan tiba-tiba sehingga tidurnya lebih baik. Usia bayi perlu berhenti dibedong bervariasi, tapi umumnya sekitar usia 3 bulan. Dr. Harvey Karp, penulit buku berjudul “The Happiest Baby on the Block,” menyatakan meski membedong mirip dengan kenyamanan di dalam rahim dan membuat bayi tenang, rahim tetap tempat yang berisik. Ia merekomendasikan penggunaan white noise bersamaan dengan membedong untuk membantu tidur bayi lebih baik.


  2. Mengurangi tangisan bayi

    Membedong bayi bisa membantunya tenang dan menurunkan durasi tangisannya. Sebuah penelitian yang dilakukan di tahun 2007 oleh peneliti dari Wilhelmina Children’s Hospital dan the University Medical Center Ulbrecht, memonitor 398 bayi dari lahir hingga usia 3 bulan, dengan satu kelompok dibedong dan kelompok lain menerima intervensi normal. Penelitian menyimpulkan membedong bayi membantu menenangkan bayi dan menurunkan tangisan hanya pada rentang usia tertentu. Kelompok bayi yang dibedong menunjukkan tangisan bayi berkurang antara usia 1 hingga 7 minggu.


  3. Risiko hip dysplasia

    Meski membedong bayi membantunya tidur lebih baik dan tidak banyak menangis, muncul kekhawatiran lain, bayi yang dibedong berisiko lebih tinggi mengalami hip dysplasia dibanding bayi yang tidak dibedong.

    Sekitar 17 persen bayi baru lahir menunjukkan tanda hip dysplasia yang biasanya hilang seiring waktu tanpa penanganan. Bayi yang dibedong yang hasil pemeriksaan fisiknya sehat bisa mengalami hip dysplasia nantinya, khususnya bayi di keluarga dengan riwayat hip dysplasia atau berada di posisi sungsang sebelum lahir.


  4. Menurunkan risiko SIDS

    Dr. Bradley Thach dari the Department of Pediatrics di Washington University mengulas beberapa penelitian berhubungan dengan membedong bayi. Ia menyimpulkan, karena bayi yang dibedong tidak bisa merangkak di tempat tidur atau menarik selimut dari kepalanya, ia berisiko lebih rendah mengalami insiden kehabisan napas. Selalu baringkan bayi yang dibedong di posisi telentang untuk menurunkan risiko sindrom kematian mendadak pada bayi atau sudden infant death syndrome atau SIDS.


  5. Kepanasan dan sirkulasi udara

    Sebelum membedong bayi, pastikan Anda tahu cara melakukannya. Membedong bayi terlalu kencang bisa menimbulkan masalah dengan sirkulasi udara atau menyebabkan bayi kepanasan, yang bisa memicu komplikasi medis serius. Minta perawat atau bidan menunjukkan cara yang benar membedong bayi untuk menghindari risiko kesehatan.


Cara membedong bayi

Dalam membedong bayi Anda harus memastikan agar si kecil tidak terikat dan terlilit kain terlalu kencang, sisakan sedikit ruang untuk si kecil agar ia bisa bergerak. Hal ini untuk mengurangi risiko terjadinya dyplasia pinggul pada buah hati Anda.

Ikutilah petunjuk berikut ini agar Anda dapat melakukan bedong bayi yang tepat pada buah hati Anda:

  • Hal pertama yang harus Anda lakukan yaitu menyiapkan kain untuk membedong bayi. Siapkanlah kain yang nyaman untuk si kecil yaitu kain yang terbuat dari katun 100 %. 

  • Letakkanlah kain tersebut di bidang yang datar dan aman sehingga tidak membahayakan buah hati Anda.

  • Tariklah ujung atas kain tersebut sehingga kain membentuk bentuk diamond

  • Jika sudah berbentuk diamond, letakan si kecil ditengah kain, diatas ujung kain yang barusan Anda tarik. Batas kain harus sejajar dengan bahu si kecil.

  • Tarik lagi ujung kain sebelah kiri Anda, lilitkan kain tersebut ditubuh si kecil dengan menarik lurus kain tersebut kearah ujung bawah kain dan letakkan sisa kain di bawah tubuh si kecil. Ketika mulai melilitkan kain pada si kecil pastikan tangannya tidak bergerak dan berada disamping tubuhnya.

  • Tarik ujung kain satunya yaitu ujung kain sebelah kanan Anda, tarik ke arah bawah tubuh buah hati Anda lalu lilitkan ke arah bawah tubuh si kecil. Bila masih ada sisa kain, tariklah kain tersebut ke atas lagi. Lilitkan dan ikatkan kain sisa tersebut di bagian kaki buah hati Anda. Namun pastikan Anda memberikan sedikit ruang agar si kecil bisa bergerak paling tidak menekukkan kaki dan menggerak-gerakkan tangan juga tubuhnya sedikit. Ingat pula jangan terlalu kencang mengikatkan kain pada si kecil untuk menghindari dyplasia pinggul pada buah hati Anda.

  • Langkah terakhir, Anda bisa melipat bagian ujung bawah kain dan menyematkannya di ikatan kaki si kecil. Namun Anda pun bisa membiarkannya tetap panjang begitu saja.

Tanda bayi kepanasan ketika dibedong

Ketika memakaikan bedong ke bayi untuk melindunginya dari cuaca dingin, kadang tanpa kita sadari ini malah membuat bayi kepanasan yang bisa menjadi ancaman serius untuk kesehatannya. Kepanasan berhubungan dengan peningkatan risiko SIDS. Tanda bayi kepanasan bisa dengan mudah dideteksi:

  • Sentuh kepala bayi dan area kerah untuk memeriksa kelembaban. Leher atau kepala yang lembab mengindikasikan bayi berkeringat.

  •  
  • Lihat wajah bayi. Bila terlihat lebih merah dibanding biasanya atau ada ruam, bayi bisa jadi kepanasan.

  •  
  • Dengarkan napas bayi, atau perhatikan dadanya naik dan turun. Napas yang cepat jadi tanda kepanasan. Sentuh dada bayi untuk mengetahui apakah terasa panas, yang jadi tanda ia terlalu kepanasan.

  •  
  • Perhatikan apakah bayi sulit tertidur atau ia tidak tidur selama biasanya. Gelisah kemungkinan jadi tanda si kecil kepanasan. Waspadai Bun, ini juga bisa jadi tanda untuk beberapa masalah, termasuk kedinginan. Jangan dasarkan kesimpulan Anda hanya pada kondisi bayi yang gelisah. Lihat tanda lainnya.

Kecuali bila cuaca dingin, jangan tutupi kepala bayi setelah usianya beberapa hari, terutama selama tidur. Bayi mengeluarkan kebanyakan panas tubuh melalui kepala, jadi menutup kepala bayi akan menjebak panas di dalam tubuhnya. Jangan berlebihan memakaikan baju ke bayi. Bila Anda tidur bersama bayi, jangan gunakan lapisan tambahan karena panas tubuh Anda akan membuat bayi lebih panas. Untuk bayi prematur, bicarakan dengan dokter tentang cara membuatnya tetap hangat.

Tanda bayi tak perlu lagi dibedong

Selain membantu bayi  tidur lebih baik, membedong bayi juga mengurangi kolik. Meski membedong bisa menenangkan bayi, perlahan bayi jadi terlalu besar untuk dibedong.

  1. Usia

    Tidak ada ketentuan kapan waktu bayi siap untuk berhenti dibedong, tapi kebanyakan bayi tidak lagi ingin dibedong dalam rentang waktu tertentu. Rata-rata ini terjadi antara 5 sampai 6 bulan, meski bisa juga terjadi saat bayi berusia antara 3 hingga 9 bulan.


  2. Kesiapan bayi

    Bayi bisa memberitahu Anda kapan ia siap berhenti dibedong. Bayi biasanya sudah terlalu besar untuk dibedong ketika ia bisa berguling. Tanda umum lainnya berupa kemampuan untuk menggerakkan lengan atau menendang kaki keluar dari bedongnya dan menunjukkan ekspresi frustrasi ketika Anda membedongnya.

Teknik

Anda bisa secara bertahap berhenti membedong bayi. Mulai dengan membedong tapi satu tangannya keluar dari bedong selama beberapa hari, lalu lengan satunya dikeluarkan dari bedong. Ulangi prosesnya pada kedua kaki.

Kesalahan dalam membedong bayi

Membedong bayi telah menjadi praktik yang umum bagi orangtua, tapi masih bisa ditemukan kesalahan dalam membedong bayi, berikut ini beberapa diantaranya:

  • Membedong bayi terlalu kencang

    Bayi terlihat sangat lucu ketika dibedong, bukan? Meski bedong harus kencang untuk membuat bayi aman dan menghindari refleks otot yang tiba-tiba, banyak orangtua cenderung menganggap semakin kencang, semakin baik. Ini tidak benar. The International Hip Dysplasia Institute merekomendasikan bedong harus longgar dari pinggang ke bawah, agar bayi punya ruang untuk menggerakkan kaki ke atas dan keluar dari pinggang. Bedong yang tidak tepat bisa menyebabkan hip dysplasia. Di rahim, kaki janin tetap ke atas, menekuk dan menyilang di tubuh. Setelah lahir, orangtua cenderung membedong bayi di bedong  yang kencang dan kakinya lurus yang dapat mengganggu perkembangan alami bayi.


  • Membedong terlalu longgar

    Membedong bayi terlalu kencang bisa menimbulkan masalah pinggang. Tapi bedong yang terlalu longgar bisa membuat bayi terlilit selimut, sehingga menimbulkan risiko sulit bernapas. Bila bedong terlalu longgar dan bayi bisa melepasnya, ada kemungkinan kain bedong menutupi wajah bayi dan jalan udaranya. Ini sebabnya bayi dianjurkan tidur tanpa selimut. Bedong yang kencang mengurangi risiko si kecil terlilit selimut.


  • Membedong bayi dengan posisi tangan di depan dada

    Kesalahan selanjutnya, membedong dengan posisi tangan bayi silang di dada. Dianjurkan ketika membedong bayi, Anda memposisikan tangan bayi di  samping tubuhnya, bukan disilangkan pada dada. Ini karena kurang mungkin bayi akan keluar dari bedong bila lengan berada di samping. Penelitian menunjukkan bayi lebih rileks dan tidur lebih baik bila lengannya diturunkan, kemungkinan karena bedong menahan refleks terkejut, yakni ketika lengannya bergerak ke atas di tengah tidur.


  • Membedong sepanjang hari

    Sejak bayi lahir, perawat mengajarkan cara membedong kepada orangtua bayi, sebagai cara menenangkan bayi di kondisi yang mirip dengan rahim. Tapi orangtua melakukan kesalahan dengan membedong bayi sepanjang waktu.

    Penting untuk diingat, bayi membutuhkan skin to skin karena sangat penting. Pertama, karena bayi tidak bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri. Tapi suhu tubuh Anda ketika mendekap bayi akan membantunya mengatur suhu tubuhnya. Kontak kulit juga membantu detak jantung dan napas bayi serta meningkatkan ikatan batin antara orangtua dan bayi.


  • Membedong bayi yang sudah besar

    Setelah bayi bisa berguling, waktunya untuk berhenti membedong. Keamanan bayi jadi prioritas nomor satu. Ada banyak pilihan untuk membedong bayi yang sudah besar yang membuatnya punya akses untuk menggerakkan tangan.

    Ketika bayi mulai berguling, sulit menemukan cara membuat bayi nyaman di malam hari tanpa menambah risiko terlilit selimut. Tempat tidur bayi harus bebas dari selimut, bumper, atau boneka yang bisa membuat bayi tidak bisa bernapas.


  • Membedong dengan selimut tebal

    Jangan membedong bayi dengan selimut yang tebal, jauhkan benda ini hingga bayi cukup besar. Membungkus bayi di selimut tebal sangat tidak dianjurkan, karena bayi tidak bisa mengatur suhu tubuh sendiri dan rentan kepanasan. Bedong sebaiknya dari material katun untuk menghindari kepanasan.

    Kain bedong harus tipis agar bisa membungkus dan dililitkan dengan mudah pada bayi, karena selimut yang tebal bisa mudah longgar dan menimbulkan bahaya tercekik. Selimut dari bahan sintetis juga harus dihindari karena lebih mungkin menyebabkan kepanasan bagi bayi. Gunakan kain dengan material katun karena mudah digunakan dan lebih bersirkulasi.  Anda juga bisa pilih bedong yang sudah dijahit dengan velcro atau resleting.


  • Dibedong dan tengkurap

    Hal ini sangat tidak dianjurkan, terutama bila dilakukan bersamaan. Dianjurkan bayi selalu diletakkan di posisi telentang, dan ketika dibedong bayi harus berbaring telentang untuk menurunkan risiko SIDS. Tengkurap penting untuk perkembangan, tapi pastikan dilakukan dengan aman dengan pengawasan orangtua dan tubuh bayi bebas bergerak.


  • Dibedong dan berada di car seat

    Tentu saja ini salah. Lagi pula bagaimana bisa bayi yang dibedong dipasangkan sabuk pengaman pada car seat dengan benar? Bayi juga tidak boleh dibedong dan diletakkan di ayunan atau kursi yang membutuhkan sabuk pengaman, terutama setelah bayi lebih aktif.


(Wati & Ismawati)